My Hottest Man

My Hottest Man
Chapter 39. Unintended


__ADS_3

Raymundo Alvaro berpaling pada Bellova.


"Aku jatuh cinta padamu, Bellova."


Mungkin kalimat ini yang ditunggu Bellova dari Raymundo Alvaro. Tanpa basa-basi, atau intro pembuka panjang langsung di bagian inti. Hanya beberapa potong kata-kata membentuk kalimat serius, berhasil lambungkan hati seorang wanita yang selalu merasa cintanya bertepuk sebelah tangan.


Pria itu kembali pada Nyonya Gracia Anthony.


"Saat aku laporan pada Anda bahwa aku pergi ke tempat proyek, aku sebenarnya sedang awasi Bellova! Aku beberapa kali bolos dari rapat agar bisa pantau Bellova 24 jam."


Wow!


Bellova seolah tersihir, menoleh pada Raymundo Alvaro. Terpesona dan kehilangan kata-kata.


"Pengakuan dosa terbaik dari pria sedingin es di kutub," guman Queena tanpa sadar berseri-seri.


"Jadi, hubunganmu dengan Nona Bellova seperti kata Viviane tidak benar-benar berakhir?"


Gracia Anthony beralih duduk di kursi kebesaran setelah shock perlahan-lahan hilang. Persilahkan Raymundo duduk, tetapi pria itu hanya tegak bak patung hidup. Bellova di sisi semakin tak berbentuk.


Bellova berdebar-debar oleh banyak emosi, silih berganti bermain dalam relung hati. Berulang kali menoleh pada Raymundo Alvaro yang tenang terkendali.


"Ya, seperti itu."


"Raymundo Alvaro, ini sangat serius," ujar Gracia Anthony tanpa kedip. Menghela napas panjang lalu hembuskan perlahan. "Maksudku, pernikahanmu dan Viviane. Aku tak bisa katakan pada kakak laki-lakiku bahwa putera angkatku tak bisa nikahi Viviane setelah sepakat sebelumnya dan batal begitu saja setelah lakukan banyak persiapan. Kamu selalu bertindak gunakan logika."


"Mam, Bellova mungkin mengandung bayiku. Aku pertimbangkan ini."


"Apa?!" Gracia Anthony terbelalak. Begitu pula Queena dan Axel Anthony.


Wow. Raymundo Alvaro berhasil buat seisi rumah terperangah.


"Bellova mungkin sedang mengandung saat ini," ulang Raymundo lagi berisi sebuah emosi terselubung rapi.


Gracia Anthony mengurut kening, tatapan beralih pada Bellova. Alih-alih bertanya pada Bellova untuk konfirmasi kebenaran, Gracia Anthony mulai runtuh perlahan. Atau memang kadar tukang paksa berakhir di usia semakin senja.


"Oh ya Tuhan, aku tak berdaya di hadapan para bayi."


"Maafkan aku!"


"Baiklah! Baiklah! Aku akan cari cara." Gracia Anthony menatap Bellova lagi.


"Pergilah istirahat, Bellova. Ini sudah malam."


"Kami akan kembali ke apartemen," sahut Raymundo.


Atau kita bisa pergi ke studio. Begitu kira-kira tatapan Raymundo Alvaro pada Bellova.


"Ruang tidurmu di Mansion ini jauh lebih bagus dari apartemenmu." Gracia Anthony tak suka dibantah. "Apa kamu sudah makan, Bellova?" tanya Gracia Anthony lagi penuh perhatian. Bellova tak nyaman dalam genggaman Raymundo Alvaro atau Bellova hanya berlebihan kaget.


"Sudah Nyonya."


"Jika belum atau kamu masih lapar, bergabunglah bersama wanita hamil lainnya dan makan sesuatu. Sepertinya kemping keluarga beberapa bulan lalu adalah kemping membuat bayi juga."


Nyonya Gracia Anthony berubah lembut hingga Bellova berhenti gelisah.


"Aku sudah kenyang, Nyonya! Terima kasih atas perhatian Anda."


"Bawa Bellova istirahat, Queena. Tuan Raymundo, kita masih perlu bicara. Axel, kirim seseorang menjemput Viviane."


Queena melangkah ringan, datangi Bellova ulurkan tangan. Mengangguk-angguk pada Raymundo seakan ingin bilang, "Anda luar biasa, Raymundo Alvaro". Queena ulurkan tangan pada Bellova.


"Oh, Bellova aku sangat sukai ini. Kita bisa menghirup udara pagi dan masak bersama."


