
"BM, temukan Tuan Vargas?"
"Ada banyak Vargas. Eduardo Vargas, Patrick Vargas, Daniel Vargas, Francesco Vargas."
"Tuan Vargas terkait Luxury Club."
Raymundo Alvaro bicara di taman belakang pada Black Mask. Ia mendengar percakapan Bellova tentang Mr. Vargas dan pertemuan mereka di Luxury Club tiga hari lalu.
Jangan tanya mengapa ia mengintil Bellova? Raymundo hanya merasa penting dan perlu tahu kemana Bellova pergi.
"Lucio Vargas, salah satu penghuni São Vicente, juga pemilik tunggal klub Luxury. Jangan cari masalah dengannya. Vargas adalah salah satu keluarga terpandang di negara ini."
"Ada yang lain?"
"Lucio Vargas sepupu Oskan Devano. Ayah Oskan Devano dan Ibu Lucio Vargas, Nyonya Yves Devano, bersaudara kandung."
Raymundo berpikir sejenak. Oskan Devano bergabung dengan kartel mafia beberapa bulan lalu. Keanggotaannya baru akan diperhitungkan setelah Oskan berhasil membasmi Puteri Viktor. Apakah Lucio Vargas juga tersambung dengan kartel mafia?
"Apakah Lucio Vargas sama sekali tak terlibat Mafia?"
"Ya. Negative. Patrick Lucio Vargas, kakek buyut Lucio Eraldo Vargas adalah salah satu pria paling terkemuka di kota ini dan sangat dihormati."
"Baiklah."
"Apa masih ada yang lain?"
"Aku akan kirimkanmu makanan."
"Bagaimana dengan Deenar? Gadis-mu patah hati, Romeo akan nikahi fake Juliet."
"Mengapa wanita mudah sekali jatuh cinta?" Raymundo mengeluh. "Apa yang mereka lihat dariku?"
"Mereka? Apakah Twin B (Bellova) juga jatuh cinta padamu? Tangkap Twin B. Dia cocok untukmu dibanding Viviane Anthony bahkan Deenar."
"Twin B akan nikahi salah satu kerabatnya."
"Greg Luigi. Baru planning. Aku menyadap ponsel Twin B."
"Spesifikasi spesies ini, please?"
"Tak ada. Pria ini hanya pria biasa dari manufaktur tekstil."
"Baiklah. Awasi Luxury Club. Kabari aku jika Twin B pergi ke sana."
"Ada lagi?"
"Awasi saja Twin B, 25 jam tanpa berkedip!"
"Anda berubah psiko, Romeo!"
"Mungkin."
"Wanita, makhluk sensitif dan gunakan perasaan dibanding logika. Tak sama seperti pria yang lebih kebal. Jangan bermain terlalu serius, Anda mungkin akan bermasalah di kemudian hari. Note : temui Deenar. Sebulan ini, gadis itu badmood."
"BM, aku tak bisa bertemu Deenar jika dia mengubah segalanya di antara kami."
"Baiklah."
"Apa Helena, aman?"
"Ya. Minggu ini ada jadwal pemeriksaan kandungan. Jangan sampai lupa!"
"Terima kasih."
"Sip. Oh ya, aku lewatkan sesuatu tentang Twin B."
"Kabari saja aku nanti!" Melihat Queena melambai panggil dirinya dari serambi tengah. Lalu, menghilang ke dalam.
Raymundo Alvaro berbalik, kembali ke ruangan di mana mereka biasa berkantor. Lewati ruang tengah, Queena sedang membuat teh. Tak hiraukan dirinya. Raymundo berdecak pelan lanjutkan langkah.
"Ambil waktumu setelah menikah," ujar Axel Anthony tak alihkan dirinya dari laptop.
"Tidak. Aku akan tetap bekerja. Kita punya beberapa proyek taman kota yang baru akan dikerjakan."
"Tak ada prioritas lain? Pihak wanita inginkan bayi." Kali ini Axel Anthony mengangkat wajah. "Kamu serius soal Bellova?"
