
Belliza, Bellova juga Cheryl penuhi undangan makan malam dari Nyonya Yves Devano. Sementara mobil mengantar mereka ke Sao Vicente, Belliza rencanakan bridal shower super meriah untuk Bellova.
Em, tidak. Bagaimana kalau ia mengatur wedding shower? Mengapa wedding shower? Belliza ingin semua orang berkumpul termasuk pengantin pria dan teman-teman si pengantin pria. Belliza jadi penasaran seperti apa teman-teman Raymundo Alvaro? Apa pria itu tak miliki teman?
"Cheryl Devano? Bukankah Anda keterlaluan tinggalkan São Vicente begitu lama?" Yves Devano memeluk Cheryl dan mencium kening gadis kecil yang menggemaskan, mereka telah sampai di kediaman Lucio Vargas juga Oskan Devano tanpa Belliza sadari. Ia sibuk melamun di jalan.
"Hallo Grandma, aku merindukanmu." Cheryl balas mengecup pipi Nyonya Yves Devano.
"Akh, jangan merayuku Cheryl Devano. Jika rindu padaku tak mungkin kamu bertahan di luar sana lebih lama dari satu hari."
Cheryl terkekeh. "Maafkan aku, Grandma."
"Tentu saja, temui Nenek Carmel. Seharian nenekmu rindukanmu, Cheryl. Kabarkan kedatanganmu dan dua Mommy pada Nenek Carmel."
Lucio Vargas miliki kehangatan Yves Devano.
"Baiklah, Nyonya Yves," balas Cheryl patuh, hingga Lucio Vargas tersenyum lebar.
"Oh, Lucio Vargas? Ada apa dengan wajahmu? Kamu terlibat perkelahian?"
Lucio Vargas tak bisa sembunyikan wajah tampan dari goresan dan bengkak keunguan sekalipun ia telah pergi ke dokter.
"Ada sedikit salah paham dan adu kekuatan. Aku kalah, jadi sedikit lebam."
"Ya Tuhan, berapa usiamu Lucio? Apakah pria 30 tahunan harus bersikap konyol?"
"Sudahlah, Mom. Ini hanya salah paham kecil."
Nyonya Yves meski bingung dan kuatir, tak ingin terlihat berlebihan pada Lucio Vargas beralih pada Belliza dan Bellova. Nyonya Yves naikan kening sangat tinggi hampir-hampir menyentuh ujung poni.
"Malam Nyonya," sapa Belliza dan Bellova barengan.
"Oh ya Tuhan, aku kesulitan menemukan mana Bellova dan mana Belliza?" Mengeluh sekaligus mengagumi. Cantik dan mereka kembar. Lucio Vargas mungkin akan punya bayi kembar. Terlepas dari itu, Yves Devano telah menyayangi Belliza sejak pertama kali mereka bertemu.
"Ada apa, Yves? Apakah tamu kita sudah tiba?" Carmelita Devano adalah Ibunda Oskan Devano, muncul di ruang depan hendak menyambut Belliza. Berdiri kebingungan seperti Yves Devano.
"Bukankah kamu pernah jadi mertua Belliza, Carmel. Bisakah beritahu aku mana Belliza?" tanya Nyonya Yves lagi.
"Oh ya ampun, aku sampai berkunang-kunang." Carmelita mengelak.
"Selamat malam Ibu. Apa kabar Anda? Nyonya Yves, senang bertemu Anda lagi."
Belliza mengambil inisiatif lebih dahulu menyapa.
Jadi, pusat perhatian di jamuan makan malam keluarga São Vicente, Bellova menyesal kenapa ia ikut? Harusnya ia memilih bersama Raymundo Alvaro yang sedang alergi seluruh tubuh. Namun, ia satu-satunya keluarga Belliza setelah Bellinda punya urusan sendiri di Peniche.
Nyonya Yves Devano juga anggota keluarga lain sangat antusias pada mereka berdua kecuali Nyonya Carmelita Devano, duduk di seberang Belliza memasang wajah sendu. Makan malam berakhir baik. Mereka kemudian berpindah ke ruang santai.
"Puteraku sangat ceroboh dengan meninggalkanmu, Bell."
"Kita tak bisa terus bahas soal masa lalu. Belliza mungkin tak akan nyaman," tegur Oskan Devano. Diikuti anggukan sepakat dari Lucio Vargas. Mabuk kepayang pada Belliza, mata biru Lucio hanya menangkap gerakan Belliza hingga Oskan Devano kepanasan.
