
Mungkin tak ada pria semistis Raymundo Alvaro. Tetap mengikat janji suci di atas ekspresi datar dan kaku, semua orang pahami Raymundo Alvaro karena keseharian pria itu selalu terlihat dingin tanpa senyuman seolah satu lengkungan bisa hasilkan retak-retak pada garis wajahnya.
Ditambah, kabar kematian Helena tadi pagi, tiap yang hadir kirimkan belasungkawa dalam hening untuknya.
Di antara semua yang hadir tentu saja hanya Belliza bisa rasakan duka cita mendalam Bellova. Adiknya tertekan, terlihat dari raut muram dan helaan napas panjang berulang kali meskipun disamarkan oleh senyuman. Bellova terlalu keras menahan tangisan. Terselip sorot kepedihan di mata yang hanya bisa dilihat Belliza.
"Apakah adikku akan baik-baik saja?"
Belliza menengok pada Lucio Vargas di sisinya, matanya telah basah. Pelukan hangat Lucio semakin mengiris hati Belliza, tak sadar telah terisak-isak.
Lucio meraih tangan Belliza dan tautkan jemari mereka, mengecup punggung tangan Belliza. Sedikit membungkuk ia bicara di sisi wajah Belliza. Berbisik dan berikan kekuatan.
"Jangan menangis. Semuanya akan baik-baik saja!"
"Aku ingin yakini itu. Aku berharap, Tuan Alvaro tak ciptakan neraka untuk adikku."
"Kamu tahu Belliza? Raymundo Alvaro adalah seorang esoteris, kepribadiannya hanya bisa dipahami oleh orang-orang tertentu. Orang-orang esoteric sangat kikuk, tak sembarang umbar isi hati, sulit di mengerti, penuh teka-teki, sukar ditebak. Misterius adalah kata paling tepat gambarkan keseluruhan Raymundo."
"Apa yang harus aku lakukan? Hatiku terluka. Apakah adikku bisa bahagia?"
"Ayolah, Belliza. Adik iparmu sangat sensitif hingga membuatnya posesif pada Bellova. Posesif tunjukan bahwa ia telah jatuh cinta dan tidak bisa jauh dari Bellova. Itulah mengapa, Raymundo Alvaro jadikan Bellova sasaran paling gampang berbagi beban. Ia tak bisa menanggung muatan sedih sendirian, menuntut Bellova juga ikut rasakan luka di hatinya."
"Menakutkan."
"Justru ini berita gembira. Raymundo Alvaro tidak gegabah percayakan hati dan berserah diri begitu saja pada orang lain. Hanya orang-orang terpilih dan yang ia diijinkan. Ray memilih Bellova dan bergantung pada Bellova. Tanda bahwa Tuan Alvaro sangat cintai Bellova."
"Di mana kamu Lucio Vargas tiga empat tahun lalu?" tanya Belliza mendongak pada mata seindah samudera biru. "Mengapa kita tak bertemu sejak dulu?"
"Aku sibuk berlarian di jalanan karena dikejar banyak wanita cantik," sahut Lucio Vargas tersenyum kecil. Tangan kiri memeluk Belliza. "Mari doakan kebahagiaan Bellova karena aku yakin saat Bellova bahagia, Belliza juga akan bahagia."
Belliza bersandar pada Lucio Vargas sedangkan pengantin pria di persilahkan mencium pengantin wanita karena telah resmi jadi suami istri.
Bellova pejamkan mata, menunggu ciuman. Mungkin kecupan kilat di kening atau di bibirnya. Cukup jadi kenangan karena pernikahan mereka tak bisa diulang.
Tanpa diduga, Raymundo Alvaro menyentuh bibirnya, perlahan lalu sedikit demi sedikit menyesap. Bellova pegangi leher Raymundo. Mereka telah mulai ciuman pernikahan.
Mengapa terlalu bersungguh - sungguh? Atau, pria ini tak bisa berbohong di depan Tuhan?
Semoga.
Ataukah kemungkinan lain?!
