My Hottest Man

My Hottest Man
Chapter 33. Deepest Pain


__ADS_3

Menjelang pagi, udara dingin merasuk hingga ke balik tulang. Bellova Driely dalam lengan Raymundo Alvaro. Bergelung seperti kucing temukan kenyamanan.


Sedang Raymundo meraih ponselnya, lakukan panggilan setelah cukup lama pandangi loteng.


"Tinggalkan pesan setelah bunyi beep ...."


Diikuti satu pesan.


"Sistem sedang istirahat. Silahkan hubungi lagi nanti."


BM tak ingin diganggu.


Raymundo mendes** tak punya pilihan lain selain hubungi Axel Anthony. Ia tak mungkin hubungi Deenar.


"Bos, SOS. Aku butuh setelan jas."


Share lokasi.


Tak ada balasan. Axel Anthony mungkin masih tidur. Ini terlalu pagi.


"Apa yang terjadi?" Mendadak saja ada respon. Ia keliru. Axel Anthony sudah bangun. Mungkin akan berolahraga.


"Di mana Anda, Tuan? Viviane pulang sendirian diantar seorang pria asing."


Satu lagi.


"Ini Queena. Apa kamu bersama Bellova?"


"Ya."


Memangku kepala pada satu lengan menatap loteng. Napas hangat dan teratur Bellova, mendengkur halus dalam lengan Raymundo Alvaro. Okay, mereka habis-habisan semalam. Bellova habiskan seluruh energi membantai dirinya. Ia pasrah pada Bellova. Sendi di pinggulnya serasa copot, tetapi Bellova terus bersinar dan tak ingin berhenti hingga ia kewalahan berharap ranjangnya roboh.


Ada desiran merambat, Raymundo Alvaro menolak segala rasa yang mengambil bagian dalam dirinya. Merasa dipecundangi oleh takdir.


Getaran di atas nightstand samping ranjang, hapus lamunan Raymundo Alvaro. Ponsel Bellova. Menoleh pada wanita kelelahan, tidur sangat nyenyak. Tak paham, mengapa ia tak suka Bellova bersama seseorang. Namun, secara emosional mencerca dirinya sendiri karena tak bisa bersama Bellova. Tak bisa kendalikan diri, biarkan jemari mengusap kening Bellova.


"Why I am so into to you?" (Mengapa aku begitu menyukaimu?) "Aku menunggumu setelah kita berpisah, hanya untuk temukan bahwa kamu akan menikahi seseorang. Kamu akan menulis kisah di atas Miradoura dan aku bersama wanita lain. Aku benci ini. Kehidupan kusut macam apa ini? Bisakah seseorang datang dan selamatkan aku?"


Bellova bicara terseret-seret sementara mata-mata masih terpejam. Sisa-sisa mabuk masih ada. Tangan wanita itu mencari-cari dan memeluk erat lehernya.


Getaran lagi. Raymundo meraih benda itu. Pesan group.


๐Ÿ’Œ : Morning Ladies? Ready for today? ๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐ŸŒน๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿ’ช๐Ÿงš๐Ÿงš๐Ÿงš๐Ÿงš (Kay)


Banyak emoticon lucu. Dunia para wanita. Tak bisa bayangkan jika ia mengirim pesan pada Axel Anthony dengan banyak stiker love. Dunia wanita adalah dunia penuh keganjilan.


๐Ÿ’Œ : Miss Viviane wedding dress waiting (Kay)


๐Ÿ’Œ : Persentase cocok Miss Vivian dan Mr. Alvaro, please. (Charl)


๐Ÿ’Œ : 24% (Kay)


๐Ÿ’Œ : Forced Married (Pernikahan yang dipaksakan). (Carl)


๐Ÿ’Œ: Agree. Pengantin pria tak bahagia. Jas semewah apapun akan kelihatan biasa saja. Semangat Nona, Anda tak harus bekerja terlalu keras untuk pengantin pria. (Kay)


๐Ÿ’Œ : Ya, 1000%. Wajah pengantin pria terlalu culas (Charl)


๐Ÿ’Œ : But, aku ingin miliki wajah sinis Tuan Alvaro. (Kay).


Dan mereka juga bergosip. Stigma Raymundo tentang orang-orang wedding yang selalu serius terpatahkan. Raymundo mengetik pesan.


๐Ÿ’Œ : Hari ini libur! Bersenang-senanglah! ๐Ÿฅฑ๐Ÿฅฑ๐Ÿฅฑ๐Ÿ˜”๐Ÿ˜”๐Ÿ˜” (Love)


๐Ÿ’Œ : Nona?! Kita punya banyak kerjaan. (Kay).


