
Lucio Vargas datangi studio. Langkah-langkah panjang dan pasti. Cheryl baru akan buka mulut ketika Lucio Vargas beri kode dengan kepala agar gadis kecil itu tak bersuara. Bellova bukakan pintu.
"Trims, Bellova."
Lucio Vargas mengecup pipi Cheryl lembut sembari berbisik.
"Kita akan memulai kejutan manis, Sayang."
"Apa itu, Uncle Cio?" Cheryl bersemangat.
"Sesuatu yang hebat."
Bellova menerima kotak kue dari tangan Lucio Vargas.
"Mengapa Anda tak kabari aku bahwa Belliza ada di studio?" tanya Bellova. Matanya mulai panas.
"Takdir, Bellova. Kebetulan kamu ada di sini. Perfecto."
Mereka naik ke lantai atas, mengendap-endap. Mengetuk pintu.
"Masuk!"
Pintu dibuka, didorong pelan-pelan..
"Kakak?!"
"Mommy?!"
Belliza berbalik dan memekik senang saat melihat Cheryl.
"Mommy ...," seru Cheryl berlari pada Belliza. "Aku suka ini, Uncle Cio. Aku suka ini."
"Oh ya Tuhan. Aku merindukanmu, Puteriku. Aku sangat ingin menjemputmu." Belliza menggendong Cheryl, menangis, sedikit melolong. "Terima kasih segalanya berakhir baik bagi kami, ya Tuhan." Belliza menciumi puterinya berulang kali. "Kita akan bersama dan tak terpisahkan."
"Mommy janji?"
"Ya, aku janji."
"Aku tak suka saat dua Mommy-ku pergi."
"Tidak lagi." Belliza ulurkan tangan pada Bellova. "Aku memikirkanmu dan Bellova tiap menit."
"Ya, aku tahu. Bellova juga rindukan Belliza." Cheryl mungkin mengenali perbedaan keduanya kini.
"Apa kakak baik-baik saja?" tanya Bellova mendekat, meraih tangan Bellova. Mereka berpelukan penuh sukacita, kerinduan dan haru biru. "Kami baru saja akan pergi ke Rumah Sakit."
"Tidak. Aku di sini sejak kemarin. Lucio bawa aku kemari. Aku kebingungan karena tanganku kaku dan tak bisa hasilkan apapun." Belliza bicara sambil menangis haru. Mereka berpelukan.
"Mengapa tak beritahu aku?"
"Lucio yakinkan aku bahwa kita akan segera bertemu."
Lucio Vargas menunggui dengan sabar hingga euforia lepas kangen mereda. Kayla dan Charlize kemudian bergabung, nyalakan lilin di atas kue.
"Kurasa sekarang giliranku," ujar Lucio Vargas bawakan bunga, berikan pada Belliza. "Welcome home, Belliza."
Lalu, diiringi kue. Ah, pria seromantis ini?
"Tiup lilinmu untuk dua kali ulang tahun yang terlewati dan bersiaplah menerima berkat Tuhan di tahun-tahun akan datang."
Belliza menatap pria di hadapannya. Hati mulai luluh. Sesempurna ini. Apa yang ia tunggu? Belliza mulai menyisihkan ruang di relung, temukan sebentuk cinta tulus Lucio Vargas untuk dipajang di sana.
"Pejamkan matamu! Make your wish dan tiup lilinmu, Belliza."
Lucio Vargas menghapus sisa-sisa air mata di pipi Belliza. Senyuman mekar, pejamkan mata dan ucapkan syukur. Belliza meniup lilin kuat.
Semua orang bertepuk tangan.
"Cheryl?!" panggil Lucio.
"Yes Uncle," sahut Cheryl berseri-seri ketika Lucio Vargas berlutut di sisi gadis cantik. "Emm, apakah kamu tak keberatan jika aku bersama Ibumu? Aku mencintainya dan ingin menikahinya." Lucio Vargas kedapatan sangat gugup saat melamar Belliza.
