
Dugaan Bellova salah.
Raymundo Alvaro ternyata hanya awasi lurus punggung Bellova sejak Raymundo berbaring dalam tenda. Tubuhnya telah mengejang oleh lecutan tak henti pada bibirnya. Raymundo Alvaro singkirkan topi dingin.
"Jadi, wanita itu adalah Queena?" Bellova berganti topik, terakhir kali Bellova lemparkan percakapan sensitif, mempan musnahkan gairah Raymundo Alvaro.
Bellova bicara sangat pelan atasi napas memburu. Raymundo Alvaro tanpa atasan, tanpa jarak dan ciuman kejar tayang cukup sebagai pemicu. Bellova meredam riak dalam dirinya, tetapi ia tak bisa mencegah suaranya berubah serak.
"Apa itu penting?" Raymundo perhatikan Bellova dibantu sedikit penerangan dari luar. Napas hangat Raymundo menerpa wajah Bellova.
Ulurkan jemari mulai membelai wajah Bellova, di bawah mata turun ke bibir. Beritahu Bellova perihal keinginan didesak hasrat. Tangan Raymundo sampai di ujung sweater, lepaskan kancing teratas lalu secara beruntun semua kancing.
Bellova tak mungkin bisa hindari ini.
Pria itu bangkit, menarik Bellova serta. Keluarkan Bellova dari sweater. Bawa Bellova ke pangkuannya. Miringkan sedikit kepala singgah di rahang Bellova, turun ke leher menyesap pelan-pelan. Mengangkat wajah untuk menangkap reaksi Bellova.
Dalam redup, bola mata besar berisi tatapan mata penuh energi, tubuh selembut beludru, Bellova Driely bak titisan Dewi, sempurna dalam semua dimensi. Secantik ini, punya banyak mantan pacar dan wanita ini mengaku masih perawan, bukankah sesuatu yang sangat aneh? Terlebih Bellova tampak sedikit agresif.
Tangan kiri Raymundo lingkari pinggang Bellova. Sedangkan tangan kanannya berlarian di punggung mulus, mengelus. Bibirnya tak berhenti berakrobat. Menyentuh apa saja yang dapat dijangkau. Bellova telah melenguh di pucuk kuping Raymundo.
Ada hubungan dimulai dari cinta pada pandangan pertama, cinta karena terbiasa bersama atau cinta dipaksakan. Ada persahabatan jadi cinta, musuh kebuyutan jadi cinta, ada macam-macam. Beberapa di awali dusta.
Bellova pikirkan dirinya dan Tuan Alvaro yang memilih jalan "tubuhmu dalam tubuhku" tanpa ikatan, tanpa libatkan perasaan, hanya dua orang asing menjelang pagi bersama. Sangat spesial karena ini akan jadi pengalaman perdana.
"Easy on me, Bellova," bisik Raymundo berat ketika rasakan tubuh gelisah Bellova.
Kembali ke bibir Bellova. Berhenti sebentar, awasi Bellova. Tanpa Bellova sadari, memori otak menyimpan wajah Raymundo Alvaro. Kompleksi kasar, jahat dan tak berperasaan yang mulai menyala, sepenuhnya merubah persepsi tekstur meskipun Raymundo Alvaro berusaha kendalikan wajah. Pria ini punya aura hot man forever saat otot-otot lengan tersembul kencang, tetapi cara kerja tangan-tangan maskulin itu begitu feminim pada kulit tubuhnya.
Tatapan mata mereka bertemu, Bellova memeluk leher Raymundo, tanpa tekanan dan tenang membalas ciuman pria itu. Kulit saling menempel dan bergesekan. Berlabuh di leher Raymundo, menjelajahi semua titik di mana geraman sensual buat Bellova semakin bersemangat.
Di sini akhirnya Bellova akan berikan hal berharga darinya, pada pria asing. Dan senang mengetahui Tuan Alvaro sama perjaka dengan dirinya.
Pejamkan mata ketika Raymundo Alvaro baringkan ia dengan hati-hati dan merangkak di atasnya. Ada sentuhan dari bibir dingin di puncak-puncak sensitif menarik tubuh Bellova melengkung. Sukai suara-suara lembut yang membakar gelora. Juga kaki-kaki indah Bellova begitu estetis menekuk di atas matras tenda.
Telunjuk Raymundo melangkah di atas permukaan kulit. Hanya hal sederhana, tetapi Bellova telah rasakan sensasi itu menjalar ke seluruh tubuhnya. Terengah-engah tanpa dapat dicegah. Sampai di gambar keberuntungan di atas permukaan ginjal Bellova. Tak ada sisa pakaian sebagai payung dapat selamatkan tubuh dari sentuhan. Hanya hangat dan mulai berkobar-kobar. Rasakan ketukan napas cepat.
__ADS_1
"Kamu mungkin tak akan tahu hadapi serangan sentimen pada dirimu sendiri setelah ini, Tuan Alvaro."
