My Hottest Man

My Hottest Man
Chapter 41. Beat the Odds : Trouble 2


__ADS_3

Kediaman Anthony sangat sunyi dan lengang saat Bellova keluar dari ruang tidur Raymundo Alvaro. Ruang tengah kosong. Pintu didorong, awasi keadaan sekitar. Beberapa penjaga terlihat berjaga-jaga.


10.20 malam.


Bellova harus lewati security. Sangat bersyukur ketika gerbang terbuka karena salah satu penjaga pergi keluar gerbang biarkan gerbang sedikit terbuka. Bellova mengendap-endap keluar dari kediaman Anthony dan pergi ke jalanan. Malas berurusan dengan penjaga rumah karena Raymundo Alvaro sudah pasti minta mereka awasi Bellova saat pria itu tidak ada.


Bellova menunggu taxi yang lewat. Bernapas lega karena ia dapatkan satu. Ponsel menggunggah lokasi dibagikan Belliza. Bellova terus hubungi Donna.


Apa yang Belliza lakukan di area mendaki sunyi Trilho Carnaxide?


Pertanyaan ini paling banyak mengisi lembaran kosong di pikiran Bellova. Lupakan hal manis barusan lewat bersama Raymundo Alvaro. Bellova akan melihat Belliza dan bawa kakaknya kembali ke Rumah sakit. Ia akan menelpon Raymundo nanti.


"Bisakah kita lebih cepat, Tuan?"


"Nyonya, biasanya ada petugas patroli di bundaran menuju Trilho. Kecepatan tinggi akan buat kita dihadang petugas patroli."


"Baiklah. Bisakah Anda menunggu sebentar setelah kita sampai?" tanya Bellova. Batin mulai gelisah.


"Siapa yang akan Anda temui di jalanan gelap ini, Nyonya?"


"Kakakku bagikan lokasi keberadaannya dari sini."


"Tapi ini jalur pendakian."


"Maafkan aku, bisakah kita ikuti saja jalan ini?"


"Ya, ada sebuah kondominium mewah terletak di ujung jalan ini."


Butuh 20 menit dengan kecepatan tinggi untuk mencapai posisi Belliza. Di kejauhan cahaya lampu, sangat buram, lalu semakin terang.


"Ada taxi di depan, Nyonya!"


Bellova kenali tubuh kakaknya, berbaring tak jauh dari taxi.


"Ya Tuhan, apa yang terjadi?"


Bellova mengirim pesan SOS pada Dona dan bagikan lokasi. Mohon segera datang karena darurat.


"Aku akan terangi Anda, Nyonya!" kata sopir taxi.


Bellova turun dari mobil, berlari ke arah tubuh yang terkapar di sisi jalan.


"Kakak? Apa yang terjadi padamu?"


Tersungkur di kaki Belliza. Air mata cepat luruh. Mereka tak bertemu selama dua tahun, ini pertama kali Bellova lihat kakaknya kembali. Namun, dalam keadaan begini?


"Love ... sesuatu yang buruk terjadi." Belliza berkata pelan.


"Aku akan menolongmu."


Bellova periksa kaki Belliza yang langsung meringis. Memeluk Belliza erat-erat.


"Aku merindukanmu, Belliza. Ya Tuhan, maafkan aku karena tak datang padamu. Maafkan aku!"


"Tidak, aku tahu kamu berjuang untukku."


"Apa yang terjadi, Belliza? Mengapa Kakak di sini?"


Seakan sadar sesuatu, Belliza mendorong pelan Bellova dengan sisa tenaga.


"Bangunkan Cheryl! Puteri kita tadi tidur di dalam mobil."


"Apa maksudmu, Kak? Cheryl bersamamu?"


Bellova menengok, bangkit berdiri hampiri taxi.


"Cheryl?!"


Menarik pintu tetapi terkunci, pergi ke bagian depan dan buka pintu belakang, gadis mereka meringkuk ketakutan di bawah kursi.


"Mommy?" Gadis kecil itu segera menangis melihat Bellova.


"Oh My God, My God."


Bellova menggendong Cheryl dan mendekap gadis yang ketakutan. Tangis Bellova pecah.


"Sayang, everything is okay." Namun, Bellova tetap saja meraung. "Apa yang terjadi? Ya Tuhan," kata Bellova putus asa, haru, bahagia campur aduk jadi satu, memeluk Cheryl erat. "Mommy merindukanmu, Sayangku."


"Mommy ..., aku takut. Di luar sangat gelap."


"Mommy di sini, Sayang!"


"Cheryl takut monster jahat."


