My Hottest Man

My Hottest Man
Chapter 62. The Best Part


__ADS_3

Please skip part ini jika tayang di jam siang, bisa dibaca nanti malam.


***


Menjelang pagi, Bellova pergi ke dapur siapkan sarapan. Ia menanak nasi dalam kaldu dan mengocok telur dadar. Taburkan cincangan sayuran hijau kembali mengaduk sebelum dipanggang.


Ragu-ragu, Bellova juga sediakan roti panggang sebagai alternatif. Ia tak tahu resep churros, seingatnya Raymundo pandai buatkan makanan itu untuk sarapan.


Menghela napas panjang.


Bellova tak pandai memasak karena Amaris Damier selalu sajikan hidangan lezat baginya tiap hari kecuali waktu sarapan. Bellova tak ingin neneknya repot. Sarapan ideal Bellova adalah sereal. Namun, suaminya tak suka makanan siap saji. Dan orang-orang dari kediaman Anthony tidak sarapan sereal.


Pandangan Bellova melayang jauh tembusi kaca jendela dapur pada sekelompok burung Puffin yang sedang berjemur di atas rerumputan ..., di tepi tebing, Raymundo Alvaro ahli memasak. Queena bahkan berikan pujian pada masakan Raymundo. Bellova jadi rendah diri, menatap hidangan yang ia buat. Cicipi sedikit, miringkan kepala dan rasakan masakannya sendiri.


Kurang sempurna. Mende****. Percaya diri runtuh seketika. Ia berpindah ke tempat cuci piring seperti robot, kebingungan.


Menjerang panci dan memotong daging juga kentang. Bumbu dihaluskan gunakan pencacah bumbu manual.


"Pagi Juliet ...," sapa BM kagetkan Bellova. "Apakah Romeo telah menangkan tantangan? Apakah 'Mantan Bosku' sampai padamu semalam?"


"Suamiku sekarat," jawab Bellova datar.


Terkekeh.


"Oh ayolah, pria itu pejuang sejati. Romeo tak akan mati semudah pria pada umumnya."


"Suamiku pingsan saat mencapai tebing."


"Keras kepala, egois dan sikap temperamental menguras energinya. Ia mulai kehilangan keahlian," ejek BM.


"Berhenti mengoloknya, Raphael. Aku tak suka kamu rendahkan suamiku setelah kamu tahu seberapa intolerannya dia pada hujan."


"Baiklah. Aku pergi." BM takut diomeli Bellova tetapi penasaran. Jadi dia bertanya. "Apa Romeo masih tidur? Dia agak cengeng dan manja semenjak menikahimu, Juliet."


"Suamiku hampir terbunuh, ya Tuhan. Ini bukan lelucon," keluh Bellova. "Anda bermain-main dengan nyawa orang lain."


"Selamat datang di dunia kami, Juliet. Anda harus terbiasa."


"Tidak. Dia akan keluar dari dunia gelapnya! Aku istrinya dan akan mengambil keputusan untuk masa depan kami. Berhentilah buatku kesal!"


"Baiklah, Juliet. Maafkan aku, tolong jangan marah. Em, sebaiknya aku pergi."


"Apakah kamu tahu makanan kesukaan Romeo?" tanya Bellova mencegah BM kabur begitu saja.


Hening. Air mendidih. Bellova mengisi daging dan bumbu halus.


"Manis sekali. Kamu ingin tahu makanan apa yang disukai Romeo?"


"Ya. Beritahu aku!"


"Dia menyukai semua masakan yang dibuat Queena. Dia akan mengunyah sambil menghayati."


Raphael Bourne mulai menjengkelkan.


"Apa kamu ingin aku cemburu?"


"Tidak juga. Tapi pria itu memuja masakan Queena. Dan hati-hati saja dengannya Juliet, meskipun ia taklukan tebing untuk sampai padamu, sebenarnya ia masih menyimpan seseorang lain di hatinya. Mau aku ceritakan?"


"Tidak, terima kasih. Apakah aku perlu melihat masa lalu? Kami hanya akan melangkah ke depan bukan mundur ke belakang."


"Anda tak cemburu?"


"Ya, tidak pada Queena."


"Bagaimana dengan D. Romeo dan D selalu bersama dalam satu tim."


"Mengapa kamu menyebalkan pagi ini?" tanya Bellova. "Aku tak cemburu pada A, B, C, D atau siapapun itu!"


"Anda menangis saat tahu Romeo bersama D. Mereka membuat tato ...."


Bellova menarik napas kuat-kuat, hembuskan perlahan.


"Apakah kamu bosan hidup, Raphael?" Sebuah suara muncul dari arah ruang tidur. Jelas tak sukai candaan Raphael Bourne. Bellova tak sadari apapun termasuk kehadiran Raymundo Alvaro.