"Ya."
"Kamu terlihat berbeda ketika menolak olahraga karena ingin bekerja keras membentuk tim bersama Bellova di dalam tenda." Axel Anthony bicara datar tetapi penuh interogasi.
"Beberapa hal diluar kendali."
"Viviane tak cocok untukmu, walaupun Viviane sepupuku."
"Akan jadi mudah untuk kami berdua."
Queena masuk ke dalam ruangan bawakan nampan teh dan camilan. Raymundo lekas berdiri dan hampiri Queena.
"Ada banyak asisten, Nyonya!"
"Aku bisa sendiri!" jawab Queena sedikit ketus.
Axel Anthony majukan bawah bibir, mengerut pada Raymundo. Seakan ingin bicara, "istriku sedang ngambek pada kita".
"Panggil aku setelah kalian selesai minum."
Queena pergi dari sana. Axel berdecak, amati Raymundo Alvaro yang duduk tanpa ekspresi di sofa.
"Queena jelas pendukung garis keras Bellova. Kamu bermasalah tetapi Queena mendiamkan aku juga. Hebat."
"Queen berpikir Anda mendukungku."
"Queena pertimbangkan kebahagiaanmu. Wanita lebih ekspresif jika menyangkut orang terdekat mereka. Lihat sikapnya, lebih mirip adik perempuan saat seleksi calon ipar."
Raymundo menghela napas panjang. Jelas terlihat Queena ingin ia bahagia dan hanya mengangguk pada Bellova. Jika diperhatikan, Queena dan Bellova miliki sedikit kesamaan. Mereka rapuh dan lemah lembut juga dipenuhi kasih sayang dan gampang putus asa. Bedanya Queena benar-benar sehalus sutera dari tampilan luar begitupun software-nya. Berbeda dengan Bellova, yang lebih berani, sering terjebak dengan caranya sendiri hingga lebih ceroboh dalam bersikap juga bertindak. Bellova juga terlihat mudah mengikat dirinya dengan orang lain. Ia akan nikahi Greg Luigi tapi janjian bertemu Lucio Vargas di Luxury.
"Aku akan bicara pada Ibu. Jangan menikah jika menentang nuranimu."
"Tidak perlu!" tolak Raymundo. "Nyonya Queena akan terima kenyataan ini. Bellova juga akan nikahi seseorang."
"Luar biasa. Kamu tak perlu ikuti mau Ibu."
"Anda bisa menolak dan membantahnya. Tetapi, aku tak bisa membangkang pada Nyonya Gracia."
"Aku paham alasanmu. Ibuku jadikanmu manusia hebat bukan berarti bisa menyanderamu, Raymundo. Lagian, jika kamu nikahi Bellova, kamu akan tetap membawanya kemari."
"Kami tak cocok."
Axel Anthony menutup laptop. Pergi ke sofa dan duduk bersebrangan dengan Raymundo. Meraih cangkir teh, minum seteguk.
"Beberapa hari ini teh lebih pahit dari biasanya?" keluh Axel Anthony. "Dan aku seperti makan camilan dari tahun lalu."
"Demonstrasi senyap." Raymundo minum tehnya, benarkan pendapat Axel Anthony. Teh terlalu pekat. "Ini teh diet."
"Aku berharap kamu tidak bersama Bellova malam itu dan lakukan kesalahan."
"Aku tak paham."
"Ingat Niña?" Menarik napas panjang. "Aku menyeret Queena dari taxi ke peternakan Mendeleya dan kami tidur di antara debu juga police line. Ketika Queena pergi, aku tak tahu Queena hamil. Apa kamu gunakan pengaman?"
Raymundo berdehem. Mengunyah rahang. Bellova menggeleng ketika ia ingin gunakan pengaman. Jadi, mereka abaikan setengah lusin pengaman. Sekali berhubungan bisa langsung berhasil? Pria itu tanpa sadar mendes**** berat.
"Efektifkah hanya satu tembakan?"
Axel Anthony mengunyah camilan. Berdecak.
