My Hottest Man

My Hottest Man
Chapter 61. Waiting for My Love


__ADS_3

Bellova menggeliat di ranjang, memeluk guling erat. Sembunyikan wajah di balik bantal, ia berusaha pejamkan mata. Hari menggelap di luar sana. Bellova telah meringis sepanjang jam karena tak bisa obati lubang di hati akibat rindukan suaminya. Aliran darah dalam nadi bahkan terus-terusan berdesir nyeri.


Perpaduan gemuruh guntur di langit ditambah pukulan deburan ombak pada tebing ciptakan mimpi paling terburuk sepanjang hidupnya. Bellova tak bisa tidur sama sekali. Ia dipaksa mendengar segala hal.


Sudah empat hari Bellova ditinggalkan seorang diri di sebuah pulau terpencil bersama seekor anjing golden besar bermuka galak, tetapi mudah tersinggung bernama Goodie oleh pria yang mengaku sahabat sekaligus musuh dalam selimut Raymundo Alvaro; Raphael Bourne.


"Oh aku bisa gila karena rindukan suamiku." Bellova mendekap kemeja Raymundo Alvaro.


Tak peduli pada sikap buruk Raymundo Alvaro, Bellova bisa menahan mental. Terus terang ia sangat cemburu ada wanita lain dekat-dekat dengan suaminya apalagi menyentuh tubuh suaminya. Hanya bayangkan saja, ia terluka dan sakit.


Namun, ia mesti kebal. sikap curiga tanpa dasar akan permalukan diri sendiri dan mungkin akan lukai martabat Raymundo Alvaro. Bellova pikirkan banyak hal. Ia akan letakan kepercayaan di atas segala hal pada suaminya. Itu juga berarti ini salah. Ia tak boleh tinggalkan Raymundo begitu saja.


Turun dari ranjang karena malam terlalu mengerikan di pulau tanpa penghuni, ia pergi ke ruang lebih besar, duduk di atas sofa panjang dan melamun. Ia memakai jaket Raymundo Alvaro dan mende*** sepanjang ia menghirup udara.


Goodie tak jauh darinya. Mereka bertukar pandang, saling menatap, sama-sama asing satu sama lain tetapi tak ingin saling mengusik. Kepala Goodie kembali terkulai di atas kedua kaki depan dan hanya awasi Bellova dalam diam.


Hujan turun setelah gerimis panjang. Bellova menjadi gelisah.


"Apa kamu lapar, Goodie?" tanya Bellova menoleh pada si anjing. Mereka telah makan malam tadinya, "Kamu ingin camilan? Aku tak berselera pada makanan."


Timbul ide dalam benak Bellova, ia akan lancarkan aksi mogok bicara dan makan pada Raphael Bourne sampai pria aneh itu kembalikan ia ke Mansion Anthony.


Bellova pejamkan mata, mengatur bantal sandaran setengah berbaring. Ia sangat ingin melihat Raymundo Alvaro. Mengapa pria itu tak datang mencarinya? Apa yang terjadi? Bellova telah habiskan hari kitari pulau kecil ini berharap Raymundo Alvaro, entah bagaimana caranya; muncul di hadapannya.


Apakah pria itu masih marah padanya? Bellova menghela napas panjang dan hembuskan perlahan. Berganti ke posisi duduk. Ia telah lakukan secara berkala sejak tadi karena tubuhnya terus gelisah.


"Pernahkah kamu rindukan seseorang, Goodie?" tanya Bellova memangku dagu perhatikan Goodie malas-malasan.


"Halo Juliet, selamat malam. Apakah kamu sudah makan malam?"


Bellova cukup terkejut. Ia harus terbiasa. BM menyapa dari sebuah speaker kotak segiempat, persis harta benda favorit Charlie's Angels di markas mereka untuk berkomunikasi dengan Charlie.


Bellova tak menyahut, kembali rebahan di atas sofa.


