
2 P.M dan hujan basahi bumi.
Berdiri di luar ruangan Helena yang tak berdaya, Raymundo seakan melayang di ruangan hampa udara. Ia tak punya banyak kata yang bisa diungkapkan pada Helena, dan
Helena tak perlu tahu. Satu yang pasti ia sayangi Helena.
Helena adalah gadis-gadis pesisir pada umumnya, kulit kecokelatan mata keemasan, berambut hitam legam yang memikat. Namun, Raymundo yakin Oskan Devano pacari Helena hanya untuk mendekatinya. Raymundo tahu siapa yang pria itu incar.
Raymundo telah tegak seperti patung sejak ia datang ke Rumah sakit hingga pukul dua siang hari berikutnya. Ia tak beranjak pergi, tak rasa lapar atau haus, hanya mematung hingga Beatrix cemas.
Beatrix Alvaro, tak jauh dari Raymundo duduk kaitkan tangan-tangan dan masih terisak-isak. Kantung mata telah bengkak. Pergi ke sisi Helena selama 5 menit lalu keluar.
Oskan Devano bergabung beberapa saat kemudian. Duduk di sisi Beatrix dan menguatkan Beatrix. Pria itu baru habis mengurusi jasad bayinya. Wajah Oskan berantakan dan ia merana sepanjang waktu.
"Semuanya akan baik-baik saja, tolong jangan terlalu bersedih."
Beatrix mengangguk-angguk ketika Oskan menepuk tangan Ibunya. Lalu, Oskan bangkit berdiri dan pergi ke sisi Raymundo.
"Aku akan pergi menguburkan Puteraku. Aku menamainya, Javier Pedro Devano."
Hening.
"Rest in Peace." Raymundo menyahut. "Lakukan sebelum matahari terbenam."
"Ya," jawab Oskan lambat.
"Apakah kamu serius pada Helena?" tanya Raymundo tanpa basa-basi.
"Ya. Aku dan Belliza akan bercerai. Kami ada di tahap akhir perceraian."
"Pertikaian di antara wanita perebutkan seorang pria lebih menakutkan dibanding peperangan antar geng. Ini pertama dan terakhir kali yang boleh aku lihat."
Berpikir bagaimana Helena dan Bellova bisa menetap di bawah atap sama sedang dua wanita itu selalu ingin menginvasi satu sama lain. Ia tak bisa memilih Helena karena Bellova mengandung bayinya, tetapi bukan berarti ia ijinkan Helena pergi jika Oskan masih bak pecundang.
"Bellova menjual nyawanya padaku agar aku tak membunuhmu."
Oskan sedikit terlonjak kaget.
"Bellova lakukan itu demi saudara kembarnya."
"Asumsi, semua orang punya kepentingan. Menurutku, bukankah bagus kamu mati?"
"Mengapa tak bunuh saja aku hari itu?"
"Bellova berkata Oskan adalah segalanya bagi Belliza dan Cheryl. Kamu tahu apa artinya? Main-main dengan Helena sama hal main-main dengan nyawamu!"
Ponsel Raymundo bergetar, pria itu hentikan percakapan, meraih ponsel dan segera menjawab panggilan pelan.
Wajahnya menegang beberapa detik sebab petugas polisi tetapkan Bellova sebagai tersangka pelaku kriminal setelah Bellova berikan keterangan. Wanita itu hanya terlalu jujur dan sedikit gegabah. Jika pengakuan Bellova macam yang ia dengar maka polisi pasti menahannya. Bellova tak pandai berbohong atau memanipulasi keadaan, sangat jujur.
Ponsel dimatikan. Menurut Dokter, Helena keguguran setelah terjatuh dan alami trauma pada perutnya. Bellova mengakui kekerasan yang ia lakukan pada Helena.
"Apakah sesuatu terjadi?"
"Bellova ditetapkan jadi tersangka," kata Raymundo pada Oskan. "Polisi menahannya."