Senyuman Cheryl memudar, bola mata Cheryl berubah sedikit sedih.
"Bagaimana dengan Daddy?" tanya Cheryl. "Aku ingin cinta Mommy dan Daddy."
Lucio Vargas mengangkat dagu Cheryl, tersenyum hangat.
"Daddy dan Mommy tidak akan kurangi kasih sayang mereka padamu. Kepentingan Cheryl di atas segalanya. Aku akan melengkapi kekurangan Mommy juga Daddy, tak akan gantikan Daddy di hatimu." Menarik napas panjang. Sangat tenang saat yakinkan Cheryl. "Hanya saja ..., Daddy akan bersama Helena untuk waktu panjang. Dan aku akan bersama Ibumu. Jika, kamu tak keberatan."
Semua orang menahan napas mereka. Cheryl terlihat pikir-pikir. Lucio Vargas keluarkan kotak berisi tiga cincin.
"Aku berjanji akan mencintaimu dan Ibumu sepenuh hati. Tak akan menyakitinya dan akan setia padanya. Maukah kamu jadi Puteriku, Nona Devano?"
Cheryl menatap kotak cincin lalu Lucio Vargas.
"Uncle Ray, berikan aku cincin pagi tadi dan bertanya hal yang sama. Maukah aku jadi Puteri-nya?" Cheryl mengangkat tangan kanan pamerkan cincin di sana.
Lucio Vargas mendes*** kecewa. Pria kaku itu mendahuluinya.
"Apakah itu berarti Uncle Ray ingin bersama Mommy karena Mommy juga punya cincin yang sama denganku?" tanya Cheryl lagi, mendongak pada Bellova.
Lucio Vargas semakin terkesan. Not bad, Raymundo Alvaro. Entah kebetulan atau apa, desain cincin terlihat mirip.
Belliza menoleh pada adiknya, Bellova balas dengan senyuman.
"Oh Sayangku, aku harap pria itu benar-benar jatuh cinta padamu."
Jika Raymundo Alvaro adalah pria di rumah sakit bersama Helena maka Belliza hanya harus berdoa, pria itu mencintai Bellova. Raymundo Alvaro terlihat bertolak belakang dengan Lucio Vargas.
Bellova sembunyikan keluh kesah.
"Jadi, apakah Cheryl setuju?" tanya Bellova pada Cheryl abaikan hati merana. Bagaimana ia bisa berdiri tetap tegar hadapi sikap Raymundo Alvaro yang misterius bak Pluto.
"Tentu saja, aku menyukai Uncle Cio. Aku suka jadi Puterimu dan Mommy bersedia menikahimu."
Semua orang terkekeh. Cheryl sepertinya mendahului Belliza. Lucio Vargas pakaikan cincin pada Cheryl yang berbunga-bunga karena akan miliki banyak orang-orang yang mengasihinya.
"Aku punya Daddy, Uncle Cio dan Uncle Ray. Bukankah aku sangat keren?"
"Ya, tentu saja. Ini upah untuk gadis baik sepertimu," balas Lucio Vargas mengecup pipi Cheryl.
Lucio bangkit berdiri, meminta tangan Belliza dan tak punya banyak kata hanya pakaikan cincin di jemari tengah Belliza. Dan Belliza lakukan hal sama. Berpelukan dibawah bunyi tepuk tangan.
"Aku mencintaimu, Belliza." Pria itu telah katakan berulang kali.
"Terima kasih, aku takut tak bisa membalasmu sebesar rasa cintamu padaku. Aku akan berusaha."
"Aku mendukungmu, Belliza."
Tatapan dua orang yang sedang jatuh cinta bisa bikin "brittle (baperan)" bagi para saksi hidup.
"Selamat untuk Anda berdua."
"Selamat Tuan dan Nyonya Belliza, semoga Anda berdua selalu bahagia sampai maut memisahkan." Kayla dan Charlize bergantian ucapkan selamat.
"Terima kasih, teman-teman."