"Juliet, aku tahu kamu di sana."


Bellova tak ingin ladeni. Bila perlu ia mogok bicara juga.


"Apa kamu sudah sudah makan malam?"


"Aku akan berhenti makan," potong Bellova.


"Mengapa?" tanya BM penuh perhatian. "Beritahu aku jika kamu butuh sesuatu, Juliet."


"Berhentilah bercanda, Raphael. Aku akan berhenti makan mulai hari ini."


"Apa yang terjadi?"


"Bawa aku kembali pada suamiku, Raphael. Aku bisa hadapi suamiku seorang diri. Berjauhan bukan solusi."


"Bersabarlah. Aku tak lakukan ini untuk menyiksamu. Terus terang aku sangat menyukai Anda."


"Sukai saja istri orang lain, please!"


"Suamimu butuh ...."


"Aku akan beri dia pelajaran dengan caraku sendiri! Tolong jangan ikut campur. Aku bisa campurkan serbuk bunga dan 1 kg detergen untuk beri suamiku sedikit peringatan."


BM tertawa keras dari seberang. Terdengar menyukai ide Bellova.


"Pergi bukan pilihan. Tolong kembalikan aku!" pinta Bellova. "Bisakah kamu menjemputku malam ini?"


"Romeo akan datang padamu. Aku janji. Dia mencarimu dan nyaris menelanku hidup-hidup."


Bellova tegak. "Benarkah?"


"Aku tak akan bohong padamu. Romeo sangat tersiksa saat kamu tak didekatnya, tetapi kamu butuh pegangan Juliet. Bukankah, Romeo terlalu memegang kendali padamu?"


"Dengar, aku tak begitu peduli! Kembalikan aku sekarang!"


"Aku berikan jalan termudah baginya untuk datang kemari."


"Apa maksudmu? Apakah ... apakah ... suamiku akan datang?"


"Ya, Juliet."


Hening.


"Apakah kamu senang sekarang?" tanya BM. "Aku bisa melihat mata Anda berisi ribuan cahaya, Juliet."


"Terima kasih."

__ADS_1


"Sangat sopan, permainannya tidak seru seperti rencanaku," balas BM. "Nah, maukah kamu memasak sesuatu yang hangat ? Romeo mungkin butuh makan karena suamimu puasa selama 24 jam. Bisa jadi dia tak makan selama empat hari setelah kamu menghilang."


"Anda sangat jahat padanya," keluh Bellova sembari bangkit dari duduk hingga Goodie ikut-ikutan berdiri.


"Apa yang harus aku masak?" Bellova memeriksa persediaan makanan. Ia sendiri jarang masak setelah berada di pulau ini. Makan hanya karena takut mati.


"Sesuatu untuk hangatkan perut, Juliet."


"Mengapa suamiku butuh penghangat perut?"


Hujan bertambah lebat, Bellova semakin gelisah. Lalu guntur dan kilat bergantian mengisi langit. Bellova mengintip lewat kaca pondok.


"Aku harus pergi Juliet! Kotak berisi perlengkapan medis ada di lemari sebelah kanan pintu keluar dari dapur jika kamu butuh."


"Hei! Hei! Hei! What's going on?"


Tak ada jawaban.


"Terima kasih, Raphael. Aku sangat hargai bantuanmu."


BM pergi.


Bellova memasak sambil tajamkan indera pendengaran. Ia akan berlari keluar jika mendengar suara helikopter. Ia sangat ingin melihat suaminya.


***


Bunyi ombak dan gemuruh guntur di atas langit, Raymundo Alvaro tak punya persiapan matang. Ia tak tahu medan tebing juga tanpa pemanasan dan peregangan, merayap di dinding susah payah. Sepatu mahalnya terlalu lancip semakin menyulitkannya, jadi ia lepaskan sepatu dan selipkan di suatu tempat di antara celah cukup lebar. Ia akan kemari lagi bersama Raphael Bourne dan memaksa BM memungut sepatunya. Anggap saja mereka akan latihan fisik.


