
"Malam Nona Bellova, selamat datang." Axel Anthony menyambut.
"Apa perjalananmu melelahkan?" timpal Tuan Enrique Diomanta. Raymundo lebih sering menyebut Mr. H, untuk Tuan Enrique dari nama lain pria itu, Hellton Pascalito.
"Ya, sedikit."
Melelahkan? Tidak. Membosankan? Iya. Itu karena Bellova bepergian dengan pria pelit bicara. Raymundo bahkan tak sahuti pertanyaannya.
"Duduklah."
Bellova menangkap hal menarik di sini, para pria ini seolah satu pabrikan. Sama ekspresi seakan dikloning. Baik Tuan Hellton Pascalito, Tuan Axel Anthony dan Raymundo Alvaro tak cocok tersenyum. Saat mereka lakukan itu, raut mereka mirip seringai dan malah terkesan antagonis walaupun kadar terendah dipegang Tuan Axel Anthony. Mungkin karena Tuan Anthony miliki mata sendu, sedikit menghapus lukisan jahat. Namun, peringai paling tumpul itu bisa menipu. Bellova yakini bahwa pria itu lebih mematikan dari yang dijelaskan Raymundo.
Sementara Tuan Hellton punya parut luka panjang di bawah mata kiri. Tenang, dingin dan angkuh ditambah sorot mata tajam seakan mampu menembus ke dalam tulang-belulang.
Ketiganya lebih mirip algojo penjegal. Jadi, Bellova punya kesimpulan, Raymundo hanya nyaman bersama orang-orang sealiran dengannya.
"Apa kabarmu, Nyonya Queena?" sapa Raymundo. "Apakah Anda baik-baik saja?"
Bellova awasi Raymundo saat tangan pria itu menegang. Temukan bahwa Raymundo Alvaro berjuang keras tampil santai. Namun, entah mengapa Bellova menangkap getaran mengandung luapan perasaan ketika Raymundo Alvaro bicara pada Queena. Juga ada gelisah dan sedikit percikan, Bellova kenali sebagai kerapuhan emosional.
Raymundo Alvaro tak sukai keadaan, berjuang gigih mengatur segala hal. Bagi orang lain itu terlihat berhasil, tetapi bagi Bellova, Raymundo tak cukup bagus. Bellova bisa melihat kagum, rindu, rapuh, sayang dan cinta yang terkoneksi langsung pada gestur pria itu.
Suatu waktu Raymundo pernah katakan Oskan berencana menembak seseorang dan sakiti hati Raymundo. Jelas wanita yang di maksud adalah Queena. Mengapa Oskan ingin sakiti Queena? Apa Axel Anthony tahu bahwa dirinya adalah adik ipar Oskan Devano? Bellova penasaran pada banyak kasus.
"Ya, Ray, aku sangat baik. Senang melihatmu. Apa kamu baik-baik saja?"
"Tentu saja, Nyonya."
"Apa obat alergimu cocok?"
"Em ya. Alergi ini, bawaan sejak lahir. Kurasa tak akan mudah sembuh," sahut Raymundo cepat.
"Aku akan memeriksamu nanti."
"Tolong abaikan keadaanku, Nyonya," tolak Raymundo tegas. Terlihat tidak nyaman. "Oh ya, ini Bellova. Aku pikir Anda telah berkenalan dengannya beberapa waktu lalu."
"Apa kabarmu, Bellova?"
"Aku baik, terima kasih."
"Jadi, apakah kita akan mulai makan malam?" Seorang wanita keluar dari bagian belakang dapur dengan nampan diikuti bocah laki-laki.
"Malam Ibel," sapa Raymundo.
"Malam Tuan Raymundo Alvaro." Mengangguk pada Bellova. "Nona Bellova. Aku Irishak Bella. Jangan sungkan apalagi canggung. Mari biasakan dirimu dengan para pria satu merk ini."
Terdengar dengungan protes tanpa suara berarti sebab meskipun dua pria ini tampak sangat kejam, tali **** ada di tangan para istri seakan terus berputar di atas kepala mereka.
"Juan Enriques semakin tampan saat jadi asisten Ibel," goda Raymundo, tertawa kecil. Ini pertama kali, Bellova melihat ekspresi riang Raymundo sekalipun setipis kabut. Saking terpesona, Bellova tak bisa berpaling.