Bagaimana tidak, Belliza sangat-sangat cantik dengan rambut panjang cokelat terang yang digelung di tengkuk. Riasannya tipis dan hanya tersenyum pada semua orang. Oskan tak berani mengusik Bellova bahkan hanya melirik cinta pertamanya itu, ia tak suka berurusan dengan Raymundo Alvaro yang pemarah.
"Jodoh tak bisa dipaksakan, Carmel," hibur Nyonya Yves. "Cintaku pada Oskan dan Lucio tak pernah bisa dibandingkan karena Oskan adalah penerus tunggal Devano dan Lucio adalah puteraku. Aku sangat menyayangi Oskan, tetapi Oskan memilih wanita lain selain istrinya. Kupikir, kita semua perlu hargai keputusan ini."
"Sungguh anak bodoh." Carmelita Devano tak berhenti mengomel.
Oskan tak sukai cercaan Carmelita Devano memilih menyingkir ke taman belakang, di mana Lucio Vargas terlihat membawa Cheryl berputar-putar di punggung pria itu. Puterinya tertawa bahagia.
"Apakah kamu baik-baik saja Belliza?"
"Ya, Bu."
"Oh ya Tuhan."
Belliza tersenyum lembut pada Carmelita Devano, pada wanita yang pernah jadi ibu mertua, sayang Oskan tak suka Belliza bertemu Ibunya. Alasan Oskan, Belliza suka mabuk. Carmelita akan mengomentari kehidupan mereka.
Well, Belliza. Semuanya berakhir.
"Ibu, aku tak akan kemana-mana. Kita masih tetap satu keluarga."
"Aku ingin menerima kenyataan ini, terlalu pahit Belliza. Aku menyukaimu."
"Ibu ...."
"Baiklah, Belliza. Selamat untukmu dan Lucio. Semoga hidup bahagia, Sayang."
"Belliza, setelah perceraian-mu dan Oskan beres, keluarga Lucio akan berkunjung ke rumah orang tuamu untuk melamarmu."
Pernyataan terbaik yang pernah didengar Belliza. Belliza tersenyum bahagia pada Yves Devano lalu pada Bellova. Adiknya selalu menjadi pendukung utama. Namun, Bellova terlihat gugup oleh sesuatu. Tentu saja, Bellova ingin cepat-cepat kembali karena tunangannya yang alergian.
Sedang para wanita berbincang di ruang tengah. Oskan Devano dan Lucio Vargas diselimuti perang dingin sejak perjamuan berlangsung. Kini, Oskan cemburu pada Cheryl yang begitu nyaman bersama Lucio.
"Wajahmu lusuh, Sepupu," tegur Lucio setelah Cheryl pergi bersama Nicoletta dan Cekomaria di bawah pengawasan Charlotte. "Bagaimana keadaan Helena? Semoga cepat pulih dan kembali bersamamu."
"Kamu menusukku dari belakang, Lucio!" Oskan duduk di bangku taman belakang dan menatap Lucio tak bersahabat. Wajah tampan Oskan tak beraturan.
"Akkhh, bahasa itu terlalu tajam Oskan. Kamu khianati Belliza dan buatnya sekarat."
"Belliza suka minuman keras!"
"Karena ingin menarik perhatianmu. Saat pertama kali aku menemuinya, Belliza terus katakan bahwa dia sangat mencintaimu. Ia mengadu padaku sepanjang malam dan berharap kamu mencintainya sedikit saja."
"Kamu tak kabari aku!"
"Jika aku menelponmu malam itu, apakah kamu akan tinggalkan Helena dan datang pada Belliza?"
Oskan tak menyahut.
"Kamu mungkin datang ke Luxury tetapi bukan karena inginkan Belliza. Egomu terluka. Kamu keberatan aku menyentuh istrimu yang kamu buang."
Mereka bertatapan, mata biru tajam Lucio Vargas dan mata abu-abu Oskan Devano. Lucio bangkit berdiri, menepuk pundak Oskan Devano pelan.
"Bahagialah bersama Helena Alvaro. Aku mendukungmu. Biarkan Belliza bahagia. Aku akan berikan semua cintaku padanya dan menjamin kehidupan indah bagi Cheryl."
__ADS_1
Lucio hendak tinggalkan Oskan ketika sepupunya ikutan bangkit berdiri dan memulai propaganda didorong patah hati.
"Aku belum ceraikan Belliza, Lucio. Aku mungkin berubah pikiran."
Lucio Vargas mende*** jengkel. Apa Oskan Devano menyesali sikap kasarnya pada Belliza?
"Aku yakin Belliza masih mencintaiku. Kami punya Cheryl," tambah Oskan lagi.
"Oskan, kamu berubah serakah."