"Satu tembakan mengandung jutaan sper** aktif, Tuan. Dan jutaan itu bersembunyi di suatu tempat dalam tubuh para wanita selama tujuh hari. Kamu tak tahu hal paling mendasar seperti itu?" Axel Anthony mengernyih, awasi Raymundo yang tetap tenang terkendali.
Bellova tak katakan apapun. Tidak.
"Tak ada apapun."
"Semoga saja. Wanita kadang ingin menyiksamu dengan sembunyikan hal penting. Atau balas dendam padamu. Pastikan saja dia tak hamil, atau kamu akan menyesal."
Viviane muncul di ruang kerja dengan dress dan dandanan lengkap siap party.
"Aku akan pergi mencari beberapa barang di butik. Aunty menyuruhku beritahukan padamu, Tuan Alvaro, agar jadi semacam kebiasaan."
"Baiklah," angguk Raymundo tahu Viviane berbohong. Viviane tampak sangat modern dari dress dan dandanannya juga bersemangat.
Calon pengantinnya hanya terlalu bergairah menghadapi deretan pesta, clubbing dan hura-hura. Gracia Anthony berusaha keras perbaiki perilaku Viviane dengan cara menikahkan mereka. Pendapat Nyonya Gracia, Raymundo mampu atasi Viviane.
Jika Viviane tidak menikah dalam waktu dekat, Kakak Tertua Gracia Anthony akan hibahkan harta kekayaan pada panti jompo dan Viviane hanya akan mendapat sebuah mobil tua yang bahkan tak bisa dihidupkan.
Viviane mau tak mau menerima Raymundo Alvaro dan sesuaikan diri. Raymundo bukan selera Viviane, demi apapun. Raymundo Alvaro bak tebing Bunda di Australia; tinggi, curam dan kaku.
"Silahkan nikmati makan malammu. Maaf aku tak bisa masak. Beruntung Queena di sini."
"Anda perlu belajar memasak," kata Raymundo datar.
__ADS_1
"Oh, kuku-ku yang berharga baru dilukis. Aku tak bisa timbulkan bau-bauan aneh pada mereka."
"Aku menikahi masalah besar," angguk Raymundo. Ponselnya bergetar, satu pesan masuk.
💌
Twin B, janjian makan malam dengan Mr. Greg Luigi.
Chapito. Resto. 8 pm.
Raymundo mengetik pesan balasan.
💌
Reservasi di Chapito, soon.
"Aku antar!" Raymundo bangkit dari duduk. "Bos, aku pergi."
"Oh tak perlu, aku bisa sendiri!" tolak Viviane.
Raymundo mengangguk ke pintu keluar sebagai ganti, "Kita pergi bersama!"
Viviane mau tak mau turuti. Lewati ruang tengah, Queena sibuk mengatur meja makan. Mengangkat wajah. Raymundo buru-buru lepaskan pegangan pada Viviane. Tak suka lihat tatapan kesal Queena padanya.
"Bukankah kita akan makan malam?"
"Kami mungkin akan makan diluar, Nyonya."
"Kita punya banyak makanan segar di rumah," kata Queena lagi.
"Ini terakhir." Menoleh pada Viviane.
"Aku akan belajar keras memasak darimu, Queena, mulai besok."
Queena mengedipkan bahunya, lanjutkan pekerjaan. Sedang Raymundo Alvaro menggiring Viviane ke parkiran, duduk dengan tenang dibalik kemudi. Mengunyah rahang.
Apakah Bellova mudah jatuh cinta? Biarkan saja Bellova jatuh cinta. Bukankah itu bagus untukmu? Mengapa, Raymundo Alvaro tak suka? Mengapa ia sangat terganggu?
Mobil sampai di Chapito restoran.
"Mengapa kita kemari?" Viviane mulai mengeluh.
"Makan malam."
Masuk ke dalam dan langsung menuju lantai teratas karena sinyal ponsel Bellova datang dari atas. Lewati tangga spiral. Berdecak dalam hati saat tatapan membentur Bellova Driely yang sedang mengobrol akrab dengan calon suaminya.