๐Ÿ’Œ : What? (Charl).


๐Ÿ’Œ : Hari ini libur. Besok lembur 24 jam. (Love).


Tak ada balasan lebih lanjut. Raymundo menutup mata, ingin di ranjang lebih lama walaupun lengan pegal-pegal dan kesemutan.


Bellova menggeliat, menggaruk ujung hidung lalu membuka mata perlahan, katupkan lagi. Gesekan hidung pada sisi tubuh Raymundo. Merem lagi. Mengendus Raymundo Alvaro, sedikit menghirup seakan Raymundo secangkir cokelat.


Bellova telah lakukan hal-hal semacam itu, menghirup, menghisap, menjilati, mengunyah, memakan daging tubuh bahkan menggigit Raymundo, sisa menelan saja yang belum tersalurkan. Bellova berubah kanibal saat mabuk, perkasa, sadis dan menakutkan.


Mata Bellova terbuka lagi, mengangkat kepala, menyipit dan amati Raymundo Alvaro.


"Apa yang terjadi? Mengapa Anda di sini?" tanya Bellova.


Bellova gunakan "Anda" pagi ini dan meneriaki Raymundo Alvaro "Brengsek" banyak kali semalam. Yang tadi malam lebih jujur.


Bellova menguap, lalu, menganga seakan setengah potong ingatan melambai di depan mata. Terbatuk-batuk kemudian tenggelam di dalam selimut. Mendesis juga mengumpat. Mengapa menggila semalam? Apa yang terjadi? Membenci diri sendiri. Benar-benar ceroboh. Greg jelas menaruh sesuatu di minuman penyebab Raymundo Alvaro murka.


"Aku tiduri pria yang akan menikah seminggu lagi," keluh Bellova lantas berbalik badan. Tengkurap dan mendekap bantal guling. Meringis oleh lindasan pegal, letih seperti habis lari maraton lintasi separuh negara.


Bellova segera patah hati.


"Kamu benar-benar mencintaiku?" tanya Raymundo pelan.


"Apa akan mengubah keadaan? Apakah Anda akan batalkan pernikahan dan berlari denganku? I see, aku akan jadi simpananmu." Bellova menghela napas kasar. "Pergilah sebelum ada yang melihatmu dan jangan kembali!"


Bellova jadi sensitif. Raymundo bernapas berat.


"Tak ada yang istimewa dariku."


"Hatiku putuskan."


Bellova kembali berbaring. Pejamkan mata, kepala masih pusing. Dan 30 % gaun Viviane harus selesai hari ini. Bellova sinis pada diri sendiri, karena tiduri calon pengantin pria, salah satu customernya. Luar biasa.


"Apakah kamu rasakan sesuatu?"


"Apa maksud Anda?" tanya Bellova tanpa berbalik. Pakaian berserakan di lantai. Tak jauh, kemeja putih tergeletak telah kehilangan bentuk.


"Mual atau gejala lain?"


"Maksudmu ..., aku mungkin hamil?"


"Ya."


"Apakah kamu akan berhenti nikahi Nona Viviane andai aku hamil?"


"Lupakan!" sahut Raymundo pendek. Kepergok tidak nyaman bahas masalah itu.


"Berapa kali kami bercinta?" tanya Bellova pada bantal.


"Tiga ..., mungkin empat ...."


"Brengsek."


"Jangan mengumpat padaku! Kamu terus teriaki aku, buka celanamu!"


"Jangan bercanda, Tuan. Aku bukan wanita murahan." Bellova berbalik marah pada Raymundo Alvaro.


"Kamu tidak murahan tetapi ceroboh. Mencium pria asing, kencani pria asing. Ini serius Bellova. Jangan pernah lagi pergi dengan pria asing!" tegur Raymundo tampak tak terganggu dengan bibir bengkak dan wajah penuh cakaran. Juga, leher penuh bekas merah keunguan bahkan bekas gigitan. Okay, cukup bukti bagi Bellova bahwa betapa ganas dirinya semalam.


"Maukah Anda minum denganku?" tanya Bellova tak hilang asa, meski hatinya perih. Ia mengemis pada Raymundo Alvaro. Ingin bersama pria itu.

__ADS_1


Tak menyahut.


"Aku mencintaimu!" Bellova harus mengakuinya. Pria ini wajib tahu.


Pandangan mereka bertemu. Bellova tak bisa menarik kesimpulan dari ekspresi datar. Namun, ia segera sadar, pengakuan tak mampu merubah segala hal.


"Aku tak bisa."


"Lalu, mengapa mengikutiku?"


