
Sebulan berlalu sejak terakhir kali Bellova melihat Raymundo Alvaro di sisi landasan bandara Zaragoza. Ia berusaha lupakan pria itu, lanjutkan hidup karena Raymundo Alvaro tak datang mencarinya juga tanpa kabar. Dan tak ada kebetulan yang membuat mereka bertemu.
Tak bisa hilangkan mereka dari malam di tenda, memeluk dirinya sendiri ketika raut Raymundo Alvaro berkelebat di ujung mata.
Apa yang terjadi?
Mungkinkah ia jatuh cinta pada Raymundo Alvaro?
Bellova menggeleng.
Tidak. Jangan. Tolonglah!
Lalu, mengapa ia memikirkan Raymundo Alvaro tiap detik, tiap menit, tiap hari, hingga linglung?
"Aku akhiri segala hal dengannya dan berkata lanjutkan hidup masing-masing," gumannya lirih. "Apa yang kamu harapkan, Bellova?
Raymundo Alvaro juga tak datang untuk bicarakan Miradoura. Bukankah ini menguntungkan?
Menatap pekerjaan rumah anak-anak. Bellova tak pernah segundah ini sebelumnya. Ia memetik setangkai mawar di taman sekolah, lepaskan helai demi helai dalam irama lambat.
"Bellova, Kepala Sekolah memintamu ke ruangannya."
Silvana, salah satu rekan bicara dari ambang pintu ruangan guru kagetkan dirinya, tak lantas buat ia mendongak. Dipandangi helaian mawar di atas meja.
"Bellova?!" panggil Silvana sekali lagi ketika tak menerima respon.
Bellova mengangkat wajah perlahan.
"Aku akan segera menghadap."
Seminggu lalu Bellova pergi ke Lisbon mengunjungi Belliza sebelum ke Barrancos tetapi Oskan tak di rumah, begitu pula Cheryl. Menurut asisten rumah tangga, Oskan membawa Cheryl ke São Vicente, ke rumah orang tuanya. Bellova ingin pastikan keberadaan Cheryl, mengatur waktu agar bisa mengunjungi São Vicente.
Lewati ruang kesenian yang cukup panjang, melirik ke dalam. Anak-anak magang sedang dalam ruangan, mengatur sound system untuk latihan seni bersama anak-anak selepas makan siang nanti. Diego Samuel memetik senar gitar sambil bernyanyi sangat semangat di bagian chorus.
Oh Baby, show me the sign
Oh kasih tunjukan padaku sebuah pertanda
Send me a signal that everything's fine
Kirimkan sinyal bahwa segalanya baik-baik saja
Come on, stand up right up by my side
Ayolah, meluncurlah kemari, ke sisiku
You know that i, I wanna rest in your life
Kau tahu aku ingin beristirahat dalam cahayamu
Bellova lewati kelas yang terbuka dan menoleh ke dalam untuk lirik teramat galau dalam irama beat cepat itu, dapati Diego Samuel sedang kerlingkan satu mata, jelas-jelas menggodanya.
*Na na na hey, na na na oh
Na na na hey, na na na oh*
Bellova berdecak, apakah mereka akan ajarkan anak-anak lagu patah hati itu? Ia akan menegur Diego Samuel nanti. Teruskan langkah ke ruang kepala sekolah.
"Bellova, kamu akan dikirim untuk mengikuti program pengembangan profesional intensif di Unversitas Azores."
Caesar Benjamin bicara di ruangan Kepala Sekolah. Pribadi Caesar berbanding terbalik dengan Raymundo Alvaro. Bellova semakin tak berdaya.
"Apa tidak ada guru lain?"
"Jangan tolak kesempatan bagus, Bellova. Ini bisa meningkatkan kompetensi guru."
"Sir, aku sedang tidak fokus."
"Baiklah. Karena kamu tidak bersedia, aku bisa berikan kesempatan pada Silvana."
"Ya. Bolehkah aku ajukan cuti?"
"Cuti?"
"Ya."
"Dua Minggu lagi kita libur. Cuti bukan ide bagus."
"Aku perlu mengurus sesuatu, Sir."
