
Sudah lima hari berlalu, semenjak kejadian terbongkarnya jati diri Auriga oleh Ayra. Mereka tidak saling bertegur sapa, itu semua karena Ayra selalu menghindar bertemu Juna dan tidak mau menerima telfon dari Juna. Setiap kali Juna menelfon dengan nomor lain ke ponselnya Ayra selalu mematikannya setelah tau kalau Juna yang menelfon. Juna berusaha untuk tetap bersabar dengan sikap Ayra karena dia merasa bersalah. Dia tidak menceritakan masalah pertengkarannya dengan Ayra ke kakek Darmo, walaupun kakek Darmo mencium aroma tidak biasa dari sikap Juna dan Ayra. Begitu juga sebaliknya Ayra masih bersikap biasa dengan kakek Darmo dan tidak menceritakan masalah pertengkarannya dengan Juna.
----------------------------------------------------------------------------
"Keesokan harinya"
Bos Andri meliburkan siaran selama dua hari karena melakukan maintenance peralatan dan rehab beberapa bagian bangunan dengan mengecat ulang distudio mereka.
Waktu libur yang jarang terjadi buat mereka digunakan Bimbim menemani Juna untuk minum-minum di Bar langganannya. Hati yang galau dan rasa kangen terhadap Ayra membuat Juna menjadi cepat mabuk. Rasa sedihnya membuat tubuhnya dengan cepat bereaksi begitu meminum beberapa gelas Whisky. Dia masih memaksakan untuk menyetir mobil dengan keadaan yang lumayan mabuk. "Lu belum mabuk Na?" Tanya bimbim. "Lu tenang aja Bim, gue masih fokus" jawab Juna.
"Eee...eehh..pelan-pelan Na, didepan ada razia tuh" ujar Bimbim.
Beberapa meter didepan mereka terlihat banyak petugas Polisi dengan tanda-tanda Razia resmi. Salah satu petugas mengarahkan mobil mereka untuk pelan-pelan.
"Iya gue tau Bim, tenang aja..surat-surat gue lengkap".
"Jadi Ayra belum mau menerima maaf elu gitu?" Tanya Bimbim.
Juna yang semula sedikit terlupa dengan masalahnya menjadi tidak konsen lagi mendengar pertanyaan Bimbim. Dia malah menginjak gas lebih dalam dan bukannya menginjak rem yang membuatnya menabrak tanda pembatas Razia.
"Loh??? Juna..awassssss!!!" walaupun terlambat mengingatkan Bimbim tetap berteriak
----------------------------------------------------------------------------
Beberapa menit kemudian
"Saya akan mengetes kadar alkohol anda pak" ujar petugas polisi kepada Juna yang menyenderkan badannya di mobil, Bimbim juga ikut menyenderkan badannya disamping Juna
Polisi itu lalu meminta Juna untuk meniup di alat pengukur kadar alkohol.
__ADS_1
Alat itu berbunyi keras menandakan kadar alkohol yang tinggi dari tiupan nafas Juna.
Bahkan polisi itu sampai menutup hidungnya karena kerasnya bau alkohol dari Juna.
Bimbim yang melihat hal itu hanya terbelalak dan takut terkena juga, untungnya hanya Juna yang dites kadar alkoholnya karena dia yang menyetir.
"Wah..wah..kadar alkohol anda tinggi sekali pak, anda harus ikut saya kekantor". Ujar Polisi itu
"Bim..lu tolong ambilin uang gue di atm untuk membayar tilang" ujar Juna
"Oke Na, gue akan segera mengurusnya" Bimbim berkata dengan pede.
"Jangan lama-lama" ujar Juna
"Jangan khawatir" jawab Bimbim
Dia lalu masuk kedalam mobil dan menginjak gas, namun sayangnya...."braaakkkkkk"
Karena Bimbim malah menabrak motor polisi yang terparkir tidak jauh didepan mobil mereka.
Juna hanya menutup kedua wajahnya dengan lesu. Karena Bimbim juga ikut terkena tilang.
---------------------------------------------------------------------------
Kakek Darmo mengetuk pintu pagar Ayra dengan keras. Suara ketukan dipagarnya yang keras membuat ayra yang masih menyaksikan acara di Tv mengintip dari balik jendela. Dia lalu cepat-cepat keluar dari rumahnya karena melihat kakek Darmo yang terlihat cemas seperti membutuhkan pertolongan.
"Kakek?? Ada apa??" Tanya Ayra
"Maaf non Ay, kakek bisa minta tolong?"
__ADS_1
Ayra membuka pintu pagarnya dan keluar pekarangannya.
"Minta tolong apa kek?"
"Ini mengenai Juna" ujar kakek Darmo
----------------------------------------------------------------------------
"Didalam Penjara kantor polisi"
"Kalian akan merasakan dinginnya lantai penjara bersamaku malam ini" ujar seseorang yang lebih dulu masuk di sel itu dengan tersenyum senang kepada Bimbim.
"Bapak Juna dan Bimma, kalian bisa keluar karena ada yang membayar jaminan kalian" ujar seorang petugas.
Bimbim mengucapkan syukur dan mendorong orang yang sedari tadi menganggu mereka dengan ocehannya.
Juna dan Bimbim berjalan menuju keluar dan melihat seorang wanita menandatangani sesuatu di buku besar, dihadapan seorang polisi jaga. Wanita itu adalah Ayra, dia hanya tersenyum datar melihat kearah Juna dan Bimbim. Juna dan Bimbim menjadi terkejut melihat Ayra yang datang bukannya kakek Darmo. "Eh, Na..lu bilang dia nggak peduli dengan elu" tanya Bimbim
"Gue juga nggak tau Bim, kan gue tadi ngubungin kakek".
"Setelah selesai menandatangani berkas yang diperlukan. Ayra hanya mengangguk ketika Juna mengucapkan terimakasih.
----------------------------------------------------------------------------
"Parkiran Mobil kantor polisi"
"Kalian habis minum dimana sampai mabuk begitu?" Tanya Ayra
"Juna yang mabuk tuh bukan gue Ay" ujar Bimbim
__ADS_1
Juna hanya tertunduk dan seperti kehabisan kata-kata untuk menjawab pertanyaan Ayra.