My Hottest Man

My Hottest Man
Chapter 64 : Raphael Vs Romeo (1)


__ADS_3

Raphael Bourne, terkantuk-kantuk di atas keyboard komputer. Menguap lalu mengantuk lagi.


Meskipun ia sangat jenius dan miliki perangkat-perangkat super canggih, Raphael Bourne mengekang diri untuk tidak mengakses aplikasi khusus yang bisa langsung memantau orang secara live via satelit, dan melihat Bellova Driely Damier.


Akses model ini dibatasi bagi kaum awam tetapi dirinya secara resmi bergabung dalam sebuah organisasi rahasia meskipun ia belum jadi tim Inti masih bernaung di tim Hore, ia tetap miliki keistimewaan eksklusif dari Organisasi.


"Apa yang sedang pria aneh itu lakukan dengan istrinya?" tanya Raphael Bourne mengetuk-ngetuk telunjuk pada meja. Apakah Romeo membuat api unggun dan memanggang sesuatu di luar pondokan? Atau Romeo akan mengurung Juliet dan berada di dalam pondokan 24 jam tanpa berpisah satu inci?


"Oh mengapa aku berharap pria itu menyakiti istrinya dan aku datang sebagai penyelamat?"


Raphael mengatur rambut di kaca.


"Aku lebih tampan dibanding Romeo yang tanpa ekspresi."


Semenjak jadi agen rahasia, rambut keriting tebalnya hilang berganti sesuatu yang sangat bergaya dan bobot tubuh secara alami naik berkat latihan fisik intens di sebuah markas rahasia.


Wanita muda ini, Bellova Driely Damier lebih tua darinya tiga tahun, tetapi ia sangat menyukai kepribadian seperti Bellova juga Belliza. Wanita-wanita sederhana yang miliki sopan santun, etika bagus juga hati baik.


Tanpa sadar jemari Raphael bermain di atas mouse dan ia telah berada di tampilan awal aplikasi. Tak mengurung jempolnya menekan "enter" setelah login. Beranda masuk sebuah aplikasi terpampang di hadapannya. Tanpa buang waktu, ia pindai lokasi pulau, klik ikon pada peta dan pindahkan tampilan.


"Mari kita lihat! Apakah Romeo berkeliaran di luar pondok dengan kekasihnya? Atau ...."


Sangat cepat 1000 mil dari atas langit berubah jadi 500 mil, 100 mil, 50 mil, 20 mil, 10 mil, jempol dan telunjuk terus zoom pada aplikasi. 1000 kaki, pulau terlihat hijau. 500 kaki, pulau penuhi layar laptop. Sisa 50 kaki, Raphael memeriksa keadaan pulau.


Tak ada tenda dan kayu bakar bekas api unggun.


Berdecak panjang saat temukan sesuatu yang lain di Barat pulau. Melotot sempurna.


"Pria pemarah itu! Ya Tuhan! Apakah Raymundo Alvaro seriusan ciptakan jaring laba-laba di tebing dan membawa Juliet ke sana?"


Dua-puluh-kaki, Raphael masih berdecak.


"Mungkin pikirnya Juliet akan terpesona. Spiderman saja yang hebat tak lakukan hal seekstrim itu, pikirnya siapa dia? Bagaimana jika Juliet jatuh dan mungkin hilang di tengah samudera? Satu-satunya alat komunikasi dirusak. Akh pria itu! Bagaimana bisa aku betah bersamanya selama tujuh tahun?"


Email penting masuk. Raphael mengerang jengkel karena kesenangannya terganggu, ia masih penasaran pada Romeo dan Juliet.


Harusnya ia kirimkan bait-bait puisi untuk dihafal Romeo. Bayangkan Raymundo Alvaro bacakan puisi di sisi tebing sementara Bellova duduk dengan sekuntum bunga di atas telinganya, Raphael segera terkekeh geli.


"Tak akan terjadi! Jika sampai terjadi mungkin matahari akan terbit dari barat." Raphael menekan emoticon surat yang terus kerlap-kerlip.


Orang hilang, Yaritza Fonza, 18 tahun. Siswi sekolah menengah atas.


Berikut banyak foto, seorang gadis muda cantik bermata biru terlihat di layar.


Pelajari detil kronologi hilang. Broken home again.


"Semakin hari semakin banyak orang hilang," keluh Raphael.


Mengetik pesan balasan.