"Aku tak tahu."


"Mengapa ada di kamarku?"


"Aku mencemaskanmu."


"Mengapa?"


"Aku tak tahu."


"Tak tahu?"


"Greg bukan pria baik-baik."


"Biarkan saja aku dan hidupku! Apakah kamu baik untukku?"


"Aku juga tidak. Tetapi, aku tak akan curang dengan mengisi sesuatu dalam minuman seorang wanita."


"Apa maumu?"


"Aku tak tahu."


"Kita melayang seperti kupu-kupu pelangi dan kamu menyebut namaku sebanyak helaan napas. Apakah semua itu sama sekali tak berpengaruh bagimu? Baiklah, kamu menyimpan seseorang di hatimu, bisakah biarkan aku melangkah dan ambil bagian? Mungkin suatu waktu kamu jatuh padaku."


"Aku akan menikah 10 hari lagi, undangan telah disebar. Tak ada harapan."


"Lalu, mengapa berkata: aku milikmu hanya kamu?" seru Bellova marah.


"Aku tak tahu apa yang aku katakan."


"Baiklah, kamu hanya asal bicara," angguk Bellova tak mengerti Raymundo Alvaro sama sekali. "Lanjutkan hidupmu. Abaikan aku! Please, jangan campuri hidupku. Cukup bagiku tak bisa milikimu, jangan buat orang lain berpikir aku mengganggu pernikahanmu."


Bellova pejamkan mata.


Pria ini katakan; aku milikmu hanya aku. Mungkin maksudnya, Bellova milik Raymundo Alvaro hanya Raymundo Alvaro tetapi Raymundo Alvaro bukan milik Bellova, tak akan pernah.


Relasi kacau macam apa ini?


"Pergilah, Tuan! Please! Aku berharap kita tak pernah bertemu lagi."


Raymundo turun dari ranjang, pergi ke kamar mandi. Bellova mengeluh. Gemercik air tak lama berselang.


Menatap menembus ke luar jendela. Langit mulai memutih. Bernapas di atas kesakitan yang tak terperihkan, Bellova mengutuk. Ini sangat-sangat pahit.


Mengapa sangat tidak beruntung dengan para pria?


"Aku tak perlu nikahi siapapun. Hanya akan melajang sampai tua dan mati. Hanya perlu cintai diri sendiri."


Pria yang ia tiduri semalam tak bisa bersamanya dan Bellova tak ingin jadi pelampiasan Raymundo Alvaro setelah pernikahan pria itu.


Raymundo Alvaro keluar tak lama kemudian dari kamar mandi. Bellova tenggelam di bantal Mengambil waktu hibur diri juga sembuhkan luka. Tak akan mudah. Ponsel berdering.


"Bersihkan dirimu, Bellova!"


"Tinggalkan saja aku dan tutup pintunya! Pergilah sebelum anak-anak datang dan temukan bos mereka bermalam dengan klien mereka yang akan menikah. Aku mungkin akan bekerja sendirian dan reputasi kakakku akan hancur."


Tutupi kepala dengan bantal.


"Ya."


"Kami di depan."


"Ya, aku datang."


Raymundo bicara di ponsel sambil melangkah keluar kamar, menutup pintu. Turuni tangga menuju lantai dasar. Pintu dibuka sedikit. Axel Anthony dan Queena masuk.


"Aku bawa ini, kita bisa sarapan bersa ...." Terpotong. Queena turunkan kaca mata gelap. anak mata melongok pada Raymundo Alvaro.


"Apa yang terjadi denganmu, Tuan?" Queena keheranan.


"Apakah ada pertikaian di tengah kerja tim?" Axel Anthony berdehem sedikit. "Queena?" tegur Axel Anthony pada istrinya, saat Queena oleh naluri memeriksa pria di depannya.


"Aku seorang dokter. Ini biasa bagiku."


"Aku baik-baik saja." Raymundo menghindar.


Raymundo hanya terlilit handuk putih, bagian dada penuh cakaran hebat kuku-kuku tajam, bibir bengkak dan wajah penuh goresan bahkan sayatan. Ada banyak bilur merah kebiruan, sebagian lagi keunguan di hampir seluruh tubuh. Dada atas seperti alergi, kemerahan parah. Deretan bekas gigi ada di mana-mana, di leher dan bagian dada.


"Oh ya, Tuhan. Apa Bellova sangat marah padamu?"


"Seperti terlihat."


Mereka pergi ke lantai atas. Queena di depan, menenteng keranjang berisi sarapan.


"Punggungmu seperti dicambuk cemeti." Axel Anthony menegur lagi.