"Tidak ada monster selama Mommy bersamamu. Di mana Daddy?"


Menggeleng. "Cheryl hanya bersama Helena."


Bellova gertakan gigi. Luar biasa, Oskan Devano. Lihat saja nanti!


Belliza tetap berusaha terjaga dengarkan penuturan puterinya, teteskan air mata. Puterinya sudah pintar bicara. Dan tak diracuni seperti pikiran buruknya.

__ADS_1


Belliza pingsan cukup lama tadinya, hingga ia rasakan seseorang seperti menendang tubuhnya. Ia bangun tetapi suasana begitu sunyi. Temukan ponsel masih di saku mantel dan menelpon Bellova.


"Love, Helena ...."


"Apa Helena yang lakukan ini?"


"Helena ada di sebelah sana!" sahut Belliza lemah.


Sopir taxi arahkan lampu depan mobil seakan periksa keadaan sekitar. Seonggok tubuh terbaring kaku di sisi jalan lain, tak jauh dari mereka.


"Cheryl, Sayang. Pergi sama Mommy ya?" angguk Bellova ke arah Belliza. Cheryl tampak bingung. Bolak-balik menatap Belliza lalu Bellova.


Belliza ulurkan tangan.


"Cheryl, I miss you so much my Darling." Belliza memelas. Cheryl butuh satu menitan. Senyuman tersungging di wajah cantiknya sebelum bergerak turun dari pelukan Bellova dan berlari kecil pada Belliza.


"Belliza?! Apakah kamu bosan tinggal di istana bersama pangeran?" tanya Cheryl menyentuh pipi Belliza ingin hentikan tangisan.


"Ya - ya, Sayang. Aku kabur dari istana karena rindukan Puteriku. Maaf aku pergi begitu lama."


Belliza mendekap Cheryl sangat erat sembari menangis keras. Mencium puterinya berulang kali. Tak ada kata-kata bisa ungkapkan sesuatu yang meledak-ledak di dirinya karena rindukan Cheryl.


"Aku menangkapmu, Mom, kupu-kupu pelangi. Daddy bilang, itu dirimu. Mommy akan pergi ke surga. Tetapi, Uncle Cio yakinkan aku, Mommy akan kembali."


"Kamu percaya?"


"Ya, aku punya dua Mommy."


Memeluk Cheryl dan ungkapkan semua emosi.


Sedang Bellova melangkah penuh keraguan dekati tubuh yang terbaring tanpa gerak. Bellova menjerit ketakutan dapati Helena Alvaro seperti bangkai. Nyalakan senter ponsel arahkan pada Helena yang babak belur dipukuli sesuatu, darah mengalir dari ************. Menggenang. Mengenaskan.


Sopir taxi ikutan turun dan dekati Bellova.


"Apa yang terjadi, Nyonya?"


Terkejut.


Bellova bengong lalu setelah pulih kesadarannya ia memeriksa Helena. Mencari-cari denyut nadi dan bernapas lega karena Helena masih hidup.


Dona datang beberapa menit berselang, tidak sendirian tetapi bersama Lucio Vargas.


"Uncle Cio," seru Cheryl lambaikan tangan. Pria itu bergegas berlari pada Cheryl.


"Cheryl?!" Terperanjat temukan Cheryl di sisi Belliza. Jika saja Bellova berganti pakaian, Lucio Vargas mungkin masih agak bingung. Tetapi, Bellova masih memakai pakaian yang sama saat tinggalkan klub tadi. Juga, Belliza sedikit lebih gemuk dari Bellova yang tirus. Lucio Vargas tidak habis shock. Memeluk Cheryl sembari mata amati Belliza.


"Aku ingin bersama Mommy, Uncle Cio! Anda benar, Mommy tak pergi ke surga."


"Ya, baiklah Uncle Cio."


"Belliza ..., apakah kamu rasakan sesuatu?" tanya Lucio Vargas, menyentuh dagu Belliza amati wajah sembab. Bulu kuduk meremang saat menyentuh Belliza. Ini agak sedikit gila karena ia mendadak gugup berada di dekat Belliza. Lucio Vargas, mengusap air mata Belliza. Kerapuhan yang hancurkan hati. Ia pikirkan pertemuan mereka, di pinggir sungai Tagus dan kenyataannya sangat jauh berbeda. Dona bertanya padanya tentang keberadaan Belliza. Ia langsung ke rumah sakit, tinggalkan Viviane pada Dean Thomas.


