My Enemy My Sweet Heart

My Enemy My Sweet Heart
"My Enemy My Sweet Heart" Chapter 1 ( Memulai Kembali ) Page : 8


__ADS_3

"Setelah selesai siaran"


"Eh..Na, tadi pas lu lagi dikamar mandi ada telfon dari rumah sakit". Ujar Bimbim


"Apa?? Rumah sakit?? Gawat...!!" Juna terlihat cemas karena khawatir kakeknya kenapa-napa dia lalu keluar dengan cepat meninggalkan Bimbim yang terlihat bengong.


"Belum juga selesai dengar gue ngomong main cabut aja tuh semprul" gerutu Bimbim.


Belum ada lima menit, Juna kembali keruangan dan menanyakan kunci motor Bimbim.


"Eh gue pinjem motor lu Bim"


"Waduh, dibawa sama paman Andri Na".


"Sial..." Juna kembali keluar kantornya dengan tergesa-gesa.

__ADS_1


--------------------------------------------------------------------------


--Rumah sakit Cinta Bunda---


Juna berlari dengan cepat menuju lift dan segera menuju kamar dimana kakeknya dirawat, fikirannya sudah tidak karu-karuan membayangkan kakeknya terkena serangan jantung lagi dan kali ini mungkin sangat parah efeknya. Namun ketika dia sampai didalam kamar kakeknya, tidak ada tanda-tanda kalau kakeknya terlihat habis terkena serangan jantung. Keadaannya malah terlihat normal - normal saja. Bahkan kakek Darmo terlihat heran melihat Juna yang terlihat mandi dengan keringatnya dengan nafas masih tersengal-sengal karena berlari. "Kamu ngapain lari malam-malam Juna?" Tanya Kakek Darmo.


"Sialan nih si Bimbim, kok bisa-bisanya ngerjain gue sebegininya?" Umpat Juna dalam hati. "Sudah kelewatan kalau bercandanya begini" gumannya. Dia lalu meninggalkan kakeknya setelah menemani kakeknya beberapa saat dan kembali ke stasiun radio untuk membuat perhitungan dengan Bimbim yang telah mengerjainya.


--------------------------------------------------------------------------


---beberapa saat kemudian---


"Bim..bim bangun lu!! Kalau bercanda jangan kelewatan gitu dong!!. Kakek gue nggak kenapa-napa". Ujar Juna dengan emosi.


Bimbim yang terbangun menanggapi dengan setengah sadar dan ikut emosi karena terbangun dengan kaget. " Lu juga asal pergi aja, gue belum selesai ngomong!!. Memangnya pasien dirumah sakit cuma kakek lu doang?!".

__ADS_1


"Yang nelfon dari rumah sakit itu Tania, Lu baca aja pesan yang gue tulis darinya diruangan lu. Semuanya ada disitu nama rumah sakit dengan no kamarnya dimana dia dirawat". Bimbim menjelaskan dengan kesal. Juna menjadi terdiam dan merasa bersalah telah salah sangka dengan Bimbim. "Udah sono ambil catatannya, gue mau tidur!!" Ujar Bimbim. Juna berlagak sok cool untuk menghilangkan rasa bersalahnya lalu pergi menuju ruangannya.


---------------------------------------------------------------------------


Keesokan paginya Juna membesuk Tania yang rupanya dirawat dirumah sakit yang sama dengan kakeknya. Cuma beda ruangan dan lantai, Tania dilantai tiga ruang VIP 1 no 1117.


Dengan perasaan deg-degan bercampur senang dia karena akhirnya bisa bertemu langsung dengan Tania yang selama ini dia hanya tau dengan suaranya saja. Juna membeli bunga mawar putih dan sekeranjang kecil coklat. Tampaknya hari Valentine maju lebih awal dibulan Januari dikalender Juna.


Juna melangkah perlahan-lahan dan tersenyum melihat Tania yang sedang terbaring namun wajahnya melihat kearah jendela didepannya sehingga tidak menyadari kedatangan Juna.


Akan tetapi senyum diwajah Juna menjadi terhapus karena begitu melihat wajah Tania yang berbalik melihat kearahnya Juna menjadi kaget. Ternyata Tania yang dikenalnya dan sangat akrab ditelfon itu adalah Ayra, tetangga sekaligus musuh bebuyutannya.


Ayra pun tak kalah kagetnya melihat Juna yang berada dikamarnya. "Eh?? Lu ngapain kesini??" Tanya Ayra. "Tolong jangan ganggu gue lagi, gue janji nggak akan gangguin lu lagi" pinta Ayra.


Juna hanya terdiam dan merasa bersalah melihat Ayra yang mengalami cedera ditangan kanannya sehingga harus digips. "Maaf telah membuatmu jadi begini" ujar Juna yang langsung pergi meninggalkan Ayra dan meletakkan bunga dan coklat yang dibawanya di tepi tempat tidur. Ayra yang menjadi ngeh dengan perkataan Juna menjadi kesal dan berusaha bangun dari tempat tidurnya untuk mengejar Juna. "Ehhh?? Jadi memang Elu kan yang mengunci pagar gue dengan rantai dan gembok??, lihat hasilnya?? Tangan gue jadi patah begini!!. Kembali kesini!! Lu harus tanggung jawab!!" Ayra berteriak dengan kesal.

__ADS_1


Dia bahkan melempar bantalnya kearah Juna yang sudah lebih dulu keluar dari kamar itu.



__ADS_2