"Oops, aku mengganggu serigala yang sedang sakit. Sampai jumpa Juliet."


"Aku akan datang padamu, secepatnya!"


"Wah wah wah, aku menunggumu, Tuan! Apakah Tuan Axel Anthony akan ikut? Kulihat Anda tak bisa berdikari dan selalu andalkan Tuan Anthony!"


"Aku akan datang seperti pencuri, BM. Tunggu saja!"


"Menakutkan tapi sungguh menantang! Apa yang akan kita lakukan?"


"Sesuatu yang tak kamu bayangkan! Nah, akhiri panggilanmu. Aku dan Bellova butuh privasi."


"Baiklah, sebelum aku pamit, aku perlu jawab pertanyaan Juliet. Raymundo Alvaro akan menelan apa saja asalkan bukan makanan laut. Anda mungkin berpikir telah menikahi pria paling jantan di dunia. Bisa jadi kamu keliru Juliet. Raymundo Alvaro hanyalah pria dengan kulit dan perut paling sensitif di dunia. Dia seperti bayi baru belajar menelan makanan pendamping ASI. Kamu extra hati-hati."

__ADS_1


"Raphael?!" tegur Raymundo berikan peringatan hampiri dapur.


"Nikmati waktu kalian. Share berita sukacita tentang Sierra dan Leone."


"Sierra dan Leone?!" tanya Bellova tak paham maksud BM menoleh pada Raymundo Alvaro ingin penjelasan. Sementara Raymundo menatap Bellova tanpa kedip, lekas kecanduan.


"Menyingkirlah sekarang, Raphael! Aku ingin berduaan dengan istriku!"


"Tentu saja. Apakah kamu butuh sesu ...."


Raymundo secepat kilat meraih pisau dapur dan sekali lemparan, benda di mana suara BM berbunyi langsung terbang bebas menghantam dinding kayu. Suara BM otomatis seperti suara radio rusak.


"Awh gendang telingaku!" jerit BM kesakitan sebelum lenyap tanpa bekas.


"Apa yang kamu lakukan?" tanya Bellova tak senang.


"Aku tak suka pria yang terlalu banyak bicara!"


"Kamu bisa lukai genderang telinganya," keluh Bellova. "Ada apa dengan kalian? Mengapa selalu saling menyerang?"


"Bellova, aku suamimu. Bukankah kamu hanya perlu mendukungku."


"Aku tak mendukung Raphael ...."


"Jika ada perlombaan menembak, siapa yang kamu inginkan untuk mati? Aku atau Raphael?"


Bellova mende****. "Bagaimana jika kita butuh pertolongan? Kita tak akan bisa pergi dari sini."


"Kita memang tak akan pergi dari sini sampai kita miliki Sierra dan Leone." Tak mencegah kata-kata itu keluar dari bibir.


Bellova paham kini maksud Raymundo Alvaro juga Raphael. Sierra Leone bukan negara di Afrika Barat beribukota Freetown tetapi mengarah ke bayi kembar. Bellova mematung di dekat tungku. Wajah bersemu merah bayangkan ia dan Raymundo Alvaro dalam posisi ciptakan Sierra Leone.


Tanpa sadar menggeleng.


Bellova tak ingin punya bayi sekarang karena ingin habiskan jam-jam berharga bersama Raymundo. Mereka butuh kematangan ikatan emosi, kasih sayang dan kesiapan mental.


"Mengapa menggeleng? Jika tak suka Sierra dan Leone kita bisa mengubahnya menjadi Paris dan Flores."


Rebusan daging mendidih. Uapnya mulai berisik.


"Aromanya terbang kemana-mana, Bellova Damier," ujar Raymundo akhirnya berhenti bahas soal bayi. Apakah mereka hanya akan bersama Cheryl dalam dua tiga tahun ke depan?


Tidak. Lucio Vargas mungkin akan lebih dulu miliki bayi kembar dan mengejeknya.


Bellova refleks menutupi tungku. Kepergok tak ingin Raymundo Alvaro tahu apa yang sedang ia masak.


"Apakah kamu membaik?" tanya Bellova alihkan perhatian. Hentikan aktivitas, awasi Raymundo seksama, lupakan semua obrolan barusan. Tak ingin komunikasi buruk.


"Kamu bisa sarapan dan minum obat," ujar Bellova, matanya ikuti gerakan Raymundo Alvaro saat pria itu mendekat. Tak sadar pegangi pinggiran meja di belakangnya erat-erat.


"Apa yang kamu masak?"


Raymundo matikan api di tungku. Menatap Bellova berusaha mengatur tatapan agar tak mengintimidasi Bellova.


"Hanya sesuatu yang sederhana. Aku tidak pandai memasak. Maafkan aku," jawab Bellova menahan napas, menjadi terlalu gugup.


