
Raphael berdecak. Sepasang sepatu?
Apa maksudnya sepasang sepatu?
Hari hampir sore. Raphael mulai memakai peralatan keselamatan dan bersiap-siap panjati tebing. Tangannya akan lecet. Sialan.
Raphael Bourne telah panjati tebing ini di waktu kosong. Bukan perkara sulit karena pulau ini miliki dirinya tetapi menjengkelkan pikirkan ia kalah dari seseorang.
"Apakah si Nona Keset Lantai baik-baik saja?"
Raphael yakin, penembak bius padanya pasti Axel Anthony. Hanya Axel Anthony yang berkepentingan mengirimnya ke pulau ini agar Raymundo Alvaro dapat lancarkan aksi balasan.
Raphael berharap Yaritza baik-baik saja. Dilipat dalam koper bukan sesuatu yang nyaman. Atau bodoh amat, intinya tugasnya selesai.
Jika Yaritza selamat dan hidup, keberhasilan Raphael akan diperhitungkan untuk masuk ke dunia agen inti.
"Oh ratusan jutaku yang berharga, aku bahkan tak menyantap hidangan. Aku membayar untuk piring kosong." Mengomel.
Fokus pada tebing sambil celingukan. Ia tak temukan sepasang sepatu di lintasan yang ia lalui. Kadang berhenti sejenak, Raphael lanjutkan mendaki. Otot-otot lengannya mencuat di bawah lengan kaos. Ia hanya ingin cepat-cepat sampai di permukaan pulau.
Raphael akan segera melihat Bellova. Jantungnya bergradasi seperti pertunjukan langit barat menjelang senja. Ia bahkan telah senyum-senyum sendiri.
Raphael berharap, Raymundo Alvaro alami pubertas menjelang 40 tahun dan berselingkuh. Raphael bisa jadi tempat sandaran Bellova. Atau ia akan biarkan musuh Anthony temukan Raymundo Alvaro dan menembak mati pria itu. Ia bisa lanjutkan hidupnya bersama Bellova.
Saraf di otak Raphael semakin korslet. Banyak bayangan indah di kepalanya. Ia akan membuat bunga dan kembang api di langit kalahkan keindahan malam Barcelona, gunakan ribuan drone untuk membuat Bellova senang. Mereka akan menikmati kembang api dari menara sebuah hotel. Liurnya hampir menetes.
Sibuk berangan-angan seekor burung jatuhkan kotoran tepat di hidungnya.
"Damn, ghost. Apakah kau tak punya tempat lebih baik untuk buang hajat?" Raphael mengumpat pada burung yang terbang rendah di atas kepalanya sebelum menjauh, kepakan sayap angkuh di udara acuhkan makian Raphael.
"Aku yakin burung itu suruhan Raymundo Alvaro!"
Bau kotoran burung buat Raphael meludah berkali-kali. Beruntung, beberapa tarikan, ia berhasil menyembulkan kepalanya.
"Aku berhasil!" pekik Raphael senang. Suaranya menggema ke seantero pulau. "Aku berha ...."
Door!
Door!
Door!
Disambut bunyi tembakan beruntun kagetkan dirinya. Katupkan mulut, rasa-rasanya rambutnya terpotong.
"Oh brengsek!" maki Raphael berulang kali, memeriksa kepalanya cemas kalau-kalau kepalanya telah jatuh ke laut. Bernapas lega.
Raymundo Alvaro sungguhan menembak kepalanya?
"Selamat datang, BM!"
"Apakah kamu masih kekurangan kasih sayang, Romeo?"
"Tunjukan sepasang sepatu!" hardik Raymundo nyaring. "Kepalamu akan selamat, Ralph!"
"Di mana sepatumu?" balas Raphael berteriak tak kalah kencang. "Aku tak temukan sepasang sepatu dalam pendakian kemari!"
"Kau butuh mencari, Ralph. Jika tidak ..., aku akan menembak."