"Akan dikerjakan."


Sedikit enggan berpaling pada laptop lain tinggalkan niat melihat Bellova. Tangan Raphael segera bermain, kali ini lebih cepat. Mengetik nama Yaritza Fonza di mesin pencarian ..., browsing ..., hanya iseng, namun semua informasi segera muncul.


"Lalu, mengapa dunia butuh aku jika mesin pencarian saja cukup sebagai informasi?" Mengeluh dan segera melek.


Dalam lima belas menit mengumpulkan banyak data secara detil mengenai Yaritza termasuk sebuah e-commerce, brand retailer furniture, satu jam yang lalu memposting sebuah produk item, keset lantai bernama Yaritza ukuran 32 x 175.


Raphael penasaran, mengapa sebuah keset ikut masuk dalam search engine untuk pencarian dengan nama Yaritza Fonza?


"Orang tua bercerai dan menikah lagi. Ibunya pindah dari negara ini ke California. Ayahnya menikahi seorang wanita dan Yaritza memilih tinggal bersama Ayahnya."


Raphael Bourne membaca informasi. Dalam setahun jumlah orang hilang meningkat dari bayi hingga wanita dewasa. Pihak berwenang curigai sindikat perdagangan manusia tetapi sesuatu lebih berkuasa menutupi tabir peristiwa hingga sangat sulit melacak aktivitas kejahatan teroganisir ini.


Beberapa pesan masuk beruntun. Pesan teratas berisi percakapan 24 jam terakhir Yaritza bersama Ibu tirinya. Hanya pertengkaran Ibu dan anak. Raphael menyimak sambil tangannya menyusuri laman lapak belanja online. Ada yang aneh di sini, ukuran keset kaki 32 * 175 centi. Mengapa tak bikin ukuran 30* 200 meskipun Raphael bingung ukuran keset kaki 30 centi dan lebar 200 centi. Ukuran keset yang membingungkan. Lalu harganya. Satu buah keset seharga US$ 14.400?


Apakah keset ini replika permadani Aladin hingga harganya ratusan juta?


Mendadak saja, matanya tertarik pada kode khusus yang ada ditiap produk.


SKU : V001676413


Menyimpan kode dalam ingatan dan mengetik di situs pencarian dan Raphael Bourne takjub, itu adalah sebuah lokasi.


Kembali ke website, register gunakan salah satu akun samaran, profilnya adalah pria 47 tahun karismatik bernama Armando Quinn. Raphael masukan si keset dalam keranjang belanja, segera transaksi pembelian. Tersedia jenis pembayaran banyak macam. Timang - menimang. Ia sangat penasaran dengan keset lantai Yaritza seharga 206 juta.


Ia akan dapatkan banyak uang nanti. Sekali ini ia harus membongkar teka-teki. Raphael mentransfer sejumlah uang sesuai panduan. Setelah transaksinya diverifikasi, ia menerima konfirmasi. Kombinasi huruf dan angka.


VG32.


Raphael Bourne transformasi menjadi Armando Quinn, ketua-tuaan dengan kumis dan janggut palsu. Ia meraih jaket, meraih ponsel, memakai topi dan turun ke lantai berada di bawah tanah.


Kendarai motor, ia keluar dari pintu berlawanan dari garasi parkiran minimarket. Motor nyaris tanpa bunyi melaju dalam sebuah lorong sejauh 2 km. Tak lama berselang ia berada di keramaian kota, kendaraannya muncul di parkiran bawah tanah sebuah rumah sakit.


Ikuti panduan ponsel pintar, Raphael Bourne sampai di sebuah apartemen. Di depan apartemen mobil-mobil dari tahun 1980-an berjejer rapi.


Sebelumnya ia telah memeriksa tempat ini dan temukan bahwa apartemen tua yang asri adalah yayasan bagi para lansia alias panti jompo. Petunjuk mengarah ke sini.

__ADS_1


Mengapa ada di sini?


Lepaskan helm dan masuk ke lobi panti. Yang terlihat hanyalah orang jompo berseragam putih bunga biru. Pergi ke meja resepsionis.


"Siapa yang ingin Anda temui, Tuan?" tanya wanita dibalik meja.


"Yaritza," sahut Raphael.


"Silahkan mencarinya di dekat taman sebelah barat, Tuan," sahut si perawat tersenyum ramah.