Belum seberapa jauh memanjat, rintik-rintik hujan mulai jatuh. Menahan umpatan di celah bibir sejak tadi, ia berhenti di tengah panjatan. Ia telah memaki dirinya sebanyak helaan napas.


Satu-satu bisa redamkan kekacauan dalam dirinya adalah bayangan Bellova mendekap kemejanya. Rahang menegang, ia tempelkan kening pada dinding rutuki diri sendiri. Mereka punya malam yang indah bahkan ia tak bisa sangkal bahwa ia sebenarnya telah terjebak pada Bellova sejak ia melihat wanita itu berselubung uap dan sabun awan dalam kamar mandi di Barrancos. Ia miliki Bellova suatu malam, bohong jika hal itu tak berpengaruh.


Dirinya cemburui tiap pria yang bicara pada Bellova. Mengapa? Karena Bellova miliknya. Okay, mari temui Bellova dan bawa wanita itu kembali. Ia janji akan ikuti keinginan Bellova.


BM, membuka pandangan tentang cinta sejati. Jika Axel Anthony sakiti Queena, ia mungkin akan lakukan hal sama. Ia akan sembunyikan Queena. Fakta ini sedikit mengguncang, itu berarti Raphael serius tentang menyukai Bellova. Bahkan, Raphael lebih peka rasakan kesedihan Bellova dibanding dirinya.


Hamar diayunkan pada paku piton memaku dinding tebing, kaitkan tali pengaman. Jarang temukan celah menaruh sayap burung, benar-benar tebing aneh, kaku dan mungkin tak ingin ditaklukan.


Hujan turun makin lebat, sialnya tebing menjadi licin. Ia berlindung di balik tonjolan sedikit menjorok. Tubuh terlalu tinggi, ia berjongkok di sana, pegangi tali bantu yang sudah terkait paku di dinding tebing. Di hadapannya lautan terbentang, ombak ganas pukuli dasar karang, derak begitu menakutkan. Hujan makin unjuk gigi. Tangan sensitif Raymundo serasa ditikam seribu jarum saat butiran hujan jatuh menimpa tangannya. Dalam hitungan menit, tangannya mulai melepuh. Hujan seakan tak biarkan ia bertemu istrinya dengan mudah. Menjaga keseimbangan agar tak jatuh, ia bertahan. Tapi, kesabaran mulai menipis.


Beruntung hujan sedikit reda, ia mulai memanjat pelan dan hati-hati di antara pijakan licin. Tak bisa menyerah sekarang, sedang hari hampir gelap. Ia sangat kelaparan dan mulai lemah sedang tebing tak terlihat ujungnya.


Di tengah pendakian ia temukan dataran cukup luas untuk berpijak dengan banyak bunga-bunga liar bewarna kuning dan putih. Beberapa burung Puffin bersembunyi di gua-gua mereka tak berusaha kabur saat melihatnya. Raymundo duduk di antara bunga-bunga liar, tak butuh waktu lama untuk bersin-bensin. Tetap saja ia memetik banyak tangkai dan menaruh di saku ransel. Ketika hujan semakin lebat dan deras, ia bersandar di sisi tebing. Alerginya diam-diam mulai membunuh.


Ketika akhirnya hujan berhenti turun, ia temukan jalan dengan banyak pijakan yang membantu di antara bunga-bunga Krisan liar. Kepalanya kemudian menyembul di ujung tebing dan ia naik ke sana, berbaring di bibir jurang; basah, kedinginan.


Menyeret tubuh menjauh dari jurang, Raymundo melihat cahaya lampu samar-samar dari dataran yang lebih tinggi dari sebuah pondok dan wanitanya di sana sesekali mengintip keluar kaca seakan menunggu seseorang.


Siapa yang Bellova tunggu?