Raymundo mengernyih. Bellova mungkin menjambak rambut Helena, mendorong adiknya hingga jatuh, tetapi tak mungkin pukuli Helena sampai babak belur. Hasil visum akan beritahu dirinya apa yang terjadi. Ia ragu Bellova anarkis pada Helena, tetapi Bellova tak segan menampar adiknya di hadapannya dan Aldinho beberapa bulan lalu.
Bellova bahkan inginkan kematian Helena.
"Aku harap Bellova menerima ganjaran sepadan."
Raymundo berbalik pada Oskan. Menatap Oskan lekas gusar dan pegangi lengan Oskan seperti pria itu lakukan pada Bellova. Sedikit menggeram.
"Jauhi tanganmu dari Bellova! Jangan coba-coba berpikir untuk menyentuh Bellova atau menyakitinya, Oskan!"
Perkataan tajam Raymundo buat Oskan berpaling pada Raymundo. Keheranan.
"Aku tak paham maksudmu. Aku terlalu berduka untuk mengganggunya."
Oskan seakan ingin berkata, "Aku tak mungkin sakiti Bellova. Semarah apapun aku!" Namun, Raymundo telah terhasut amarah saat melihat Oskan mencengkeram lengan Bellova tadi malam.
"Aku peringatkan! Hanya aku yang boleh mengambil tindakan pada Bellova! Kamu akan berurusan denganku jika kamu abaikan aku."
Kata-kata Raymundo perspektif dan refleksi seorang pria posesif. Oskan tak menyahut hanya balas menatap Raymundo.
"Apakah, kamu mungkin jatuh cinta pada Bellova?" tanya Oskan selidiki.
"Juga ..., berhenti dari niatan ingin jadi anggota mafia kartel tertentu, atau kamu menjauh saja dari Helena," sambar Raymundo kuatkan pegangan pada lengan Oskan.
"Hei ...."
"Jaga Helena dan jangan lari dari sisinya! Jika kamu tak serius dengannya, tinggalkan Helena. Aku bisa mengurus adikku dan akan bawa ia pulang ke rumahku. Itu berarti, jika kamu berani berkeliaran di dekatnya, aku tak segan-segan membunuhmu! Aku bersumpah!"
Raymundo berbalik pergi, setelah beri Oskan peringatan keras. Rahang aktif berderak.
"Mau kemana, Nak?" tanya Beatrix lekas berdiri.
"Aku hanya akan menelpon sebentar. Pulanglah dan istirahatlah. Aku akan menjaga Helena. Ibu bisa gantikan aku beberapa jam lagi."
"Tidak, Ibu akan di sini menunggui Helena." Beatrix menolak ide Raymundo. Mata Beatrix terus digenangi air mata.
"Ibu ..., jangan sampai sakit atau ..., kerjaanku akan semakin banyak. Jika tak mau ke apartemen, Ibu bisa menginap di hotel dekat Rumah Sakit. Tolong, pergi dan beristirahatlah."
"Bagaimana aku bisa tidur sedang Puteriku sekarat? Apakah Nyonya Damier telah di penjara?"
"Ya."
"Aku sangat sesali ini."
"Dia tak sepenuhnya bertanggung jawab saat ini, tetapi Anda juga, Ibu!" balas Raymundo tajam. "Itulah pentingnya pendidikan dari Ibu bagi anak perempuannya!"
__ADS_1
Beatrix Alvaro tak mampu berkata-kata. Bahasa keras penuh emosional Raymundo seakan tamparan baginya.
"Jika Ibu masih di sini, aku akan pergi sebentar untuk menelpon!"
"Ya, aku akan tetap tinggal." Beatrix bersandar di bangku. Sakit kepala dan sedih.
Raymundo pergi ke halaman rumah sakit di area bebas. Rintik hujan berakhir, rumput basah. Mengapa Bellova sangat keras kepala? Harusnya wanita itu tidur nyenyak saja di atas ranjang di kamarnya dan menunggui dirinya kembali.
"BM, apa kamu temukan sesuatu?"
"Tidak, aku kehilangan jejak digital beberapa frame kamera pengawas di lobi rumah sakit. Termasuk kamera keamanan di kamar Helena. Seseorang telah menghapusnya."
"Bagaimana menurutmu?"