Tak habis pikir, mudah sekali wanita itu tersenyum pada pria asing. Atau mereka saling kenal? Masa bodoh. Lalu, mengapa ia penasaran?
Duduk di meja tak jauh dari Bellova. Wanita itu masih melongo saat melihatnya. Seakan ingin berlari padanya dan menggaruknya.
"Kita punya banyak makanan segar dan kamu menyeret aku makan di sini, Tuan Alvaro?" oceh Viviane.
"Kamu bisa pergi ke klub setelah ini." Ia berkata tanpa lepaskan pandangan dari Bellova. "Aku tak akan beritahu Nyonya Gracia."
"Benarkah?" Viviane berbinar-binar. "Aku tak ingin diikuti."
"Tentu saja."
"Aku harap aku tahu apa yang akan kita lakukan di sini? Bukan seleraku sama sekali."
"Terbiasalah. Dua orang asing perlu suasana romantis untuk saling mengenal. Bukankah begitu?"
"Baiklah. Aku akan pura-pura menerima. Lagipula Anda butuh sedikit banyak guncangan kesenangan. Pria terlalu serius membosankan."
"Kamu bisa menikahi badut, Nona."
Bellova memutar kedua bola matanya. Mual padanya. Apakah aku peduli? Ia tahu Bellova memaki.
"Apa kamu tak suka?" tanya Greg melihat raut gusar Bellova.
"Tidak, Tuan. Mari kita makan."
Bellova gelisah. Merasa tertekan, Bellova mengangkat wajah, balas menantang. Wanita pemberani.
"Anda ingin makan apa, Tuan Alvaro?" Viviane bertanya.
"Apa saja."
"Octopus Carpacio, mau?"
"Ya."
"Makanlah!"
"Terima kasih."
Pria yang sangat perhatian dan Bellova berbunga-bunga. Bodoh.
"Mau crème Brûlée?"
"Chocolate and peanut delight saja, Tuan." Bellova menarik napas kuat, lepaskan sendok di tangannya. "Aku perlu ke toilet."
"Apa makanan ini mengganggumu?"
"Tidak, Tuan. Aku pergi sebentar saja."
Bellova melangkah cepat menuju toilet. Mata wanita itu menyala ketika mata mereka bertemu. Mengumpat padanya, "Mari kita bicara, Brengsek!"
Greg Luigi menengok lihat kepergian Bellova. Tangan kanan pria itu pindahkan pot bunga ke pinggir, lalu masukan tangan ke kantong mantel.
"Aku pergi sebentar." Raymundo berdiri ingin menemui Bellova. Ekor mata tak sengaja dapati Greg Luigi keluarkan sesuatu dari mantelnya, sebotol ampul biru. Menuang sesuatu ke minuman Bellova.
Raymundo mendorong bangku. Pergi pada Greg Luigi. Pegangi pundak Greg. Pria itu berbalik.
"Tuan?! Ada apa, Tuan?"
Memutar pundak Greg Luigi dan ayunkan keningnya tepat di hidung Greg.
"Aaakhhhh ...."
Greg tersungkur di bangku, menyenggol vas bunga di ujung meja.
Prang!
"Raymundo Alvaro? Apa yang kamu lakukan?" seru Viviane datangi dirinya.
"Tuan?!" keluh Greg kepalkan tinju, Raymundo menyeringai padanya hingga Greg berpikir sekali lagi.
"Ya Tuhan, selamatkan kami, apa yang terjadi?" pekik Bellova berlari cepat. Greg Luigi pegangi hidung berdarah.
"Apa kamu baik-baik saja?" tanya Bellova kalang kabut, mengambil tisu dan bersihkan wajah Greg. "Apa yang terjadi?"
Greg tak menyahut, pandangi dirinya.
"Apa Tuan ini mengganggu Anda, Tuan?" tanya Bellova murka dan muak.