Jangan lupa Bellova, kamu menikahi manipulator terbaik di negara ini, Raymundo Alvaro pandai memanipulasi keadaan. Orang akan berpikir, pria ini sangat mencintai pengantin perempuannya.
Siang tanpa matahari dan malam tanpa gelap, Bellova hanya mengambang rasakan bibir Raymundo bergerak dengan ritme teratur di atas bibirnya.
Pernikahan selesai dengan cepat. Ucapan selamat dibarengi belasungkawa. Bellova tak menyangka akan seperti ini.
Pukul empat sore, Bellova berganti gaun hitam dan mereka ada di lahan luas pemakaman Green Hills. Langit mendung kehitaman berkumpul di langit. Angin berhembus sedikit kencang.
Beatrix Alvaro terpukul dalam pelukan Aldinho hanya menyebut nama Helena di setiap helaan napas. Rintik-rintik gerimis sangat halus kemudian turun. Terombang-ambing dikipasi angin.
Raymundo Alvaro berdiri di sisi kuburan bak patung hidup masih dengan jas pengantinnya. Tatapan dingin dan kosong, tak hindari saat disentuh Bellova, tetapi bukan berarti setuju pada tindakan Bellova.
Satu persatu pelayat pergi dari pemakaman. Bellova masih tinggal bersama suaminya, bersyukur karena Beatrix Alvaro tak menolak pelukan, biarkan Bellova menuntun ke mobil.
Aldinho tersenyum kecil.
"Semoga pernikahanmu diberkati, Bellova. Maafkan kami bahwa takdir keluarga kita akan berakhir begini dan pernikahanmu sisakan kenangan buruk. Hanya bisa berdoa semoga kalian berdua berbahagia setelah ini."
Berbeda dengan Raymundo yang pemarah, Aldinho Alvaro tidak hanya tampan tetapi juga terlihat lebih murah hati dan lembut.
Bellova tak punya kata di kepalanya. Mimik wajah cukup sebagai jawaban bagi Aldinho Alvaro.
"Tolong hibur Raymundo, Bellova. Kamu tahu bahwa Raymundo sangat sayangi Helena dibanding aku, dia lebih terpukul. Raymundo bekerja keras agar Helena bisa hidup bergelimang harta dan menikahi pria terhormat. Harapannya sangat tinggi, Helena hidup bahagia." Aldinho menghela napas panjang, arahkan pandangan pada tubuh kokoh Raymundo yang bersedih di sisi makam. "Kami mengandalkanmu." Pria itu tersenyum getir lalu naik ke mobil.
Biji-biji hujan membesar. Mobil-mobil pergi satu persatu. Bellova hendak kembali ke sisi makam untuk temani suaminya, bawakan payung. Namun, seorang wanita lain berdiri di sana, pegangi payung untuk suaminya. Jadi, Bellova berdiri di samping mobil hanya menatap pada aura gelap Raymundo. Tak sadar jika ia sendiri telah mulai basah oleh air hujan.
"Masuklah ke mobil, kamu bisa sakit, Love."
Oskan Devano menegur dan payungi dirinya.
"Raymundo tahu bahwa kamu datang malam itu dan gantikan posisi Belliza."
"Kamu tahu?"
"Ya."
"Sejak kapan?"
"Aku akan bicara pada Raymundo setelah ia tenang."
"Aku muak terlibat denganmu dan permasalahan Helena. Kami adalah korban ketidak-adilan tetapi seakan aku dan kakakku paling bersalah atas keadaan buruk Helena."
"Semoga pernikahanmu bahagia, Bellova." Oskan terlihat tak ingin ladeni kemarahan Bellova. "Masuklah ke dalam mobil!" kata Oskan lagi.
Bellova menggeleng. "Tidak. Aku menunggu suamiku."
"Kamu basah. Pakai saputangan ini, Love!"
Oskan mengambil saputangan dari bagian dalam saku jasnya. Bellova tak menggubris Oskan. Ia sibuk memantau, terganggu ada wanita lain temani suaminya meski hanya sebatas pegangi payung.