"Romeo, ada lebih dari satu oknum yang bekerja di sini. Orang ini sama sepertimu memiliki sobat jenius sepertiku."
"Siapa menurutmu?"
"Apakah kamu tahu bahwa Lucio Vargas ada di Rumah Sakit ketika polisi menjemput Twin B? Pria itu ikut ke kantor polisi."
"Apa maksudmu?"
BM kirimkan gambar. Raymundo menggunggah. Lucio Vargas abaikan peringatannya, pria itu memeluk Bellova. Mengapa pria ini ada di rumah sakit? Apa Bellova menelpon Lucio Vargas? Jadi, Bellova lebih percaya Lucio dibanding dirinya?
Gerah.
Panas.
Geram. Bellova selalu buatnya kepanasan.
"Ada sesuatu yang aku lewatkan, BM?"
"Aku sedang mencari tahu. Setelah kejadian dengan Greg Luigi, Twin B hubungi Call Center Operator dan ponsel Twin B kembali factory reset."
"Riwayat panggilan!"
"Nah, aku ingin bilang ini. Seseorang menghapus riwayat panggilan dari sim card Twin B sebelum aku login."
"Baiklah. Awasi Lucio Vargas."
"Dengar, Tuan! Jangan main-main dengan Lucio Vargas!"
"Aku tak peduli, awasi dia. Aku tak bisa tinggalkan Helena, setidaknya sampai Helena siuman."
"Aku pelajari wajah Helena dari fotomu. Twin B butuh banyak ayunan untuk hasilkan efek pada wajah Helena. Dan itu bukan tinju feminim."
"Apa maksudmu?"
"Romeo, aku curigai kartel mafia di mana Oskan diberi tugas membunuh Mrs.Owl juga ada di lokasi kejadian. Manfaatkan kesempatan. Menjelang pukul 6 sore, beberapa pria tertangkap kamera pengawas di parkiran restoran seberang rumah sakit. Aku mengindentifikasi mereka."
"Kartel mana?!"
"Yang sama tempat Oskan akan bergabung. Oskan jadi target karena menarik diri dari keanggotaan dan menolak bayar denda."
"Apakah kamu tak jenguk Twin B?"
"Wanita ceroboh itu tahu apa yang ia perbuat."
"Apakah Twin B akan di penjara?"
"Aku tak tahu, tapi Bellova telah jadi tersangka."
"I am so sorry to hear that."
Apakah Bellova akan lahirkan seorang putera baginya yang juga seceroboh ibunya? Maka, Raymundo akan mengirim bayinya ikut pelatihan militer sedini mungkin.
"Baiklah, biarkan Lucio Vargas terus berdiri di sisinya dalam segala kerumitan. Wanita itu akan berpaling pada Tuan Vargas. Bukankah mereka sangat serasi? Wanita bermata kehijauan dan pria bermata kebiruan?"
"Itu tak akan terjadi," sahut Raymundo secepat Sambaran petir. Tak mengerti mengapa pembahasan mereka keluar jalur.
"Terdengar sangat yakin?"
"Karena Bellova sedang mengandung bayiku."
Bunyi berisik.
"What?!"
Raymundo bayangkan sobat kerempengnya menganga 360 derajat hingga bisa menelan satu apel raksasa.
"Oh kasihan Lucio Vargas, ketampanan tak bisa kalahkan pesona pria beku. Gajiku perlu naik, karena akulah pencetus ide bagi Romeo untuk menangkap Twin B sampai sayap-sayap Twin B terjerat dalam jaring-jaring Romeo. Bukankah saatnya kita memanggil Twin B, Juliet?"
"Hentikan omong-kosongmu, BM. Bekerja saja!"
"Jika bayimu laki-laki namai dia, Everest. Jika bayimu perempuan namai dia Flores."
"Berhenti konyol!"
"Aha, atau Shakespeare jika bayinya laki-laki."
"Hentikan, BM!"
"Jika kembar perempuan namai mereka Slovenia dan Slowakia. Atau Sierra dan Leone."
"BM?" tegur Raymundo.
"Sierra Leone ibukota negara, Freetown. Straight. Aku temukan rekaman dua taxi dengan plat yang sama yang dikendarai Helena di jalanan, 50 miles ke arah Estrada."