"Nona Bellova. Maafkan kami." Viviane pegangi lengan separuh menyeret agar segera pergi dari sana. Namun, ia sangat ingin hancurkan wajah Greg Luigi.
"Hei hei, beritahu aku, apa masalah Anda, Tuan?" Bellova naik pitam pegangi lengan satunya.
"Bellova, kami akan pergi!"
Manajer restoran datang.
"Tidak. Beritahu aku, apa masalahmu!" tegur Bellova dingin. "Mengapa pukuli orang sesuka hati? Apa salahnya, Tuan?"
Raymundo Alvaro berdecak menatap Bellova.
"Ceroboh!" Wanita ini tak tertolong.
Hempaskan tangan Bellova darinya, ia mendorong Viviane pergi dari sana.
"Apa yang terjadi, Tuan?" Manajer hotel menegurnya.
"Mari bicara di bawah."
Amarah mengisi kepala dan tubuhnya berontak. Menyesal, mengapa tak pecahkan gelas minuman. Raymundo Alvaro berbalik pada Viviane.
"Pergilah ke klub, taxi-mu menunggu."
Raymundo masih tetap tinggal dan bicara dengan manajer, minta rekaman CCTV. Ia akan kirimkan pada perusahaan Greg Luigi dan minta mereka menendang pria penuh modus itu.
Tak langsung pulang, Raymundo Alvaro pergi ke studio. BM buatkan kunci pengganti studio.
Bagaimana kalau Bellova pergi ke tempat Greg?
Maka biarkan takdir wanita itu bicara.
Pergi ke ruang kerja, sketsa wajahnya dipenuhi coretan dan umpatan. Memang menyedihkan saat orang jatuh cinta. Bellova terlihat jatuh cinta padanya tapi open herself pada banyak pria. Wanita sangat ceroboh.
__ADS_1
Pintu studio terbuka. Wanita itu datang. Sendirian karena tak ada suara langkah kaki lain. Bernapas lega.
Pintu kamar terbuka. Bellova masuk dan mengumpat tentangnya, lepaskan mantel dan menggeliat di atas ranjang seperti wanita sedang, um em.
"Oh, apa yang aku minum tadi?" Suara husky Bellova, terdengar sangat basah di telinganya.
Pegangi kepala, Bellova sadari keberadaanya. Insting tajam. Nyalakan lampu tidur.
"Arggghhh ...." Menjerit, melompat turun menuju saklar.
Raymundo Alvaro meraih tubuh Bellova pergi ke ranjang. Berdebar-debar oleh candu. Ketika tangannya menyentuh kulit sehalus beludru itu. Bellova begitu indah saat hanya tersisa dalaman.
"Help me!"
Bellova meronta sekuat tenaga.
"Help me!" jeritan lagi. Raymundo menahan tubuh Bellova dengan tubuhnya. Bellova berhenti berontak.
"Kamu nikmati kencanmu, Bellova?" tanyanya kesal.
Napas Bellova menderu di atas ranjang.
"Apa maumu Tuan Raymundo Alvaro? Menikahlah dan hiduplah dengan bahagia. Jangan ganggu aku! Jangan menyiksaku!" Bellova bicara tersengal-sengal.
"Begitukah?" tanyanya tak bisa menahan diri untuk tak menyentuh Bellova, merayap di atas tubuh halus polos dan wangi itu. Bellova mengerang.
"Kamu menyukainya?"
"Hen ... ti ... kan!" Bellova berusaha bangkit.
"Kamu akan rindukan ini."
Ia kembali bermain di punggung Bellova. Sukai des** Bellova.
"Bellova Driely Damier, kamu milikku. Hanya aku!"
Tanpa sadar kata-kata itu melompat keluar dari bibirnya.
"Apakah kamu akan datang dan tiduri aku setelah kamu menikah?" Suara wanita patah hati. "Napasku sesak, tolong aku."
Sedangkan ....
