My Hottest Man

My Hottest Man
Chapter 56. Restless Begin


__ADS_3

Kembali lewat tengah malam jelang pagi dari Coruche, kantuk Bellova sirna penuh tapi jadi agak pening dan mual. Bersyukur karena balon udara tak sungguhan terbangkan ia hingga ke neraka. Mereka hanya berpelukan selama hampir 45 menit. Ada banyak emosi terungkap dalam kegelapan.


Bellova paham kata-kata Raymundo tentang kegelapan dan tak menaruh banyak harapan, hanya mengalir apa adanya. Dia tak sempurna tapi mencoba, Bellova hanya harus hargai. Dirinya sendiripun punya banyak kekurangan.


Kini, Bellova bersandar pada pria di sisinya. Mereka telah memulai romansa, berdempetan. Tak ada banyak kata dan ungkapan, hanya seakan tak ingin berpisah satu ruas.


"Aku ingin tahu seperti apa honeymoon kita?" tanya Bellova penasaran. Apakah mereka akan lakukan sesuatu yang sangat ekstrim. Pria ini menyukai sesuatu yang tak biasa.


Tanpa sahutan hanya senyuman kecil. Dan Bellova menerima usapan di lengan ketika memasuki jalan tol menuju Lisbon. Mengambil jalur di mana mereka akan lewati jembatan Vasco da Gama, Raymundo Alvaro fokus pada jalanan yang lengang.


"Kemana kamu ingin kita pergi?"


"Aku tak tahu. Kemana kamu pergi, aku akan ikut denganmu."


Naikan satu sudut bibir dengar ucapan Bellova. Ia seperti habis makan gula-gula, tanpa sadar tangannya meraih pinggang Bellova.


"Mau aku gantikan?" tanya Bellova.


"Tidurlah!"


Sungguh menyenangkan ketika pria dingin ini berubah agak lembut dan tak ada yang lebih menakjubkan dari itu, pikir Bellova.


Berusaha pejamkan mata, bertanya-tanya terbuat dari apa Raymundo Alvaro hingga tak kenal ngantuk dan lelah? Masih tak percaya mereka akan berakhir ke pernikahan tanpa paksaan padahal atas nama kebencian dan dendam, Raymundo Alvaro juga Bellova memulai segala hal.


Apakah ini akan berakhir baik?


Mereka sampai dengan cepat di rumah. Semua orang pasti lelah dan tidur lebih awal untuk persiapan pernikahan. Raymundo menggiring Bellova ke kamar mandi kemudian ia memeriksa ponsel. Lakukan panggilan balik.


"Apa yang Anda dan Juliet lihat dari ketinggian, Romeo?" tanya BM dari seberang, menggoda. "Apakah Juliet suka kejutan darimu?"


Raymundo tak lekas menjawab, tak mungkin katakan bahwa ia hanya ingin memeluk Bellova di atas balon udara, melayang dalam lingkaran kegelapan yang damaikan jiwanya.


"Kamu tidak tidur? Apakah kamu Batman?" Raymundo bertanya balik.


"Aku lembur malam ini, agar besok bisa hadir di pernikahan Bosku. Aku harus siapkan kado spesial."


"Tolong hadir dan bawa kekasihmu."


"Tidak, aku lajang sejati dan ini prestasi. Aku ingin ajak D, tapi partnertmu itu sedang sibuk larikan diri jadi pelukis tato."


"Deenar tahu aku akan menikah?"


"Ya, aku beritahu dia. Deenar mengirim pesan, jika kamu ingin tato wajah istrimu sebagai hadiah. Mungkinkah Anda mau, Tuan?"


"Mungkin nanti." Raymundo Alvaro menghela napas panjang, ia ingin tato Bellova. "Mengapa ada banyak panggilan? Apakah ada keadaan darurat?"


"Apakah kamu tahu, Romeo? Helena Alvaro telah sadar?"


"Apa?!"


"Adikmu siuman."


BM alihkan panggilan, terhubung dengan Beatrix Alvaro. Menunggu dan tersambung dalam tiga detik.


"Ray ..., akhirnya kamu menelpon balik." Suara kuatir. "Bisakah kamu kemari? Helena ingin bicara padamu!"


Raymundo menegang di tempat ia berdiri tepat ketika Bellova melangkah keluar dari kamar mandi.


"Apakah Helena baik-baik saja?" tanya Raymundo pelan perhatikan Bellova.


Wajah sedikit pucat kena angin dan masih basah oleh air keran. Wanita itu kenakan kimono tidur pendek, terpaku di depan pintu kamar mandi, di atas kaki-kaki jenjang yang menggiurkan. Riasan tebal dan kelopak mata bersayap hitam telah lenyap. Ia kembali pada Bellova sesungguhnya.