__ADS_1
"Kurasa kami akan pergi memesan sesuatu untuk rayakan hari bahagia ini, Belliza." Bellova memeluk kakaknya, berdoa agar Belliza selalu bahagia. Tanpa sadar berharap, Raymundo Alvaro sedikit saja punya sisi romantis.
"Ya, kamu benar Bellova."
"Aku dan Belliza butuh waktu bersama. Aku adalah klien penting hari ini untuk beberapa kemeja dan jas." Lucio Vargas menjalin tangan Belliza erat.
"Akh manis sekali. Aku lega, kakakku bersamamu Tuan Vargas." Bellova menyeka air mata. Pengorbanannya tidak sia-sia, lepas dari itu Belliza temukan cinta sejati.
"Dan bagaimana dengan Tuan Raymundo Alvaro?" tanya Lucio Vargas menyimpan beban. Perhatian yang sangat manis dari kakak ipar, buat Bellova semakin yakin Belliza digenggam tangan yang tepat.
"Kami bertunangan semalam," jawab Bellova tersenyum, amati cincin di tangannya. Have no idea. Melamar seseorang saat tidur, jelas saja Raymundo Alvaro hanya ingin pemenuhan ego sendiri.
Kayla dan Charlize langsung melongo, baru sadar bahwa Uncle Ray yang di maksud Cheryl adalah salah satu klien mereka yang batalkan pernikahan seminggu lalu. Bertukar pandang.
"Baiklah, kurasa semua orang perlu bekerja kecuali aku dan Cheryl. Kita butuh makan siang yang lezat."
Bellova mencegah dua pegawai mereka berpikir tidak-tidak.
"Baik, Nona." Charlize dan Kayla keluar.
"Jangan banyak memesan, Bellova. Malam ini kita akan pergi ke São Vicente karena Ibuku dan Nyonya Devano menunggu kedatangan kalian untuk perjamuan sederhana."
Bellova mengangguk, bergairah berpikir akan memesan makanan dari restoran terdekat karena Belliza dan Cheryl sangat bahagia. Langit mendung tapi hati sedang bersinar. Menggandeng tangan Bellova. Menghirup udara segar, berikan waktu pada Lucio Vargas dan Belliza berkencan.
Sementara Lucio Vargas lepaskan jas. Berdiri di samping meja kerja, perhatikan Belliza tanpa kedip. Setiap gerakan yang dibuat Belliza hasilkan melodi. Dia sungguh-sungguh jatuh cinta kali ini.
"Em, aku bisa tahu ukuran-mu. Jadi, melepas jas tak diperlukan, Tuan."
"Bagaimana jika kamu keliru? Dua tahun lebih tak bekerja."
"Tanganku mungkin kaku, bakatku tidak."
"Kita butuh kemeja hari ini ke pertemuan keluarga."
"Kurasa kita akan membeli. Aku tak mungkin buatkan dalam waktu sehari." Belliza sangat menyesal.
Kayla mengetuk pintu lalu masuk. Tersenyum lebar di ambang pintu.
"Kay?"
"Mam, maaf aku mengganggu. Ada paket yang dikirimkan kemari untuk Anda."
Belliza terkejut. Kotak besar di tangan Kayla. Menerima kotak dan bawakan ke meja. Mengerut pada Lucio Vargas.
"Aku tak pernah pesan barang."
"Coba dibuka," saran Lucio Vargas.
Belliza membuka kotak penutup, kertas pembungkus. Dua kemeja putih dari merk termahal di dunia juga dress putih bagian bawah.
"Hadiah dariku untuk kita." Lucio Vargas tersenyum lebar.
Betapa romantisnya pria ini, Belliza menyentuh kemeja. Mengangkat hati-hati.
"Kekasihku akan buatkan aku banyak kemeja, hari ini kita hanya akan pakai hadiah dariku."
Lucio Vargas lepaskan blazer, juga kemeja sisakan tubuh polos. Belliza berhenti bernapas, sesuatu di tubuh Lucio Vargas buatnya terbelalak. Tersihir, dekati Lucio Vargas yang menarik Belliza padanya. Tangan kanan Belliza, terulur menyentuh tato di sisi tubuh pria itu.
