
Pukul 7.30 ketika Raymundo Alvaro mengemudi dari bandara. Tujuan mereka adalah sebuah apartemen yang tak jauh dari Plaça Camoes. Parkir tepat di bawah jembatan pelabuhan, mereka berjalan kaki menyusuri malam ibu kota di mana kehidupan malam adalah tetangga paling bising. Bahkan udara dipenuhi polusi suara. Nyaris tanpa keheningan sama sekali.
Raymundo pegangi lengan Bellova menggiringnya lewati bar, minimarket, restoran, toko-toko, menuju sebuah apartemen.
"Tuan Alvaro ...,selamat datang," sapa Security apartemen.
"Urbanus, apa kabarmu?"
"Baik,Tuan."
Mereka masuk ke lobi. Naik lift menuju lantai 5, lantai paling atas.
Beberapa orang pria menggendong dus, berjalan di koridor lantai 5. Mereka asyik bicarakan tentang pesta menempati flat baru.
Raymundo menekan kode masuk apartemen dan anggukan kepala pada Bellova ke arah dalam ruangan.
"Halo Brother, aku tinggal di sebelahmu. Kita akan jadi tetangga," sapa salah satu pria pada Raymundo, melirik pada Bellova.
Raymundo hanya mengangguk tanpa senyuman, mendorong halus Bellova agar segera masuk ke dalam apartemen. Pintu ditutup.
"Mandilah! Makanan sedang dipesan."
"Baiklah," angguk Bellova menyapu ruang besar multifungsi, tanpa penyekat di mana sofa ruang santai, ranjang ukuran medium dan TV ukuran besar menyatu. Bellova memilih sofa. Tentu saja. Ini gila.
"Kamar mandi di sebelah sana!"
"Ya."
"Aku ada sedikit urusan," kata Raymundo kaku bergerak ke pintu keluar. "Makananmu akan diantar."
"Baiklah." Bellova lega pria itu pergi.
Bellova membuka pintu teras, ada taman kecil dan mebel bermeja bundar. Pemandangan sangat menakjubkan. Bellova pergi ke pinggir teras. Plaza da Çamoes tampak jelas terlihat begitu pula kehidupan menjelang malam di bibir sungai Tagus. Muara sungai membentuk perairan tenang. Sangat indah ketika lampu-lampu bangunan menyala.
Dari atas teras, pria itu, Tuan Raymundo Alvaro terlihat di jalan. Sepeda motor besar hampiri apartemen dan seorang wanita melepas helm memakai topi. Raymundo mengambilnya dan segera memakai.
"Jika dia punya wanita itu, mengapa memaksa aku harus ikut ke camping keluarga?"
Tuan Alvaro seperti biasa, dingin dan datar, sedang si gadis muda bergaya swag, sepertinya wanita muda yang ceria. Hanya saja wajah si gadis tidak begitu jelas. Mereka menghilang tak lama kemudian.
Selepas mandi, abaikan peringatan Raymundo, Bellova keluar dari apartemen. Ia berjalan sampai di taman Plaça lalu memesan taxi menuju ke rumah sakit, mengunjungi Belliza.
"Kamu di sini?" tanya Dona heran. "Tidak kabari aku?"
"Aku ada sedikit urusan. Cuma bisa melihat kakakku sebentar. Bagaimana kondisinya? Dua Minggu lalu kamu katakan ia jauh lebih baik. Tetapi, mengapa ia terus tidur?"
"Ada beberapa kondisi secara medis, di mana Belliza termasuk dalam kasus langka sebab meskipun keracunan alkohol sampai di otak, tetapi secara ajaib otaknya tetap berfungsi dengan baik."
"Aku tak paham."
"Bersyukur Belliza tidak alami, apa yang kita kenal dengan mati batang otak."
"Baiklah. Aku menunggu kakakku." Bellova merasa yakin Dona sembunyikan sesuatu. Bellova pergi ke ruangan kakaknya. Seperti kata Dona, Belliza hanya tampak seperti tertidur. Wajahnya bahkan kemerah-merahan.
__ADS_1
Jika kemarin-kemarin Bellova akan mengajak kakaknya bicara, hari ini, ia hanya pandangi Belliza. Tiga puluh menit berlalu, pegangi tangan Belliza, hangat. Bellova akhirnya benar-benar berharap banyak.
"Aku harus pergi, Belliza. Mari bangun dan besarkan Cheryl. Ya Tuhan, aku merasa sesak napas jika mengingat Puteri kecil kita."
Bellova tak bisa beritahu Belliza bahwa Helena sedang hamil dan Oskan tiba-tiba melarang Bellova untuk bertemu Cheryl. Penuh kegundahan, Bellova tinggalkan rumah sakit pulang ke apartemen.