"Kukunya lebih tajam dari cemeti."


Axel Anthony berdecak.


"Trims sudah datang, Bos."


"Queena ingin semangati Bellova," balas Axel Anthony.


"Ini akan berakhir buruk."


"Kamu bisa menyerah soal Viviane."


Raymundo menghela napas panjang.


"Undangan telah diterima, semua orang bersiap-siap. Kita tahu ini akan jadi petaka jika pernikahan tak dilangsungkan."


"Bagaimana dengan Bellova?"


Raymundo tak menjawab.


"Aku akan bertukar pakaian."


Raymundo mengambil tas pakaian dan pergi ke kamar. Terdengar Queena mengeluh.


"Apa yang terjadi dengan tempat ini?"


Pintu tertutup. Bellova ada di kamar mandi. Raymundo memakai pakaiannya. Lalu rapikan ranjang.


Sedangkan Bellova, mandi sambil galau. Tangan mengetuk-ngetuk tembok kamar mandi. Ia sungguhan bingung, apa yang akan terjadi padanya ketika pria itu menikahi Viviane. Besok fitting pertama dengan Viviane.


Larikan diri. Bellova akan pergi menemui Belliza dan Cheryl setelah fitting seperti rencana awal. Lihat perkembangan. Juga harus temui Lucio Vargas. Dona mengirim pesan, Lucio Vargas kembali dari Perancis besok. Hari ini Bellova hanya harus bekerja keras. Tekanan semakin banyak.

__ADS_1


Keluar 20 menit kemudian, temukan ranjang rapi dan kinclong. Tak ada siapapun.


"Ya, brengsek itu pasti sudah pergi. Dia akan datang padaku nanti dan meskipun aku telah mengungkung diriku, aku akan menyerah begitu dia menyentuhku, lebarkan paha untuknya. Lalu, suatu hari orang akan menuduhku merebut suami orang. Bisnis kakakku hancur dan aku tak dapat apa-apa kecuali penghinaan. Teruslah berkarya Bellova Driely, bukankah jelas kemana kamu akan mengalir dan berakhir?"


Bellova memakai pelembab wajah sambil omeli diri sendiri.


Melangkah keluar setelah berpakaian, kejutan temukan tiga kepala di dapur sedang menunggunya. Menyangka Raymundo telah pergi.


"Pagi, Bellova," sapa Queena.


"Queena? Ini sungguh kejutan." Mangap-mangap. "Tuan Axel Anthony?"


"Bellova ..., apakah sesuatu terjadi?"


Axel Anthony mungkin melihat wajah tak bersemangat darinya. Bertanya penuh perhatian.


"Apakah kami mengganggu?" tanya Axel lagi.


"Oh, tidak. Tentu saja tidak. Aku hanya terlalu terkejut."


Datangi dapur.


"Ayo sarapan. Aku buatkan sandwich Madeira." Queena tersenyum lembut. Setidaknya ada sedikit penghiburan.


"Queena, aku sangat senang kamu berkunjung."


"Ya, aku tahu. Harimu mungkin akan sangat buruk."


Memang akan sangat buruk, karena ia terus tidur dengan tunangan orang lain dan ada pernikahan yang tidak mungkin ia ganggu.


"Ya, aku tahu."


"Aku berusaha keras untukmu. Tetapi, Ibuku punya alasan dan Tuan Raymundo telah sepakati segala hal dari awal. Jika mereka mundur sekarang, maka mungkin hanya akan ada bencana."


"Aku baik-baik saja Queena. Aku akan selesaikan pekerjaanku dan kembali mengajar. Cutiku hanya sampai perayaan Paskah berakhir."


Mereka sarapan dalam diam. Suasana hati Bellova bak alam sebelum badai. Pekat, gelap dan buruk. Sarapan berakhir baik, meski Bellova tak bisa mencerna. Hidupnya terasa sulit. Ia semakin kehilangan arah.


"Temukan seseorang yang baik, Bellova."


"Tidak. Aku hanya akan mengurusi Puteriku."


"Puteri?!" Queena mengerut keheranan. Begitu pula Axel Anthony.


"Ya. Kami punya seorang gadis kecil berusia tiga tahun."


"Kami?" Queena tak bisa menutupi penasaran.


"Aku dan kakakku." Bellova mengangguk pada sebuah pigura berukuran raksasa, di mana sepasang anak kecil bergaya ala bohemian tergantung di dinding dapur.


"Aku pikir itu hanya lukisan dirimu yang dibuat dua. Mencengangkan, sangat mirip."