Ini gawat, ia menyukai kepribadian Tuan Alvaro yang muncul belum dua puluh menitan ini. Apakah pria ini serius soal setengah lusin pengaman? Apa mereka akan bercinta dua jam sekali? Raymundo Alvaro mungkin sedang menggertaknya.
Juan Enriques menaruh gelas berisi minuman segar, menengok pada Raymundo dan adu kepal.
"Ini bukan kejutan Anda hadir untuk makan malam, tetapi aku tetap terkejut," balas Juan Enriques tanpa senyuman. Mengernyit pada Bellova.
"Let me introduce myself. Aku, Juan Enriques Diomanta, Nona Bellova. Murid kelas satu sekolah dasar. Kami menunggu Anda."
"Hai Juan Enriques, senang berkenalan denganmu."
Ada tiga pria tanpa ekspresi dan ketiganya punya satu murid bernama Juan Enriques. Tampan, dingin dan angkuh juga tak suka basa-basi. Sempurna. Bellova jatuh cinta pada sikap cool si bocah. Juan Enriques akan jadi pria penakluk suatu waktu. Lihat saja sorot mata setajam elang bocah ini.
"Jika Anda tak jadi datang, kurasa aku orang pertama yang akan marah."
"Oh, aku pasti telah menyusahkanmu. Maafkan aku."
"Tidak masalah kini, karena Anda akhirnya datang."
Bellova menduga makan malam akan sangat dingin, tetapi ia keliru. Queena adalah pusat kehangatan dan Irish Bella meskipun terlihat sama angkuhnya dengan Tuan Enrique, sangat ramah dan perhatian. Irish Bella bolak-balik hidangkan makanan dan Bellova berinisiatif membantu. Mereka kemudian dekat satu sama lain.
Makan malam berakhir dengan cepat di meja makan, berpindah kembali ke hadapan api unggun menikmati makanan penutup. Para pria pisahkan diri, ke sudut lain. Berbincang.
"Bellova, aku penasaran di mana pertama kali kamu bertemu Tuan Raymundo?" tanya Queena.
"Emm, beberapa waktu lalu. Aku ingin menolong muridku dan Tuan Alvaro terjebak bersamaku. Kami terlibat dalam beberapa kejadian, hingga tak sadari hubungan kami maju puluhan langkah."
Membual. Oh sial, ia harus berbohong pada seseorang dengan pupil mata paling polos dan tulus yang pernah ia lihat, pikir Bellova. Tak heran jika Tuan Alvaro jatuh hati pada Queena.
"Tuan Raymundo aku pikir berkomitmen denganmu, jika tidak, ia tak akan membawamu pada kami. Semoga ini jangka panjang."
Bellova menengok pada Raymundo, terbit gelisah. Axel Anthony terlihat berdebat dengan Tuan Enrique tentang sesuatu. Bellova telah berhenti bernapas. Ketiganya kemudian bicara, sedikit - angguk sedikit, diam, saling pandang, tanpa nada. Bellova semakin sulit bernapas.
"Jangan cemas, Bellova! Mereka sedang bercanda dengan tampang mematikan itu."
Namun, Bellova yakin ini pembicaraan menyangkut Oskan Devano. Bibir Raymundo berulang kali mengeja nama Oskan. Ini pertanda buruk. Mengapa juga Oskan cari-cari masalah?
"Pria-pria sulit," tambah Irish Bella anggukan gelas pada ketiga pria saling yang kini saling menatap tajam seakan tukar pikiran lewat telepati.
"Tuan Alvaro paling misterius. Kita tak bisa menebak isi hati, perasaan maupun pikirannya karena Tuan Raymundo tak sembarang mengumbar dirinya." Queena tampak berikan pandangan pada kepribadian Raymundo.
"Ya, benar. Tuan Alvaro cenderung tidak gegabah bahkan hanya untuk berekspresi." Irish Bella sependapat.
Bellova manggut-manggut kecil tanpa sadar. Menoleh ke arah Raymundo.
"Tapi, dia sedikit berbeda saat di dapur. Aku menyebutnya bakat terpendam."
"Anda sangat mengenalnya."
__ADS_1
"Ya, Bellova. Aku mengamatinya dan suamiku. Mungkin menurutmu agak aneh tetapi ketiga pria itu mirip."
"Ya ya ya, tak diragukan lagi," sambut Irish Bella."
Juan Enriques dan Niña datangi ayah-ayah mereka.