Sementara Belliza hanya menatap pria di depannya, saat Lucio Vargas bicara. Ketampanan, kejantanan dan sensualitas menyatu dalam satu wajah. Lebih dari itu, suara pria ini adalah suara yang mampu cairkan kubah pengurung jiwa. Bahkan dalam remang lampu, Belliza bisa melihat mata biru bersinar takjub.


"Ini seperti mimpi, Belliza. Terasa tidak nyata, melihatmu membuka mata. Mari pergi, Sayang!" tambah pria itu lagi.


Sempurna sebagai pria. Lucio Vargas dan Oskan miliki banyak kemiripan. Belliza menarik napas sakit di sekujur tubuh. Ketampanan dan ketulusan Lucio Vargas bahkan tak bisa hapus Oskan Devano begitu saja.


Cinta toxic, cinta gila. Cinta pembunuh.


"Kakiku sakit."


"Aku akan menggendongmu." Lucio Vargas memeriksa kaki Belliza sebelum mengangkat tubuh Belliza. "Cheryl, tolong tunjukan jalan ke mobil, Sayang!"


"Baiklah, Uncle Cio!"


Nilai plus karena Cheryl patuh, segan, sayang dan sangat nyaman pada Lucio Vargas.


Lucio Vargas tak mengerti, apa yang terjadi tetapi situasi Belliza sangat buruk.


Dona dan sopir taxi mengurus Helena. Bawa Helena masuk ke dalam taxi dengan hati-hati.


"Dona apa bayi Helena baik-baik saja?" tanya Bellova dengan raut gelisah, melihat ekspresi tak wajar Dona.


Bellova terhenyak, tahu bahwa bayi Helena tak bisa di selamatkan. Bellova duduk linglung di jalan. Dona segera menelpon ke rumah sakit, persiapan operasi atau semacamnya.


"Helena butuh pertolongan."


"Ya, mari bawa Helena, Dona. Ya Tuhan, aku tak berharap hal seperti ini datang saat aku sedang berbunga-bunga pada kakak laki-lakinya."


Bellova tak sadar meracau. Secara jelas lihat bencana menghadang di depan mata. Sekalipun Raymundo Alvaro katakan cinta padanya, pria itu sedikit posesif pada sesuatu yang menjadi miliknya. Dan tidak bisa ditebak.


Dona sibuk tangani Helena tetapi menangkap curahan hati Bellova yang kalut di sisinya.


"Sungguh komplikasi."


Dona menyahut.


Bellova mendadak pegangi tangan sopir taxi, keluarkan banyak uang.


"Please, tolong jangan berikan kesaksian apapun. Kejadian mungkin tidak seperti yang terlihat." Bellova memohon.

__ADS_1


"Nyonya, maafkan aku. Tetapi, ini tindakan kriminalitas. Wanita hamil ini mungkin meninggal dan kakak anda mungkin ingin membunuhnya."


"Bellova, kita harus ke rumah sakit sekarang karena pendarahan dan butuh pertolongan."


"Dona aku ketakutan." Bellova diserang cemas dan gelisah. Raut Raymundo Alvaro semakin buat ia menggigil.


"Mari ke rumah sakit, kita akan tahu apa yang terjadi. Kita perlu selamatkan Helena terlebih dahulu. Kabari Oskan dan keluarga Helena."


Bellova kembali ke mobil Lucio Vargas sambil menelpon Oskan Devano. Lucio sedang selimuti Belliza dengan jaketnya lalu pergi ke bagian depan, kencangkan sabuk pengaman Cheryl dan pakaian headset pada Cheryl.


"Kita akan dengar lagu dari Cleopatra. Kamu akan sukai ini."


"Bagaimana dengan Mommy?"


"Mommy akan baik-baik saja."


Lucio Vargas mengambil kemudi dan berputar setelah Bellova masuk dan memeluk Belliza.


"Love, apa bayi Helena baik-baik saja?"


"Apa yang terjadi, Kak. Apa kamu pukuli Helena?"


"Tidak, aku hanya mendorongnya untuk membela diriku! Helena tak sengaja menginjak batu dan terjatuh. Ia masih bangun setelahnya untuk memukul bahuku."


"Tidak, Helena dipukuli. Wajahnya memar dan ia dianiaya."


"Apa kamu yakin, Bellova?" tanya Lucio Vargas.


"Aku memotretnya! Ya Tuhan."


Apakah Belliza alami sejenis halusinasi atau ilusi? Hingga tak sadari apa yang sedang terjadi?


Lucio Vargas berhenti sejenak, amati foto yang disodorkan Bellova. Bekas kekerasan sangat jelas terlihat. Alis Lucio terangkat tinggi.