"Kamu?" Belliza terpana.
"Ya. Aku bersihkan tubuhmu di malam kita pertama kali berjumpa. Aku temukan gambar indah di tubuhmu dan buatkan satu."
Lucio Vargas kuatkan pelukan pada Belliza. Mereka dalam ikatan penuh emosional ketika Lucio Vargas menatap mata cokelat kehijauan Belliza yang terpesona padanya. Lucio Vargas akan menyentuh bibir Belliza saat pintu ruang kantor terbuka. Raymundo Alvaro berdiri di ambang pintu. Menyipit. Pelukan Lucio Vargas terlepas. Belliza sedikit mendorong Lucio Vargas menjauh refleks karena terkejut.
Raymundo Alvaro tercengang. Bagaimana bisa wanita itu berciuman dengan Lucio Vargas setelah memakai cincin darinya?
Tanpa basa-basi menyerobot masuk, pegangi tangan si wanita yang terlalu terpaku untuk menolak dan hentakkan dari pelukan Lucio Vargas keras hingga tubuh sang wanita menubruknya.
"Hei, apa yang Anda lakukan?" Lucio Vargas berdiri tegak. Raymundo Alvaro dekati Lucio Vargas. Matanya menyala.
"Bellova milikku dan aku sangat ingin membunuhmu saat ini," ujar Raymundo dingin. Tanpa banyak kata menarik si wanita yang terperangah ikut dengannya. Mengapa tak ia tembak saja Lucio Vargas? Ia sangat ingin lemparkan Lucio Vargas keluar jendela. Raymundo menggeram jengkel.
"Hei, berhenti Raymundo Alvaro!" Lucio Vargas ikut dari belakang. Berhasil, pegangi tangan Belliza satunya.
Raymundo menjadi semakin murka. Ayunkan tangannya tanpa peringatan untuk menonjok wajah Lucio Vargas tapi Lucio seakan telah menebak. Lucio menghindar.
"Tuan, apa yang Anda lakukan?" jerit Belliza. "Mengapa datang-datang dan memukuli orang lain?"
Raymundo panas membara, kebakaran di seluruh pori-pori. Berani sekali meneriakinya dan lindungi Lucio Vargas. Jika tak cinta padanya seperti kemarin setidaknya Bellova ingat perjanjian di antara mereka dan bahwa mereka punya bayi kalau saja Bellova tak melantur.
Charlize dan Kayla keluar dari ruang produksi, berdiri termangu di depan pintu.
Raymundo Alvaro sungguhan menyerang Lucio Vargas. Mereka bertarung, adu kekuatan dari ujung tangga hingga ke sudut koridor lantai dua.
Lucio Vargas terjengkang saat Raymundo menendang dadanya, terjatuh dekat meja penyimpanan mutiara. Suasana menjadi kacau.
"Beruntung aku tak membunuhmu," ujar Raymundo Alvaro menahan amarah.
Lucio Vargas menyeringai. Raymundo Alvaro sepertinya mengira Belliza sebagai Bellova.
"Kamu tak masuk akal, Raymundo Alvaro." Lucio mengejek.
"Persetan denganmu Lucio Vargas." Raymundo Alvaro kepalkan tangan hendak meninju wajah Lucio Vargas ketika Belliza setengah berlari. Berlutut di sisi Lucio Vargas halangi Lucio dari pukulan. Belliza hanya belum paham, mengapa si pria ini bertindak brutal?
"Ada apa denganmu, Tuan? Apa masalahmu?"
Bukannya menyahut, Raymundo Alvaro pegangi tangan Belliza. Bangkit dan menyeret pergi.
"Brengsek lepaskan dia!"
Lucio Vargas bangkit berdiri.
"Ada apa denganmu?" tanya Belliza menolak ikut. Raymundo berbalik.