Bellova berjalan pulang ke rumah. Ketika di Lisbon ia sempatkan diri pergi ke studio untuk memeriksa pekerjaan para pegawai Belliza. Bellova temukan bahwa studio diambang kebangkrutan. Asisten Belliza terlalu lama memegang kendali dan habiskan uang dengan alasan produksi. Wanita itu ternyata membangun studio sendiri dan mencuri semua pelanggan. Bellova mengambil satu dua orderan dari lima pesanan. Dua teratas karena datang dari teman satu geng Belliza, Adriella Xaviera dan seorang wanita bernama Viviane Raquel.
Mereka butuh uang untuk perawatan Belliza. Meskipun jahat dan kasar pada Belliza, beruntungnya Oskan tetap bertanggung jawab. Setidaknya São Vicente juga mengirim sokongan bagi Belliza. Namun, segala hal bisa berubah sewaktu-waktu.
"Tuan Lucio Vargas mengirim dokter saraf terbaik dari Toronto untuk menangani Belliza."
Dona melapor. Bellova sangat penasaran pada pria ini, jadi kirimkan pesan lewat Dona agar Lucio Vargas tinggalkan nomer ponsel dan alamat. Bellova ingin bertemu. Bagaimana tidak? Belliza sama sekali tak pernah menyebut nama Lucio Vargas, tetapi pria itu seakan terlibat sesuatu dengan Belliza.
Sampai di rumah, masuk ke pekarangan. Dulunya Bellova hanya tinggal bersama kakek-nenek. Setelah kakek meninggal, orang tua Bellova pindah kembali ke Lajes mengurus restoran tepi laut peninggalan kakek. Rumah ini kemudian semakin ramai, tetapi hanya di waktu tertentu saat Bellinda di rumah. Gadis penjelajah itu sedang sibuk di restoran.
"Bellova?! Kamu kembali lebih cepat? Apakah kamu sakit?"
Nenek Bellova, Amaris Damier, menjelang 80 tahun tetapi masih kuat. Bicara dengan suara khas para lanjut usia.
"Aku merindukanmu, Nyonya Deputi. Itulah mengapa aku pulang lebih awal," goda Bellova.
__ADS_1
"Makanlah!"
"Anda tahu, bahwa para guru di negara bagian ini sangat dicintai. Kami diberi makanan sehat dan bergizi di sekolah saat makan siang."
"Guru adalah profesi terbaik."
"Ya. Kita sedang mendidik seseorang untuk masa depan dunia di kelas. Semua profesi dididik oleh guru."
"Luar biasa. Lalu, mengapa kamu ingin berhenti dari pekerjaan mulia ini?"
Bellova terkejut. Menoleh pada Amaris Damier. Terdiam. Menuang air ke dalam gelas dan minum.
"Kita butuh banyak uang untuk pengobatan Belliza," sahut Bellova. "Lagipula, aku tak berhenti Nek. Aku hanya cuti. Dari mana nenek tahu?"
Neneknya hanya tinggal di rumah tetapi tahu banyak informasi.
"Tak penting darimana aku tahu. Belliza butuh uang? Bagaimana dengan Oskan? Cucuku yang malang."
"Ya. Oskan bukan pria baik bagi Belliza walaupun Oskan tak berhenti berikan materi bagi Belliza. Aku butuh banyak uang untuk membawa Cheryl dan Belliza."
"Lalu, apa yang akan kamu lakukan?"
"Aku akan mengerjakan beberapa proyek di studio. Nenek tahu kan, dari satu pelanggan studio Belliza hasilkan banyak uang. Saat ini hanya tersisa dua pegawai."
Meskipun Raymundo Alvaro datang dan membeli Miradoura, Bellova tetap butuh banyak uang. Ia bisa hadapi Oskan, tetapi bagaimana jika São Vicente pertahankan Cheryl?
"Oh Sayangku. Apa yang bisa aku lakukan untukmu dan Belliza?"
"Doakan saja kami, Nek."
"Kapan kamu pergi?"
"Secepatnya, Nek. Ini sangat serius. Caesar Benjamin telah ijinkan aku. Oskan tak bisa dihubungi. Aku gelisah pikirkan Cheryl."
"Baiklah."
"Aku butuh istirahat."
Bellova menaruh gelas di dapur dan kembali hendak pergi ke kamarnya.