"Berhentilah menumis bawang Queena! Aromanya bagus jika sekali dua kali tercium, tidak jika 24 jam. Migrainku kambuh dan aku seakan tenggelam di dalam kolam minyak dan bawang." Gracia Anthony mengeluh panjang, sedang Queena terkekeh geli.


"Aku berhenti mual saat menghirup aroma bawang Ibu. Kami akan masak sesuatu yang Ibu suka sebagai ucapan terima kasih karena hati Ibu yang indah."


Gracia Anthony menyipit pada Queena.


"Gombalan yang bagus Pequeena."


"Kami sungguh-sungguh menyayangi Anda, Nyonya Gracia Anthony." Queena menggandeng Bellova dari sisi lain, melambai pada Gracia Anthony yang hanya pandangi Queena juga Bellova. Mungkin pening dengan masalah Viviane.


"Selamat tidur, Bellova," ucap Axel Anthony tersenyum hangat.


"Terima kasih, Tuan."


Raymundo lepaskan tangan Bellova.


"Tunggu aku di kamar," kata Raymundo tanpa menoleh pada yang diajaknya bicara, berlalu ikuti Nyonya Gracia Anthony ke sebuah ruangan.


Bellova kemudian bersama Queena yang tak berhenti tersenyum keluar dari ruang tengah lewati lorong berisi banyak pigura keluarga.


"Kita bisa pergi bersama kunjungi dokter kandungan. Meskipun aku seorang dokter aku ingin jadi wanita hamil pada umumnya. Aku sangat bersemangat."


Bellova tak bisa tanggapi Queena karena masih bingung dengan situasi yang sedang terjadi.


Melangkah menuju ke ruangan yang jauh lebih privasi.


"Aku dan Axel tinggal di lantai dua, juga adik laki-laki Axel bernama Hector Anthony."

__ADS_1


"Begitukah?"


"Em ya, di lantai dasar ini hanya ada ruangan tidur Ibu dan Raymundo. Ini kamar Ibu." Queena anggukan kepala ke sisi kanan. "Dan kita akan pergi ke kamar Raymundo."


Alasan Raymundo Alvaro mungkin tak bisa menolak Gracia Anthony. Raymundo Alvaro bahkan berada tepat di sisi Gracia Anthony di dalam mansion luas ini. Pintu dibuka.


"Masuklah!"


"Terima kasih, Queena."


"Aku akan memeriksamu besok pagi, Bellova."


"Queena, aku tak yakin aku hamil."


"Kapan h*** terakhirmu, Bellova?"


"Sekitar pertengahan Desember."


Sedangkan saat ini, awal Februari.


"Tak diragukan lagi, kamu sedang hamil."


"Ini menakutkan."


"Dengar Bellova, Raymundo memang dingin dan selalu datar, tetapi dia sangat manis saat jatuh cinta padamu. Raymundo hanya terlalu kaku untuk bicarakan perasaannya. Oh ya Tuhan, semoga segala hal berjalan baik untuk kalian berdua."


"Ya, aku sangat terkejut pada kepribadian Tuan Alvaro."


"Jangan terlalu keras pelajari pria itu. Dia tak suka berbagi hal-hal terlalu sensitif dari dirinya. Biarkan saja seperti air mengalir di sungai."


"Terima kasih untuk dukunganmu, Queena."


"Nah, istirahatlah. Selamat malam, Bellova." Queena tersenyum lebar. Aura malaikat wanita ini sampai pada Bellova. Tak heran Raymundo Alvaro memuja Queena. Tak ada alasan untuk tidak menyukai kepribadian tulus, lembut dan sehalus kapas ini. "Sampai jumpa besok. Aku akan titipkan piyama pada Raymundo. Semoga mimpi indah, Sayangku."


Queena menghilang, sisakan Bellova melayang di ruang tidur seluas enam kali ruang tidur di studio Belliza. Tak banyak perabotan. Ruangan ini sangat serius sama seperti Raymundo Alvaro. Ranjang ukuran luar biasa besar, nakas di sisi ranjang, lampu tidur modern, dua pasang sofa dan sebuah meja di sudut lain. Beberapa pigura melekat di dinding. End.


Pintu ke kamar mandi bersisian diisi kaca pantulkan ranjang secara sempurna. Bagian depan ranjang, pintu kaca terhubung ke halaman. Ada pohon rindang di sana dan sebuah bangku ukir.


Raymundo pernah berkata, bisa membeli dirinya jika pria itu mau. Bellova yakin kini, pria itu memang tidak mengada-ada.


Pintu terbuka sesaat kemudian dan Raymundo Alvaro masuk. Tangan pegangi kantong.