Pintu lift lantai lima terbuka dan pemandangan buat Bellova tercengang. Ada lebih dari 15 orang pria dan wanita menari di koridor sambil minum dan merokok. Mereka berpesta seakan apartemen ini layak untuk itu. Bukankah mereka punya teras?
Bellova meraih ponsel dan sial, dia tak tahu nomer ponsel Tuan Alvaro. Dia juga tak tahu sandi masuk apartemen.
"Halo Tetangga, bergabunglah bersama kami," pinta salah seorang di antara para pria.
Bellova urungkan niat keluar dari lift. Seorang pria datangi dirinya, berpisah dari group.
"Ayolah, Nyonya!"
"Hei, Evas! Jangan ganggu dia!" Penyewa hunian berseru dari muka flat.
Bellova buru-buru memencet tombol pada lift agar kembali ke lantai dasar. Namun, entah masalah apa, pintu lift tak mau tertutup. Bellova ingin bertahan di dalam lift, tetapi terlalu cemas si pria ikut masuk ke dalam lift. Jadi, buru-buru keluar.
Ya Tuhan. Apartemen sebagus ini harusnya tak tinggalkan cacat sedikitpun. Bellova termenung di depan perangkat smart lock depan apartemen Tuan Raymundo. Have no idea. Ia tak tahu apapun tentang Raymundo Alvaro.
"Suamiku akan segera kembali! Jauhkan tanganmu dariku!" tegur Bellova tajam saat si pria pegangi tangannya.
"Aku yakin, Tuan tadi bukan suamimu. Kamu bahkan tak tahu sandi masuk apartemen. Berapa ia membayarmu, Cantik?"
Bellova menampar si pria kasar hingga ia bisa dengar umpatan kasar. Ketika pria itu kembali padanya, pandangan mata sangat mengerikan.
"Menjauh dariku, Bodoh!" maki Bellova lagi. "Apakah tidak cukup mengganggu orang lain dengan berpesta di koridor dan nyalakan musik yang bisa runtuhkan gedung?"
"Lepaskan!" Bellova coba lepaskan dirinya.
"Kita hanya bergembira, tak lebih!"
"Tidak, lepaskan aku!" jerit Bellova di antara musik yang mulai keras getarkan dinding dan lantai. Ia seakan berdiri di atas sebuah box musik berukuran besar.
Pintu lift terbuka, Raymundo Alvaro berdiri di ambang, menyipit. Berdecak dan menggaruk ujung hidungnya. Datangi Bellova cepat.
"Tuan ...," seru Bellova ulurkan tangannya.
Raymundo pegangi tangan Bellova. Hingga si pria berbalik dan lepaskan pegangan. Tanpa aba-aba, Raymundo gunakan kaki panjang, menendang si pria hingga terlempar di koridor. Beberapa wanita menjerit histeris.
Pria ini, Raymundo Alvaro. Penciptaan sempurna karakter pria jantan berikut ciri khasnya, temperamental, kejam dan praktis. Datangi si pria terpojok di koridor. Ia kini gunakan kening untuk menanduk si pria mesum hingga Bellova yakin tulang hidung si pria patah. Musik otomatis berhenti. Teman para pria tak berani menghalau.
"Beritahu pada temanmu, sewa apartemen ini baru saja dibatalkan. Pergilah dalam waktu 15 menit sebelum aku lemparkan kalian satu persatu dari sini!" Bicara dingin.
"Tuan, maafkan temanku. Dia sedang mabuk!"
"Siapa namamu?" tanya Raymundo pada pria penyewa flat baru.
"Andreas."
"Sewa flat ini dibatalkan, ambil uangmu ditambah ganti rugi dua kali lipat harga sewa. Kosongkan tempat ini dalam 15 menit!"
__ADS_1
"Tuan ...?!"
Raymundo menginput sandi masuk dan memeluk pinggang Bellova masuk ke dalam flat. Pintu tertutup keras. Raymundo lepaskan Bellova lalu menarik sarung tangan. Turunkan resleting jaket hempaskan di sofa. Wajahnya datar sama sekali tak terlihat marah. Tetapi ketika ia bicara, Bellova seakan paham bahwa pria datar itu lebih mencekam dibanding ketika wajahnya tampilkan raut marah.
"Patuhi aku selama kamu bersamaku! Apa itu sulit?" Raymundo mengangkat telunjuk di depan hidung Bellova.
"Aku hanya ...."
"Aku tak suka dibantah, Bellova!" Dan Raymundo Alvaro sangat konservatif.