Mata Bellova bergerak kehilangan arah, lalu lurus tapi malah hilang fokus. Pria itu lepaskan selimut yang membungkus tubuh. Tanpa atasan, Raymundo Alvaro akan segera membakar dirinya juga pulau ini. Lebih dari itu, Bellova tercengang pada ukiran indah di atas ginjal pria itu. BL dan Hakuna Matata.


"Mengapa bertanya pada Raphael sedang aku hanya sepuluh langkah darimu? Apa sulit bagimu bertanya apa yang aku inginkan untuk sarapan? Tolong jangan sering bicara pada BM."


Raymundo tak menutupi kecemburuan dalam nada suaranya.


"Dia teman terdekatmu."


"Tidak juga. Dia menyukaimu, aku tak sukai itu."


"Tubuhmu sepertinya membaik."


"Begitukah?" Mengangkat dagu Bellova. Menyipit. Wanitanya terlihat pucat pasi. Dalam satu gerakan, Raymundo Alvaro menggendong Bellova hingga Bellova terperanjat. Tak punya pilihan selain memeluk leher Raymundo, kaki-kaki Bellova menjepit pinggang Raymundo.


"Aku sedang memasak," protes Bellova.


"Lalu?!"


"Kamu butuh sarapan dan minum obat, Romeo."


"Aku pikir Romeo telah temukan obatnya, Juliet," jawab Raymundo cepat.


Bellova seakan melayang di udara karena pria itu baru saja ungkapkan perasaan gunakan bahasa isyarat.


"Apa kakimu berhenti sakit?" Melompat ke sembarang arah.


Bellova tak bisa mengekang reaksi tubuhnya sendiri. Ia bernapas cepat saat bibir Raymundo bersarang di lehernya. Dilakukan sambil berjalan. Bellova mabuk kepayang.


"Mereka baik-baik saja." Suara datar dan dingin berubah sedikit berat oleh gempuran hasrat.


"Mari sarapan selagi telur dadarnya hangat."

__ADS_1


"Nanti saja. Jam sarapanku di perpanjang pagi ini."


Tatapan mata mereka bertemu, mata kehijauan Bellova besar dan sempurna, berpijar indah di bawah lekukan bulu mata. Raymundo terperangkap di sana, banyak rasa coba terwakilkan. Bellova mencari kenyamanan terlebih kebutuhan agar dicintai.


Raymundo Alvaro perlahan daratkan ciuman panjang sedikit menuntut balasan Bellova. Bawa Bellova duduk di sofa di atas pangkuan, tangan tak berhenti bergerak lincah.


Lingkari pinggang, mencari-cari ujung agar bisa lepaskan atasan Bellova. Raymundo juga menarik pengikat rambut, sukai istrinya saat rambut cokelat terang berlekuk tergerai di atas kulit Bellova. Membelai tulang punggung Bellova sangat halus. Sederhana tetapi Bellova cintai gerakan itu.


Bukan sentuhan langsung pada tempat-tempat di mana gairah bangkit, pria itu bergerak di luar jalur. Hanya menari di tulang belikat Bellova, lekukan tulang belakang dan lingkar pinggang Bellova sedang bibir jelajahi sepanjang tulang selangka. Ia tahu Bellova menggila dari cara Bellova bergetar dalam pelukannya.


"Apa aku telah sangat menyakitimu?" tanya Raymundo pelan saat mata mereka kembali bertemu.


"Aku tak suka mengulang kesedihan."


"Maafkan aku!"


"Kita terlanjur bicara. Bolehkah aku bertanya?"


"Ya."


"Apakah aku sungguh berarti bagimu?" tanya Bellova rapikan alis Raymundo gunakan ujung telunjuk. Mengecup mata yang selalu marah.


Raymundo mengerang. "Raphael telah pengaruhimu."


"Tidak," geleng Bellova tegas. "Jika Raphael pengaruhi aku, Anda tak akan lihat aku di sini. Aku pasti akan pergi atas kemauanku sendiri persis yang dilakukan Queena dan Irishak."


"Aku sangat menyesal."


"Apa aku berarti bagimu? Ini sangat penting bagiku. Aku tak bisa menetap di dalam sini," tunjuk Bellova ke dada Raymundo, "jika masih ada orang lain. Walaupun kamu katakan mencintaiku, aku masih merasa asing padamu."


Raymundo meraih selimut yang ada di sofa, membungkus tubuh Bellova. Mereka butuh bicara dari hati ke hati.


"Apa yang ingin kamu dengar, Bellova?"


Raymundo mengerti mengapa Bellova bimbang. Sikapnya yang aneh dan tak terselami. Bellova pernah mengemis agar mereka bersama dan egoisnya ia berulang kali menolak Bellova dan sakiti hati Bellova. Ironinya lagi ia pernah mengatakan hanya mencintai satu wanita.