Apakah BM mencuci otak istrinya dan jejali paham baru?


Kau sesat Raphael Bourne! Umpat Raymundo jengkel.


Anjing menyalak dari dalam rumah. Bellova menghilang dari pandangannya, Raymundo mengeluh. Lalu, suara itu mengisi keheningan di antara Guntur dan ombak.


"Goodie, apa yang terjadi?"


Pekikan panik. Si anjing berlari menembus hujan dan kegelapan. Raymundo menantang langit, hanya ada kegelapan.


"Goodie!"


Jatuh cinta pada suara indah istrinya.


"Goodie, kembali! Please! Aku tak bisa melihatmu! Kita bisa mati terperosok!" seru Bellova semakin keras. Ada lampu senter terantuk-antuk, di tangan Bellova dan cahaya itu membentur tubuh Raymundo.


Goodie menyalak segera keluarkan taring. Berputar-putar di sana, ingin mengigit tetapi berbalik pada Bellova dan menyalak makin kuat.


"Siapa di sana?"


Bellova mendekat, nadanya ketakutan tetapi bergerak dengan berani. Masih saja ceroboh. Mungkin bawaan sejak lahir.


"Ya Tuhan. Goodie menjauh darinya!"


Bellova sadari bahwa ia tak bermimpi, kenali tubuh pria yang berbaring. Ia berlarian dan menubruk tubuh Raymundo. Mengumpat saat melirik dengan ekor mata, tepian gelap pekat yang ia tebak jurang berdasar batu karang tajam, tak jauh dari mereka. Meremang.


"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Bellova kuatir dan ketakutan. Tak ada helikopter, suaminya panjati tebing.


"Bellova ...."


Suara khas Raymundo berhasil buat Bellova kehilangan kata. Air mata tercekat di ujung tenggorakan.

__ADS_1


Raymundo Alvaro menggenggam bunga liar di tangan melepuh dan memerah.


"Bellova ..., apakah kamu baik-baik saja?" Bertanya pelan dan lambat.


"Ya," angguk Bellova berkaca-kaca, memeluk suaminya erat-erat. "Di luar sini dingin."


"Apakah kamu baik-baik saja tanpaku?" Raymundo mengulang pertanyaan.


"Tidak."


Tangan Raymundo terulur menyentuh wajah Bellova, mengusap air mata. "Aku merindukanmu, Bellova."


Bellova mengangguk kecil. "Kamu tak marah lagi padaku?"


"Aku marah pada diriku sendiri! Aku tak bisa seperti pria lain, seberapa keras aku berusaha, Bellova. Aku hanya pria buruk."


"Tidak, kamu sangat berarti bagiku. Terima kasih sudah datang. Aku menunggumu!" Bellova tak punya pilihan kata bagus. Ia tak bisa berbunga-bunga sekarang, suaminya kesakitan dan menderita.


"Bunga untukmu. Maafkan aku!" Raymundo sodorkan bunga liar. "Aku memetiknya dari sisi tebing."


"Ini sangat indah. Terima kasih." Bellova macam orang bodoh, pegangi tangan suaminya hargai perjuangan Raymundo, meraih bunga dan jauhkan dari Raymundo lalu segera lepaskan ransel. Tangan Raymundo melepuh dan mengelupas sangat parah. "Bertahanlah!"


Susah payah lepaskan tali sementara Goodie terus menyalak.


"Berhenti menggonggong Goodie!"


Alih-alih bangun, Raymundo menarik Bellova hingga terjatuh di tubuhnya dan memeluk Bellova oleh sisa-sisa tenaga.


"Aku mencintaimu!" kata Raymundo mengambil napas, bicara tergesa seakan takut ia akan mati sebelum sempat ucapkan dua kata itu.


"Aku tahu. Aku sangat mencintaimu juga, Tuan."


"Aku ingin tua bersamamu dan menjadi apa saja yang kamu butuhkan. Jangan tinggalkan aku!"