"Apa tidur denganku dan punya anak denganku tidak cukup bagimu?" tanya Raymundo murka sejadi-jadinya.
"Apa?!" Belliza melotot. "Apa?!"
Mereka di ujung tangga. Bellova masuk dari luar studio. Wajah Bellova sangat kesal, Oskan Devano di belakangnya menggendong Cheryl. Entah siapa yang tertegun melihat siapa, ruangan mendadak beku.
Oskan Devano mendekap Cheryl erat. Bellova mengernyih.
"Kamu sudah pulang kantor?" tanya Bellova lamban, coba mencerna. Mengapa pria itu berdiri seakan-akan ingin rubuhkan studio dan menyeret Belliza. Semakin menganga lihat Lucio Vargas berdarah. Apakah Raymundo Alvaro tahu bahwa Belliza bersama Helena bukan dirinya? Apakah rahasia mereka terbongkar? Oh Tuhan, tidak. Tolong jangan hari ini.
"A-da a-pa?" tanya Bellova gagap. Meneguk liur susah payah.
Raymundo Alvaro sekonyong-konyong tertegun, menegang macam patung hidup. Tak berapa lama berselang lepaskan tangan Belliza. Ia segera berbalik awasi Belliza dari ujung kaki hingga ujung kepala kembali pada Bellova. Tangan Bellova memakai cincin darinya. Mata Bellova diselubungi banyak ekspresi aneh.
Kembali ke Belliza. Tak ada perbedaan. Nihil. Bahkan suara mereka menyerupai. Cara Belliza marah persis Bellova. What the hell? Ini adalah masalah serius. Ia tak bisa bedakan Bellova dan Belliza.
"Kamu?" Raymundo menyipit.
Ada banyak pertanyaan. Sejak kapan Belliza bangun dari koma? Apakah bangun-bangun langsung beraktivitas seperti biasa? Seolah-olah tak pernah koma?
BM sangat detil, tak mungkin pria itu tak tahu ini. Brengsek, ia kena jebakan.
"Bellova milikmu, yang ini milikku! Berhati-hatilah lain kali." Lucio Vargas berkata tajam, menarik Belliza jauhi Raymundo Alvaro. Pegangi Belliza. "Kamu tak apa-apa?" tanya Lucio Vargas segera memeriksa Belliza seakan wanita itu bisa cidera berat.
__ADS_1
"Kamu berdarah," keluh Belliza, gunakan tisu dari Kayla mengusap sudut bibir Lucio Vargas. Mereka terang-terangan ungkapkan perasaan.
"Aku baik-baik saja, Belliza. Jangan kuatir. Aku malah cemaskan-mu." Memeluk Belliza.
Oskan Devano mengerang dari bawah. Terjepit di antara cinta pertama dan wanita yang akan jadi mantan istrinya. Kini malah akan jadi adik iparnya. Wanita-wanita yang selama tiga tahun lebih bersama, tetapi ia anggap tak ada.
Terlebih dalam lengan Lucio Vargas, Belliza terlihat sangat nyaman juga bahagia, malah sangat menarik. Sepupunya memang pandai menarik perhatian wanita. Tapi, ia tak menyangka Lucio Vargas jatuh pada Belliza. Alasan Lucio Vargas mendukung perceraian.
Senjata makan tuan. Oskan Devano sakiti Belliza agar Bellova menderita. Kini kedua wanita itu terlibat dengan sepupunya dan kakak laki-laki dari kekasihnya. Mengapa ia tak suka Lucio Vargas memeluk mantan istrinya? Tidak, Belliza masih istrinya.
"Ya. Aku baik-baik saja, aku hanya terlalu shock."
"Maafkan aku," kata Raymundo datar, kehilangan muka.
"Pria ini ..., sayangnya akan jadi adik iparmu. Sama sepertiku saat pertama aku bertemu Bellova, aku menyangka Bellova dirimu."
