My Hottest Man

My Hottest Man
Chapter 46. Disguise


__ADS_3

Raymundo Alvaro tak main-main saat mengatakan mereka akan menikah dan bahwa Bellova harus terbiasa padanya. Hari ke-dua Bellova di mansion Anthony, Raymundo Alvaro keluarkan sebagian pakaian dari ruang ganti lalu mengisi dengan banyak pakaian baru untuk Bellova.


Seseorang pelayan toko dari merk terkemuka mengirimkan banyak jenis pakaian. Bellova bekerja sebagai seorang designer gantikan Belliza, keduanya membuat banyak pakaian untuk diri mereka sendiri. Jadi, ia tak begitu butuh pakaian kecuali mantel.


"Aku tak butuh pakaian," kata Bellova.


Raymundo tak menyahut. Raymundo seakan tegaskan bahwa Bellova akan jadi miliknya tanpa banyak kata. Dan dimulai dengan ruang ganti.


Ini hari ke-enam, Bellova rindukan Cheryl dan Belliza. Hanya tenggelam dalam lamunan jadikan Bellova lebih pendiam. Ia juga tak ingin berdebat soal pernikahan mereka. Biarkan saja Raymundo Alvaro bertindak sekehendak hatinya.


Meski Bellova cenderung acuh tak acuh, Raymundo menggendong Bellova tiap pagi pergi ke kamar mandi dan menungguinya, menyikat rambut dan siapkan pakaiannya. Lalu buatkan sarapan. Menurut Queena, dua pria ada di satu dapur dan bahu membahu untuk kepentingan bersama, menyusun semacam menu sarapan bergizi dan berimbang.


"Aku akan berolahraga. Panggil aku jika kamu butuh bantuan."


Bellova tak menyahut.


Raymundo Alvaro menggiringnya ke ranjang seusai ia minum obat ditiap malam, tanpa ucapkan selamat tidur dan pergi setelah ia lelap. Bellova hanya pura-pura lelah. Lalu Raymundo kembali masuk ke ruang tidur pagi-pagi buta, bertukar pakaian dengan pakaian olahraga dan pergi lagi.


***


"Bellova tak ingin menikah."


Berada di putaran terakhir lintasan jogging, Raymundo Alvaro perlu terbuka pada Axel Anthony. Ada gym di lantai teratas tetapi udara bebas dari pucuk-pucuk hijau adalah yang terbaik.


"Lalu?!"


"Aku memaksanya menerimaku."


"Aku tahu rasanya. Aku pernah lakukan hal yang sama pada Queena." Axel Anthony menarik napas dalam-dalam. "Kamu bisa pelajari bumi dan alam semesta ini terkecuali makhluk sensitif bernama wanita."


"Ya, Anda benar. Bellova sangat aneh. Bellova jerumuskan dirinya sendiri dalam masalah dan marah padaku seakan aku hanya menontonnya dibekuk petugas kepolisian."


"Rumit. Keadaan mendesak seperti apa yang buat Bellova pergi di tengah malam?"


"Aku sedang sesuaikan timing. Ada banyak kejanggalan dan aku tahu Bellova sembunyikan sesuatu dariku."


"Jangan bertindak gegabah, intuisi wanita tak setajam pria tapi insting mereka tak bisa diremehkan. Pelan-pelan saja ambil langkah."


Raymundo mengangguk sepakat.


"Tahan dan sabar saja. Queena persis Bellova setelah keguguran."


"Begitukah?"


"Ya. Kadang para pria rasakan sakit yang sama, tetapi hanya wanita satu-satunya korban ketidak-adilan. Berabad-abad, para pria adalah pelaku, tersangka dan terdakwa, wanita adalah korban."


"Apa yang harus kulakukan?"


"Jangan menyerah."


"Aku tak bisa lebih lembut dari yang kutampilkan."


Raymundo tersenyum jengkel, mereka berdiri di ujung taman. Menghirup udara pagi.


"Apakah kamu sangat inginkan bayimu?"


"Aku tidak yakin. Bellova pernah menolakku karena peringai burukku. Ia tak ingin punya anak denganku. Kelihatannya begitu. "


"Atau itu asumsimu?"