Bellova terpana dalam lengan Raymundo. Tak bisa ungkapkan dirinya tanpa Raymundo Alvaro.


Bellova bangkit sedikit dan mengecup bibir suaminya yang basah dan dingin. Janggut baru tumbuh tak beraturan, menusuk rahang lembut.


Tak biarkan Bellova pergi, Raymundo Alvaro menahan kepala Bellova dan mencium istrinya.


"Jika kamu bosan padaku atau marah padaku, pergilah ke ujung bumi dan nikmati senja di kaki cakrawala, tapi jangan tinggalkan aku!"


Bellova menggeleng. "Tidak akan. Aku bisa menghadapimu tanpa harus berlari."


Raymundo tersenyum di bawah penerangan senter, menutup mata. Tanpa pamitan pria itu pingsan.


"Ray ...," panggil Bellova pelan, meraba denyut nadi suaminya, lemah. Ini sangat buruk.


Sekuat tenaga berusaha menggeser tubuh Raymundo menjauh dari sisi tebing. Terlalu berat tetapi suaminya bisa mati jika terus-terusan berada di udara terbuka yang tak bersahabat.


"Bisakah kamu bangun? Aku tak bisa menggendongmu."


Bellova tak tahu sejak kapan tepatnya ia menjadi cengeng karena ia tak berhenti menangis sedari tadi.


Sukar lukiskan lewat kata paling tepat soal perasaannya saat ini. Peachy, biru, kelabu dan hitam, mengaduk-aduk bangkitkan semua emosi.


Tak menerima jawaban. Bellova sekuat tenaga kerahkan kemampuan membopong tubuh perkasa yang lemah oleh hujan dan bunga di punggungnya, tapaki tanjakan sedang Goodie pergi ke gerbang kecil depan pondokan dan lebarkan pintu.


"Trims bantuanmu, Goodie," ujar Bellova bernapas cepat dan ngos-ngosan, baringkan Raymundo di sofa dan secepat mungkin lepaskan pakaian suaminya.


Tubuh Raymundo seakan dicambuk sesuatu, merah padam dengan bekas goresan mirip cemeti. Bellova mengambil handuk hangat. Raymundo mulai demam. Bellova kembali membopong Raymundo pergi ke ruang tidur.


Di kesempatan lain di waktu mendatang, Bellova memikirkan ini bahwa ia tak akan mengubah apapun. Ia tetap akan lakukan hal yang sama, menikahi Raymundo Alvaro.


Setelah olesi cream anti alergi yang ia temukan dalam kotak kesehatan dan olesi obat pada telapak kaki suaminya yang lecet parah, Bellova naik ke ranjang. Ia mendekap Raymundo Alvaro. Suaminya mulai siuman dan mencari kehangatan. Sepanjang malam Bellova membelai rambut Raymundo. Menahan serangan kantuk. Raymundo kemudian bangun dini hari, berkeringat halus.


"Aku akan minta Raphael membawa kita pulang." Bellova berbisik pelan.


Raymundo menggeliat, tengadahkan kepala pada Bellova. Tak menunggu waktu lama untuk menarik Bellova padanya.


"Tidak perlu, kita akan tinggal di sini untuk waktu yang lama, Bellova."


Ketika mereka kembali berciuman, Bellova bayangkan akan habiskan hari-hari di pulau ini bersama suaminya.


Apa yang akan terjadi?


Pasti sesuatu yang romantis dan ketika bibirnya habis-habisan disesap, Bellova yakin hari-hari buruk mereka telah berakhir.


***


Terima kasih menunggu aku up. Aku sangat kelelahan seminggu ini. Maaf misal tak sempurna.

__ADS_1


Apakah aku perlu menulis kisah romantis mereka? Mengingat teman-teman Muslim sedang berpuasa.


Berikan komentar di bawah ini!


__ADS_2