"Dengar, Tuan Alvaro. Aku tak mengerti bagaimana akhirnya kita berakhir seperti ini! Tetapi, aku bukan tawananmu!"
"Tak mengerti atau kamu menyangkal?"
"Bukankah Anda berlebihan padaku? Anda punya banyak gadis yang bisa diajak ke camping keluarga, mengapa memaksaku? Tak sulit dapatkan mereka," ujar Bellova jengkel.
"Memaksa?" Raymundo sunggingkan seringai kecil. Dekati Bellova yang otomatis mundur. Raymundo pegangi lengan Bellova kencang, menatap wajah Bellova. "Kamu menciumku di bandara dan akan berikan Apa Saja agar aku selamatkanmu. Lupa? Kamu tawarkan Miradoura dan dirimu," tatap Raymundo atas bawah, "menjual kedua hal itu HANYA padaku untuk keselamatan Oskan Devano. Lupa? Aku tak menyeretmu atau Belliza dan puterinya pada Axel Anthony. Aku tepati janjiku. Sekarang giliranmu."
Bellova terperanjat saat pria itu lepaskan kaos, menahan napas.
"Tapi ..., bukankah a ... ku menggantinya dengan berkencan dan jadi ke ... kasihmu?" Gagap.
"Apa itu sepadan? Apa aku tampak murah hati, Bellova?"
Bellova terdiam oleh kata-kata tidak main-main Raymundo Alvaro.
"Apakah harimu buruk?" tanya Bellova coba kasai pria di hadapannya. Pria itu punya luka tersendiri, Bellova dapat melihat sekilas.
"Selalu buruk sejak aku lepaskan Oskan Devano, karenamu," balas Raymundo memaksa Bellova melihat padanya. "Aldinho telah siapkan dokumen untuk Miradoura. Tanda tangani saat kita kembali. Kamu juga perlu lunasi utang lainnya sekarang."
Bellova mengambil napas perlahan, ia tak bisa menghindar. Raymundo bukan salah satu muridnya yang mudah dikuasai.
"Utang lain itu aku? Bersama lewati malam di suatu tempat?" tanya Bellova.
"Baiklah," Bellova berjinjit tak menunggu reaksi Raymundo, Bellova lingkari tangan pada leher Raymundo dan menarik pria itu padanya. Ia menyentuh bibir Raymundo seperti ciuman pertama pria itu darinya. Berhenti ketika si pria tak membalas, tahu bahwa Raymundo Alvaro memang sangat kuno, tak berpengalaman sama sekali.
Bellova memulai kembali lebih cepat dan tegas. Ia ciptakan jeda, hanya agar bisa lepaskan mantel, tanggalkan dress sisakan sesuatu yang lebih polos. Mata Bellova menatap berani pada Raymundo, hingga tanpa sadar Raymundo telah berhenti bernapas pada tatapan hijau kecokelatan, mulai nyalakan api. Jemari Bellova menari kini di dada bidang, tak heran oleh banyak bekas luka di permukaan kulit. Satu tangannya di belakang punggung Raymundo turuni legongan pada tulang belakang, sedikit mengambang.
Si pria berubah seperti pohon, kikuk dan tegang. Bellova berjinjit dan bernapas di leher Raymundo, telapak tangan kanannya telah mulai membelai leher itu.
"Bukankah ini yang kamu inginkan?" bisik Bellova, suara husky Bellova entah mengapa seperti menyihir. Bibir Bellova menempel di leher Raymundo. Rasakan nadi pria itu berdenyut sangat cepat. Bellova menggulung bibir si pria dan sedikit mengunyah, rasakan napas hangat si pria. Sisi maskulin dan feminim, keras dan lembut berhimpitan tanpa jarak, cukup untuk memulai petualang dalam hitungan detik.
Raymundo Alvaro tiba-tiba memeluk pinggang Bellova erat dengan satu tangan dan hempaskan Bellova ke ranjang.
Apakah dia akan menagih utang dengan kasar?
"Pakai Gaunmu dan selimuti dirimu! Aku akan mandi!" kata Raymundo dalam satu napas. Menarik selimut tipis di ujung ranjang dan lemparkan pada Bellova.
Raymundo Alvaro bergegas ke kamar mandi. Terlalu terburu-buru seakan hendak larikan diri. Pria itu tidak keluar dari kamar mandi sampai Bellova mendengkur.
***
Tinggalkan komentarmu ya. Hadeuhhh, nagih utang, giliran mau bayar, Debt Collector-nya kabur. Habis tukang ngutang nih agresif. Kudu tahan banting nih si Ray.
__ADS_1
Tinggalkan komentarmu.