"Ini hanya penyesalan seorang suami. Kami bisa perbaiki."
Lucio Vargas sungguhan terusik. Ia tahu pasti, Belliza masih mencintai Oskan. Belliza sendiri mengakuinya. Belliza bangkit dari keterpurukan di atas sakit hati pada Oskan, sangat rapuh. Lucio bisa menunggu Belliza tetapi Oskan tak boleh ada di antara mereka.
"Apa yang kamu inginkan Oskan?" tanya Lucio Vargas.
"Aku ingin Belliza."
"Tidak. Aku melamar Belliza tadi siang dan kami akan menikah secepatnya."
"Aku berubah pikiran."
Lucio terpancing emosi, datangi Oskan dan meraih kerah sepupunya.
"Jangan sentuh Belliza! Kamu akan tahu akibatnya. Aku tak pernah merebut Belliza darimu. Kamu meninggalkannya demi wanita lain. Belliza sekarat selama dua tahun lebih dan kini dia bangun, Belliza akan bersamaku. Lepaskan dia Oskan. Aku tak segan-segan kasar padamu."
"Kita lihat saja nanti, Lucio. Aku tak suka kamu bersama Belliza dan puteriku."
"Kamu egois. Kamu hanya pikirkan kepentingan dan kesenanganmu, bersedia menyakiti istrimu dalam waktu lama bahkan membuangnya seperti sampah."
"Manusia punya kesalahan. Aku akan perbaiki."
"Terlambat, Brengsek! Jangan sentuh Belliza."
"Lucio, berhenti mengancamku! Kamu pikir, kamu sungguh-sungguh pada Belliza? Yakin kamu inginkan Belliza karena kamu jatuh cinta padanya bukan karena Belliza istriku?"
Kemarahan Lucio Vargas mencapai ubun-ubun. Tinju Lucio mengepal dan secara refleks menonjok wajah Oskan hingga Oskan Devano terjatuh di bangku.
"Kamu brengsek, Oskan."
"Aku benarkan?"
Percikan dimulai. Bunga api berubah besar dan melahap Lucio Vargas. Pria itu benar-benar tak bisa mengontrol amarah, memukuli Oskan membabi buta.
"Ambil semua warisanku untukmu, aku juga bisa berikan Luxury jika kamu mau. Aku akan bawa Belliza ke Perancis dan hidup di hunian kecil dengannya. Lepaskan Belliza!"
"Aku semakin inginkan istriku kembali," balas Oskan menahan pukulan. Mendorong Lucio Vargas, akan tetapi, pria yang sedang marah hilang kendali.
"Lucio ..., apa yang terjadi?!" Belliza berlari pegangi Lucio Vargas. Mula-mula mencari Lucio ingin pamitan karena Bellova harus segera pulang. Tak menyangka mendengar adu mulut kakak beradik di taman.
"Belliza jangan mendekat!" seru Lucio Vargas.
Ribut-ribut memancing ingin tahu semua orang yang langsung datangi sumber keributan.
"Ada apa ini?" Jeritan Yves Devano benar-benar mimpi buruk bagi per-sepupuan yang sedang bertengkar.
"Apa yang terjadi, Lucio? Demi Tuhan, jika Cheryl melihat kalian seperti ini, anak itu akan sedih. Please," bujuk Belliza pada Lucio Vargas.
Mata rentan Belliza sadarkan Lucio Vargas. Belliza meraih wajah Lucio, membelai lembut. Mengecup bibir pria itu dalam.
"Jangan lakukan ini! Kamu harus tahu bahwa dunia berisi banyak orang bodoh yang ingin hancurkan kebahagiaan kita. Aku tak akan kembali pada Oskan karena cinta mendalammu padaku. Kamu dan Cheryl adalah tujuanku."
Belliza mendengar percakapan mereka.
Bellova mendekat, bantu Oskan bangkit berdiri.
"Berhentilah urakan, Oskan!" tegur Bellova tajam tahu bahwa Oskan Devano pasti memancing Lucio untuk marah.
Oskan hempaskan tangan Bellova darinya, bangun sempoyongan dan pergi sedang Belliza masih terus tenangkan Lucio.
"Oskan Devano?! Apa yang terjadi denganmu?" tanya Carmelita Devano keheranan. "Kamu terus saja berulah. Ya Tuhan, kamu kehilangan istrimu karena kelalaian sendiri. Jangan salahkan sepupumu!"
Carmelita Devano seakan tahu dengan baik pokok permasalahan dari ekspresi tak senang Oskan sepanjang jamuan makan malam. Lucio Vargas sangat perhatian pada Belliza. Walaupun terlihat bahwa Lucio tidak sedang panasi situasi, Lucio hanya terlihat jatuh cinta. Puteranya yang sembrono terhasut.