"Helena ingin bertemu denganmu." Suara Beatrix Alvaro di ujung sambungan kagetkan dirinya.


"Apakah harus sekarang? Beberapa jam lagi aku akan menikah." Raymundo menarik napas lalu hembuskan keras. Berpikir lalu berubah. "Baiklah, aku akan segera datang."


Ponsel dimatikan.


"Apa sesuatu terjadi?" tanya Bellova waspada.


"Ibuku mengirim kabar bahwa Helena siuman," ujar Raymundo, bicara tak jauh dari Bellova, menangkap sinyal kaku Bellova. Abaikan insting karena bisa jadi akan membunuh cinta yang baru seumur benih kecambah.


"Apakah semuanya baik-baik saja?" tanya Bellova tak sadar telah mencengkeram handuk wajah yang ia pegang kuat hingga buku jari memutih.


"Ya," jawab Raymundo. "Tidurlah lebih dulu. Aku akan bertemu adikku."


Bellova mengangguk tak bisa kendalikan keadaan. Helena akhirnya siuman, meskipun senang, terbersit curiga Helena akan memprovokasi kakaknya.


"Ya, baiklah."


"Apakah kamu masih lemas?"


Bellova mengangguk, "Balon udara berakhir tetapi kengerian sepertinya tak berkesudahan."


"Kita akan sering naik balon udara."


"Tidak, terima kasih."


"Istirahatlah, Bellova! Aku akan segera kembali."


Raymundo Alvaro melangkah menuju pintu ruang tidur.


"Bisakah tunggu sebentar?" tanya Bellova tiba-tiba hentikan Raymundo Alvaro. Hati Bellova berdenyut oleh firasat aneh yang hanya bisa dirasakan kaum hawa.


"Ya, ada apa?"

__ADS_1


Bellova mendekat, hati telah bertautan erat pada pria ini. Bellova tiba-tiba takut kehilangan.


"Bolehkah aku ikut?"


"Tidak, Bellova." Raymundo berbalik hampiri Bellova, mekarkan telapak tangan di belakang kepala Bellova dan raih Bellova ke dadanya. "Aku akan kembali dalam satu jam. Tidurlah!"


Bellova memeluk Raymundo erat-erat, berharap segala ketakutannya segera musnah.


Aku takut! jerit Bellova dari dalam sanubari. Namun, kata-kata dari bibir hanyalah, dua kalimat baku.


"Aku akan menunggumu. Hati-hati di jalan."


Ambilkan handuk, Raymundo Alvaro mengusap wajah basah Bellova lalu mengecup bibir wanita itu pelan.


"Jangan melangkah keluar dari pintu ruang tidur dan jangan coba-coba menghilang dari ruangan ini sampai aku kembali!"


Bellova, oleh cinta terlalu dalam hanya terperangkap pada pandangan penuh tuntutan itu.


"Aku akan menunggumu!"


Raymundo Alvaro keluar dari ruang tidur tinggalkan Bellova jatuh lunglai di tepi ranjang.


Bellova mengeluh panjang, berdoa segala hal berjalan baik bagi pernikahan mereka. Bellova ingin menelpon Lucio Vargas dan minta pria itu bawa Belliza menjauh tetapi terlalu takut. Yakin bahwa Raymundo Alvaro awasi dirinya 24 jam. Ruangan ini berdinding kamera pengintai.


"Aku menangkan hatinya tetapi mengapa masih takut hadapi amarahnya?" Bellova menggeleng. "Tidak. Aku telah hadapi Raymundo Alvaro berulang kali. Aku akan lakukan lagi. Kami miliki ikatan istimewa."


Namun, Bellova lekas pesimis.


Sementara Raymundo Alvaro berkendara pagi-pagi buta pergi ke rumah sakit. Beatrix Alvaro sigap berdiri begitu melihatnya. Helena pulas di atas ranjang rumah sakit dan tentu saja Oskan Devano menunggui di sisi ranjang. Menggenggam tangan Helena kuat.


"Apa yang terjadi?"


"Maafkan aku mengganggumu, Nak. Helena ingin bersamamu."


"Apakah Helena baik-baik saja?"


"Aku tak tahu, tapi Helena kejang-kejang tadi. Ia sedang tidur sekarang." Beatrix Alvaro begitu putus asa.


"Apa kata dokter?"


"Aku tak mengerti. Pikiranku bercabang dan aku tak tahan lihat Puteriku kesakitan."