"Bellova katakan mencintaiku dan tak peduli bentukku. Ia berubah dalam seminggu. Tak ingin menikah denganku."


"Bellova sedang marah pada situasi."


"Tak berdasar."


"Bagaimana dengan para begundal?"


"Mereka tak mau mengaku tetapi ketiganya kalah dalam game. BM mengurusnya tanpa libatkan aku."


"Baiklah. Lupakan sejenak. Kita butuh refreshing, beberapa jab ringan dan hook, Ray!"


Keduanya berhadapan, saling membungkuk dan pasang kuda-kuda.


"Apa rencanamu?" tanya Axel Anthony sedikit lompat-lompat kecil.


"Menikahi Bellova." Raymundo ayunkan pukulan pendek. Hanya hal itu terlintas di pikirannya. Mengikat Bellova.


"Biarkan Bellova sering habiskan waktu bersama Queena. Kita akan lihat hasilnya."


"Bellova sangat keras kepala dan aku tak mengerti apa maunya."


"Itulah wanita. Pria terkadang hanya perlu satu malam taklukan wanita di ranjang, tetapi Anda butuh seumur hidup pelajari tentang wanita. Mereka adalah musim kemarau pagi ini dan musim hujan nanti malam."


"Aku asing pada diriku di waktu-waktu tertentu."


"Ini baru permulaan. Semangat!"


Sementara dua pria saling menyerang sembari bicarakan hal-hal rumit, Queena dan Bellova di teras bagian tengah rumah, amati keduanya.


Beruntung ada Queena, datangi ruang tidur dan seperti seorang kakak yang baik, berikan dukungan. Queena mengajak Bellova nikmati pagi.


"Beritahu aku jika ada yang mengganggumu, Bellova?"


"Kami akan menikah."


"Ya, Raymundo telah katakan berulang kali. Termasuk, tentang penolakanmu." Queena berdecak. "Raymundo dan Axel Anthony bukan pria-pria sempurna, sekeras apapun mereka mencoba. Malah kebaikan terkadang malah tertangkap seperti kebohongan. Terlalu gigih menekan emosi hingga selalu kesepian. Kadang mereka hancur tapi tak ingin ketahuan. Bellova, dia kejam dan kikuk tetapi dia baik hati."


Queena telah yakinkan Bellova tentang pria baik hati itu. Dan Bellova ingin percaya.


"Bicarakan padaku apapun masalahmu. Apakah Raymundo kekasih pertamamu?"


Apakah mereka sepasang kekasih? Raymundo Alvaro menghilang lima malam berturut-turut tanpa pamitan. Bellova mencatat Raymundo Alvaro akan pergi tepat di tengah malam dan baru akan kembali pukul 3 pagi. Entah apa yang pria itu lakukan? Atau pria itu menunggui Helena, pasti sulit berada di posisi Raymundo. Setelah Raymundo Alvaro keluar dari kamar, pintu secara otomatis terkunci. Bellova akan bangun dan duduk di tepian ranjang karena kamar sangat luas berhasil buatnya gelisah.


Namun, meski ia berantakan ia tak bisa beritahu ketidak-nyamanan karena tidak ingin menarik perhatian Raymundo.


"Apakah pria misterius punya banyak rahasia?" tanya Bellova tiba-tiba. Kedua pria di kejauhan berbagi tawa.


"Jangan mencari tanda dari pria seperti mereka apalagi menuntut pembuktian, Bellova. Aku merasa jadi wanita hebat untuk Axel Anthony yang tak pandai ungkapkan perasaannya."


"Begitukah?"

__ADS_1


"Akan mudah bagi wanita jatuh pada pria macam Lucio Vargas, yang bisa buatmu berbunga-bunga dan terbang di atas pelangi tiap saat."


"Ya, kamu benar. Tuan Vargas penuh kehangatan, miliki selera humor yang bagus, sangat perhatian dan seseorang sangat beruntung milikinya."