"Bukankah saatnya kita bermain game?" tanya Niña.
Ketiga pria akhiri pembicaraan dan kembali bergabung.
"Apa ..., Nona Bellova tidak terlalu capek setelah perjalanan jauh?"
"Oh ayolah, kita harusnya lakukan sore tadi Dad. Tapi, Nona Bellova baru datang. Ayolah," rengek Niña.
"Aku tak masalah, Tuan. Mari bermain game."
Niña bersorak gembira didukung Queena dan Irishak sedang para pria hanya mengerut. Hanya Juan Enriques bertepuk tangan, sedikit senyum.
"Jadi, permainan seperti apa? Terakhir kali kita bermain The Eggs Drop," ujar Queena.
"Apa Anda punya jenis game yang seru, Nona Bellova?" tanya Irishak Bella.
"Ya, beberapa. Kami sering lakukan saat gathering para guru. Mau coba Marbles Racing? Jika kita punya bola ping pong."
"Aku baru dengar permainan itu?" Juan Enriques mengerut.
"Em ya, bola ping pong di atas sendok, ujung sendok digigit lalu para ayah menggendong anak mereka di punggung menuju garis finish. Yang berhasil capai garis finis tentu saja adalah pemenangnya."
"Oh, ide sangat hebat," sambut semua orang.
"Pasti seru."
Begitulah akhirnya. Para pria dengan cepat membuat lintasan, mencari peralatan.
Juan Enriques di punggung Tuan Enrique dan Niña di punggung Tuan Axel Anthony. Bellova akan jadi wasit. Sedangkan Raymundo mengatur bola di atas sendok dan masing-masing bocah menggigit ujung gagang sendok. Bersiap di garis start.
Irishak dan Queena bertepuk tangan dan berseru. Karena Queena sedang sakit, Irishak punya kerjaan dobel. Wanita itu bergantian semangati Juan Enriques dan Niña.
"Ayo Juan Enriques kamu pasti bisa."
"Ayo Niña."
"I Love you, Irishak!" balas Tuan Enrique Diomanta tanpa alihkan fokus. Tak lagi lihat reaksi tersipu-sipu istrinya.
Peluit ditiup dan suasana berubah seru. Terlihat bahwa dua Daddy tak ingin kalah dan mereka benar-benar satukan teknik, kekuatan dan ketepatan langkah. Oh ya Tuhan, mereka bahkan serius dalam bermain game. Jika Niña tidak kecekikan karena lucu, maka tak ada pemenang di episode pertama.
"Apa yang membuatmu tertawa, Niña?" keluh Axel Anthony mencium puterinya gemas.
"Wajah Daddy, ya Tuhan. Kitakan bermain game Daddy bukannya berperang."
"Maukah kita menang di ronde kedua?" tanya Axel Anthony gelitiki pucuk hidung Niña hingga gadis kecil itu kecekikan lebih keras.
Ronde kedua dimulai. Anak-anak sangat bersemangat begitu pula orang tua mereka.
"Ayo Niña, kamu pasti bisa," seru Irishak, "pantang meringis Niña sampai finis. Kamu pasti bisa."
"Ayo Juan Enriques! Pria paling tampan sedunia. Ya Tuhan, aku melahirkan wajah indah seperti bulan purnama dan langka seperti gerhana."
Juan Enriques berdecak, tak sengaja jatuhkan bola.
"Juan Enriques?!" keluh Tuan Enrique.
"Irishak berlebihan, Dad. Jangan bunyikan jeritan ganjil itu saat aku berlomba di sekolah atau semua orang akan mengejekku."
Tuan Enrique tertawa lebar, menghibur Juan Enriques yang kesal.
"Ibumu sedang memujamu, Nak. Apanya yang berlebihan?"
"Irishak memujaku sepanjang hari dan aku telah lakukan banyak hal hingga kakiku pegal. Aku bahkan pegangi daun bawang setengah jam setelah Irishak mengatakan, Juan Enriques, Pahlawanku."
"Irishak sedang melatih kesabaranmu. Ayolah, petarung sejati tak berhenti di tengah ring hanya karena masalah sepele."
Mereka masih main lima ronde lagi sebelum putusan final, Juan Enriques dan Tuan Hellton Pascalito keluar sebagai pemenang.
Nina berbisik di kuping Juan Enriques.
