
Kediaman Juna 00.27 WIB
"Jadi Kakek Darmo masih belum pulang dari Semarang Na?"
"Iya Ay, biarin aja. Biarkan kakek menikmati puber ke tiganya dengan nenek Ratih".
"Berapa lama rombongan mereka disana?"
"Katanya sih besok sudah pulang"
Ayra mengangguk dan mencoba menyetel musik melalui sound bluetooth Juna.
Posisinya yang memunggungi Juna dengan gaun merahnya membuat fikiran Juna berkelana. "Soundnya lagi bermasalah Ay, sayang sekali ya nggak ada musik pendukung"
Juna berkata dengan tersenyum.
"Kalau begitu aku pulang sekarang ya, sudah lewat tengah malam ini"
"Beneran mau pulang??" Juna bertanya dengan senyum penuh arti.
"Mulai dah mancing-mancing" jawab Ayra dengan tertawa kecil.
Juna mendekati Ayra dan memeluknya dengan perlahan. Dengan cepat tangan kirinya menekan tombol lampu ruangan agar lampunya mati dan ruangan menjadi agak temaram.
Sementara itu diluar rumah tampak sebuah mobil taxi berhenti, dan tidak berapa lama Kakek Darmo keluar dan menenteng tasnya memasuki halaman rumah yang kebetulan pintu pagarnya belum terkunci dengan gembok.
Kakek Darmo tertegun sejenak melihat sepasang sepatu Juna dan Sepasang sepatu wanita didepan pintu rumah. Dia lalu membuka pintu dan menyalakan lampu ruangan.
Juna dan Ayra yang sedang "sibuk" dibalik sofa ruangan menjadi terkejut dan kelabakan.
"Sebaiknya besok saja kita bicarakan lagi Ay" ujar Juna yang sudah berdiri dengan Ayra dengan kondisi baju dan rambut yang berantakan dan bekas kecupan Ayra dipipinya masih terlihat jelas karena lipsticknya yang merah. "Eh, kakek sudah pulang?" Ujar Juna berlagak tenang.
Kakek Darmo terlihat agak terkejut melihat Ayra yang berada didalam rumah.
"Katanya hari minggu baru pulang?" Tanya Juna
"Juna,ini sabtu sudah lewat tengah malam, jadi sudah hari minggu" jawab Kakek Darmo.
"Oohhh..."
Juna dan Ayra saling berpandangan dengan bingung karena tidak tau harus beralasan apalagi dengan kakek Darmo.
__ADS_1
"Sepertinya kalian berdua harus menjelaskan sesuatu dengan kakek??".
"Ayra baru mau pulang kok Kek" jawab Juna
Kakek Darmo hanya menggeleng dan berjalan memasuki kamarnya. Ayra hanya bisa tersenyum tanpa bisa berkata apa-apa dan mencubit perut Juna dengan keras.
"Aaaarrrgghhh" Juna berteriak keras.
-----------------------------------------------------------------------------
13 Tahun sebelumnya
SMA Negri 7
Pelajaran Olahraga Kasti
Titik terendah Bimbim dimasa SMA adalah ketika dia harus bermain kasti dengan Kimberly dimana dia sebagai pelempar bola dan Kimberly sebagai pemukulnya" permainan Kasti ini mirip seperti baseball cuma sudah diadaptasi ke versi Indonesia. Seperti subtitle difilm luar negri gitu.
Bimbim sudah dua kali membuat Kimberly gagal untuk memukul bola yang dilemparnya. Dan kesempatan ketiga adalah kesempatan terakhir, kalau Kimberly gagal untuk memukul timnya dipastikan akan kalah.
"Lemparan bola api" ujar Bimbim yang terlalu Pede.
Tidak hanya bolanya yang melambung jauh terbang tinggi bersama mimpi, terlelap dalam lautan emosi ( kok jadi lirik lagunya Anggun?)
Bahkan tongkat pemukulnya ikut terlempar kearah Bimbim. Dia hanya bisa pasrah melihat tongkat pemukul itu menghantam dagunya.
Pandangannya menjadi gelap gulita.
Terdengar suara panik dari teman-temannya yang melihat dagu Bimbim berdarah.
"Waduh, dagunya berdarah"
"Ada yang punya sapu tangan?"
"Cepat bawa ke UKS"
Teman-temannya sudah mengerubungi Bimbim yang tergeletak pingsan.
"Nggak usah, pakai ini aja lebih baik, bisa meresap darahnya" ujar Kimberly.
Dia lalu mengeluarkan pembalut dari saku celana olahraganya dan menempelkannya didagu Bimbim.
__ADS_1
"Softik" memang benar-benar meresap ya?"
"Menyerap kali ngab"
"Eh, iye bener itu maksud gue"
"Itu dagu atau ****** sih ada pembalut lengket disitu?"
"Jangan begitu, panggil **** * lebih bagus" ukar Kimberly berseloroh.
Teman-teman yang lain menjadi tertawa dan menyetujui julukan itu untuk Bimbim.
Bimbim terbangun di UKS dengan julukan baru
'**** *'.
---------------------------------------------------------------------------
"Lu bayangin Na, kurang ajar beneran tuh cewek?!, gue 4 tahun lebih tua darinya. Sejak kapan yang lebih muda menamai yang lebih tua??".
"Lu lebih tua kok bisa sekelas ama dia Bim?"
"Gue nggak naik kelas dua kali Na"
"Pantesss, terus kenapa lu jadi suka ama dia? Bukannya dia jadi musuh elu?
"Gue juga nggak ngerti awalnya, tapi sejak gue nolongin dia dari preman yang mau jambret dia. Sejak itu dia jadi baik dan mau ngajarin gue pelajaran yang gue susah mengerti".
"Wah berarti premannya lu hajar habis-habisan gitu?"
"Gue nya yang babak belur Na"jawab Bimbim tertawa.
"Jadi Reuni nanti lu bakal ketemu Kimberly dong?"
"Iya Na, apa sebaiknya gue nggak usah datang ya?"
"Ngapain jadi cemen gitu sih?, dateng aja. Siapa tau lu bisa deket lagi ama dia"
Bimbim hanya menghela nafas dan memandang langit-langit ruangan.
__ADS_1