"Para ular mungkin telah gunakan sepatumu untuk sarang percintaan panas. Relakan saja!"
"Turun sekarang!" bentak Raymundo.
"Kamu makin kejam setelah menikahi Juliet!"
"Atau silahkan bergelantungan seperti kelelawar malam ini sampai temukan sepatuku!"
Raphael berdecak.
"Ayolah, aku kelaparan!"
"Tak ada sepatu tak ada makan!"
"Hei Bung, ini sudah hampir malam."
"Turun dan bawa sepatuku!"
"Kamu tak tahu berterima kasih, Romeo. Karenaku, kamu bersama Juliet di tempat ini agar kalian bisa berduaan dan memadu kasih."
Raphael menyahut dari balik tebing. Ingin mengintip tapi takut ubun-ubunnya terangkat oleh senjata Raymundo Alvaro. Raphael mulai kehausan. Ya Tuhan, mengapa punya teman menjengkelkan seperti Raymundo Alvaro.
"Hitungan ketiga, turunlah Ralph, temukan sepatuku!"
"Aish, di mana aku tahu sepatumu?"
"Aku menyelipkannya di celah tebing dekat hamparan bunga Krisan liar. Aku yakin kamu tahu di mana letak tempat itu. Kamu bercinta dengan tempat ini tiap waktu!"
Raphael mengumpat sekali lagi. Sial sekali dia.
"Baiklah, aku akan ambil sepatumu!"
"Cepatlah, jangan sampai lecet! Kau akan tahu akibatnya!"
"Juliet help me!" teriak BM mengintip sedikit, tetapi ....
DOR!
"Ya Tuhan, baiklah! Baiklah! Berhenti menembak Tuan Aneh!" jerit Raphael frustasi.
Raphael menggerutu jengkel, tetapi tetap saja turuni tebing karena tanpa pilihan. Raymundo Alvaro tidak main-main. Ia pergi ke jalur di mana ia bisa temukan dataran dengan banyak Krisan liar warna warni dan rumah satu keluarga Puffin.
__ADS_1
"Hai Ray ...." sapa Raphael pada kepala keluarga Puffin, seekor jantan kekar berbulu hitam yang terlihat tak bersahabat padahal mereka sering bertemu. Si Puffin mirip Raymundo Alvaro, persis. Sedangkan seekor lain sangat cantik di sebelah Puffin jantan, berbulu putih hitam tampak sangat cantik dan menggemaskan, Raphael namakan si Puffin, Twin B.
"My Darling Twin B, beritahu kekasihmu untuk berhenti galak padaku!" pinta Raphael pada Puffin betina yang hanya awasi dirinya."Paruhmu sangat cerah dan cantik Twin B, apakah musim kawinan sedang berlangsung?"
Keluarga Puffin abaikan dirinya.
"Selamat bersenang-senang! Berikan aku kabar baik ya!"
Raphael turuni tebing mulai mencari-cari di celah dinding. Hari ini hari terbanyak dia menggerutu dan mengumpat. Butuh waktu dan ia berhasil temukan sepasang sepatu.
"Apakah sepatu ini lebih berharga dari aku? Sahabatnya?"
Ada nilai histori sangat kental dari sepasang sepatu Raymundo Alvaro. Raphael menyeringai pikirkan ide di mana ia akan mengguncang Bellova dengan kisah sepatu kesayangan Raymundo.
Kembali mendaki dekat sarang Puffin memetik banyak kembang bunga liar. Tangkai-tangkai bunga disatukan dan diikat dengan akar-akar tanaman yang dicabut dari dinding. Temukan ide brilian, meniup serbuk bunga ke dalam sepatu Raymundo Alvaro. Semoga pria itu terkena alergi dan tak bisa berjalan.
Raphael akan punya alasan mengelilingi pulau bersama Bellova, memetik bunga liar dan sematkan pada kuping Bellova.