"Aku bersumpah, aku tak pukuli Helena," erang Belliza menggeleng kuat. "Helena menendang kakiku hingga aku jatuh dan pingsan."


"Bagaimana Kakak bisa bersama Helena dan Cheryl?"


"Aku menunggu taxi di lobi rumah sakit dan tak sengaja melihat Helena bawa Cheryl naik taxi. Aku ikut dari belakang. Mereka datangi tempat gelap ini. Aku ikuti kemari, kami bertengkar."


Bellova memeluk kakaknya. Mengusap rambut Belliza tenangkan Belliza.


"Aku tak bermaksud lukai Helena. Aku benci padanya tapi aku sama sekali tak berniat menyentuhnya."


"Dengarkan aku baik-baik, Belliza! Kamu tak pernah pergi dari Rumah Sakit! Kamu selalu berada di Rumah Sakit dan tak pernah tinggalkan Rumah Sakit."


"Love?!"


"Dengarkan saja aku! Aku yakin Raymundo Alvaro akan laporkan kasus pada pihak berwajib. Aku tak akan bisa menolongmu dari amarahnya."


"Apakah ... apakah bayinya ...."


"Bayinya tak selamat." Bellova menjawab. "Kamu sama sekali tidak terlibat.."


"Tidak, aku akan berikan keterangan pada pihak berwajib."


"Jangan! Kamu tak tahu berurusan dengan siapa, Belliza? Ya Tuhan. Aku mengenal kakak laki-laki Helena Alvaro. Aku mengenalnya sangat baik. Pria itu hanya mesin otomatis."


"Aku tak bersalah."


"Belliza, ini buruk untuk kita. Dengarkan saja aku. Kamu tak boleh tersandung kasus karena kamu harus pergi ke pengadilan dan menangkan Cheryl dari Oskan. Aku tak bisa gantikanmu atau kita akan dituduh pengadilan lakukan penipuan. Selesaikan masalah perceraian-mu juga masalah Cheryl. Maafkan aku, kamu kembali ke kehidupan ini dan harus selesaikan banyak masalah."


"Tidak! Aku akan hadapi semua masalah! Aku bisa bertahan!"


"Kita tak bisa kehilangan Cheryl. Jangan terlibat dengan polisi. Kamu harus bersih di mata hukum, Kak, agar hukum memberimu keadilan. Lebih dari itu, aku tak bisa biarkan kamu berurusan dengan Raymundo Alvaro. Ya Tuhan, Belliza, Raymundo Alvaro sangat sayang pada adiknya. Jika terjadi sesuatu pada Helena, kita bisa dalam masalah. Bahkan tak ada satu orangpun di dunia ini bisa selamatkan kita darinya." Bellova menahan napas.


Hanya karena pria itu jatuh cinta padanya bukan berarti ada perubahan karakter dan sifat Raymundo Alvaro. Bukan berarti ada keistimewaan. Raymundo tetap seperti teka-teki. Bellova perlu berjaga-jaga.


"Love ..., kamu seakan mengenalnya dengan baik?"


Belliza bernapas satu-satu. Bellova longgarkan pelukan. Hembuskan napas tertahan. Jika saja tadi, Raymundo tak pergi menjemput Viviane dan mereka bersama di ranjang, maka kini ia yakin mereka berdua bisa saling ledakan bom atom tak kasat mata di tempat ini. Atau, ia mungkin melihat Raymundo Alvaro menarik pelatuk pada kakaknya.


Apakah cinta mereka sangat dangkal?


Tidak.


Cintanya tidak dangkal, tetapi pria yang dicintainya adalah seorang pria penuh misteri. Kamu bisa mengidentifikasi benda luar angkasa yang melayang di atas permukaan bumi, tapi tidak dengan Raymundo Alvaro dan tindakannya.


"Percayalah padaku. Maukah kamu dengarkan aku sekali ini?" Bellova menggenggam tangan Belliza. "Aku akan menuntunmu dan selamanya di sisimu. Aku akan menjagamu dengan nyawaku. Lakukan hal yang sama untukku. Katupkan mulutmu rapat-rapat, Belliza, atau kita hanya akan melihat hal-hal mengerikan."


"Tidak, jangan berkorban untukku!"


"Kakak, aku menyayangimu."


Bellova menatap jalanan di depan, pada Cheryl, pada Belliza, pada nasib mereka yang tak mujur. Mengecup puncak kepala Belliza. Memeluk Belliza yang menggigil dalam pelukannya.


"Semuanya akan baik-baik saja, Kak!"


***


Tinggalkan komentar ya, vote dan like.

__ADS_1


Aku mencintai Anda, Readers.


__ADS_2