Bellova linglung di sisi ranjang, awasi Raymundo saat pria itu hampiri dirinya. Berdebar-debar. Anak mata ikuti tubuh Raymundo Alvaro. Mengapa dia begitu menarik padahal pria itu hanya berjalan di atas kaki-kaki panjang?


Raymundo menaruh bag di atas ranjang.


"Ini piyama dari Queena."


Alih-alih rangkai percakapan, keduanya mirip orang asing. Mata mereka bertemu hanya untuk keheningan lama.


"Aku harus mandi," kata Raymundo beberapa menit berselang, datar dan tak beremosi.


Raymundo Alvaro buru-buru melangkah ke arah kaca, bunyi bip bip dan para cermin bergeser. Bellova bisa melihat ruang ganti luas berkonsep modern klasik didominasi warna krem.


Koleksi sepatu dan pakaian tersusun rapi dan benar, sangat cantik. Kemeja putih, begitu pula jas mengisi bagian masing-masing dan jaket kulit hitam paling banyak terlihat.


Belliza dan Bellova punya ruang ganti di rumah mereka di Barrancos, tetapi milik Raymundo Alvaro terbaik yang pernah dilihat mata Bellova.


Pria itu di tengah ruangan ganti, lepaskan jaket juga kaos sisakan celana panjang. Keluar dari sana, pergi ke kamar mandi.


Bellova duduk di bibir ranjang, berpikir untuk kabur. Raymundo Alvaro baru katakan, "aku jatuh cinta padamu, Bellova", tetapi pria itu tampak tidak bahagia dan jaga jarak.


Bellova menghela napas, sesuatu sangat ganjil mengganggu dirinya. Apakah Belliza baik-baik saja? Jantung Bellova terus berdetak kencang dan cepat seakan bisa rasakan badai datang hampiri. Ataukah karena Raymundo Alvaro?


Bellova kemudian tenangkan diri, habiskan waktu pandangi potret di dinding. Pigura raksasa adalah potret Gracia Anthony dan mungkin Ayah Tuan Axel Anthony. Lingkaran keliling, foto-foto keluarga Anthony terpajang. Ada foto Raymundo pegangi payung lindungi Gracia Anthony dari panas di sebuah pemakaman sebab tampak Gracia Anthony mendung memakai pakaian serba hitam. Ada foto Raymundo Alvaro bersama Axel Anthony dan Tuan Enrique Diomanta di puncak sebuah gunung.


Foto keluarga kandung Raymundo Alvaro, Ibunya, Tuan Aldinho dan Helena tanpa Raymundo. Kemudian, pria itu ada di setiap even kelulusan Helena Alvaro. Raymundo selalu di sisi adik perempuannya meski tanpa senyum buktikan bahwa si pria sangat menyayangi adiknya.


Bellova sejak kecil selalu ingin punya kakak laki-laki. Pasti akan menyenangkan, saat kakak lelakimu jadi perisai. Tersadar saat pintu kamar mandi terbuka. Ponsel Raymundo Alvaro berdering dari dalam ruang ganti.


"Kamu belum berganti?" tanya Raymundo keringkan kepala. Tubuh Raymundo masih dipenuhi bekas garukan dan gigitan. Wajah Bellova memerah persis udang goreng. Tanpa sengaja jauhkan diri.


"Apa kamu tidak nyaman?" tanya pria itu lagi.


"Em, ya. Aku ingin kembali ke studio."


Berhadapan.


"Bukankah kamu menunggu momen ini?"


Mata bertemu mata. Bellova tak sadar meringis karena ia tak tertolong perihal cintai Raymundo.


Bellova tak menyahut sebab tak mengerti maksud Raymundo Alvaro, pada tubuh terbungkus kabut misteri. Pada sorot mata, aura dan setiap kata terucap yang tak mampu Bellova cerna.


"Aku tak pahami dirimu sama sekali."


"Jangan coba-coba berlari seperti tadi, Bellova! Jangan berpikir kamu bisa bertingkah konyol sedang ada bayiku di dalam sana."


"Tuan, aku tak minta kamu bertanggung jawab." Ada sakit juga perih. "Abaikan saja aku! Lama-lama aku akan terbiasa tanpamu."


Tak balas perkataan Bellova, Raymundo pergi ke ruang ganti. Keluar dari sana memakai kaos hitam kemudian datangi Bellova dan meraih tangan Bellova.

__ADS_1


Pintu kaca terbuka otomatis, Bellova dituntun untuk duduk di pintu kamar menghadap ke taman pribadi. Pria yang membingungkan.