"Apa saja."


"Aku tak paham arti Bellova bagi Raymundo. Yang aku tahu, aku hanya memikirkanmu, hanya menginginkanmu, cuma ingin bersamamu, Bellova. Aku ingin kamu yang pertama aku lihat saat aku bangun di pagi hari dan terakhir yang aku lihat di malam hari sebelum aku lelap."


"Aku tak suka ada wanita lain di dekatmu. Aku tak bisa gunakan keningku meskipun aku sangat cemburu."


"Aku tak punya wanita yang dekat denganku."


"Jika kamu bersama seseorang lain, itu sangat menyakitiku."


"Maafkan aku. Apakah Deenar?"


"Ya ..., juga lainnya di masa mendatang."


"Kami tak pernah bersentuhan. Aku punya aturan dan batasan soal hubungan di antara kami."


"Seseorang menyukaiku di sekolah dan terus ingin bersamaku," kata Bellova.


"Aku keberatan," potong Raymundo. "Bahkan Caesar Benjamin tak boleh bicara panjang lebar denganmu."


"Sama hal denganku, Tuan. Aku tak suka seorang wanita tunggangi motor bersamamu dan memeluk pinggangmu."


"Baiklah, aku akan jaga sikapku," balas Raymundo. "Bisakah kita mulai sekarang?"


Bellova tersenyum saat suaminya terdengar merengek. Membelai rahang Raymundo. Membungkuk di atas mata-mata yang memujanya satukan bibir mereka.


Tak ada yang ditahan. Meskipun selama ini mereka berada di mansion Anthony dalam satu ruang tidur, Raymundo Alvaro terlalu kikuk untuk menyentuh Bellova.


Ciuman mereka semakin panjang dan dalam. Raymundo telah berpindah ke leher Bellova dan turuni celah di dada Bellova, lepaskan kaitan br*** dengan satu tangan, ia mendekap Bellova. Tubuh Bellova menegang.


Sisi-sisi bagian depan tubuh berhimpitan ciptakan sensasi tanpa batas. Perpaduan antara bisikan mesra, keindahan di depan mata, sentuhan dan aroma manis hasilkan banyak getaran. Jantung berpacu ikuti irama ciuman, mereka segera berakhir di ranjang.


Lewatkan sarapan. Uap meletup dalam panci, gerimis bertandang ke pulau basahi rerumputan, angin bawa ilalang berdansa dan sepasang kekasih berbagi kecupan, satukan sayang dan cinta lewat sentuhan terintim. Mengaitkan diri satu sama lain, ucapkan banyak ikrar.


Raymundo Alvaro sangat intuitif dalam menjaga harmoni, selaraskan tekanan dan ritme. Lengkungan tubuh Bellova adalah patokan. Wajah sendu Bellova berikan semacam lecutan. Bellova hanya diijinkan rasakan kebahagiaan.


Basahi bibir, jemari Bellova mencengkeram leher besar Raymundo. Tak butuh sesi percintaan liar dan panas karena Raymundo Alvaro ciptakan sesuatu yang berbeda. Hanya kelembutan haru biru. Aura maskulin Raymundo lebih sens*** dibanding bercinta itu sendiri. Bellova telah meledak-ledak oleh cumbuan juga segala hal yang dilakukan Raymundo.


Tak ada yang bisa dibendung. Bellova terguncang hebat di titik paling tertinggi ia bernapas cepat. Detik-detik tak bisa ia jelaskan saat jantungnya berdetak maksimal di bawah permukaan kulit. Tubuhnya menegang, menebal dan berdenyut. Jemari meremas rambut Raymundo kuat, ia segera terkulai di leher suaminya.


Tiga puluh menit berlalu, Raymundo memeluk Bellova sedang Bellova terlelap. Tersesat entah di mana.


Pemandangan terbaik. Tangan bebas rapikan rambut Bellova, mengusap alis dan membelai kening Bellova.


Matahari bersinar meski tak secerah musim panas.


Bellova sedikit geliat, kembali melekat di dadanya. Ia telah ciumi kelopak mata Bellova sebanyak yang ia mau tetapi tak pernah puas.


Bisakah matahari keringkan rerumputan secepat mungkin? Bisakah bersinar lebih lama? Raymundo Alvaro ingin menggendong Bellova ke sisi lain pulau dan menikmati sarapan mereka di alam terbuka. Ia bisa mengepang rambut Bellova setelahnya meski ia tak tahu caranya.


***

__ADS_1


Tak tahu bagaimana chapter ini terbaca, semoga Anda sukai Chapter ini karena banyak sekali yang aku potong.


Apa yang Amda inginkan di chapter selanjutnya? Beritahu aku di kolom komentar.


__ADS_2