
"Kaulah yang dinginkan aku dari mimpiku dari khayalku"
Kediaman Ayra
Hari ini hari yang spesial bagi ayra karena dia berulang tahun dan merayakan secara sederhana dengan hanya mengundang Tania, kakek Darmo dan nenek Ratih untuk makan malam bersama di halaman rumahnya.
"Happy birthday to you Ayra"
"Ayo nyatakan keinginan mu Ay sambil meniup lilin" ujar Tania.
Ayra memejamkan mata dan berdoa lalu meniup lilin di kue ulang tahunnya.
Kakek Darmo , Tania dan Nenek Ratih bertepuk tangan dengan semangat ketika Ayra selesai meniup lilin. Ayra juga terlihat sumringah dan bahagia.
"Eh Ay, eike punya kejutan untuk yei" ujar Tania
"Beneran?"
"Iya Ay, tapi mata yei harus ditutup kain dulu"
"Yeehhh, apaan sih? Nggak mau ah" Ayra menjadi keki karena matanya harus ditutup dulu sebelum menerima hadiah dari Tania.
"Nggak apa-apa Non Ay, bukan kejutan namanya kalau ketahuan terlebih dahulu" ujar kakek Darmo.
"Ayo dong Ay, yei lakukan aja"
"Uhhhh, iya deh gue turutin kemauan lu Tania" ujar Ayra yang mengalah dan mau dipakaikan kain berwarna hitam dikedua matanya.
Nenek Ratih dan kakek Darmo saling mengacungkan kedua jempolnya kearah Ayra.
__ADS_1
Tania lalu menuntunnya untuk mengikutinya masuk kedalam mobil.
Sepuluh menit berlalu dan Ayra merasa aneh karena suasana tiba-tiba menjadi hening. Dia merasa tidak nyaman dan mengerutu sambil melepaskan ikatan kain dimatanya. "Lu mau bawa gue kemana sih Tania?"
Ayra menjadi terkejut karena dia hanya berdua saja didalam mobil bersama Juna.
"Kamu apa-apaan sih? Mau bawa aku kemana??" Ayra bertanya dengan suara meninggi. "Ayra bisa nggak kita berbicara dengan baik?" Jawab Juna dengan lembut.
"Kamu membohongi ku, dan ingin aku melupakannya begitu saja?"
"Paling tidak beri aku kesempatan untuk menjelaskan Ay"
"Please Ay, mau kan?"
Ayra menatap Juna dengan tajam lalu memalingkan wajahnya dan menghela nafas tanpa menjawab.
Walaupun dengan perasaan kesal Ayra menuruti permintaan Juna, mereka tiba kesebuah cafe dipinggir kota.Setelah turun dari mobil dan berjalan ke cafe tersebut kekesalan Ayra menjadi memuncak karena cafe itu terlihat tutup dan gelap gulita.
"Tolong sabar dulu Ay" Ujar Juna
Tiba-tiba suasana ditempat itu menjadi terang benderang dan dari dalam cafe terlihat beberapa orang tersenyum kearah mereka.
Kakek Darmo, Nenek Ratih, Tania , ayah Kinan , Kinan dan Bimbim serta Milo bergembira menyambut mereka. Cafe itu milik Ayah kinan dan sengaja tidak dibuka untuk umum pada hari ini karena dibooking untuk pesta kejutan ulang tahun Ayra.
Ayra menjadi tersenyum kearah mereka, namun ketika melihat kearah Juna wajah Ayra kembali cemberut. Juna hanya menghela nafas dan mengikuti Ayra dari belakang yang berjalan menuju kedalam Cafe.
Suasana masih terlihat canggung karena Ayra memilih untuk duduk sendiri daripada bergabung dengan rombongan yang menyiapkan pesta kejutan untuknya. Juna mendekati Ayra dengan perasaan yang gundah karena rasa bersalahnya.
"Selamat ulang tahun Ayra, maafin aku ya"
__ADS_1
"Tidak semudah itu untuk memaafkan mu" jawab Ayra dengan ketus.
Juna menoleh kearah belakang seolah meminta bantuan kepada rombongannya supaya Ayra bisa melunak dengannya.
Akhirnya Bimbim mempunyai ide cemerlang, dia lalu menghidupkan ponselnya dan menyambungkan bluetooth di audio cafe untuk memperdengarkan siaran Juna tempo hari yang sengaja direkam olehnya.
"Setelah acara diperagaan busana itu aku hampir memberitaumu kalau aku....aku mencintaimu Ayra"
Ayra yang mendengar rekaman siaran Juna itu menjadi tersenyum tersipu, hatinya menjadi luluh , sedangkan Juna menjadi terkejut mendengar rekaman siarannya sendiri dan merasa bingung sekaligus malu. Karena dia sendiri juga tidak tau dengan hal itu, tindakan spontanitas dari Bimbim.
"Semua itu benar adanya Ay" ujar Juna memberanikan diri.
Ayra melihat kearah juna dengan ekspresi datar dan berkata
"Apa yang kamu sukai dariku?"
"Mmm...kamu baik"
"Itu saja?"
"Dan juga wangi" jawab Juna spontan
"Weeeeeeekkkkkk" Ayra meleletkan lidahnya dan tersenyum
Dia lalu mencium pipi Juna.
"Horeeeeeee" semua orang yang berada disitu bersorak gembira melihat hal itu
Bahkan Bimbim hampir ikut mencium Milo karena terbawa suasana. Semenjak hari itu Juna dan Ayra resmi berpacaran.
__ADS_1