Bellova tanpa sadar tersenyum. Wajahnya bersemu kemerahan ingat Lucio Vargas selalu berhasil buat Raymundo Alvaro gusar. Oskan Devano dan Yerick Daniels miliki sebagian karakter Lucio Vargas, tetapi Lucio Vargas sempurna sebagai seorang pria.


"Ow, lihatlah wajahmu Bellova! Apakah kamu menyukai Lucio Vargas? Oh tidak, jangan sakiti hati pria yang butuh pertolonganmu. Kamu akan lukai hatiku juga."


Queena salah tafsirkan senyumannya. Bellova tersenyum kecut dalam hati. Bahkan jika Lucio Vargas berhasil taklukan hati seluruh wanita sedaratan, Bellova hanya terjebak pada seseorang, sekalipun sesumbar membuang banyak cinta. Dan pria itu sedang menjeratnya dari jauh, terpukau padanya.


Seakan bertanya-tanya, apa yang buat Bellova malu-malu? Bellova berhenti tersenyum karena tatapan Raymundo Alvaro bisa menembus hingga ke balik tulang belulang dan bikin ia keropos.


Bellova tiba-tiba bangkit berdiri hingga Queena terperanjat dan Raymundo Alvaro untuk pertama kali terang-terangan tak ingin ia pergi dari sana. Pria itu terpaku tinggalkan Axel Anthony.


"Mau kemana? Oh, matahari sedikit lagi akan bersinar lebih hangat. Biarkan dirimu menerima vitamin dari semesta."


"Aku akan kembali ke dalam," kata Bellova. Pergi dari sana secepat mungkin.


"Bellova?!" Queena keheranan, mengernyit beberapa waktu kemudian.


Raymundo melangkah panjang lewati taman.


"Aku harap kalian bersama tanpa masalah," keluh Queena seolah-olah menyerah.


"Apa yang membuat Bellova tersenyum?" tanya Raymundo antara sadar dan tidak, seolah berharap itu dirinya. Lebih dari itu, Raymundo ingin tahu apa keinginan Bellova saat ini.


"Aish, kami bicarakan Lucio Vargas." Wajah Queena terlihat menyesal. "Anda butuh usaha lebih keras."


"Aku tak bisa. Kapasitasku hanya seperti ini," keluh Raymundo. Mungkin benar, Bellova tak mencintainya seperti beberapa hari lalu saat ia nyatakan cinta.


"Sulit bagiku juga, harus jujur Raymundo, mata Lucio Vargas bisa bikin aku semaput." Queena raba-raba kening juga lehernya seperti wanita panas dingin pada seorang pria.


"Aku pikir Axel Anthony miliki mata itu, satu-satunya yang bisa buatmu sekarat?" tegur Raymundo Alvaro tidak senang.


"Ya ya ya, tentu saja," angguk Queena salah tingkah, apalagi Axel Anthony mendekat. "Aku hanya keliru. Mengapa aku jadi ingin melihat Lucio Vargas ya?" Queena berguman.


"Jangan mengundangnya kemari lagi!" sambar Axel Anthony.


"Ahhh, ya ya, aku perlu pergi ke dapur. Kita bisa sarapan bersama," kata Queena mangap-mangap segera kabur.


"Mata Lucio Vargas terlalu biru dan aku pikir dia hanya gunakan sejenis softlens berdimensi."


"Ya, matanya tidak nyata," sambung Raymundo sepakat.


"Queena idolakan Elgio Durante di kehamilan pertamanya dan aku tak tahu siapa yang ia puja saat mengandung Niña. Dan kali ini Queena tak berkedip menatap Lucio Vargas."


"Pria itu menikmati dipandangi banyak wanita."


"Di kehamilan ke berapa Queena akan memuja ku?" tanya Axel Anthony miringkan satu bibirnya.


"Anda kurang beruntung. Mungkin nanti lain kali."


"Aku akan menunggu waktu itu datang."


"Aku perlu kembali ke kamar. Sampai jumpa untuk sarapan."