"Bagaimana kalau kita shuffle? Para Daddy menggendong para Mommy yang menggigit sendok."
Bellova tercengang. Anak-anak ini punya ide brilian.
"Bagaimana Nona Bellova?"
"Oh yes, ini pasti sangat seru," angguk Bellova.
Para pria tampak tak keberatan menggendong istri mereka di punggung. Queena mencium Axel Anthony sebelum permainan dimulai. Hingga para peserta perlu menunda lomba.
"Apa kita perlu ke tenda masing-masing, Ax?" tanya Tuan Enrique dan dibalas gelengan telapak tangan Axel Anthony.
"Dan kamu Romeo, perlu bergabung bersama Juliet agar bertambah seru. Ayo, Ray!" seru Axel Anthony.
"Tidak, terima kasih. Aku akan jadi wasit," tolak Raymundo menatap Axel Anthony seakan berkata, "apa-apaan?"
"Oh ayolah! Apakah kamu menyeret Bellova kemari untuk jadi kekasih pura-pura?" tegur Axel Anthony cukup tajam.
Bellova mengangkat wajah. Jadi, Tuan Axel Anthony curiga pada mereka?
"Tentu kami akan ikut," jawab Bellova cepat. Datangi Raymundo dan bergelayut pada pria itu. "Oh, aku tahu caranya taklukan marbles on the spoon. Ayo bermain!"
__ADS_1
Tanpa aba-aba melompat pada Raymundo hingga pria itu mau tak mau harus menggendong Bellova.
"Ambil sendok dan bola kita! Ayo ..., Tuan Alvaro," seru Bellova semangati. Menggigit sendok dan menaruh bola.
Juan Enriques meniup peluit. Tak semudah yang dibayangkan. Permainan ini malah tak berhasil di para orang tua. Tetapi, cukup untuk bangkitkan sesuatu yang meledak-ledak. Lihat saja mereka malah berakhir dengan ciuman panjang dan berdansa, kecuali Bellova yang memilih menggigit sendok. Melekat di punggung Raymundo yang hanya kenakan kaos, rasakan otot punggung pria itu di tubuhnya ciptakan cambukan sensasi. Bola jatuh dari sendok karena Bellova terpukau pada leher kecokelatan Raymundo. Menahan napas, ketika pria itu curiga dan miringkan sisi wajah padanya, wajah mereka bertemu. Sendok akhirnya melayang jatuh. Raymundo Alvaro sengaja menciumnya.
"Kurasa kita menang," kata pria itu datar. Sedang Bellova tak bisa sembunyikan detak jantung dan Raymundo Alvaro telah menyeringai kecil oleh irama di punggungnya. Merasa sukses berhasil buat Bellova berdenyut-denyut.
Raymundo membawa Bellova pergi ke bangku. Pasangan lain menyusul. Mereka berbincang hangat. Para pria akhirnya berakhir dengan memeluk anak-anak mereka yang mulai tidur.
"Bolehkah aku bertanya Nona Bellova? Di mana Ray menemukanmu?" tanya Tuan Axel Anthony. Itu pertanda, Tuan Anthony belum tahu tentang Belliza. Atau pria itu tahu.
Bellova tersenyum, "Berliku, Tuan. Aku pergi selamatkan muridku yang dapat kekerasan dari ayahnya. Mobilku mogok dan aku melambai pada tiap mobil yang lewat. Tetapi, hanya Tuan Alvaro yang berhenti. Itu pertama kali kami bertemu."
"Sungguh menarik."
"Bukan itu pertemuan paling berkesan."
Bellova menengok pada Raymundo. Sementara Raymundo Alvaro tanpa tak begitu peduli pada apa yang akan disampaikan Bellova.
"Aku mencium Tuan Alvaro di bandara untuk membuat mantan pacarku berhenti mengejar aku."
Queena dan Irish Bella bertukar pandang.
"Wow ...."
"Semakin menarik," sambung Tuan Enrique Diomanta terrawa kecil.
"Kemudian pacaran? Apakah Tuan Raymundo minta Anda jadi kekasihnya?" tanya Irish Bella penasaran.
"Ya aku ingin tahu, sebab pria ini terlalu dingin," tambah Queena.
"Tuan Alvaro ajukan kesepakatan ganti rugi karena aku menciumnya. Aku pikir ia telah naik pesawat tinggalkan Lisbon, ternyata ia datang di suatu sore ke rumah kakakku dan masuk ke kamarku."
