
Lucio Vargas dan Raymundo Alvaro masih berbagi kerumitan hidup atasi masalah sama, mana Belliza dan mana Bellova?
Sementara para sahabat menanti. Terpaku pada pria yang tutupi kebingungan di atas wajah datar tanpa ekspresi juga pria lainnya hanya terus kerucutkan bibir, satu alis terangkat tinggi.
Enrique Diomanta dan Axel Anthony bertingkah layaknya komentator dari meja mereka.
"Jika Romeo gunakan logika maka ini akan berakhir tanpa solusi."
"Aku yakin Romeo kenali Juliet," hibur Axel Anthony mengenal Raymundo lebih baik daripada ia mengenal Hector Anthony atau Jonas Anthony. Itu karena Raymundo Alvaro selalu bersamanya.
"Ya ya ya, aku harap Romeo tak lakukan kesalahan atau Juliet akan sangat kecewa."
"Instingnya sangat tajam, H. Romeo selamatkan kita banyak kali."
"Ya, kamu benar Ax."
"Bukankah Bellova dan Belliza ingatkan Anda pada seseorang, Tuan?" sambar Irishak Bella dari samping suaminya hingga sang suami terdiam beberapa waktu. Segera siuman kemudian hempaskan napas penuh beban.
"Irishak ..., apakah kita perlu merusak suasana?" Enrique Diomanta menatap tajam Irishak, bicara sangat dingin hingga mau tak mau buat Queena bertanya lewat tatapan matanya pada Irishak, "apa yang terjadi?"
"Apa sesuatu terjadi?"
Queena menoleh pada pasangan di seberang mereka tak menunda ajukan pertanyaan. Queena sepertinya baru sadar sedang ada perang dingin. Menyesal karena tak peka.
Queena dan Irishak pernah bersembunyi dari para pria selama tujuh tahun lamanya dan besarkan anak-anak mereka di sebuah lembah yang tenang tanpa sadari bahwa Axel Anthony, Hellton Pascalito dan Raymundo Alvaro mengintai mereka selama bertahun-tahun.
Irishak meneguk minuman sedikit. Bibirnya sedikit maju seolah berikan jawaban, "mungkin" pada pertanyaan Queena.
"Ibel?!"
"Suamiku sembunyikan beberapa hal dariku," keluh Irishak hingga suasana di meja mereka hilang ketenangan. Ini sungguh meresahkan karena setelah bertahun-tahun Irishak masih merasa terluka karena pengkhianatan semu.
"Oh ayolah, Irishak." Enrique Diomanta menggeram tidak suka.
"Mungkinkah ini berkaitan dengan Magdalena dan Marta?" tanya Axel Anthony penuh perhatian pada Irishak, tak percaya mereka akhirnya akan menyinggung nama-nama paling tabu bagi Irishak.
Queena berpaling pada sang suami.
"Kamu tahu, Axel Anthony? Dan tak beritahu aku?" serang Queena tentu saja setia kawan pada Irishak. Axel Anthony nyaris kesedak minuman oleh tuduhan Queena.
"Hei ... hei ... tidak seperti yang ada di bayanganmu dan Irishak."
Axel Anthony tahu bahwa Enrique Diomanta kembali dari Zaragoza dan Freya Simone, wanita yang buat Irishak risau hubungi Enrique Diomanta dari rumah sakit angkatan darat. Belum ditanggapi tetapi murka Irishak lebih dulu meletus.
"Lupakan saja! Aku hanya mengacau!" Irishak anggukan gelas berisi minuman kearah Raymundo. Kesal terbaca jelas di wajah cantik Irishak.
"Kita akan bahas masalah ini di rumah, Irishak," tegur Enrique. "Atau tidak diperlukan. Kita pernah berjanji untuk tidak kompromi pada masa lalu."
"Kita lihat seberapa kokoh Anda menahan diri, Tuan," pancing Irishak dengan gaya bicara khas seorang jurnalis saat sedang sangsi pada narasumber. "Anda sembunyikan sesuatu dariku!"
"Irishak, aku tidak sembunyikan apapun. Aku hanya tidak beritahu padamu karena kupikir kita sepakat bahwa tak akan berurusan dengan masa lalu lagi. Apakah aku salah?"
Tatapan keduanya seakan mampu buat udara di sekitar jadi kering kerontang.
Sedangkan Lucio Vargas lepaskan kancing teratas kemeja, gerah sendiri.
"Dengar, ini penting bagi kalian berdua," tegas Lucio Vargas. "Tolong jangan gunakan dress seperti ini lagi!" Lucio Vargas menahan matanya agar tak bergerak ke bawah. Sungguh buruk ketika ia tak berhasil.