"Ya?"
Satunya lagi kemungkinan yang dinaiki Juliet."
__ADS_1
"Cari pengemudinya!"
"Ya. Sedang diusahakan. Romeo, kamu sangat gelisah? Pergilah temui Juliet. Bagaimana jika Juliet satu sel dengan wanita-wanita kriminal yang suka ganggu anak baru?"
"Jangan lebih-lebihkan!"
"Oh ya ampun, jangan pura-pura tak tahu kehidupan di penjara."
"Aku tak bisa pergi. Situasiku rumit."
Beatrix Devano memanggil.
"Temukan sesuatu! Aku harus pergi!"
"Datanglah ke kantor polisi juga. Jangan biarkan Juliet menderita sendiri."
Black Mask berseru di ponsel tepat sebelum panggilan berakhir.
***
Bellova menolak Lucio Vargas ketika pria itu tawarkan bantuan. Bellova menunggu Raymundo Alvaro. Percaya pria itu masih urusi Helena.
Setelah pemeriksaan dari tengah malam menjelang pagi, petugas kepolisian tak perlu menunggu keputusan pengadilan untuk tetapkan Bellova sebagai tersangka. Dan Bellova akan ditahan. Pengakuannya untuk lindungi diri dari Helena tidak cukup kuat.
"Nona Bellova akan kami tahan sesuai ketentuan hukum berlaku, kami menemukan bukti bahwa Nona Bellova bersalah karena sebabkan Nyonya Helena Alvaro kehilangan bayinya dan kritis. Masa penahanan untuk keseluruhan pemeriksaan tersangka adalah 60 hari."
Lucio Vargas mengerang tidak suka.
"Tersangka berhak dapatkan bantuan hukum. Aku akan siapkan pengacara. Aku, sopir taxi dan dokter Dona akan datang sebagai saksi."
Begitulah, malam itu Bellova digiring pergi ke sel tahanan setelah memakai seragam keramat tahanan. Ia dimasukan dalam ruangan sempit. Malam kemarin, ia berada di ranjang mewah Raymundo Alvaro di mansion Anthony. Tak menduga malam ini ia tidur di ranjang dalam sel penjara.
Seorang tahanan wanita lain penghuni lama lapas di ranjang atas. Wanita itu berambut pendek dengan anting di hidung, bersikap cuek dan dingin. Tak bersahabat. Sibuk membaca sesuatu.
"Jangan ganggu temanmu, Jenifer!" kata sipir penjara, menarik pintu dan mengunci. Sedang Jenifer hanya perhatikan sipir penjara seolah-olah wanita itu kurang waras.
'"Hai ...," sapa Bellova seperlunya coba berkenalan. Namun, wanita bernama Jenifer menatap Bellova atas bawah dan tak gubris, kembali sibuk.
Tak ada yang bisa Bellova lakukan, ia naik ke ranjang ditemani sedikit cahaya. Memeluk lutut. Bayangkan jika Belliza berada di sini, Bellova mual-mual. Kakaknya pasti akan sangat menderita.
Letih dan lelah juga sangat mengantuk tetapi tak bisa tidur, Bellova di ambang batas kesedihan. Lampui kadar sedih, mungkin mati rasa. Pejamkan mata, ia ingin bayangkan dirinya, Belliza, Bellinda dan Cheryl di restoran keluarga mereka menyantap Bluefin Tuna Caviar, juga menu sea food lain buatan ibunya.
Sekarang semuanya terlihat sangat berarti. Tuhan, semoga badai segera berlalu.
Lucio Vargas belikan steak untuk makan siang dan ia sukai rasa makanan. Tetap makan dengan lahap sebab ia butuh energi. Mungkin terbaik yang ia makan hari ini.
"Aku akan siapkan tim pengacara untuk mendukungmu. Bertahanlah satu malam, aku janji akan keluarkanmu besok."