"Oh ya, Tuan Alvaro tadi mampir kemari. Beliau bertanya bisakah kamu bertemu dengannya di Miradoura nanti sore?"
Bellova hentikan langkah. Jantungnya berdetak lambat sebelum berubah cepat, sangat cepat.
"Tuan Alvaro?"
"Ya. Tuan Alvaro yang pernah mampir kemari mengambil pakaianmu."
Bellova tak bisa sembunyikan debaran. Pria itu kembali? Mengapa tak datang ke sekolah seperti terakhir kali?
"Tadi sekitar jam 1."
"Bukan, maksudku jam berapa Tuan Alvaro ingin kami bertemu?" tanya Bellova menjaga nada suaranya terdengar biasa saja. Namun, Bellova harusnya tidak perlu berusaha terlalu keras, wanita di depannya ini, Amaris Damier. Wanita yang telah besarkan Bellova. Amaris tersenyum lembut melihat ekspresi Bellova.
"Jam 4 nanti. Apakah ini tentang Miradoura?"
Bellova mengangguk lemas. Antara bahagia akan melihat pria itu dan sedih karena akan kehilangan Miradoura.
"Harta bisa dicari, Love. Tetapi, Belliza tak bisa dilahirkan kembali jika sesuatu terjadi padanya."
Bellova mengangguk sepakat dan pergi ke kamarnya. Tanpa sadar membongkar almari dan mencari pakaian bagus.
Lupakan! Bertingkahlah biasa saja.
Pria itu tak peduli pada penampilannya. Bellova pergi ke kamar mandi, bersihkan wajah sambil bersiul dan rona merah di wajah telah terus-menerus mencuat. Bellova butuh menampar pipinya keras, agar segera sadar. Pergi ke bawah pancuran, biarkan air mengalir. Mencuci kepala juga otaknya.
Pertama-tama, ia akan menerima uang, lalu pergi ke Lisbon. Ia akan mencari pengacara untuk berkonsultasi sambil bekerja dan mengurus Belliza. Ia akan bertemu Cheryl.
Baiklah Bellova, mari kita lakukan.
Keluar dari kamar mandi, memakai kaos dan celana jeans juga sepatu kets dan jaket. Ia tak akan bawa dokumen tanah sebab ia butuh notaris. Ia hanya akan bertemu Tuan Alvaro untuk cek fisik tanah dan beritahu pria itu batas lahan.
"Cepatlah kembali, orang tuamu ingin bicara."
"Apa Anda tahu mengenai apa?"
"Pria untukmu. Usiamu berapa, Bellova?"
"Oh tidak, tidak!" Geleng Bellova keras. Jaman sekarang orang bisa temukan jodoh mereka sendiri tanpa bantuan orang tua. "Aku temukan seseorang." Bellova terdengar yakin.
"Tuan Alvaro?" tebak Amaris langsung ke inti.
"Aku pergi, Nek." Bellova melambai, tak menjawab pertanyaan Neneknya. Namun, wanita tua itu tersenyum.
Miradoura telah dirapikan dari pohon dan rumput liar. Rumah camping dibiarkan saja. Memetik bunga dan selipkan di kuping. Bellova berjalan di atas tanah, hadiah kakek padanya karena mau tinggal bersama mereka di Santa Cruz. Menunggu pria itu sambil nikmati angin sore pantai. Lautan Samudera Atlantik begitu luas, biru dan menghanyutkan.
Mobil berhenti di depan lahan. Bellova tak bisa menunggu untuk berbalik. Pintu mobil terbuka dan seseorang turun dari sana.
Bellova menelan kecewa, pria itu bukan Raymundo Alvaro. Rapatkan jaket, Bellova termangu beberapa detik, masih berharap melihat Raymundo Alvaro.
"Nona Bellova, aku tadi ke rumah Anda atas permintaan kakakku." Aldinho Alvaro ulurkan tangan untuk bersalaman.
Bellova amati tangan lalu pada Aldinho, segera terbangun.
Apa pria itu baik-baik saja?
__ADS_1
"Tuan Aldinho."
"Ya, Nona Bellova. Aku ingin memeriksa tempat ini atas permintaan Kakakku. Ia mengatakan telah mencapai kata sepakat dengan Anda."