Kembali merangkak naik. Raphael mengangkat tangan yang memegang sepasang sepatu. Tak ada tanggapan. Kepala Raphael menyembul hati-hati. Hening.
Mendongak ke pondokan, di sisi jendela, Bellova sedang bicara. Sepertinya sedikit mengomel. Raphael menyukai pemandangan di bingkai jendela.
"Perfect woman."
Tak lama berselang, Raymundo Alvaro terlihat di belakang Bellova, mengecup puncak kepala Bellova.
"Dia mulai mabuk cinta!" Raphael berdecak karena hanya lima detik, kecupan itu beralih jadi ciuman panjang. Bellova sepertinya digendong.
Si pria lepaskan atasannya. Kaca pondokan mungkin akan beruap sebentar lagi. Pulau ini milik berdua, kira-kira begitu.
Raphael Bourne berpijak di tanjakan terakhir, naik ke permukaan pulau. Ia datangi pondok. Raymundo Alvaro mungkin tak akan menyangka dirinya sangat mudah temukan sepatu. Dekati pintu, mendorong perlahan. Sepi. Berdecak. Padahal baru saja ada adegan di sisi jendela, apakah mereka telah pindah ke ranjang?
Perut bergumul. Raphael kelaparan dan matanya bersinar lihat banyak makanan di atas meja. Biarkan saja Romeo dan Juliet, BM butuh makanan. Ia baru saja hendak menyentuh makanan.
"Hai Ralph ...," sapa Raymundo Alvaro dari belakang ayunkan tinju tepat di tengkuk Raphael yang tidak siap hingga Raphael tersungkur ke depan. Tangan Raphael refleks menahan tubuhnya hingga tak berakhir di atas mangkuk makanan.
Mengumpat, berbalik secepat kilat dan menyingkir ke arah sofa, tetapi satu tendangan dari kaki panjang menanti. Raphael tersungkur.
Mengerang. "Shits!"
Berbalik cepat, satu tendangan lagi akan tepat jatuh di dada, Raphael berguling ke sisi kiri.
"Aku bawa sepatumu, apa maumu lagi?" seru Raphael gusar, lemparkan sepatu pada Raymundo langsung ditangkap. "Kamu marah karena aku mengirimmu kemari?"
Raymundo mendekat hendak meraih kerah baju Raphael, tetapi Raphael sodorkan tangan kanannya.
"Mau apa kamu dariku, huh?" bentak Raphael.
Sangat jahat saat Raphael lambaikan seikat bunga sedang mekar pada Raymundo Alvaro yang otomatis menjauh. "Kemarilah pria rapuh! Ayo pukul aku!" ejek Raphael. "Ayo kemari!"
Raymundo naikan satu bibir, menyeringai dan dalam satu gerakan ia menendang tangan Raphael. Detik berikutnya Raphael terkapar di sofa.
"Kau brengsek, Romeo!"
"Aku telah dipecat, kamu lupa?" erang Raphael meringis kesakitan. "Apa maumu?"
"Hei ... hei ... sudah cukup. Hentikan, Ray!" pinta Bellova datangi kedua pria. "Hentikan! Dia kesakitan! Ya ampun, apakah kalian memang suka gunakan kekerasan?"
"Masuk ke kamar Bellova, ini urusanku dengannya!"
"Tidak! Berhentilah dan jangan merusak mataku dengan sesuatu tak bermoral ini! Biarkan dia, Ray!"
Raphael berpaling pada Bellova. Tatapan mata Bellova juga suara indah Bellova buat sayap-sayap Raphael mengembang lekas merintih pura-pura menderita patah tulang parah.
"Owh, tulang rusukku ...."
Bellova datangi Raphael, ulurkan tangan. "Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Bellova prihatin memeriksa kondisi Raphael. Sentuhan Bellova segera bikin Raphael merem melek.
"Hai, Twin B." Raphael ulurkan bunga di tangannya. "Aku sangat menyukaimu."