Raphael ikuti petunjuk perawat, pergi ke taman. Berdecak. Apa yang akan ia temukan di sini? Hanya para lansia, tak ada gadis berusia 18 tahun bahkan perawat berseragam putih.


Mengutak-atik ponsel, coba deteksi suhu serta segala hal termasuk getaran yang mungkin bisa dijadikan petunjuk.


Well, ia temukan sesuatu. Jika seismograf mencatat gempa bumi maka ponselnya miliki vibration analyzer. Tempelkan ponsel pada permukaan lantai taman, angka pada layar segera bergerak seperti beat musik, pertanda menangkap banyak getaran jauh di bawah sana.


Ada sesuatu di bawah bangunan panti jompo ini. Raphael putuskan berdiri tepat di mana kode dari lapak barang berikan lokasi paling tepat. Tempat itu yaitu sebuah gudang penyimpanan bekas milik panti jompo di sudut paling barat yang sedikit tersembunyi.


Sebuah plat besi adalah katup menuju gorong-gorong, yang Raphael pikir ia tebak benar. Berputar ikuti jarum jam. Tak ada yang terjadi. Ia memutar kakinya berlawanan arah dan tak heran ketika tembok bergeser,sebuah lift muncul di sana. Memeriksa pistol, bagikan lokasi ke pusat bantuan markas, ia masuk ke dalam lift. Tak ada angka seperti di lift umumnya, hanya ada angka, 7. Ia memencet tombol, pintu lift tak mau tertutup.


"Apa mau benda ini dariku?" Lampu pemindai di atas kepalanya bolak balik bergerak. Raphael keluar dari lift, menaruh pistol di belakang pot bunga.


Raphael sadari sesuatu, tak ada sinyal apapun dalam lift bahkan untuk keadaan darurat. Segera alihkan ponsel ke mode user umum sebagai antisipasi kalau-kalau nasibnya buruk dan ia mungkin tertangkap basah serta ketahuan bahwa dirinya seorang agen rahasia. Ponselnya tak akan pernah berikan informasi apapun pada musuh.


Kembali ke dalam lift menekan tombol 7, pintu tertutup lalu turun dengan cepat bergerak turun.


Oh jangan sampai ketahuan. Ia tak akan pernah melihat dunia lagi. Terlebih ia tak akan pernah melihat Bellova lagi.


Mengapa ia menyukai istri temannya? Bellova sangat cantik dan menawan. Ia pernah diperintahkan 25 jam awasi Bellova bahkan saat wanita itu tidur. Ia tak suka Raymundo Alvaro menyakiti Bellova. Mata indah, hidung tinggi serasi dengan bibir penuh. Bellova seeprti jelmaan Dewi dan ada makhluk terbodoh di dunia bernama Raymundo Alvaro yang kebal pada pesona Bellova. Harusnya ia tak pancing-pancing Raymundo jatuh cinta pada Bellova. Siapa tahu, ia mujur, Bellova menyukainya.


Telunjuk Raphael mengetuk atas kupingnya. Mengapa ia menginginkan Bellova untuk dirinya sendiri? Apakah seperti ini rasanya saat Raymundo Alvaro jatuh cinta pada Pequeena?


Pintu lift terbuka buyarkan angan. Raphael berdiri tegak. Pemandangan di depannya tidak mengherankan. Dunia prostit*** temukan tempat terbaik berkembang biak. Kali ini mengutip kehidupan ubi jalar, diam-diam berumbi di bawah permukaan tanah.


Selanjutnya apa?


Seorang gadis cantik berpakaian minim nyaris hanya kulit kosongan menyambut dirinya.


"Selamat datang, Tuan! Tujuan Anda?" tanya si gadis cantik tersenyum ramah.


Bingung sejenak.


"V001676413," jawab Raphael asal mengingat sandi dari kode produk yang ia lihat di website untuk item keset lantai. Ia mengubah suara disesuaikan penampilannya yang ketua-tuaan.


Si gadis menyipit curiga.


"Tuan Armando ..., senang Anda berhasil sampai kemari. Silahkan ikuti aku!"


Cukup banyak pengunjung ..., jelas ..., ini tempat terbaik ciptakan dosa. Bahkan beberapa cara percintaan tak masuk akal terjadi dalam ruangan bermusik riang ini.


Raphael mencatat beberapa hal di kepala jeniusnya. Beberapa remaja terlihat bersama pria lebih tua, just like sugar daddy. Oh My God. Pantasan banyak pria muda jomblo, gadis muda sibuk pacari pria-pria uzur.