"Calma, Bellova, (Tenanglah, Bellova)" bujuk Raymundo Alvaro, meraih tangan Bellova agar bermain dengannya.
Ciuman jadi lebih panjang tanpa jeda. Buang jauh-jauh ketidak-nyamanan, ciptakan kesenangan melalui sensasi.
"Apa kita butuh pelindung?"
Bellova tanpa sadar menggeleng. Bukankah ia harusnya mengangguk?
"Mungkin tak akan nyaman."
Oh Bellova, ini gila.
Bellova menyangga tubuhnya perhatikan pria yang bekerja keras satukan mereka. Merinding antara ngeri juga sesuatu yang lain. Pria ini dan seluruh tubuh sama bengisnya, tetapi Bellova sangat ingin berkelana dengan Raymundo Alvaro.
Abaikan setengah lusin pengaman, Raymundo perlu selaraskan kekuatan dan kelembutan agar bisa mengisi Bellova tanpa timbulkan sakit, sedang awan hitam kelabu lahirkan bayi-bayi hujan menitik pada terpal tenda. Angin mengerang di pucuk-pucuk dedaunan iringi pagutan dan perburuan.
Ada musik di kepala Bellova. Dentingan piano dari lagu You and Me in Rainy Days, ketika sesuatu menyengat di bawah sana. Bellova sedikit menjepit kakinya, berusaha keras tak panik, hingga Raymundo butuh banyak rayuan untuk ciptakan nyaman.
"Do you like us like this, Bellova?" tanya Raymundo pelan di antara deru napas yang berkejaran.
Bellova mengangguk, tak bisa bohongi bahwa ia sedikit tak nyaman, tetapi menyukai adegan panas ini.
"Apa kamu ingin berhenti?"
"Tidak."
Mereka berciuman.
Banyak tekanan, Raymundo Alvaro jatuh semakin dalam. Tak ingin melangkah keluar dari surga, di mana pinggul Bellova menghipnotis dan kedalaman Bellova ciptakan sejenis candu beracun. Sedangkan Bellova secara alami gerakan tubuh sesuaikan ritme. Menggelepar ketika kecepatan dan tekanan padanya semakin intens, pejamkan mata di leher Raymundo. Tak bisa berkata-kata.
"Bellova ...."
Namanya semakin sering diucap. Bellova membungkam erangan yang pecah dari bibir si pria dengan bibirnya. Rasakan sesuatu membungkusnya dalam kelembutan dan kehangatan, ia telah menerima Raymundo Alvaro secara utuh di dalam dirinya. Menggigit bibir kuat, takut pada apa yang mungkin akan terjadi. Namun, terlalu terbakar gairah.
__ADS_1
Takluk di bawah tuntutan dasar kefanaan, Raymundo Alvaro meraih tubuh polos Bellova untuk didekap erat. Diselimuti rapat dan kaki-kaki mereka bertautan.
"Aku harus pulang besok pagi. Kami punya jadwal latihan drama untuk pentas amal. Kepala Sekolah pasti tak baca jadwal ketika ijinkan Anda membawaku," kata Bellova di dada Raymundo setengah jam kemudian ketika rintik hujan tinggal satu-satu dan napas kembali normal.
"Aku mengancamnya."
"Mengancam Tuan Benjamin?"
"Ya, Caesar Benjamin sepupuku. Ponakan Ibuku."
Bellova melongo. Tak pernah tahu. Tentu saja, mereka tak saling bahas silsilah keluarga di sekolah.
"Apa kamu tidak kesakitan?" tanya Raymundo.
"Aku terkejut Anda miliki 80 persen gerakan feminitas."
"Apa kamu tidak menyesal? Aku tak cocok untukmu dan kamu bukan tipeku."
Bellova terdiam.
Apakah wanita seperti Queena? Apakah Anda berhasil menghapus sedikit jejak?
"Ya, aku ceroboh dan lemah," keluh Bellova merasa konyol sebab ia hanya tampak seperti itu di depan Raymundo Alvaro. "Ada baiknya kita lupakan malam ini, Tuan. Mari lanjutkan hidup masing-masing." Bellova bicara tak seyakin kedengarannya.
"Aku akan antarkanmu besok pagi-pagi ke bandara."
Raymundo Alvaro tertidur tak lama kemudian sedang Bellova merasa aneh pada dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia menyerah dengan mudah pada Raymundo Alvaro? Namun, tak ada penyesalan. Mereka tak minum alkohol untuk berbagi sesuatu yang intim. Dilakukan dengan kesadaran penuh.
Apakah pria ini akan tetap menuntut Miradoura?! Oskan jelas bermasalah, Bellova akan menerima uang dari Raymundo Alvaro dan berpikir untuk menggugat hak asuh Cheryl.
***
Tinggalkan komentar Anda di bawah ini. Di chapter setelah ini juga. Alasan aku terus menulis. Terima kasih.
Cintai Aku.
__ADS_1