Raymundo berpisah dengan Axel Anthony. Pergi ke kamar. Ruang tidur kosong, rapi dan pintu ke taman terbuka. Bellova duduk di sana awasi bunga hortensia sedang mekar. Tak bereaksi ketika Raymundo mendekat sekalipun wanita itu sadari kehadirannya.


Bellova pelit bicara padanya, menolak gunakan ponsel dan tak ingin berhubungan dengan siapapun.


"Baiklah, jika kamu tak ingin menikahiku, tak akan aku paksakan. Kamu bisa pergi setelah kamu sehat." Pernyataan itu berhasil buat Bellova tanggap meski hanya berbalik menatapnya. "Pergilah pada Lucio Vargas atau temukan seseorang yang cocok untukmu. Tak perlu menyiksa dirimu sendiri, Bellova."


Raymundo pergi ke kamar mandi, nyalakan shower.


Keluar dari kamar mandi, Bellova masih ada di taman. Raymundo Alvaro sungguhan benci situasi rumit di antara mereka.


"Queena menunggu untuk sarapan," kata Raymundo.


Mereka pergi ke ruang makan. Sarapan dalam diam.


"Apakah Bellova cukup kuat untuk pergi?" tanya Raymundo setelah semua orang selesai sarapan.


"Kondisinya membaik dengan cepat," sahut Queena. "Kurasa kita perlu bepergian ke suatu tempat. Mungkin pantai? Tetapi, tidak sekarang. Bellova butuh istirahat yang banyak."


"Bellova sangat ingin pergi," balas Raymundo. "Selesaikan sarapanmu, aku akan antarkanmu." Ditujukan pada Bellova. "Maaf aku tak sopan," kata Raymundo lagi bangkit berdiri tinggalkan meja makan. Mengubah raut marah dengan cepat menjadi hambar.


"Maafkan aku," ujar Bellova pamitan dan menyusul. Ia tak berharap Raymundo Alvaro mengerti dirinya, Bellova hanya ingin keheningan jangka panjang dan kedamaian, semacam gencatan senjata. Ia merasa mentalnya sedikit sakit untuk beberapa waktu.


Raymundo baru saja turuni tangga ruang tengah ketika Lucio Vargas muncul di ruang tengah diantar salah satu asisten rumah tangga. Cheryl dalam lengannya seakan baru habis menangis dari mata sembab.


"Apa yang terjadi?" tanya Raymundo Alvaro.


"Maaf kami mengganggu, kamu mungkin tak suka lihat aku di sini, tetapi Cheryl perlu bertemu Mommy. Walaupun ada Bellinda, Cheryl menangis semalaman dan aku pikir Bellova mungkin merindukannya juga."


"Bisakah aku bertemu Mommy?" tanya Cheryl penuh harap pada Raymundo Alvaro. "Cheryl mau Mom - my."


Kedatangan Cheryl kagetkan Bellova.


"Cheryl?"


Pertemuan itu jadi hari paling mengharukan bagi keduanya. Bellova pikirkan Cheryl berhari-hari, Cheryl turun dari lengan Lucio Vargas berlari pada Bellova.


"Apa aku bisa tinggal, Mom? Cheryl sangat rindukan Mommy!" tangis Cheryl pecah bahkan tangisannya berhasil buat Queena ikutan meneteskan air mata.


"Cheryl, i am so sorry. Ya Tuhan," keluh Bellova memeluk Cheryl memenangkan. Berusaha tak menangis tapi sia-sia. Ingin segala hal berakhir dan Cheryl bahagia. Kedatangan Cheryl pertanda bahwa Belliza butuh waktu sembuhkan kakinya.


"Uncle Cio bilang Mommy sakit."


"Ya, aku hanya sedikit butuh waktu untuk sembuh."


"Jangan menyuruhku pergi, Mom."


"Tidak, tidak lagi," geleng Bellova. "Kita akan bersama."


"Janji?!"


"Ya, Sayang. Bukankah ada Aunty Bellinda?"


"Aku ingin Mommy. Aku tak suka Mommy pergi terlalu lama."


"Baiklah. Kemarilah! Apa kamu sudah sarapan?" tanya Bellova menekan nyeri di tubuhnya juga di hati. "Kita akan bersama selalu."