Lucio Vargas terang-terangan sukai Belliza dan pria itu tak hanya menang di ucapan. Kepribadian hangat, bisa kalem di waktu bersamaan, Bellova pikir akan buat Belliza jadi wanita paling beruntung di dunia. Belliza tak perlu pikirkan Oskan, Lucio Vargas bukan sembarang pria.
"Jangan beritahu Bellinda, keadaanku. Jangan kabari kedua orang tuaku juga nenekku. Berjanjilah!"
Bellova hanya ingin Belliza segera pulih dan bisa pergi ke pengadilan, mengambil kembali hak asuh Cheryl.
"Jangan cemaskan Cheryl. Aku akan menjaganya. Lagipula Bellinda telah tiba."
Tak bisa biarkan Bellova sendirian, baik Lucio dan Dona melapor sebagai saksi.
Lalu, bagaimana dengan Raymundo Alvaro?
Berusaha palingkan hati dari Raymundo Alvaro, ia dibombardir nyeri dan nyeri. Jika Helena sampai meninggal, apa yang akan pria itu lakukan padanya?
Tidak. Helena akan baik-baik saja!
Bellova akhirnya terkapar di atas ranjang. Diam-diam memeluk bayangan pria yang katakan cinta padanya semalam. Seakan-akan ia ada di ranjang pria itu dan mereka hanya lewati malam bersama. Terasa nyata dan indah, sekalipun hatinya dirajam luka. Bahkan dalam mimpi ia menekan rindu.
Tengah malam, ketika ia mendadak terserang sesak napas dan susah bergerak, membuka mata perlahan. Lalu terbeliak kaget.
Teman satu kamarnya, Jenifer, duduk di atas perutnya dan kungkung kedua tangan di sisi ranjang. Tatapan mata Jenifer dalam redup ruangan, ekspresikan sesuatu yang mengerikan dan menakutkan. Gairah dan bira***. Menjijikan bagi Bellova dan na'as sebab ia tidak bermimpi.
Bellova akan berteriak minta tolong ketika tiba-tiba bibirnya disambar. Ia dicium oleh wanita gila, kasar dan buas. Meronta penuh penolakan sekuat tenaga. Kepalanya berjuang keras menghindar, bergerak dari satu sisi ke sisi lain. Tak ada pilihan, Bellova lalu menggigit bibir si wanita sangat kuat hingga wanita itu menjerit dan keluarkan makian kotor.
Bukannya pergi, Jenifer malah semakin tertantang. Tangan Bellova meraup rambut Jenifer dan ia menggigit tangan Jenifer yang langsung menamparnya keras. Mencekik lehernya.
Perut Bellova keram, ia tak sadar telah mengejang kesakitan. Terbatuk-batuk karena sesak napas. Bellova berusaha mendorong tubuh Jenifer dari atas perutnya.
"A ... ku se ... dang ha ... mil," ujar Bellova terbata-bata, ketika Jenifer berhenti mencekik, menarik turun celananya.
Jenifer tercengang sesaat, segera melompat turun dari atas ranjang. Wanita itu rapat di dinding kamar, ketakutan saat dapati Bellova menggelliat juga menggigil. Erangan terdengar di antara deru napas tersengal-sengal. Darah dengan cepat menodai penutup ranjang. Bellova menekuk tubuhnya. Nyeri. Meremas seprai. Berjuang kalahkan nyeri, tetapi tak berdaya.
Pejamkan mata, malah ia mendalami nyeri. Tembus dari jantung ke punggung, nadi berdesir memuat darah patah hati, terlebih pria itu benar-benar ijinkan ia masuk ke dalam neraka ini.
Aku mencintaimu, Bellova!
Tidak, hanya semu.
Terpuruk. Mengerang.
Bellova tak akan pernah percaya kata-kata itu lagi. Ia berjanji tak akan cintai pria itu seperti hari kemarin. Betapa na'if yakini cintanya mampu meredam segala hal dari pria itu.
Bellova mulai muntah-muntah di atas ranjang. Tangan Bellova terulur pada Jenifer. Ia merintih.
"He-lp me, please!"
***
๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ
So creepy. Oh My God.
Chapter ini sengaja ditulis untuk memancing reaksi Raymundo Alvaro.
__ADS_1
Komentar di bawah!