Bellova menggigil, mengancing bibirnya rapat-rapat hingga urat-urat leher keluar di bawah permukaan kulit ari. Terlihat jelas agar tidak memelas pada Raymundo Alvaro untuk bercinta dengannya. Gairahnya memuncak di ubun-ubun, Bellova jadi berlebihan resah. Napas memburu dan irama jantung seakan habis berlari maraton.
"Bellova, apakah kamu minum minumanmu?!"
Raymundo Alvaro tersadar kini. Bellova mungkin minum setelah ia pergi. Longgarkan pelukan. Bellova segera berbalik, tiba-tiba meraih leher Raymundo. Menyambar seperti kesurupan, menghisap keras. Bellova seketika berubah menjadi buas.
"Aku berubah pikiran, aku menginginkanmu!" ujar Bellova bergelora.
Kuku-kuku menancap di punggungnya, garukan.
"Aarggghhh ...." Terlalu tajam hingga Raymundo Alvaro menjerit.
Sedikit lengah, Bellova mendorong tubuhnya sangat kasar di atas ranjang dan menarik jas hingga kancing-kancing terlepas. Tubuh Bellova meliuk seperti penari strip-tease, di atas tubuhnya. Mengerikan terlihat ketika wanita ini keracunan cairan perangsang. Terlebih, Raymundo Alvaro seperti kambing terkena hujan, melumpuh. Ia hanya terlalu shock. Tak menduga akan diserang balik.
"Kamu menguntit kencanku, apa ingin bercinta denganku?" Bellova menuduh tidak jelas.
Mata Bellova, sayu, menggoda, liar dan buas di waktu bersamaan. Obat jenis mana ini? Bukankah obat perangsang wanita efeknya resah, gelisah, ingin bercinta tetapi pasrah pada nasib? Mengapa Bellova agresif dan jadi sangat perkasa? Malah seperti habis minum obat kuat khusus para pria? Raymundo Alvaro terkapar di atas ranjang sementara Bellova telah meringkus tangannya.
"Bellova?!"
"Apa maumu? Katakan padaku, Brengsek! Mengapa mata-matai aku?"
Kemeja Raymundo telah lepas. Tak ada keanggunan, Bellova merobeknya sisakan dasi dan Bellova telah merusuh di dadanya hingga Raymundo Alvaro rasa-rasanya akan diperko** seseorang.
"Kamu ingin aku?" Bellova mengacau lagi, lucuti bibirnya gunakan tempo cepat dan memaksa. Turuni tubuhnya dengan cepat, sampai di celananya. Berkutat dengan ikat pinggang.
"Hei ..., hei!!!"
"Brengsek, mengapa celana pria serumit ini? Apakah kamu gunakan ikat pinggang paling mutakhir?"
Bellova tak tahu lepaskan pengait belt pada celananya. Raymundo Alvaro bangkit dengan cepat, kemudian gunakan kekuatan, menggendong Bellova. Kedua kaki Bellova langsung menjepit pinggangnya dan bibir Bellova tak hentikan cumbuan, bahkan menggigit bibirnya kuat hingga ia menjerit kesakitan.
"Aarrrgghhhh! Damn!"
"Kamu suka ini, huh? Oh yeah, my Baby, Kamu akan ingat ini saat tidur dengan Viviane!"
Bellova pindah ke lehernya, menyedot kuat. Hingga ia mengejang.
"Arrggghh ...."
"Let's rock and roll, Baby," ujar Bellova di kupingnya, menjilatinya. Geli, menggoda, lalu ....
Bellova memakannya.
"Arrggghh ..., stop it!" Raymundo menjerit sakit kesekian kali.
"Oh c'mon Mr. Cool, bermain denganku. Kamu akan ketagihan."
Bellova semakin menjadi-jadi. Dada polos mereka bertemu, dan gesekan cukup bagus membakar gairah. Raymundo bawa Bellova ke dapur. Sedang, Bellova telah memegang kuasa.
Terbentur ke tembok oleh keseimbangan yang rapuh, Raymundo hanya terus melangkah, mencari kulkas. Punggungnya nyeri dan Bellova terus jilati lehernya.