__ADS_1


"Ya, aku sarapan bersama Uncle Cio."


"Di mana Daddy?"


"Daddy sedang pergi keluar kota," jawab Cheryl.


Bellova mendekap Cheryl makin erat, bernapas berat dan perih. Oskan bersama Helena dan Belliza tak diketahui keadaannya. Bellova berhenti gunakan ponsel hubungi Dona karena takut ponselnya disadap. Walaupun ada Bellinda Cheryl kemungkinan bingung karena tempat ia bersandar tiba-tiba hilang satu-persatu.


"Jangan menangis, Sayang." Bellova menggendong Cheryl pergi ke ruang tidur.


"Maafkan aku, Tuan Alvaro. Aku akan bawa Bellova pergi atau jika kamu tak ijinkan, biarkan Cheryl bersama Bellova di sini."


"Anda bisa bawa Bellova," jawab Raymundo Alvaro datar hingga Bellova hentikan langkahnya seketika. Dan tentu saja Lucio Vargas juga tercengang. Raymundo Alvaro berubah pendirian.


"Ini bagus saat kamu mudah menyerah." Lucio Vargas bicara serius.


Raymundo abaikan Lucio Vargas kemudian menyusul ke ruang tidur. Bellova dan Cheryl di dalam ruang ganti.


"Bolehkah kami pinjam dasimu, Tuan?" tanya Bellova penuh harap saat melihat kedatangannya.


Raymundo mengangguk. Bellova mengusap air mata Cheryl.


"Berbaliklah ke cermin, Sayang. Mari kita ciptakan bando yang bagus untuk menahan poni nakalmu." Bellova berpaling sejenak, air matanya meluruh dengan cepat, bersembunyi di balik kepala Cheryl.


"Panjang juga rambutmu ya?"


Cheryl sesenggukan. "Aku banyak makan sayur dan Aunty Bellinda memijat kepalaku dengan liur buaya."


"Liur buaya?"


"Eeeuuu, menggelikan." Bellova mengusap air mata. Tertawa dari suara seraknya. Mencari-cari tisu dan temukan kaos putih Raymundo Alvaro untuk menghapus air mata.


Bellova buatkan bando dari salah satu dasi Raymundo Alvaro.


Apakah karena wanita itu desainer? Dasinya malah sungguhan terlihat persis bando. Pikir Raymundo sukai pemandangan di hadapannya. Seorang gadis kecil dan seorang wanita.


"Cantik bukan?" tanya Bellova.


"Yes, Mom." Cheryl mengangguk-angguk suka, berputar-putar di depan cermin. "Bukankah Mommy juga butuh?"


Bellova menggendong Cheryl, sedikit meringis.


"Apa kamu perlu bantuan?" Raymundo Alvaro bertanya saat Bellova kepergok sakit. Raymundo kesal karena tak bisa pahami Bellova. Jika ia sedikit lebih peka bahwa Bellova ingin bertemu puterinya.


"Tidak, kami hanya akan pinjam dasi Anda, Tuan."


Satu jam kemudian Cheryl tertidur setelah Bellova menyanyi "Close to You" dari The Cashburys sambil membelai rambut Cheryl. Gadis kecil tidur tetapi isakannya sesekali terdengar. Menyedihkan. Lucio Vargas akan kembali menjemput Bellova dan Cheryl nanti. Namun, Raymundo Alvaro tiba-tiba terganggu.


Raymundo Alvaro di ruang ganti. Menukar kaos dengan kemeja. Bellova turun dari ranjang, menyusul ke ruang ganti akan bereskan dasi yang mereka bongkar untuk jadikan bandana.


"Silahkan bawa barangmu, ada koperku di sebelah sana," angguk Raymundo ke sudut ruangan.


Bellova masuk ke dalam ruang ganti dan berdiri di cermin lepaskan dasi dari rambutnya dan melipat dengan rapi.


"Aku tak bawa barang kemari. Terima kasih telah lepaskan aku!"


Raymundo tersenyum tipis, lebih tepat menyeringai. Tak rela Bellova pergi bersama Lucio Vargas.


