My Enemy My Sweet Heart

My Enemy My Sweet Heart
"My Enemy My Sweet Heart" Special Features Inside Story "Bimbim Jangan menangis"


__ADS_3

370 hari kemudian


Sudah dua hari ini Bimbim merasakan hal yang tidak mengenakkan disekujur badannya. Semenjak dia mempunyai kerja sampingan sebagai freelance untuk mengedit foto, yang didapat dari kenalan paman Andri. Dalam dua bulan terakhir dia memang kurang tidur, paling banyak hanya 4-5 jam sehari. Penghasilan dari mengedit foto lumayan besar, sehingga membuatnya menikmati pekerjaan sampingannya itu. Sampai-sampai Paman Andri harus menambah satu pegawai distudio karena Bimbim sering tertidur ketika gilirannya untuk siaran, Juna juga sering over time untuk menggantikan Bimbim yang sering telat karena harus mengerjakan proyek dari pekerjaan sampingannya. Paman Andri tidak mempermasalahkan hal itu karena dia ingin Bimbim bisa punya penghasilan yang lebih besar dan bisa mandiri suatu saat nanti. Dia tetap meminta Bimbim untuk tinggal didalam Studio sekalian menjaga Studio.


Rasa gatal dan ruam yang bertambah di tubuhnya sungguh menganggu dan membuatnya tidak nyaman. Bimbim memutuskan untuk memeriksakan diri keesokan harinya kerumah sakit swasta atas saran dari Paman Andri, walaupun swasta namun harga pemeriksaan dan obatnya tidak begitu mahal namun standarnya sama dengan rumah sakit swasta lainnya.


"Rumah sakit Prima Husada"


Jam 07.10


Walaupun cuma satu jam datang dari jam buka antrian dirumah sakit itu sudah lumayan banyak. "Sial harusnya gue datang sebelum jam enam pagi kalau tau antri begini" gerutu Bimbim dalam hati. Bahkan setelah bisa masuk keruang tunggu dan mengambil nomor antrian suasananya malah semakin ramai seperti didalam pasar yang mengadakan promo sembako murah. "Nomer antrian 19" terdengar suara suster memanggil pasien dengan nomor tunggu tersebut.


Bimbim melihat nomer antriannya


"119"


"Muke gile,nunggu 100 orang lagi???" Bimbim semakin menggerutu namun pasrah karena dia sudah tidak tahan lagi dengan rasa gatal di tubuhnya.


Dia tidak sadar tertidur selama dua jam ditempat duduknya menunggu sambil melipat tangan didadanya.


"Nomer 121"


"Nomer 121"


Suara suster yang memanggil nomer antrian membuat Bimbim terbangu dari tidurnya.


Dia menjadi kaget dan bergegas menuju suster yang memanggil nomer antrian.


"Bapak nomer 121?" Tanya suster tersebut karena melihat Bimbim menghampirinya

__ADS_1


"Saya nomer 119" jawab Bimbim


"Maaf pak tapi saya sudah memanggil nomer bapak sebanyak 10 kali" ujar suster itu.


"Anda harus menunggu lagi"


"Tapi sus, nomer saya cuma terlewat 2 nomer"


"Bapak harus bersabar lagi, silahkan duduk kembali dan menunggu. Saya akan memanggil nomer antrian bapak".


Bimbim menunduk lesu dan kembali duduk untuk menunggu


"Nomer 122"


"Nomer 122"


"Sial, kalau tau begini mending gue kerumah sakit yang lain.Pasti sudah selesai dari tadi dan tidak membuang waktu!".


Namun baru beberapa langkah dia meninggalkan kursi tempatnya menunggu, suster itu memanggil nomer antriannya


"Nomer 119"


"Nomer 119"


Bimbim lalu bergegas menuju suster itu


"Saya nomer 119" ujar Bimbim


"Silahkan keruang 3 pak" jawab suster itu

__ADS_1


Bimbim memasuki ruang nomer 3 dan duduk, Dokter yang bertugas diruang itu belum terlihat. Namun tidak beberapa lama Dokter yang memeriksanya keluar dari ruang pemeriksaan yang tertutup tirai berwarna coklat muda.Dokter itu seorang wanita muda yang terlihat sebaya dengannya yang langsung duduk didepannya sambil membuka berkas data pasien


"Selamat pagi dokter"


"Selamat pagi"


"Siapa nama anda pak?"


"Bimma Dok, dobel M"


"Nama belakangnya?"


"Sakti"


Dokter itu menulis nama Bimbim diberkas, bersamaan terdengar bunyi telfon diponsel Bimbim.


Bimbim mengambil ponsel dari saku celananya dan melihat siapa yang menelfon


"Paman Andri" yang menelfon


"Kalau anda mengangkat telfon itu saya tidak akan memeriksa anda" ujar Dokter itu.


Bimbim tertegun sejenak lalu mematikan ponselnya.


"Baiklah pak Bimma, saya dokter Violette ,apa keluhan anda?".


Bimma terdiam melihat wajah Dokter Violette yang menatapnya. Kali ini wajahnya terlihat jelas


Dia seperti melihat seorang model wanita yang memakai baju dokter.

__ADS_1



Dr.Violette Anastasia Character


__ADS_2