My Enemy My Sweet Heart

My Enemy My Sweet Heart
"My Enemy My Sweet Heart" Chapter 3 (Ruang --untuk--sendiri) Page : 18


__ADS_3

Kakek Darmo mengangkat telfon dari Nenek Ratih yang mengabarkan kalau dia sedang dirumah sakit.


"Kamu sakit ya Ratih? Kok lagi dirumah sakit?" Tanya kakek Darmo.


"Nggak kok Tri, aku cuma cek kesehatan" jawab nenek Ratih.


"Aku kira kamu sakit"


"Sakit apa tri? Aku nggak punya riwayat penyakit


Kok yang membahayakan, kecuali Alzhaimer".


"Sakit kangen dengan ku mungkin?"


"Dasar wong edan.., hahaha" nenek Ratih tertawa dengan godaan kakek Darmo.


"Bu..ayo kita pulang" ujar anak Nenek ratih


"Sudah dulu ya, nanti aku telfon lagi" ujar nenek Ratih menutup telfonnya. Dia lalu menoleh kearah anak dan menantunya yang menunggunya.


"Ibu nelfon siapa?" Tanya anaknya


"Teman ku" jawab nenek Ratih


"Kita nggak langsung pulang ya Bu, mampir ke toko busana dulu untuk beli sweater dan jaket yang cocok untuk ibu, untuk musim dingin di Amerika". Ujar anaknya


Nenek Ratih hanya mengangguk dan menuruti saja perkataan anaknya, dia sudah tidak tinggal di panti jompo lagi karena diakhir bulan dia harus pindah ke Amerika mengikuti anaknya yang ditugaskan disana dari kantor tempat dia bekerja.


---------------------------------------------------------------------------


"Taman kota sore harinya"


Juna mengajak kakeknya untuk jalan ketaman kota, lalu setelah itu makan malam direstoran vegetarian kegemaran kakeknya. Bukan tanpa alasan dia mengajak kakeknya untuk jalan-jalan itu karena dia ingin sekalian curhat mengenai dirinya dan Ayra yang juga masih belum baikan. Juna menceritakan semua awal mula dan akibat yang dialaminya sampai detik ini.

__ADS_1


"Kakek sebenarnya sudah tau kalau kamu dan Ayra sedang berantem"


"Kelihatan ya kek?"


"Juna..Juna, kakek juga pernah muda sepertimu"


Juna hanya tersenyum datar, yang ada dibenaknya dia ingin Ayra mau memaafkannya.


"Makanya kakek sengaja minta tolong Ayra, untuk datang kekantor polisi dan membayar jaminan. Maksud kakek sih biar kalian bisa akur lagi".


"Aku nggak nyangka kakek, punya ide briliant begitu" Juna akhirnya tau kalau kakeknya dibalik diamnya ternyata memperhatikan juga antara dia dan Ayra.


"Menurut kakek..Ayra itu sebenarnya ada perhatian ke kamu, cuma ya itu tadi. Cewek itu egonya tinggi, ngambeknya juga lama jadi kamu harus tetap sabar".


"Sampai bokongku lebar ya kek?" Canda Juna


"Dulu waktu kakek mau..apa istilahnya kalau zaman sekarang Na? Nembak ya?. Kakek mengajak nenekmu ketempat yang romantis lalu mengatakannya setengah berbisik ditelinganya".


"Diterimalah Na"


"Tempat romantis yang bagaimana kek?"


"Sepi dan kebarat-baratan gitu Na"


"Kok seperti kuburan belanda kek ya?"


"Dasar bocah edan..yang ada kamu bakalan tambah galau ...kalau ngajak Ayra kesana ...hahahaha"ujar kakek Darmo menjawab guyonan Juna.


-----------------------------------------------------------------------------


Ayra menyewa sebuah kamar dihotel dan mengajak Tania minum dengannya, dia ingin menghilangkan rasa kangennya ke Juna dengan minum sampai mabuk. Hal yang sebenarnya tidak mau dia lakukan lagi dan terakhir kali dia melakukannya ketika Gibran meninggalkannya menikah dengan orang lain.


"Ay..Ay...yei tu ya, kalau dah seneng sama orang jadi bucin begitu".ujar Tania

__ADS_1


"Kenapa sih semua laki-laki itu suka ngeselin?"


"Udah, stop minumnya Ay...eike ada janji dengan Sondi, ntar kalau yei mabuk dan ada kenapa-napa eike juga yang susah".


"Lu pergi aja, Tania..gue bakalan berhenti kalau sudah mabuk".


"Kalau ada apa-apa yei telfon eike ya nek, nanti eike mampir ngambil tubuh yei" ujar Tania yang secara tidak langsung mengingatkan Ayra agar jangan melakukan hal gila yang lain.


Ayra hanya diam dan merebahkan badannya di tempat tidur. Matanya sudah mulai berat di penglihatannya dia melihat pelafon hotel menjadi lingkaran seperti obat nyamuk bakar tanpa putus.


-------------------------------------------------------------------------


Ayra menggeliat dari tempat tidurnya, matanya berat untuk dibuka seperti ada batu besar yang menindas kedua matanya. Setelah bersusah payah untuk bangun akhirnya dia bisa melakukannya juga. Namun dia menjadi terkejut karena dirinya sudah mengenakan jubah mandi dan tidak memakai pakaian dalam sama sekali, shower cap juga masih dipakai olehnya.


Dia lalu bergegas menuju kamar mandi dan melihat dirinya dikaca. Ayra menjadi kaget bukan kepalang melihat seseorang yang sedang buang air kecil didalam kamar mandinya.


"Kamu mau mandi Ay? Tunggu sebentar ya" ujar orang itu dengan cuek. Orang itu tak lain adalah Juna.


"Aaaaaarrrrrrrrrgghhhhhhh" Ayra berteriak sekuat-kuatnya karena kaget dan segera keluar dari kamar mandi itu.


"Ay...Ayra...Ay..bangun Ay" terdengar seseorang membangunkannya.


Ayra membuka matanya dan terlihat Tania dengan wajah bingung dihadapannya.


"Yei mimpi apa nek? Sampe teriak begitu?"


"Juna..mana..Juna?" Tanya Ayra


"Mana eike taulah nek, Oooo yei mimpi Juna ya? Dia ninggalin lu ya nek?"


Ayra hanya terdiam dan melihat kearah jam digital disamping tempat tidurnya. Jam menunjukkan pukul dua pagi. Sudah dua hari kondisi Ayra drop karena kelelahan bekerja untuk membuat dirinya melupakan rasa kangen dengan Juna, Ayra sengaja melemburkan diri dikantor.


__ADS_1


__ADS_2