"Lucio benar," angguk Raymundo setuju. "Apakah pabrik kain di negara ini pailit dan dibekukan?"
Dress si kembar terlalu pendek, mungkin cuma satu jengkal dari bo*****. Dress juga terlalu ketat menempel di tubuh hingga lekukan tubuh tercetak jelas dan sungguh menantang. Raymundo berdecak tiba-tiba ingin punya ilmu sihir untuk ciptakan kabut tebal di sekitar dua wanita di depannya.
Para wanita hanya mengulas senyuman kecil. Raymundo berpikir, perlu memancing keduanya untuk bicara. Oh ya Tuhan. Tanpa petunjuk berarti dan tak mungkin bawa Cheryl ke klub agar bisa kenali para Mommy.
"Suara mereka berbeda," bisik Lucio Vargas seakan paham jalan pikiran pria di sebelahnya. "Belliza lebih jernih."
"Kamu benar." Raymundo berbalik pada Lucio Vargas. "Kuharap kita tak perlu bersama dalam satu rumah untuk sebuah urusan!"
"Uhhum, mungkin hindari tidur di malam hari saat kita berkumpul," sambung Lucio Vargas mengelus kening.
"Mari bermain," putus Lucio Vargas akhirnya. Mungkin mereka bisa melempar kail dan memancing. Sedikit berpikir. "Aku ingin mengulang beberapa kenangan." Menyipit, perhatikan reaksi kedua wanita. "Aku sering nyanyikan lagu untuk Belliza. Maukah beritahu aku lagu apa?"
"Eternal flame. Kami menyukai lagu itu," jawab wanita bergaun peach pasti tanpa berpikir panjang diikuti senyuman seakan-akan ia punya memori itu.
"Dan Ayer dari Tuan Enrique Iglesias," tambah wanita bergaun merah. Suara mereka sama bahkan miliki ritme napas satu.
Tentu saja sama, Bellova bisa meniru suara Belliza dengan baik mungkin sebaliknya. Bellova mungkin menahan serak di tenggorokan hingga terdengar lebih jernih mirip Belliza begitu pula Belliza, miliki cara menyerupai Bellova. Jika Oskan salah sangka mengira Belliza adalah Bellova berarti memang Belliza punya kemampuan yang sama, meniru Bellova.
"Well, baiklah," jawab Lucio Vargas coba tempuh jalan lain karena ini tak akan berhasil. Para wanita sepertinya berbagi rahasia termasuk yang paling int***.
"Seberapa baik Anda mengenal Belliza, Tuan Vargas?" tanya wanita bergaun merah. "Dan Anda Tuan Alvaro? Seberapa baik Anda kenali Bellova?"
Tak ada yang menjawab pertanyaan sulit itu.
"Tidak cukup baik sepertinya, Bell," sambung wanita bergaun peach.
"Kamu benar, Bell," angguk wanita bergaun merah lekas merana.
"Itulah mengapa kita perlu permainan ini? Mungkinkah kalian berdua takut kejadian Oskan terulang kembali?" tebak Lucio Vargas.
Kedua wanita berhenti senyum. Bibir sensual merah menyala dan sangat menggoda hanya sedikit tertarik ke sudut-sudut.
"Bisa jadi salah satunya," sahut wanita bergaun merah. "Beberapa waktu lalu, Tuan Lucio Vargas menyangka Bellova adalah Belliza di pertemuan pertama. Sedangkan Tuan Raymundo Alvaro buat keributan karena mengira Belliza adalah Bellova."
Seperti dugaan Raymundo Alvaro ada alasan Twin BB ciptakan kebingungan ini? Hanya ingin kekasih mereka masing-masing tandai keduanya bukan saja dari wajah dan kepribadian, tetapi sesuatu yang lebih krusial. Hati para pria harus mampu mengidentifikasi kekasih mereka masing-masing.
Raymundo menyipit, rahang mengatup. Tulang rahang tercetak jelas dibalik kulit.
Sementara Lucio Vargas terpaku pada wanita bergaun merah. Hatinya mengarah ke sana. Namun, terselip ragu karena Belliza tak pernah segan ekspresikan dirinya. Wanita bergaun merah hanya tersenyum kalem dan tenang bergantian mengisi sisi wajah.
"Oh persetan," keluh Raymundo Alvaro tak sabaran, melanggar aturan yang ia buat sendiri. Meneguk minuman sampai tandas. Datangi kedua wanita yang langsung saling merapat. Mata awasi dirinya. Raut mereka sama, was-was.