Berusaha tenang, Raphael yakin, tidak menutup kemungkinan ada anak di bawah umur di ruang-ruang tertutup. Mengekor si gadis dari belakang, mereka sampai di sebuah ruangan.


"Terima kasih telah bertransaksi. Barang yang Anda inginkan ada di dalam."


Raphael Bourne menyipit.


"Ukuran 32 dan tinggi 175, masih baru. Anda mungkin butuh sedikit keahlian untuk membuka segel."


Raphael mengangguk seolah paham. Apakah keset ini sangat mewah masih dalam bungkusan plastik? Atau keset ini adalah sesuatu yang lain.


Pintu tertutup di belakangnya. Dalam ruangan seorang gadis tertidur lelap, gunakan gaun dari tirai kristal sisakan separuh tubuh polos.


Untuk sesaat Raphael bingung, apa yang harus ia lakukan? Kitari ruangan seolah-olah nikmati ruangan. Tangannya menyentuh beberapa furniture di ruangan itu. Memeriksa. Temukan ada kamera dibalik lampu tidur. Ia hanya harus hati-hati. Sekali lagi berkeliling, masih ada dua kamera lagi.


Si gadis tertidur seperti pingsan.


"Oh tolonglah, aku membayar mahal untuk Yaritza, mengapa sambutannya dingin?" keluh Raphael dibuat-buat. Apa ia perlu tiduri saja Yaritza? Ia telah menguras tabungan untuk membeli gadis ini.


Oh tidak, aku tak bisa khianati Bellova. Ia mulai berperang.


Tolong sadar, Bellova milik Raymundo Alvaro kecuali kamu ingin kehilangan semua gigimu sedini mungkin. Raphael kutuki dirinya yang konyol.


"Hallo ..., Yaritza ...."


Tak ada sahutan. Raphael berjalan mendekat. Si gadis mungkin disuntik obatan terlarang. Cara tidurnya seakan habis dibius. Naik ke ranjang, tangan Raphael berlarian di atas betis si gadis. Sampai di pinggang.


Semakin naik jari-jarinya sedikit berikan belaian. Ia kemudian memeluk si gadis. Jiwa brengseknya melambai-lambai. Yaritza punya tubuh indah, gadis menjelang matang. Tak ada Bellova yang ini pun jadi.


"Yaritza?! Bukankah kamu harus menyambut seseorang yang telah membayarmu ratusan juta?"


Si gadis berbalik perlahan. Benar dialah Yaritza Fonza, gadis yang hilang. Mata biru si gadis menatapnya sayu.


"Ibu tiriku menjualku ke tempat ini!" ujar Yaritza lirih, mengadu.


Raphael acuhkan Yaritza, takut seseorang awasi mereka.

__ADS_1


"Aku tak begitu peduli. Aku hanya membeli keset lantai seharga 206 juta. Tadinya aku bertanya-tanya, mengapa harganya sangat mahal. Mungkinkah terbuat dari kristal langka?"


Yaritza berusaha mendorong Raphael menjauh saat tangannya membelai tengah dada Yaritza.


"Aku tak menjual diriku! Kamu baru saja ditipu."


Raphael menarik si gadis sedikit memaksa, mengikat kaki Yaritza dengan kakinya.


"Kamu pria tua mesum!"


"Ayolah, Yaritza! Beruntung itu aku! Jika pria lain, kamu mungkin telah disuntik obat perangsang dan disiksa sebelum bermain," bujuk Raphael, mencari cara agar bisa keluar dari kotak terkutuk ini.


"Apakah kamu tak punya Puteri?"


"Tidak. Tapi jika aku punya Puteri, aku akan awasi dia 24 jam sampai dia menikah. Aku akan pelintir tangannya saat dia berbohong ingin menonton pertandingan bola padahal dia pergi ke pesta dan minum-minuman keras dengan anggota gang."


Yaritza terkejut, mungkin bingung darimana Raphael tahu kejadian sebelum Yaritza menghilang. Membaca sinyal di mata Raphael, Yaritza bersemangat. Tiba-tiba mendekat dan mencium Raphael. Berbisik pelan.


"Apakah Anda datang untukku?"


"Ya, aku membeli sebuah keset dengan tabungan hari tuaku seharga 206 juta!" balas Raphael di leher Yaritza. Dia pria normal dan tubuhnya mendadak inginkan lebih.