"Berhentilah menyudutkan Oskan, Carmel!"
"Yves, kamu terlalu manjakan Oskan! Lihat saja tingkahnya."
"Dengan Carmel, Oskan satu-satunya pria milik Devano. Aku tentu saja harus mengasihinya."
"Tapi, kamu salah. Oskan jadi semena-mena."
"Berhenti bertengkar, Bu. Maafkan aku," ujar Oskan lunglai. "Aku akan pergi ke rumah sakit."
"Ya, pergilah ke sana dan jaga milikmu yang baru," sembur Carmelita. "Pungutlah kulit kerang dan buang mutiara di dalamnya."
"Carmel, tolong hentikan!"
Bellova pamitan, ikuti Oskan dari belakang. Pria itu di parkiran luar.
"Hei hei, Oskan Devano yang terhormat, kita perlu bicara!" Bellova berseru jengkel, hentikan langkah Oskan.
"Jangan ganggu aku, Bellova!"
"Kamulah makluk pengganggu itu, Oskan. Aku tahu kamu mulai sadar sekarang saat kehilangan Belliza. Ini sudah terlambat. Belliza bahagia sekarang bersama seorang pria yang menerima kekurangannya. Lagipula bukankah kamu punya Helena?"
"Love, jangan terlalu jauh ikut campur dalam masalahku."
"Aku tak ikut campur. Kamu keberatan Lucio bersama Belliza setelah kamu khianati Belliza dan menyakitinya? Kamu bahkan hampir membunuh Belliza."
Oskan tak diduga mendekat dan mencengkeram lengan Bellova.
"Fitnah itu kejam, Bellova!"
"Oh ya? Cuma fitnah?"
__ADS_1
Oskan semakin kuat meremas lengan Bellova.
"Kamu tahu ..., saat Helena bangun kebenaran akan terungkap."
Bellova terkejut, tetapi temukan ia jadi optimis. Raymundo Alvaro mengintimidasinya, kini Oskan Devano?
"Aku tidak takut, Oskan!"
"Oh ya?" Oskan tersenyum tipis. "Tentu saja kamu tidak takut, karena kakak laki-laki Helena jadi perisai-mu kini."
Bellova menatap Oskan tanpa keraguan.
"Oskan, hiduplah bahagia bersama Helena. Jangan ganggu kami. Kamu ciptakan malapetaka ini dan bahagia sebelumnya saat sedang bersenang-senang dengan Helena abaikan penderitaan Belliza."
Tak sadari sepasang mata sedang mengamati tak jauh dari gerbang masuk. Melangkah perlahan.
"Bellova?!" Nada dingin mencekam berhasil sampai di tulang-tulang Bellova.
Bukan saja Bellova yang terkejut, Oskan Devano lebih terhenyak. Kedua orang mematung temukan Raymundo Alvaro hanya lima langkah dari mereka. Dibalik masker, kaca mata gelap, memakai mantel hitam panjang berwarna hitam, ketika pria itu melangkah bagian mantel yang tak dikancing berkibar diterpa angin, Raymundo Alvaro persis reinkarnasi malaikat pencabut nyawa.
"Ka - mu?! Me - ngapa di di si-ni?" tanya Bellova terbata-bata. Kerongkongan lekas mengering, cemas Raymundo Alvaro salah paham.
Benar saja.
Tanpa basa basi pegangi tangan Bellova dan menarik Bellova keras hingga cengkeraman Oskan terlepas.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Bellova mengangguk. Raymundo Alvaro menoleh pada Oskan. Tak ada yang bisa menebak adegan berikutnya, tahu-tahu saja Oskan telah ditanduk hingga terjungkal ke sisi mobil. Menabrak kaca mobil. Menjerit sakit.
"Oh shi***"
"Jangan sentuh Bellova!"
Satu kalimat. Raymundo Alvaro akan ucapkan kalimat mistis itu pada semua pria yang coba bicara sedekat satu depa dengan Bellova.
"Kau Brengsek Sialan. Kami hanya bicara!" Oskan Devano pegangi kening seakan terbelah bagi dua. Wajah Bellova samar-samar terbagi jadi lima.
Raymundo Alvaro memutar lehernya ke kiri lalu ke kanan.
"Ini yang terakhir, Oskan. Jangan bicara pada Bellova! Jangan menyentuh Bellova dan jangan tersenyum padanya tanpa seijinku! Kau dengar aku?"
"Persetan denganmu! Ikat saja Bellova di punggungmu ..., sialan kau!"