Bellova mengerut.
"Maaf jika kamu tak suka. Bunga ini aku temukan dekat sarang keluarga Ray."
"Keluarga Ray?" tanya Bellova heran.
"Ya, keluarga Puffin. Yang jantan sulit bersosialisasi. Jadi, namanya Raymundo."
Bellova tersenyum oleh tingkah konyol Raphael sedang Raymundo merengus. Mengangkat tangannya pukuli kepala Raphael.
"Hei! Apa aku salah?"
"Tulang rusukmu ..., aku yakin baik-baik saja," ujar Bellova, melotot pada Raymundo agar suaminya bergeser menjauhi Raphael. Bellova membungkuk untuk memeriksa.
"Ya, tulang rusukku baik-baik saja tetapi hatiku tidak!" balas Raphael sangat berani saat meraih tangan Bellova dan tempelkan di jantungnya. "Kamu bisa dengarkan detaknya?"
"Jantungmu berdetak sangat cepat!" jawab Bellova polos.
"Itu karenamu!" sambung Raphael cepat. "Aku jatuh cinta padamu! Aku menyesal mengirim Romeo kemari. Harusnya aku biarkan saja dia dan kita bisa bersama. Aku sangat menyukaimu dan jatuh cinta padamu."
"Ralph?! Apakah kamu memang ingin mati di sini?" keluh Raymundo Alvaro.
"Juliet, jadikan aku yang kedua. Aku tak akan keberatan. Suamimu sangat kaku seperti tulang tanpa sendi. Aku bisa jadi penghibur yang baik. Kamu bisa jadikan aku simpananmu!"
Plak!!!
"Owhhh!"
Saking terpesona pada Bellova, Raphael tak menduga kepalanya akan ditimpuk sekali lagi sangat keras gunakan sepatu.
__ADS_1
"Apa masalahmu?" bentak Raphael pada Raymundo.
"Lepaskan tanganmu!"
"Bellova, kamu perlu tahu ..., sepatu itu pemberian seseorang. Romeo tak bisa move on dari Mrs. Owl."
"Berhenti menghasut, Bellova, Ralph!"
"Mrs. Owl?" tanya Bellova.
"Ya, Mrs. Owl ..., Pequeena!" angguk Raphael sukai Bellova saat wanita itu tersenyum kecut. "Nyonya Bos belikan sepasang sepatu di hari ulang tahun suamimu dan pria ini tidur dengan sepatu itu setiap hari."
Bellova menatap sepatu yang tergeletak di atas lantai. Raymundo Alvaro bergegas hendak menyeret Raphael.
"Apa masalahmu, Romeo? Aku hanya ungkapkan isi hatiku pada Bellova? Axel Anthony ijinkanmu lakukan itu pada Queena."
"Tutup mulutmu!" Mata Raymundo pelototi. Raphael.
"Ayolah!"
"Jangan marah padanya, Ray!" pinta Bellova pegangi tangan suaminya. "Aku juga menyimpan benda berharga dari mantan kekasihku, jadi aku rasa itu bukan masalah besar."
Meskipun berkata ia baik-baik saja, wajah Bellova jelas diliputi cemburu. Raymundo mende*** jengkel. Terlebih BM tersenyum mengolok-oloknya.
"Apakah kita bisa makan malam sekarang? Aku sangat lapar," kata Bellova akhiri pertikaian Raphael dan Raymundo.
Suasana berubah canggung kecuali Raphael habiskan hampir separuh isi meja makan. Raymundo menyendok makanan ke piring Bellova dan pilihkan beberapa menu.
"Ini sangat enak. Kamu belajar masak dengan sangat cepat Juliet," puji BM mencomot semua yang tersedia di hadapannya.
"Kenyangkan dirimu, BM (Brengsek Mesum)," sambung Raymundo mengunyah pelan amati Bellova yang mengaduk-aduk makanannya tanpa selera setelah kalimat panjang soal "aku kelaparan".