"Apa kamu baik-baik saja?"


"Tidak!" sahut Bellova. Setelah malam kemping, kehidupan Bellova buruk.


"Apa kakimu terluka?"


"Bukan, bukan itu! Aku tak mengerti dirimu. Jangan bertanggung jawab padaku oleh beban. Pernikahan Oskan dan Belliza buruk karena Belliza hamil. Oskan tak mencintai Belliza tetapi tetap menikahinya. Kakakku menderita sepanjang musim. Aku tak ingin alami apa yang kakakku rasakan."


"Aku tak bisa melepaskanmu. Aku mencintaimu."


"Itu bukan cinta, Tuan. Anda terobsesi, hanya ingin menyiksaku!"


"Begitukah? Apakah jika kamu kesulitan pejamkan mata di malam hari karena langit-langit otakmu dipenuhi wajah seorang wanita, apakah itu obsesi?"


Bellova terdiam.


"Katakan padaku, Bellova!"


"Jangan bersamaku dengan alasan bayi."


"Bellova, apa maumu? Jika, 'aku mencintaimu' tidak cukup bagimu, lalu apakah ada tingkatan lebih tinggi dari itu?"


"Kamu terlihat menyesal setelah ungkapkan perasaanmu padaku!" jawab Bellova.


Raymundo Alvaro meraih wajah kalut Bellova, menatap Bellova dalam-dalam. Kening mereka menyatu.


"Aku tak tahu cara tunjukan emosi tanpa terlihat berlebihan. Bersahabat saja dengan wajahku, Bellova!"


"Aku cemas kamu mungkin memikirkan ulang apa yang kamu rasakan."


Abaikan dering ponsel semakin intens berbunyi, Raymundo Alvaro mengelus bawah mata Bellova kemudian menyentuh bibir Bellova dan tak menunggu lama untuk mencium Bellova.


Ada gelora dan romansa, juga beban. Ciuman semakin dalam, lama dan panjang. Tak ada yang ingin berhenti. Lalu, Raymundo Alvaro memeluk Bellova.


"Ponselmu terus berdering." Bellova mengatur napas tidak beraturan. Pejamkan mata ketika sentuhan di bibir buatnya ketagihan. Kendalikan diri sendiri.


"Aku akan pergi sebentar." Raymundo bicara di rambut Bellova. "Tidurlah lebih dahulu."


"Tidak, aku akan menunggumu kembali."


"Baiklah. Aku akan cepat kembali."


Bellova lingkari tengkuk Raymundo kuat. Tak ingin pria itu beranjak pergi.


"Apakah sangat penting?"


Raymundo menggendong Bellova pergi ke ranjang. Baringkan Bellova, selimuti tubuh Bellova.


"Ya. Viviane mabuk dan tak ingin pulang kecuali aku menjemputnya! Aku tinggalkan dia di klub tadi."


"Baiklah." Bellova ingin bertanya bagaimana dengan pernikahanmu dan Viviane? Namun, terlalu takut mendengar jawaban.


Raymundo pergi ke ruang ganti, memakai jaket dan keluar tak lama kemudian. Masih kembali ke sisi ranjang, nyalakan lampu tidur. Pintu tertutup, langkah kaki menjauh. Berubah hening. Udara dingin menyergap padahal ia dalam selimut hangat. Kesunyian menambah pekat hatinya yang dilanda ragu, bimbang dan gelisah. Berputar-putar tak tentu arah. Apakah akan baik-baik saja?


Ponsel Bellova berdering sepuluh menit kemudian. Nomer baru.


"Love ...."


Suara ketakutan menyambut di ujung sana. Kenali suara kakaknya, Belliza.


"Kakak?!"


Bellova mengumpat marah pada diri sendiri. Ia harusnya pergi temui Belliza.


"Bellova ...."


"Apa yang terjadi?!"


Menarik napas kuat, ia merasa sesak. Kakaknya koma dua tahun, tetapi ia tak berkunjung sejak Belliza bangun.


"Kakiku lumpuh, Bellova."


Suara Belliza putus-putus juga sangat lemah.


"Di mana Donna?" Jantung berpacu sangat cepat, diremas hingga sakit. Berusaha tenang, tetapi Bellova malah diserang panik sadari sesuatu yang buruk sedang menimpa kakaknya.


"Aku tidak di rumah sakit."


Bellova melompat turun dari ranjang, meraih mantel dan tas. Memakai sepatu. Buru-buru berlari keluar ruangan kamar tidur Raymundo Alvaro.


"Kakak di mana?"


***


Tinggalkan komentar!



__ADS_1


__ADS_2