"Oskan, aku terus mengisi kertas nilaimu tiap hari walaupun aku muak. Aku menunggumu saat melamar Helena! Jaga sikapmu!"
Oskan sepertinya sangat menderita. Tentu saja, Oskan baru saja ditonjok Lucio Vargas hingga hidung lancipnya pindah arah lalu dicekik sepupunya itu. Kini ia menderita pusing tingkat tinggi, mungkin otak dalam tengkorak kepalanya bergeser akibat tandukan ajaib kakak laki-laki dari kekasihnya.
Bellova hanya bengong. Lucio Vargas, Oskan Devano dan Raymundo Alvaro akan membentuk lingkaran perseteruan teraneh. Bellova tak ingin bayangkan apapun. Sungguh mengerikan.
Raymundo Alvaro menyeret Bellova ikut dengannya. Namun, hati masih tak puas. Raymundo Alvaro kembali berbalik datangi Oskan. Merengkuh kerah jaket Oskan yang kesakitan.
"Jangan coba-coba bernapas didekat Bellova! Aku akan mencekikmu tak peduli meski Ibumu, Ayahmu atau seluruh arwah nenek moyangmu ada di belakangmu. Temani Helena seperti pria sejati dan cintai adikku sepenuh hatimu, dengan seluruh jiwa dan ragamu, jangan pergi dari sisinya walau hanya satu langkah saja. Aku tak suka ada pecundang dalam keluargaku."
Lepaskan Oskan dengan kasar kemudian bawa Bellova pergi dari sana. Raymundo Alvaro menuntun Bellova masuk ke dalam mobil.
"Apa Cheryl akan bersama Belliza dan Lucio?" tanya Raymundo sambil pasangkan seatbelt pada Bellova, menahan marah. Berani sekali Oskan Devano mengancam Bellova, matanya awasi Bellova seakan takut Bellova tergores. Tanpa sengaja buat Bellova bergidik.
"Ya. Biarkan aku mengemudi."
"Tidak, aku baik-baik saja."
Menyetir dalam diam. Suasana berubah canggung. Bellova ingin bertanya, mengapa Raymundo Alvaro ada di São Vicente?
"Aku datang untuk menjemputmu." Raymundo bicara seakan tahu jalan pikiran Bellova.
Raymundo tak sukai ide jika orang-orang di São Vicente menahan Bellova juga ikut menginap di sana. Ia bisa mati lemas sebelum fajar menyingsing karena rindukan Bellova.
Apa ini? Mengapa ada banyak getaran dan rasa-rasa manis menyerap di pembuluh darah juga rasuki otot-ototnya.
Mereka sampai di rumah. Orang rumah sepertinya telah pulas. Langsung pergi ke ruang tidur. Tangannya tak berhenti menggenggam tangan Bellova.
"Apa kamu baik-baik saja? Aku baru akan pulang karena mencemaskanmu." Bellova baru berani menengok pada yang diajaknya bicara.
"Hariku buruk. Kamu perlu bertanggung jawab padaku. Karenamu aku menderita. Beruntung tadi tak turun hujan, aku mungkin terbaring kaku dalam peti mati kini."
Bellova mende***. Raymundo Alvaro sangat cerdas mengintimidasi orang lain.
"Baiklah. Apa yang harus aku lakukan agar kamu merasa baikan?"
Raymundo Alvaro menyeringai tipis, lepaskan mantel dan seluruh atasannya, perlihatkan leher yang memerah.
"Cream anti alergi!"
"Baiklah."
"Cuma 'baiklah'?"
"Memangnya ada lagi yang lain?" tanya Bellova keheranan. Tak paham keinginan pria aneh ini.
Raymundo Alvaro duduk di ranjang meraih Bellova dan mengunci tubuh Bellova dengan kedua paha.
Bellova Driely Damier mengoles cream ke seluruh permukaan kulit Raymundo Alvaro sedang si pria pejamkan mata berharap alerginya tak sembuh dengan cepat. Jadi, ia punya banyak alasan untuk 'menyiksa' Bellova.
"Kita tak bisa menikah dalam beberapa hari dengan kondisimu yang sekarang."
"Aku akan segera sembuh," jawab Raymundo Alvaro berat. Aroma lembut Bellova berlarian dalam rongga hidung, ia lingkarkan tangan pada pinggang Bellova.
"Begitukah?" Bellova sandarkan dagu di kepala Raymundo.
"Itulah mengapa aku butuh cream dan pelukanmu, Bellova."
***
Modus nih orang.
__ADS_1
Mohon dukungannya. Tinggalkan komentar dan vote. Juga like.