"No no no, Raymundo Alvaro!" Tangan Lucio Vargas pegangi mantel Raymundo cegah tindakan gegabah Raymundo Alvaro. "Aku sungguhan tak akan maafkanmu jika kamu menyentuh milikku," ujar Lucio Vargas tak senang pada keadaan.
"Aku hanya gunakan insting primitifku," balas Raymundo Alvaro.
Sementara teman-teman mereka menahan napas saat si pria datar dekati dua kembar dalam dua langkah panjang.
Raymundo mengernyih pada wanita bergaun merah yang tersenyum lembut padanya. Balas sorot tajamnya dengan mata teduh dan tenang. Tersenyum.
Apakah Bellova?! Bisa jadi. Meragukan.
__ADS_1
Raymundo beralih pada wanita satunya lagi, tatapan hampir sama tenang, begitu luwes, begitu pretty tanpa emosi berlebihan.
Raymundo Alvaro cukup dekat dan tak sadar mengendus pada wanita bergaun peach. Ini membingungkan karena instingnya bergerak-gerak bak jarum kompas. Pejamkan mata, sangat berani ketika menghirup aroma memikat di bahu mulus polos terbuka. Bibirnya bergerak di atas kelembutan.
Raymundo mendadak ulurkan tangan, merengkuh pinggang wanita bergaun peach hingga si wanita terkejut. Raymundo Alvaro nikmati saat si wanita berhenti bernapas dalam sekejab sebelum menghangat. Terburu-buru.
Kencangkan lengan penuh tuntutan memaksa mata-mata tengadah padanya, kemudian mereka bertemu. Ada hasrat membara di iris kehijauan, sangat cepat menjalar bak virus tepat di jantungnya. Pijaran keindahan yang sama seperti ketika mereka akan bersama lewati malam di tenda lalu di studio. Raymundo Alvaro rasakan bulu kuduknya meremang oleh suasana sangat klasik dan romantis. Tak buang waktu dan tanpa keraguan, eratkan pelukan lengan pada si wanita.
"Berani sekali lepaskan cincin tunanganmu?" Raymundo berguman berat di puncak kuping si wanita. Mereka sedikit bergerak ikuti musik. Menarik tangan bebas si wanita ke dadanya.
"Yakin ini aku?" Bertanya pelan.
"Tidak, aku tak yakin."
"Apa?!" Panik. Secara alami suara berubah jadi serak.
"Aku hanya spekulasi."
Terdengar erangan kecewa. Raymundo menyeringai senang di permukaan rambut si wanita. Baiklah, Sayang, mari bermain-main. Melirik Lucio Vargas yang masih mematung.
"Kau menyedihkan Lucio Vargas!" ejek Raymundo Alvaro berharap Lucio Vargas dengar umpatan paling tulus dari dalam benaknya.
"Bagaimana jika aku bukan Bellova?"
"Tak masalah."
"Tak masalah?" Kecewa.
Raymundo Alvaro sunggingkan seringai jahat. Si wanita terang-terangan cemburu.
"Ya, aku tak keberatan. Belliza dan Cheryl akan bahagia bersamaku. Bellova selalu inginkan kakaknya bahagia."
"Oh aku pikir Anda sungguh-sungguh mencintai Bellova!" Bukan pertanyaan tapi nada seru.
"Aku mencintai Bellova tapi jika Bellova bermain-main dengan perasaanku, aku juga bisa."
"Oh ya Tuhan, hentikan. Itu sangat mengganggu!" Si wanita lekas bersungut-sungut. "Aku akan taburi satu kilo detergen di ranjangmu, ribuan kembang mawar dan buatmu menderita berhari-hari."
"Ancaman yang bagus. Permainanmu berakhir, Bellova."
"Aku tahu ini hanya akan sia-sia saja."
"Mengapa pikirmu begitu?"
"Anda tak bisa bedakan kakakku dan aku!"
"Aku bisa."
"Katamu tadi cuma spekulasi?"
"Aku berbohong."
"Bagaimana caramu kenali aku?"
"Hatiku mengenalimu."
"Bohong."
"Apakah aku menatapmu seperti itu tadi?" Bellova tak percaya sedikitpun pada Raymundo Alvaro, tak sadar lekas mengaku. Menggigit lidah tapi terlambat, pria yang memeluknya satukan kening mereka. Sukai gerakan selaras saat ia memeluk pinggang Bellova.
"Kita akan menikah besok. Aku akan menyiksamu sebelum pesta berakhir."
Bellova lekas merona merah. Apa yang akan terjadi besok? Mereka akan bersama untuk ketiga kalinya. Di mana mereka akan habiskan malam pertama setelah sah jadi suami istri? Bellova penasaran.