Belliza mengerut pada Raymundo Alvaro lalu pada Bellova. Temukan bahwa Bellova tutupi luka. Baik Bellova dan Raymundo, terlihat berkubang oleh kabut rahasia. Bellova sepertinya kesulitan hadapi pria ini. Belliza rasakan kegalauan adiknya.
Bellova tidak begitu bahagia. Tentu saja, jika pria-mu adalah seseorang berfasad kasar, kompleksi sekeras batu di pegunungan berapi juga punya amarah macam magma dalam perut bumi, Bellova mungkin akan sulit bahagia.
Namun, Belliza yakin Raymundo Alvaro sungguh cintai Bellova dari cara pria itu sangat posesif, menghajar Lucio Vargas tanpa tanggung-tanggung. Juga dari kata-kata, "Bellova milikku" yang diucapkan dengan dingin, tenang tetapi seakan bisa ledakan tempat ini. Raymundo menyinggung soal anak, apakah Bellova hamil?
"Aku minta maaf," kata Raymundo Alvaro pelan, sedikit membungkuk.
Lucio Vargas berdecak.
"Tidak segampang minta maaf, Tuan Alvaro." Lucio Vargas menyeringai. Bisa-bisanya tersenyum mengolok Raymundo.
"Pantas untukmu Lucio Vargas karena tak beritahu aku lebih awal."
"Biasakan bertanya sebelum menyerang orang lain! Aku pikir kamu bisa bedakan wanitamu!"
"Maafkan aku. Mari pergi ke dokter," jawab Raymundo Alvaro. Ia hanya terlalu terbakar cemburu hingga salah alamat.
"Kamu saja. Kamu butuh psikiater, psikolog dan ahli kejiwaan lain."
Raymundo Alvaro mengeram, itu sangat menyinggung. Namun, tak ingin brutal atau bertambah malu.
"Aku minta maaf. Mereka terlalu mirip."
Raymundo amati tubuh Lucio Vargas. Tak habis pikir tentang tato di tubuh Lucio Vargas. Jangan bilang Belliza juga punya. Tidak heran jika Oskan Devano salah tiduri orang. Double trouble.
"Jangan sakiti adikku," pinta Belliza pelan pegangi lengan Raymundo Alvaro saat pria itu berbalik hendak pergi.
Raymundo menatap tangan Belliza, pada cincin melingkar di jari tengah wanita itu. Mirip cincin Bellova, tidak begitu persis. Sinis dalam hati, Lucio Vargas ternyata cintai saudara kembar Bellova dan pancing-pancing dirinya agar cemburu. Brengsek itu berhasil.
Raymundo tak menyahut kata-kata Belliza, singkirkan tangan Belliza darinya. Ia segera turuni tangga. Bukan datangi Bellova.
Cukup sudah. Apakah ia perlu menanam chip di punggung tangan Bellova dan memegang remote control agar tak salah kenali Bellova saat Bellova dan Belliza bersama? Mengapa model rambut mereka sama? Mengapa warnanya sama? Mengapa mata mereka sama? Mengapa hatinya tak kenali Bellova? Ini sungguh bikin gelisah.
Raymundo Alvaro menyusuri lemari gaun, tangannya berlari di antara gaun-gaun putih, mata mencari-cari. Temukan sebuah gaun di lemari, VIP Diamond Wedding Dress, mengambil satu. Pergi pada Bellova.
"Apa maumu? Itu milik salah satu klien VIP." Bellova menatap tajam Raymundo.
"Uncle Ray, aku punya dua cincin di tanganku," pamer Cheryl, seakan ingin menghibur semua orang yang menegang. Raymundo pelan-pelan tersenyum hilangkan raut menakutkan, jinak pada Cheryl seperti ia takluk pada Niña.
"Bukankah bagus untukmu?"
"Ya, tentu saja. Aku suka ini. Apakah Anda akan menikahi Mommy-ku yang ini? Karena Mommy-ku yang satu akan dinikahi Uncle Cio."