"Apakah sampai seekstrim itu?" tanya Queena menoleh pada Raymundo.
Raymundo kedipkan bahu. "Aku mencari seseorang, kebetulan aku menemukan Bellova," kata Raymundo menatap Axel Anthony. Beritahu Axel Anthony banyak hal. Sedang Bellova berhenti bernapas.
"Jadi, kamu benar-benar akan bersama Nona Bellova?"
Raymundo berpaling pada Bellova, enggan menjawab tapi tak punya jalur lain. Kembali pada Axel Anthony.
"Bukankah, para pria pada umumnya tidak berinvestasi pada wanita yang tidak mereka sukai?" Jawaban yang sangat jelas berisi pendapat dan emosi.
"Mari akhiri ini. Bellova bisa tidur di lantai atas jika tak ingin tidur di tenda," saran Queena bangkit berdiri.
"Kami akan tidur di tenda," sahut Bellova. Jawaban yang kemudian musnahkan kecurigaan Axel Anthony.
"Aku akan membawa Niña. Anda bisa membantu Nyonya, Tuan Owl." Raymundo menggendong Niña pergi ke salah satu tenda dan baringkan Niña. Irishak dan Tuan Hellton menyusul tinggalkan api unggun.
"Semoga malammu indah, Bellova."
Tanpa diduga Axel Anthony kembali setelah Queena berbaring nyaman di samping Niña.
"Kita perlu bicara," kata Axel Anthony pada Raymundo.
"Baik," angguk Raymundo, berpaling pada Bellova. "Aku akan menyusul," angguknya lagi pada salah satu tenda tersisa. Paling belakang.
"Selamat beristirahat, Tuan Anthony." Bellova mendengar suaranya campuran antara cemas dan takut, tinggalkan Raymundo Alvaro yang ikuti Tuan Axel Anthony ke dalam rumah.
"Oh Oskan sialan, apa yang dia lakukan?" keluh Bellova masuk ke dalam tenda. Mengusap lengan oleh bulu roma meremang bayangkan akan bersama Tuan Alvaro. Tetapi, jika ia lebih dulu lelap, Tuan Alvaro mungkin tak akan mengganggunya.
Bellova memakai sweater tebal, topi dingin juga kaos kaki yang disiapkan Nyonya Rumah sebab udara berubah jadi sangat dingin.
Selubungi tubuh dengan selimut dan ingin tidur. Sayangnya, ia tak bisa pejamkan mata. Ketika langkah kaki bergerak datangi tenda. Ia menahan napas.
"Sampai jumpa besok, Romeo. Kita mungkin perlu pemanasan otot pagi buta." Suara Axel Anthony.
"Aku tak yakin. Aku punya kerjaan penting."
"Well, semoga malam Romeo dan Juliet menyenangkan."
"Selamat bernyanyi, Mr. Owl."
Oh tidak, Bellova panik saat resleting tenda berderit dan Tuan Raymundo masuk. Jantung Bellova berdetak cepat dan tak beraturan bahkan telinga bisa menangkap anomali tubuhnya.
Raymundo Alvaro masih duduk keluarkan sesuatu. Bellova menjerit di atas paru-paru, penasaran, apakah pria itu benaran keluarkan setengah lusin pengaman?
Hening kemudian.
Pria itu sepertinya berbaring, menarik selimut. Bellova bernapas sedikit lega.
Sepi.
Hanya suara binatang malam dan desiran angin dari pepohonan cemara.
Bellova akhirnya berhenti waspada sebab Tuan Alvaro sepertinya tidur dengan cepat. Mungkin capek. Tubuh pria itu tak terdeteksi bergerak. Hanya kaku dibalik punggung Bellova. Napasnya juga teratur.
Bellova berbalik pelan-pelan, mengintip sedikit dari balik bulu mata. Jantung hampir copot ketika tangan besar terulur, topi dingin ditarik menutupi separuh wajahnya. Lalu, bibirnya disambar cepat. Satu, dua kecupan sambar menyambar, sebelum seluruh bibir jadi sasaran.
"Apa kamu berharap aku lupa, Bellova?"
***
Karena kepanjangan, aku cut jadi dua chapter. Nikmati saja manisnya.
Plot ini berlatar belakang negara di mana budayanya bertolak belakang dengan negara kita tercinta.
__ADS_1
Just give me your support. I Love You.