Raymundo lepaskan Bellova, lepaskan mantel dan membungkus bahu polos Bellova. Terusik pada paha putih mulus Bellova juga bo****g indah yang tak bisa hentikan dirinya segera jelajahi mimpi paling liar.
"Bukankah gaun ini hanya cocok dipakai dalam ruang tidur untuk menggoda suamimu?" Sesak napas.
Bellova tersenyum geli.
"Aku meniru dirimu. Aku tak ingin ditebak."
"Kita bisa pergi dari sini. Aku tak suka acara ini!"
"Aku akan bersama kakakku malam ini."
"Tidak, tidak!" geleng Raymundo cepat. "Aku akan bersamamu dan nyalakan mataku 24 jam hingga fajar datang."
Raymundo melambai pada semua orang, pamitan padahal acara sama sekali belum dimulai. Lucio Vargas muncul di depan mereka pegangi bahu Belliza yang telah berganti ke kemeja. Dressnya berubah jadi span skirt. Desainer bebas berekspresi. Kecantikan Belliza tak berkurang.
"Mau kemana?" tanya Lucio Vargas heran. Tuan pesta pergi sebelum pesta dimulai.
"Kami punya urusan mendesak."
"Bellova akan bersamaku." Belliza ulurkan tangan pada adiknya.
"Tidak, aku tak suka ada dua orang wanita datang di pernikahanku besok pagi kenakan gaun yang sama."
"Tentu saja tak mungkin terjadi. Kami hanya sedikit bereksperimen pada perasaan Anda berdua tadi, Tuan." Belliza menyahut lembut, berpaling pada Lucio Vargas. Sementara Lucio Vargas dan mata biru itu seolah bisa keluarkan cahaya amat sangat terang.
Raymundo lipat kening, tak yakin Belliza selamat dari Lucio Vargas hingga pagi.
"Hati-hati Belliza. Pria di sebelahmu mabuk anggur pisang juga mabuk cinta!"
"Apa maksudmu?!"
"Sebagai adik ipar yang baik, aku perlu beri peringatan dini," tambah Raymundo Alvaro senang lihat ekspresi jengkel Lucio Vargas padanya.
"Em, sepertinya aku tak sendiri Raymundo Alvaro," balas Lucio Vargas. "Sementara aku dan Belliza menjamu teman-teman kita hingga malam, aku menerawang ke mana kamu akan berlari bersama Bellova." Lucio Vargas kibas-kibaskan tangannya di dekat kening Raymundo Alvaro. "Aku melihat banyak asap keluar dari sini. Berhati-hatilah adik ipar, pria ini sulit ditebak. Dia tergila-gila padamu malam ini, melumer seperti potongan keju tetapi tak ada jaminan ia kembali membeku macam es balok besok pagi."
Raymundo Alvaro menggeram pada Lucio Vargas.
"Pergilah, sebelum kau terbakar di sini. Jika mau, kamu bisa pinjam studioku. Ruang tidurku kedap suara, jadi, ehem ...."
"Kami pergi," potong Raymundo dingin dan menarik Bellova bersamanya tinggalkan Lucio Vargas yang terkekeh geli.
"Hei Tuan, pernikahanmu masih besok. Kamu pasti bisa tahan sehari saja." Lucio Vargas tak berhenti menggoda Raymundo Alvaro.
"Oh hentikan!" Belliza menarik Lucio Vargas bergabung bersama yang lain. Perkenalkan diri pada teman-teman Raymundo Alvaro.
Sementara Bellova digiring ke mobil. Kemana mereka akan pergi?
__ADS_1
"Kita tak bisa berkeliaran di malam hari begini sedang besok kita akan menikah?"
"Mari hirup udara segar."
Ponsel Raymundo berdering mungkin sejak tadi. Pria itu melirik ponsel, memeriksa sebentar memilih tak menggubris.
"Mengapa tak dijawab?"
"Mari pergi ke suatu tempat."
Raymundo abaikan panggilan Ibunya. Mampir di toko pakaian terdekat dan membeli celana jeans juga sweater untuk Bellova. Mampir ke sebuah restoran dan membeli makanan yang dipacking ke dalam kotak.
Deringan kedua, Raymundo mengunduh rute perjalanan tercepat. Layar di mobil berkedip-kedip. Raymundo memakai ear phone.
"Kemana kamu akan pergi, Romeo?"
"Coruche," jawab Raymundo singkat.
"Pernikahanmu jam 9 pagi, jangan sampai Juliet masuk angin. Lagipula, ada kecelakaan mobil di Avenue Invante Dom Henrique."
Raymundo akan lalui jalur itu.