"Kamu yakin ingin pergi?"


Bellova mengangkat wajah oleh nada misterius itu. Tatapan mata mereka bertemu, Bellova berusaha bongkar teka-teki di kening Raymundo.


"Aku tahu rahasia yang kamu sembunyikan dariku!" kata Raymundo pelan, berhasil cocokan waktu. Polisi tak begitu memeriksa detil karena Bellova membuat pengakuan bahwa ia satu-satunya tersangka utama.


Bellova tertegun.


"A - pa maksudmu?!"


"Jangan berpura-pura tak mengerti, Bellova! Kamu tak pandai berbohong."


Bellova terdiam.


"Kamu pergi dari rumah ini pukul 10.10 dan Dona menerima pesan bantuan di 10.35 menit, 25 menit kemudian. Jika jarak dari rumah ini ke Trilho 20 menit dan 5 menit adalah waktu yang kamu butuhkan untuk menyetop taxi dan berjalan ke depan. Pukul berapa kamu sampai di Rumah Sakit?" Raymundo Alvaro datangi Bellova. Mengangkat dagu Bellova, menyelidiki.


"Aku ...."


"Apakah kamu pikir, aku sungguhan tak tahu apa yang terjadi di malam itu? Kamu tak pergi ke Rumah Sakit dan tak sengaja bertemu Helena seperti pengakuanmu. Taxi-mu langsung menuju ke Trilho. Kamu di sana dan Helena telah lebih dahulu pingsan juga seseorang lain." Menarik napas panjang. "Kamu mungkin dapatkan lokasi dari seseorang."


"Itu tidak benar." Bellova mendadak gelisah.


"Apakah dia ....?!" Raymundo menyipit, gantung pertanyaan di udara. Sukai Bellova Driely saat wanita itu menatapnya putus asa.


"Kamu menutup kasusnya." Bellova menyahut cepat. Napas Bellova berubah tergesa-gesa dan walaupun berusaha keras, panik terlihat jelas di mata Bellova.


"Ya?!"


Ada air mata menggenang di sudut-sudut mata. Bergulir turun di atas pipi sehalus porselen.


"Aku berterima kasih padamu dan akan menikah denganmu. Bisakah kita tak mengungkit masalah ini?"


Bellova memegang tangan Raymundo erat-erat. Raymundo Alvaro satukan kening mereka, berbisik pelan dan dingin tetapi sangat jelas.


"Siapa yang kamu lindungi, Bellova?"


Bellova menggeleng, bibir Bellova bergetar. Sorot mata Bellova pancarkan banyak kesedihan. Namun, pantulan itu adalah pantulan pribadi Raymundo sendiri.


"Adikku mungkin tak akan bertahan dan Ibuku akan terkena serangan jantung. Aku kehilangan dirimu, cintamu juga bayiku. Kamu juga akan pergi. Aku menjadi sangat berkabung. Kepada siapa akan aku timpakan kemalangan ini?"


"Aku tak akan pergi darimu, aku berjanji." Bellova mengerang putus asa. "Bisakah kita lupakan saja? Biarkan aku mengurus Cheryl dan Kakakku."


Raymundo terlihat datar dan kejam seperti algojo penjegal nyawa. Mengusap bawah mata Bellova yang basah. Meraih Bellova dan mendekap erat.


Jiwa Raymundo Alvaro berhura-hura tanpa diminta. Ia meledak seperti mercon di malam perayaan Nasional. Raymundo mendorong Bellova menjauh hanya sebagai umpan. Tahu lebih baik bahwa hatinya inginkan Bellova. Ia tak punya cara lain pertahankan Bellova kecuali intimidasi Bellova dan sudutkan Bellova hingga ambil keputusan sukarela.


Raymundo Alvaro menebak dengan benar bahwa Bellova coba lindungi seseorang. Soal cinta yang pudar, hanya butuh sedikit pemantik agar kembali menyala-nyala.


***


See you Next Chapter.


Tetap sehat ya di sana for all of your my Beloved Readers.

__ADS_1


Salam dari The Hot Man, Psycho Man.


__ADS_2