Bellova mengangguk, "Ya. Di mana Tuan Raymundo Alvaro?"
"Sangat sibuk."
"Baiklah."
"Kami telah mengecek status tanah ini."
"Tanah ini milikku dan tidak dalam sengketa," sahut Bellova.
"Ya, aku hendak katakan hal sama. Dan Anda bisa lihat harga yang dikirimkan kakakku."
"Tanah ini berpotensi, sangat strategis dijadikan bangunan komersial untuk keperluan bisnis. Di masa depan akan jadi property berharga."
"Great first impression," ujar Aldinho Alvaro. "Kami hanya akan membangun hunian untuk tempat tinggal."
"Impian para introvert, tenang dan damai. Anda hanya mendengar debur ombak juga suara camar."
Aldinho Alvaro mengangguk. "Sepertinya Anda mengenal gaya kakakku?"
Bellova tersenyum kecil, tak bisa jelaskan isi hatinya juga sesuatu yang mengendap-endap di sana.
"Jadi, sebulan lalu apakah Anda datang ke rumahku, bertemu nenekku dan mengambil pakaianku?" tanya Bellova penasaran.
"Ya. Aku tidak sendirian. Saudaraku menunggu di mobil."
Bellova hembuskan napas keras. Sebulan berlalu. Pria itu lupakan tentang mereka. Jadi, Bellova tak punya alasan mengenang.
Menerima dokumen dari Aldinho dan memeriksa. Raymundo Alvaro berikan penawaran tiga kali lipat dari harga Miradoura yang diperkirakan Bellova.
"Apa itu kurang?" tanya Aldinho mungkin karena melihat keningnya berkerut.
Bellova menggeleng. "Harga ini sangat jauh di atas harga wajar sesuai pasaran."
"Ya, kami telah lakukan komparasi dengan lahan sejenis yang paling dekat di sini. Kakakku berikan Anda penawaran sempurna karena Anda bersedia menjual Miradoura padanya."
Bellova mengangguk. "Kapan kita akan selesaikan ini? Aku telah persiapkan semua dokumen-dokumen legalitas yang sah. Sertifikat kepemilikan tanah, pajak dan dokumen pendukung lainnya."
"Raymundo Alvaro akan datang menemui Anda, Nona Bellova. Secepatnya."
Bellova mengangguk.
"Anda perlu hubungi aku jika ingin bertemu. Aku tak akan ada di sini untuk waktu yang lama karena sebuah urusan."
"Begitukah?" Aldinho tampak berpikir. "Aku akan menelponnya."
Keluarkan ponsel dan hubungi Raymundo.
"Pasti sedang sibuk," keluh Aldinho saat ponsel tak diangkat. Mencoba sekali lagi.
"Aldinho?!"
Bellova tanpa sadar menahan napas dengar suara dari seberang.
"Em, maaf aku mengganggumu, Kak. Aku sedang berada di Miradoura memeriksa lokasi bersama Nona Bellova."
Hening.
"Ya?"
"Kapan transaksinya akan diselesaikan? Kita perlu sesuaikan jadwal. Notaris telah siap."
Hening.
"Lakukan sore ini!"
"Tanpamu?"
"Ya."
"Baiklah."
"Kirimkan nomer rekening Nona Bellova padaku."
Bellova mendengar percakapan itu. Raymundo Alvaro kedengaran tak ingin tahu kabarnya, bicara atau mungkin berhubungan dengannya.
"Baiklah," sahut Aldinho.
"Apa ada yang lain?" tanya Raymundo dari sebelah.
Apa kabarmu, Tuan?
Bellova menggeleng pasrah saat Aldinho bertanya tanpa suara minta pendapatnya. Akhiri panggilan.
Bellova berpikir, ia kehilangan Miradoura, juga separuh dirinya karena ia tak pernah sama lagi sejak malam itu.
Daun berdayung oleh tiupan angin laut. Hati Bellova perlahan abu-abu, kosong dan dingin. Mengatur ulang dirinya. Putuskan utamakan keluarganya dan lanjutkan hidup seakan tak pernah terjadi apapun.
***
Cintai aku. Tinggalkan komentarmu!
__ADS_1