"Keluarkan aku dari sini!"


"Setelah aku membuka segel!" sahut Raphael kumat jahilnya.


"Apa?!"


"Ukuran dadamu 32 dan kamu belum pernah um em ...."


"Kamu percaya? Aku gadis populer. Dan pikirmu masuk akal keperawanan dijual hanya dengan 206 juta?"


"Itu pertanda kamu tidak begitu berharga," balas Raphael sangat dekat dengan si gadis. Oh sialan, bisakah Raphael Bourne dapatkan bantuan sesegera mungkin sebab ia mulai kewalahan hadapi tubuh feminim di depannya. Apa semua manusia di markas sibuk?


Raphael menarik seprai menutupi tubuh mereka. Dalam benda itu, tak akan ada kamera yang bisa merekam.


"A ... pa?!"


"Apa?!" sergah Raphael. "Aku membelimu 206 juta."


"Aku tak menjual diriku," jawab Yaritza.


"Transaksinya sekarang!"


"Oh brengsek terkutuk!"


Yaritza gunakan kaki menendang Raphael tetapi si pria datang kembali. Kini beberapa adegan pemerkos***** dan kekerasan ditampilkan. Yaritza meronta, Raphael membungkuk. Satu Sambaran cepat, ia kuasai bibir Yaritza.


Abaikan mata-mata terbelalak Yaritza, ia menggulung bibir si gadis kemudian gunakan lidahnya memaksa tenggorokan Yaritza menelan sebuah pil yang akan bekerja selama 15-20 menit untuk hentikan denyut nadi Yaritza.


"Brengsek, semoga Puterimu juga diperlakukan sama sepertiku!" maki Yaritza.


Semakin si gadis meronta, semakin cepat pil bekerja. Ciuman berakhir tanpa perlawanan karena Yaritza pingsan, mati suri. Raphael mengangkat kepala, pura-pura panik, menggedor pintu dan beritahukan kondisi Yaritza pada beberapa pria tinggi besar.


Pemeriksaan berlanjut, Yaritza ditemukan mati dengan mata melotot.


"Apa yang akan terjadi padanya?" tanya Raphael berakting macam orang frustasi.


"Kami akan mengurusnya!"


Para petugas, mengambil pembungkus jenazah dan masukan tubuh Yaritza ke dalam sana.


"Tunggu dulu!" cegah Raphael, "Aku telah bayar ratusan juta dan bagaimana bisa aku hanya bersenang-senang tak sampai 10 menit? Bisakah aku mengurusnya! Lagipula, bukankah aku telah membelinya?"


Menunggu konfirmasi pihak pengelola tempat bejat itu, tak lama berselang, Raphael menarik sebuah koper besar pergi ke lift kembali ke permukaan. Ia keluar dari panti jompo dan hendak Naiki motor ketika beberapa pria menyergapnya.


Satu tembakan anastesis, Raphael Bourne bertekuk lutut tanpa daya. Koper di bawah pergi, ia mengumpat segera jatuh tak sadarkan diri.


Entah berapa lama. Tubuhnya terpanggang panas matahari dan ranjangnya berayun-ayun. Matanya terbuka dan temukan ia di sebuah perahu, terombang-ambing di sisi tebing.


Ombak datang dan ayunkan perahu ke sana kemari. Satu pukulan, perahunya terbolak. Raphael berpegangan pada tiang kapal.


"Shits!"


Perahu kecilnya kemudian terseret ombak bengis, menghantam dinding tebing lalu rusak.


Raphael berenang berusaha menjauh dari tebing penuh karang tajam. Ia kenali pulau ini seperti ia mengenal dirinya sendiri meskipun perkara akan panjati tebing tak ada dalam planning. Menyembul di sisi pulau mulai kehabisan tenaga melawan ombak yang kejam, ia akhirnya sampai di karang yang membentuk landasan.


Ada tali dan perlengkapan memanjat tebing juga sebuah pesan pada papan kayu.


*Tanpa sepasang sepatu, kepalamu akan berakhir di dasar laut.


Romeo*


***


Komentar ditiap chapter ya. Aku up dua chapter today. Semoga Anda menyukai.

__ADS_1


Aku sangat sibuk jadi baru sempat nulis. I am so sorry jika kalian menunggu lama.


__ADS_2