My Enemy My Sweet Heart

My Enemy My Sweet Heart
"My Enemy My Sweet Heart" Chapter 2 ( Elok ) Page : 15


__ADS_3

"Mi Pangsit Ko Ahon"


"Pergi ke acara hotel malah makan di warung kaki lima Ay, maaf ya"


"Aku yang seharusnya minta maaf Na, kamu jadi terlibat masalah pribadiku dengan Gibran"


"Nggak apa-apa, dianya aja yang rese. Sudah punya istri tetep mau gangguin kamu"


"Ya tapi tetep aja Na, nggak enak akunya dengan mu"


"Udah nanti aja dibahasnya, sekarang kita pesan makanan. Aku sudah lapar nih"


"Ko mi pangsit spesialnya dua porsi" ujar Ayra


"Maaf mbak masih ada satu porsi aja nih" jawab Ko Ahon.


"Apa?! Satu porsi? Nggak cukuplah. Kami berdua sudah kelaparan nih".Ayra protes


"Maaf mbak cuma adanya satu porsi".


"Ya udah satu porsi nggak apa-apa ko" jawab Juna.


"Eh Na, mana cukup kalau satu porsi"


"Kalau kurang nanti kita cari tempat lain Ay, yang penting ada buat ganjal sementara"


"Ya udah, pesen apa yang ada aja ko"Ayra akhirnya mengalah.


"Saat kamu kesal, tekan saja telunjukmu didahimu Ay"


"Seperti ini?" Tanya Ayra sambil menekan dahinya yang berkerut dengan telunjuknya


"Dorong kerutan didahimu perlahan agar rasa kesalnya bisa berkurang" ujar Juna.


Ayra menuruti perkataan Juna dan merasakan rasa kesalnya berkurang.

__ADS_1


"Silahkan menikmati mi pangsit spesialnya" ujar Ko Ahon.


Walaupun satu porsi tapi lumayan cukup banyak untuk ukuran Juna dan Ayra menghilangkan lapar.


"Wah Na, ini sih ukuran dua porsi" ujar Ayra


"Iya juga ya, bisa dibagi dua kalau begitu aku minta mangkok satu lagi".


"Nggak usah Na, kita makan satu mangkok berdua"


"Eee..tapi"


"Ya udah kalau nggak mau, ko..aku.."


"Eeehh..nggak jadi Ko" Juna mencegah Ayra meminta Ko Ahon mengambilkan mangkok lagi.


Ayra tersenyum dan memberikan sumpit ke Juna. "Terimakasih ya Na"


"Untuk apa"


"Mau melindungiku"


Ayra memandang Juna dengan dalam dan tersenyum penuh arti.


"Jangan kelamaan ngeliatin Ay, ntar mi pangsitnya keburu habis olehku".


Ayra mengangguk dan mulai menikmati mi pangsitnya.


----------------------------------------------------------------------------


Keesokan malamnya


"Setelah mendengar ceritaku, aku ingin mengatakan sesuatu nih Ga".


"Ee..iya Tania, katakan aja. Aku juga ingin menyampaikan sesuatu denganmu".

__ADS_1


"Duh...gimana ya Ga"


"Santai aja Tania, katakan saja"


"Aku...aku menyukaimu Ga, maksudku aku dulu menyukaimu. Tapi sekarang aku menyukai orang lain".


"Kamu orang yang baik Tania,jadi siapa pria yang beruntung itu?" Suara Juna menjadi memelas.


"Dia tetangga yang aku ceritakan padamu itu loh Ga".Jawab Ayra


Perasaan Juna menjadi berbunga-bunga mendengar perkataan Ayra. "Yes...yes..yes..!!!" Teriaknya dalam hati.


"Halo? Ga? Kamu kok diem aja? Kamu Marah ya?" Tanya Ayra


"Oh..nggak..nggak Tania, aku sangat baik-baik saja, tapi kamu jangan berhenti menelfon kesini ya".


"Jadinya nggak adil untukmu Ga, jadi canggung"


"Jangan begitu Tania, kita tetap bisa berteman kok".


"Baiklah kalau kamu ingin kita tetap berteman, eh katanya kamu mau mengatakan sesuatu Ga?".


"Nggak ada Tania, nggak ada aku jadi lupa mau bilang apa"


"Oke kalau begitu, bye Ga"


"Bye Tania"


Juna tersenyum dan terlihat gembira sambil berjoget kecil. Bos Andri dan Bimbim yang melihat tingkah aneh Juna menjadi bingung.


"Kenapa tuh si Juna Bim?"


"Salah minum obat kayaknya man" jawab Bimbim sekenanya.


--------------------------------------------------------------------------

__ADS_1


Semenjak saat itu, Juna dan Ayra menjadi sangat akrab. Mereka selalu menghabiskan waktu diakhir pekan untuk jalan menikmati keindahan pantai atau sekedar makan malam bersama dengan kakek Darmo, nenek Ratih, Dan Tania. Belum ada ungkapan langsung dari Juna dan Ayra untuk ketertarikan mereka.



__ADS_2