"Begitukah? Apakah kita tak bisa lewat?"
"Bisa lewat hanya saja kamu butuh waktu hampir dua jam pergi ke sana."
"Hubungi José, B."
"Baiklah!"
"Apakah cuaca bagus?"
"Normal. Tak ada hujan atau angin hanya mendung."
Lepaskan ear phone. Raymundo memilih mengemudi sedangkan Bellova bingung, apa yang prianya inginkan dengan pergi ke Coruche menjelang malam begini? Apakah ada sesuatu yang menarik di sana?
"Jika kamu mengantuk, kamu bisa tidur Bellova!"
"Tidak."
"Apa kamu lapar?"
"Tidak juga. Kemana kita pergi?"
"Suatu tempat."
Bellova habiskan waktu bersihkan riasan wajahnya. Ingin mengajak bicara tapi ia tak punya topik. Kemudian malah tertidur. Ketika ia sadar, tangannya digenggam erat.
"Oh Tuan, apa yang kita lakukan malam-malam begini sedang kita akan menikah besok pagi?"
"Kita akan segera sampai."
Satu setengah jam berlalu dan Bellova tak begitu sadar karena perjalanan cukup jauh baginya. Setengah mabuk tidur ketika ia digendong. Tersenyum senang. Bersandar makin dekat di dada Raymundo. Tak peduli kemana ia akan dibawa, ia menyukai pria yang tidak biasa ini.
"Apakah kita sampai?" tanya Bellova menguap masih mengantuk.
"Ya."
"Di mana kita?"
Tak ada jawaban. Angin malam berkejaran di sekitarnya, Bellova membuka mata. Gelap. Tetapi sesuatu mendesis di atas mereka. Ia menengok dan terpukau. Cepat-cepat bangkit berdiri.
Apakah ada orang terbangkan balon udara di malam pekat begini? Bellova bergidik ngeri. Tak ada apapun hanya hamparan kegelapan.
Bellova pegangi pinggiran keranjang basket erat-erat, ngilu-ngilu. Gemetaran. Oh sial, ini terjadi di malam sebelum pernikahannya?
"Apakah kita akan pergi ke neraka?"
"Kamu takut?" Raymundo Alvaro bertanya dari belakangnya, seseorang lain sepertinya bertindak jadi pilot mereka.
"Ya, tentu saja! Ini gila! Sungguh mencekam. Bisakah kita turun?" tanya Bellova lekas panik. "Oh, aku tak pernah tahu ada balon udara bisa terbang di malam hari?"
Bellova hanya tak habis pikir. Apa yang hendak mereka nikmati?
"Tenanglah, Bellova!"
Raymundo Alvaro memeluk pinggang Bellova dari belakang, tenangkan wanita yang ketakutan. Bersandar di bahu Bellova.
"Aku sungguh tak suka ide ini, Tuan!"
"Aku tak keberatan saat jadi badut dan menghirup bunga agar bisa mengulang lamaran dan buatmu senang."
"Tapi tidak begini?"
"Kamu tak akan mati hanya dengan naik balon udara, Bellova. Tapi aku bisa mati saat terpapar banyak serbuk bunga."
"Aku akan menikahi manipulator terbaik di negeri ini!" keluh Bellova berbalik. Tangannya berkeringat dingin.
"Aku hanya ingin bersamamu," potong Raymundo Alvaro membungkam protes Bellova. Membelai wajah yang mulai dingin. Sedikit menggosok pipi Bellova agar hangat. "Selama 45 menit mengapung dalam kegelapan."
Kalimat terakhir tentu saja bikin persendian Bellova langsung lemas.
"Empat puluh lima menit?" Lima menit saja ia sudah hampir pingsan.
"Kegelapan bantu jiwa tak letakan terlalu banyak harapan, Bellova."
"Aku benar-benar akan pingsan dan Anda bicarakan hal yang tidak-tidak."
"Kemarilah! Senang bisa balas dendam."
Raymundo Alvaro mendekap wanita yang akan akan jadi istrinya besok. Sedang Bellova pasrah, segera temukan kenyamanan di dada Raymundo Alvaro. Ia tak punya pilihan lain. Bersandar pada Raymundo.
Balon udara terbang membelah malam abaikan dua panggilan dan satu pesan penting dari Beatrix Alvaro.
Ray, Helena siuman dan ingin bicara denganmu!
***
Tolong beritahu saya kalau ada tipo, please koreksinya karena terburu-buru nulis. Aih pending nih nikah. Aku sangat ribet tapi berusaha menulis karena aku tahu Readers menungguku.
Tinggalkan komentar paragraf juga ya. Caranya klik lama di paragraf.
__ADS_1