"Tenangkan dirimu, Bu."


Raymundo pegangi bahu Beatrix Alvaro dan menepuk perlahan. Pertama kali tunjukan kasih sayang pada wanita paruh baya yang ketakutan. Beatrix Alvaro menua dengan cepat karena pikirkan Helena.


Tiga puluh menit setelah Raymundo duduk terpaku, Helena Alvaro bergerak, sedikit mengerang hingga Oskan terbangun. Bertanya dari sisi sebelah berusaha tak tampak lelah.


"Apa kamu butuh sesuatu?"


"Kakakku sudah datang?" tanya Helena pelan. Oskan melirik pada Raymundo kirimkan tanda.


"Apa kabarmu?" Helena tersenyum, mengatur napas dan terlihat sangat kepayahan.


Raymundo Alvaro membungkuk dan mengecup kening Helena pelan. Mengelus kening adiknya.


"Tidurlah dan sembuhkan dirimu, Helena!" bujuk Raymundo. "Please!"


"Aku membawa Cheryl karena beberapa preman mengintaiku saat Oskan dan Ibu tak ada. Mereka menyuap penjaga keamanan yang disewa Oskan untukku."


"Aku tahu. Aku telah mengurus orang-orang itu. Jangan kuatir. Hmmm?!"


"Aku tak menyakiti Cheryl."


"Ya aku tahu."


"Mereka ada di sana malam itu!"


Raymundo menyipit.


"Aku telah mengurus mereka."


"Belliza dan Bellova bersamaku malam itu!"


Raymundo serasa disengat sesuatu. Ia berubah lumpuh dan kelu.


Helena mengatur napas, tiap kali ia menghela napas, Raymundo melihat penderitaan juga kesakitan.


"Helena, berhentilah bicara yang tidak-tidak! Aku mohon. Kita akan baik-baik saja!" Oskan memelas dari sisi ranjang. "Jangan bicarakan apapun! Please!"


"Aku terus melihat puteraku."


"Tidak! Kita bisa bersama setelah ini!"


"Biarkan aku bicara pada adikku, Oskan!"


"Aku akan segera pergi, Kak!"


"Berhenti ucapkan kebodohan. Tidurlah!" Raymundo baringkan kepala di sisi kepala Helena, diliputi kesedihan mendalam.


"Aku ingin melihatmu!"


"Ya baiklah! Aku di sini dan semuanya akan baik-baik saja! Aku tahu Bellova di sana dan dia telah bertanggung jawab pada perbuatannya. Helena, bukan hanya kamu satu-satunya menderita. Bellova telah kehilangan bayinya juga. Bayi kami."


"Belliza, mengutuk aku di malam itu, berdoa agar Tuhan berikan kematian paling menyakitkan bagiku. Doanya terkabul kini."

__ADS_1


"Helena ...." Oskan Devano mulai mengemis kini agar Helena berhenti bicara hingga Raymundo berbalik dan dalam sekejab meraih kerah jaket Oskan.


"Apa yang coba Helena katakan padaku dan apa yang sedang kamu sembunyikan?"


"Apakah kamu tak lihat, dia sesak napas? Jangan mengajaknya bicara!" balas Oskan sengit.


"Biarkan aku bicara pada adikku!"


"Kamu hanya persulit keadaan ini."


"Oskan, Belliza sedang koma saat itu. Mengapa Helena terus menyebut Belliza?"


Aldinho Alvaro berlari ke dalam ruangan dan menahan Raymundo yang murka.


"Tolong jangan lakukan ini!" tegur Aldinho.


Raymundo lepaskan Oskan dan mendorong pria itu menjauh, kembali pada Helena.


"Aku bersalah padamu. Maafkan aku! Aku mencintai Oskan."


"Baiklah! Berhenti bicara dan tidurlah! Kita akan mengobrol setelah kamu sembuh."


"Aku menendang kaki Belliza hingga dia terjatuh. Bellova datang, aku cukup sadar saat Bellova bicara pada sopir taxi."


Kecurigaan Raymundo Alvaro benar. Kakak beradik itu benar-benar lakukan konspirasi dan menipunya.


"Bellova menyuap sopir taxi agar tutup mulut."


"Aku akan mengurusnya!"


"Belliza cukup menderita karenaku."


Jadi Belliza ingin Helena mati dengan cara paling menyakitkan dan Bellova menyogok sopir taxi untuk tak bersaksi setelah Helena dapatkan kekerasan? Raymundo telah menduga hal ini, tetapi tak mau menerima kenyataan karena ia jatuh cinta. Terlebih, ada pihak ketiga dalam kasus ini. Juga, Helena bersalah penuh.