Raymundo kembali tersenyum pada Cheryl sembari pegangi tangan Bellova. Oskan Devano hampir-hampir putus napas. Ia tak mungkin menghalau Raymundo Alvaro atau ia akan berakhir di tengah jalan dan ditabrak mobil yang lewat.
"Segera pilih gaunmu, Cheryl. Aku menikahi 'Mommy-mu yang ini' sekarang."
Raymundo Alvaro tak berhenti buat orang tercengang. Lucio Vargas berdecak dari ujung tangga sedang yang lain melongo. Raymundo mencapai lengan Bellova, separuh menyeret ke arah tirai.
"Apa maksudmu?"
"Ganti gaunmu!"
"Tidak! Aku tak mau!"
"Ganti gaunmu, Bellova! Kita akan menikah sekarang!"
Belliza turuni tangga, terlalu terburu-buru tetapi ia tak peduli pada lutut yang sedikit gemetar.
"Belliza?!"
"Tidak! Tidak sekarang!" Belliza halangi Raymundo Alvaro. "Adikku punya keluarga dan Anda harus melamarnya dengan benar," tegur Belliza keras. Lindungi Bellova dengan tubuhnya.
Raymundo awasi keduanya. Bellova dan Belliza. Ia sesumbar bisa bedakan keduanya, punya keahlian, tetapi ia bahkan menanduk Lucio Vargas karena salah sangka.
"Bukankah kamu kakaknya? Lagipula Bellinda masih ada di sini. Apakah aku butuh yang lainnya?"
"Jangan coba-coba!" Belliza mengangkat telunjuk beri peringatan. "Lakukan dengan baik dan benar karena Bellova sangat berharga bagi kami."
"Aku akan tanya Bellova."
"Jangan paksakan kehendak Anda pada adikku!" sambar Belliza tidak senang.
"Kakak ..., " guman Bellova pelan, cemas Belliza jatuh sakit lagi. "Kamu baru sembuh, please, tenangkan dirimu! Tuan Vargas, please."
Lucio Vargas bergerak sigap meraih Belliza menjauh.
"Aku tetap akan bertanya pada Bellova," kata Raymundo menatap Bellova tanpa senyum, tanpa kedip.
"Aku tidak mau!" tegas Bellova kembali berapi-api. "Aku tidak mau menikahimu!"
"Mengapa tidak?" tanya Raymundo setajam pisau potong daging, bisa putuskan leher seseorang. Dekati Bellova, dalam satu gerakan buat Bellova tengadah padanya. "Berikan dirimu padaku!" tuntut Raymundo memaksa.
"Tidak!"
"Aku memegang kuncinya, Bellova!"
"Aku tak peduli."
"Sungguh?"
"Ya. Lemparkan saja aku ke penjara dan biarkan aku membusuk di sana. Aku tak bisa bersama pria temperamental, tak berperasaan, egois, semena-mena dan kejam sepertimu."
Raymundo terkejut. Mereka bicara cukup dekat. Mata Bellova penuh air mata dan semua emosi teruraikan jelas di sana.
Raymundo Alvaro tiba-tiba bisa rasakan Bellova di jantungnya. Menyentuh kening Bellova dengan keningnya, coba terjemahkan sikap penolakan penuh kemarahan. Melunak. Tangannya memeluk pinggang Bellova.
"Apa maumu? Katakan padaku?" tanya Raymundo Alvaro lirih. Puncak hidung mencium kelopak mata Bellova yang basah. "Beritahu aku, apa maumu Bellova."
"Nikahi aku seperti Pangeran menikahi Cinderella bukan seperti seorang penculik menikahi tawanannya."
***
Cover yang Author buat sebelumnya adalah Raymundo Alvaro (Ada di Prolog). He's not perfect. Baik Mr. H (Piglet), Mr. Ax (Mr. Owl) maupun Romeo tidak tampan-tampan amat. Mereka hanyalah sekumpulan pria-pria kelewat beku dan kejam.
Mengapa dia punya banyak luka di wajahnya? Tahulah ya, karena dia suka menanduk orang.
Tinggalkan komentar ya!
__ADS_1