"Habiskan makanan kalian dan tolong jangan berkelahi!"
Bellova bangun dan tinggalkan meja makan.
"Bellova, apakah makanannya tidak enak?" tanya Raymundo ikutan bangun hingga Bellova berhenti melangkah.
"Em, bukan itu. Makanannya sangat lezat, terima kasih sudah memasak."
"Kamu kelaparan tadi."
"Aku hanya ingin berbaring sebentar."
"Apa kamu sakit?"
"Tidak, selesaikan saja makanannya."
"Apa karena masalah sepatu?" tanya Raphael ikutan nimbrung. "Kamu harus bertanya pada suamimu, jika ada yang butuh diselamatkan antara Queena dan Bellova, siapa yang akan Romeo pilih?"
Bellova menghela napas panjang lihat rahang-rahang Raymundo mengatup.
"Selesaikan makananmu, Raphael!"
Bellova pergi dari sana, lewati Goodie yang baru datang entah dari mana. Mengusap kepala Goodie sebelum pergi ke ruang tidur.
"Juliet mungkin cemburu. Harusnya biarkan saja sepatu itu tergantung di tebing."
"Diamlah!"
Tangan kiri Raymundo sangat cepat saat pukuli belakang kepala Raphael hingga wajah Raphael masuk dalam mangkuk.
"Kamu terus memukuliku, Bung?"
"Itu pantas untukmu."
"Axel Anthony pernah mengirim pesan, biarkan Romeo mati terbunuh tujuh tahun lalu oleh musuh kalian setelah mengirimmu ke gudang rongsokan JD. Jika tidak mati terbunuh maka aku harus membunuh Romeo. Aku tak lakukan karena aku iba padamu. Harusnya aku membunuhmu saja."
"Jangan meracau!"
"Tentu saja!"
"Jika kamu sukai Bellova, aku akan lakukan hal yang lebih kejam dari yang dilakukan Axel Anthony!"
"Uhh, aku tunggu!"
"Nikmati makananmu, Raphael!"
"Hei ...," Raphael melambai pada Raymundo. "TRIms untuk makanan lezat ini."
"Sampai bertemu di tebing, Ralph!"
Raymundo Alvaro tinggalkan meja makan sedang Raphael melongo. Menatap makanan dan mengumpat. Ia terkena jebakan.
"Kau Brengsek sialan, Romeo!" Terlambat mencegah, Raphael lemas keracunan di atas meja makan.
"Selamat tidur, Batman!" tambah Raymundo sebelum Raphael pingsan beritahu BM bahwa Raymundo akan menggantungnya di tebing persis kelelawar malam ini.
Raymundo pergi ke ruang tidur, Bellova di jendela, nikmati jingga mentari yang tersisa di ujung cakrawala. Tak terganggu pada kehadirannya. Raymundo ingin tahu, apa yang Bellova pikirkan. Alih-alih bertanya, Raymundo ikut-ikutan nikmati pemandangan.
Raymundo tinggalkan Bellova, keluar dari pondokan, pergi ke jendela. Berdiri di depan Bellova dari sisi berbeda menutupi pemandangan dengan tubuh besarnya.
Mata Bellova bertemu matanya. Di kesempatan lain, di kehidupan berikutnya, semuanya akan tetap sama, ia akan tetap memaksa Bellova berdiri di sisinya.
Raymundo menulis gunakan jari telunjuk di kaca mulai berembun.
"I ๐ You, Bellova." Menaruh satu cap bibir di sana.
Bellova perlahan tersenyum dibalik jendela. Raymundo berpikir ia beruntung karena Bellova mencintai pria sepertinya yang punya banyak kekurangan. Dan mereka akan bersama jalani hari di kehidupan mendatang.
__ADS_1
***
Chapter Berikutnya adalah Chapter terakhir. Terima kasih telah mencintai My Hottest Man...