"Kakakku, Belliza pemilik tempat ini. Ia punya seorang Puteri bernama Cheryl. Kakakku menikahi ...."


"Bellova?!" Raymundo Alvaro beri peringatan.


"Oskan Devano, pria yang berencana membunuhmu, Queena."


Suasana mendadak dingin.


Raut Axel Anthony tadinya melembut pada Bellova berubah cepat kelam, beralih pada Raymundo. Menatap tajam Raymundo Alvaro. Sesuatu telah rusak di antara mereka. Kepercayaan dan ikatan lain.


"Tuan Alvaro mencari Oskan Devano dan Belliza hendak membunuh Oskan Devano atau siapapun orang terdekat Oskan. Kakakku koma dua tahun lebih dan aku gantikan Belliza untuk sebuah keperluan. Tuan Raymundo datangi rumah kakakku, masuk ke rumah kami, pergi ke kamar mandi dan menodong pistol di keningku, menyangka aku Belliza."


"Raymundo?!" Queena menyipit tak percaya. "Impor bahan baku? Kencan dengan Bellova?"


"Bellova? Bukankah kamu terlalu banyak bicara?"


"Aku menjual diriku dan sesuatu yang berharga dariku pada Tuan Alvaro demi nyawa Oskan Devano dan Belliza."


"Bellova ...." Rahang Raymundo kaku. Sesuatu dibalik pipi pria itu tercetak jelas.


"Aku perlu beritahu Anda, Tuan Axel Anthony, tentang ini. Oskan Devano selingkuh dari kakakku dan hamili adik perempuan Tuan Alvaro, harusnya untungkan kami dengan kematiannya. Tetapi Oskan merawat Puteri kami dengan baik dan segalanya bagi Cheryl. Semuanya akan kacau jika Oskan mati."


"Lalu, jika istriku mati bagaimana dengan Puteriku, Bellova?" tanya Axel Anthony dingin.


"Aku sangat sedih untuk kita. Tetapi, Anda sangat kejam jika ingin habisi Belliza dan puterinya hanya karena mereka orang terdekat Oskan."


"Axel, apa yang aku dengar ini?"


"Queena ...."


"Tidak seperti ini." Raymundo membela tindakan mereka.


"Raymundo?" Queena beralih pada Raymundo Alvaro.


"Kami tak terlibat dengan kegiatan Oskan Devano." Bellova bicara lagi.


"Bellova, cukup!" tegur Raymundo Alvaro keras.


"Abaikan peringatanku dan nyaris saja menembak orang yang tidak bersalah, aku pikir, dirimu dan Raymundo setidaknya berubah sedikit baik." Queena menatap suaminya.


"Aku akan habisi siapa saja yang berani menyentuhmu, Queena. Itu aturan baku."


"Hentikan, Axel Anthony!"


"Queen, tidak seperti itu!"


"Lalu?" Queena menyerang langsung pada Raymundo. "Aku muak pada dunia yang kamu dan Axel Anthony jalani, karena dunia itu akan terus berlangsung dan diwariskan pada anak-anak kita." Queena menghardik, bangkit berdiri. Wajah Queena sangat marah.


"Queena!!!" Axel Anthony dan Raymundo Alvaro bangkit bersamaan.


"Aku akan menemuimu nanti, Bellova." Queena pergi dengan cepat. Axel Anthony mengejar dengan wajah tegang.


"Queena, hei ...."


Raymundo Alvaro amati Bellova dalam diam setelah tak terdengar apapun. Hanya kebisuan. Tatapan mata menusuk Bellova sangat dalam. Sekali ini jelas pria itu marah.


"Aku pertaruhkan diriku, memilihmu dibanding keluargaku! Kamu merusaknya."


"Bukankah Queena dan Tuan Axel Anthony perlu tahu, siapa aku sebenarnya?"


"Bravo."


Raymundo Alvaro bangkit berdiri.


"Aku pergi."


"Jangan mengikutiku, mengawasiku dan mengambil kesempatan dariku!" ujar Bellova dingin.


"Tidak lagi. Selamat tinggal, Bellova!"


"Pergilah! Pergi saja!" seru Bellova ketika Raymundo Alvaro bergerak ke tangga, terus melangkah kaku tanpa menengok. Bellova tak bisa mencegah perpisahan ini.


Kaki-kaki panjang turuni tangga. Kepala segera hilang dari pandangan Bellova begitu pula separuh nyawa Bellova, ikut bersama Raymundo Alvaro.


***

__ADS_1


Aku sedikit kelelahan untuk menulis chapter karena sibuk.


Tinggalkan komentarmu di bawah ini!


__ADS_2