"Aku pantas dapatkan ini, aku menyakiti mereka. Aku tak pernah tahu awalnya Oskan telah menikah. Aku hanya jatuh cinta pada Oskan. Belliza dan Bellova harus tahu bahwa aku tak berniat sakiti Cheryl. Aku berusaha menerima Cheryl sebagai Puteriku."


"Lihat aku, Helena! Semuanya akan baik-baik saja!" Raymundo ulangi kalimat yang sama sedang ia sendiri tak yakin lagi. "Tarik napasmu perlahan dan tenanglah."


"Bisakah jaga Ibu untukku?" tanya Helena pelan. Butiran bening mengalir dari kedua mata. Napasnya semakin tersengal-sengal. Dan suara tenggorokan juga mata itu sedang mengemis. "Kasihanilah Ibumu."


Oskan buru-buru memencet bel, memanggil dokter.


Aldinho memeluk Beatrix yang terlalu berduka cita menempel di kaca, menyerah pada takdir. Helena bangun hanya untuk bicara pada Raymundo. Ada beban yang dipikul dari malam berdarah itu.


Dokter dan beberapa orang perawat masuki ruangan.


"Tidak. Kamu harus sembuh dan jaga ibumu. Aku hanya akan kumpulkan uang untukmu dan Ibu. Aku tak bisa mengurusnya. Anak perempuan lebih paham."


"Ibu sesali sikapnya padamu."


"Helena, jika kamu sayang pada Beatrix, kamu harus segera sembuh."


"Aku menyesal tak patuh padamu!"


"Kita akan perbaiki segala hal. Oskan Devano tidak tidur berhari-hari dan Belliza akan bersama seseorang yang mencintainya. Mungkin kamu bisa semangat lagi."


"Apakah kakak akan menikahi Bellova?"


"Ya."


"Aku harap kamu bahagia, Kak. Aku menyayangimu."


"Aku menyayangimu, Helena Alvaro. Aku selalu menyayangimu!"


Adiknya berusaha mengambil udara. Melihat sendu di mata Helena. Raymundo Alvaro menggenggam tangan Helena ketika perawat memintanya untuk keluar.


"Apa yang terjadi?" Raymundo bertanya lihat keadaan Helena. Tubuh adiknya mengejang. Sedang Oskan Devano menatap nanar pada wanita yang sekarat. Bahkan uang dan seluruh harta sepertinya tak bisa mencegah perpisahan mereka.


"Sir, tolong kerja samanya!"


"Apa yang terjadi padanya?" tanya Raymundo Alvaro hilang kesabaran.


"Ada pembengkakan pembuluh darah yang pecah. Kami telah berusaha sebisa mungkin tapi pasien menderita kelainan jantung. Tekanan darahnya juga tidak stabil. Operasi sangat beresiko karena riwayat penyakit pasien yang komplikasi."


"Jangan bercanda! Adikku baru saja bicara padaku!" Raymundo Alvaro tak sadar merengkuh kerah baju Dona Marris. "Aku tak percaya padamu!"


"Tolong keluarlah, Tuan!"


Ada banyak kematian, yang diputuskan Tuhan dan diambil begitu saja oleh tangan-Nya. Siapa berani menentang?


Tatapan terakhir Helena adalah salam perpisahan. Tegak, kehilangan pikiran. Mendadak Raymundo terlempar dalam kehampaan saat Helena mengulang ucapan yang sama.


"Berbahagialah!"


Raymundo saksikan napas-napas terenggut cepat. Kelopak mata segera terkatup rapat. Setelahnya tak tersisa jejak kesakitan pada raut Helena, seakan satu-satunya alasan ia melangkah ke dunia lain adalah agar tak berhenti rasakan sakit.


Mata Raymundo Alvaro memanas, tak ada air mata. Pria seperti dirinya tak miliki butiran air mata. Ia tak menangis saat menderita hanya berubah kosong dan dingin.


Waktu kematian dicatat, tubuh Helena ditutupi kain putih. Oskan Devano masih bicara pada adiknya seakan cintanya pantas untuk memanggil Helena kembali.


Beatrix Alvaro terjatuh di luar ruangan dalam pelukan Aldinho yang tak bisa membendung tangisan.


Bahagia? Bagaimana caranya?


"Katakan padaku, Helena! Apakah aku harus bahagia sedangkan enam jam sebelum pernikahanku, adikku pergi untuk selamanya? Dan wanita yang aku cintai terlibat di dalam drama ini?"

__ADS_1


***


Tinggalkan komentar dan Vote-mu. Makasih ya!


__ADS_2