"Oh, ini cokelat paling enak di dunia. Manis, gurih dan nikmat. Tapi cokelat ini akan membungkus kacang lain dan mungkin mencetak produk tandingan Silver Queen."
Meracau tak jelas. Raymundo membuka pintu kulkas, beruntungnya ada banyak susu.
"Please, buka celanamu, Tuan!" Bellova menutup pintu kulkas kuat hingga benda-benda di atas kulkas jatuh.
"Setelah kita minum susu!" bujuk Raymundo kendalikan Bellova. Berjanji akan patahkan tangan Greg Luigi sebelum matahari terbenam besok hari.
Raymundo dudukan Bellova di atas pantry, susah payah membuka penutup susu. Dia tak tahu apa ini efektif atau tidak, tetapi Queena pernah katakan sesuatu tentang susu sebagai penawar obat.
"Oh Tuan, celanamu, huh? Brengsek, buka celanamu!" geraman Bellova menjadi semakin menggebu-gebu.
Raymundo berhasil membuka kotak susu.
"Minum, Bellova! Kita akan bercinta setelah ini. Minum susunya."
Bellova meraih kotak susu, langsung meneguk.
"Habiskan!"
Raymundo meringis karena sekujur tubuhnya dicakar.
Pak!
Kotak susu dilempar, Bellova kembali padanya.
"Buka celanamu!"
"Tidak, minum lebih banyak susu!" Sementara Raymundo sibuk buka kotak susu lagi, Bellova kembali menempel dan menyandera bibirnya. Tak ada kenikmatan cuma sakit sebab gunakan gigi-gigi untuk mengunyah bibir bawahnya.
"Arrrgghhh ... hentikan!"
Kotak susu terbuka, Raymundo tak sadari tangan Bellova mencapai pisau pemotong daging di rak piring. Arahkan pada lehernya, hingga ia sangat kaget.
"Bellova, taruh itu!"
"Aku ingin bercinta denganmu, Brengsek, bukan minum susu!"
"Baiklah, calm down Bellova."
Mata pisau turuni dadanya dengan gerakan seksi lewati pusarnya. Semakin ke bawah. Raymundo menahan napas. Pisau itu sangat tajam.
"Ohh, betapa seksinya pria ini!" keluh Bellova menarik celana Raymundo dan tak menunggu untuk menyayat kepala celana dan ikat pinggang sekalian.
"Hei ... hei ... pelan-pelan!" Raymundo ngeri lihat cara Bellova menyayat celananya hingga putus.
"Wow, pisau dapur ini sangat hebat, aku harus beli selusin lagi."
Bellova merobek kain celana dan kegirangan ketika pahanya terlihat. Lemparkan pisau menjauh. Jemari kaki Bellova pergi ke bawah susuri pahanya dengan gerakan erot** sedang satu kakinya turunkan celananya yang lain.
Ya Tuhan. Ini tidak akan berakhir mudah bagi Bellova kecuali dapatkan apa yang ia inginkan. Susu tak bekerja.
Raymundo meraih wanita yang sekarat oleh gairah. Sedikit merayu Bellova agar tenang. Mereka berciuman. Raymundo Alvaro menahan nyeri karena luka di bibir sambil bawa Bellova melangkah pulang ke kamar, menutup pintu dengan kaki panjangnya. Pergi ke ranjang. Ladeni Bellova.
"Oh, cokelatnya meleleh. Manis sekali."
Mata Bellova bersinar dan tubuh itu mengkilap. Ini kedua kali Bellova dan Raymundo Alvaro habiskan malam bersama.
***
Jadi, baik Bellova maupun Belliza kalau mabuk agak parahan.
Ini chapter terpanjang di Hottest Man yang pernah aku tulis, 3020 kata (bisa 3 chapter) aku gabungkan jadi satu chapter agar readers tak terganggu saat membaca.
Tinggalkan Vote, like, komentar, like di komentar reader lain atau segala dukungan yang dibutuhkan Hottest Man untuk berkembang.
__ADS_1