Raymundo berbalik tepat waktu ikuti naluri primitifnya dapati Oskan sedang ulurkan sapu tangan pada Bellova sedang Bellova hanya terpaku padanya.
"Aku tak butuh payung, pergilah!" Raymundo bicara pada Deenar.
"Semua yang bernapas pasti akan meninggal. Kita sedang menunggu giliran. Kita bisa pergi ke shooting klub dan menembak sasaran untuk akhiri kesedihanmu. Kamu bisa minta ijin pada istrimu!"
"Aku tak butuh ijin siapapun!"
"Mengapa menikahinya bukan aku?"
"Anggap saja kamu beruntung!"
"Jika kamu mungkin berubah pikiran, aku juga bisa buatkanmu tato yang hebat Romeo sebagai hadiah pernikahanmu."
Raymundo tak menyahut, Deenar masih berdiri di sisi pria itu sebelum menepuk pundak Raymundo pelan, putuskan untuk pergi.
Raymundo hanya terus pandangi makam basah oleh hujan deras. Bellova tak tahan melihatnya, melangkah datangi suaminya.
"Helena tak akan bangun seberapa keras kamu inginkan adikmu kembali!" tegur Bellova lekas kesal.
"Pergilah, Bellova. Aku akan di sini sebentar lagi."
"Aku akan menemanimu."
Bellova kerucutkan payung, berdiri di sisi Raymundo Alvaro biarkan hujan basahi dirinya.
"Aku minta maaf untuk semua kesedihan yang kamu alami. Aku hanya berusaha lindungi saudaraku."
Tak ada tanggapan.
"Jangan menyiksa dirimu, please!"
Raymundo akhirnya gerah, berbalik pegangi lengan Bellova dan bawa Bellova ke mobil.
Suasana berkabung masih terus berlangsung. Menyetir dalam diam. Bellova beranikan diri bicara.
"Maafkan aku, jika karenaku Helena menderita."
__ADS_1
Masih tanpa sahutan. Bellova tahu bahwa hatinya sendiri terluka dalam tapi ia tak mudah menyerah, tidak, apalagi mereka telah menikah. Raymundo Alvaro berantakan dan ia hanya ingin bersama suaminya dalam untung dan malang.
"Apakah kamu baik-baik saja?" Bellova tak mengerti mengapa ia bertanya. Leher pria itu memerah juga punggung tangan seperti habis dicambuk. Butiran hujan dengan cepat mencap Raymundo.
"Jika Belliza meninggal, apakah kamu akan baik-baik saja?"
Bellova mengerang semakin sakit hati.
"Berhenti sudutkan aku. Ya Tuhan, aku tak paham mengapa seseorang meninggal dan aku disalahkan. Aku tak pernah mencari Helena selama dua tahun untuk menuntut balas karena saudara kembarku sekarat dan hampir mati. Aku hanya diam sekalipun Helena berselingkuh dengan Oskan di depan mataku! Oskan belikan Helena rumah bagus, Oskan setia di sisi Helena sedang kakakku menderita, aku tetap tak menagih dosanya. Aku tak celakai Helena di malam itu."
"Berhenti bicarakan ...."
"Helena terjatuh saat sedang bertengkar." Bellova jadi meledak-ledak, pegangi kepala yang nyeri juga mulai kedinginan.
"Berhenti bicarakan Helena dan dirimu di malam itu! Aku tak ingin dengar, Bellova!"
Hanya ada kekesalan di wajah Raymundo pada ucapan-ucapan Bellova. Mereka sampai di depan mansion.
"Turunlah, Bellova!"
"Tidak."
"Turunlah!"
"Kemana kamu akan pergi? Tolong jangan lakukan ini padaku!" pinta Bellova merasa sangat menyedihkan karena memelas untuk hatinya pada Raymundo Alvaro yang sangat aneh. "Kita bisa dengarkan apa maumu dan ...."
"Turunlah, Bellova!"
"Tidak, mari bicara!"
"Aku tak ingin bicara!"
"Mengapa tak bisa bicara?"
"Bellova, turunlah sebelum kesabaranku habis." Raymundo berbalik, memandang Bellova dengan tatapan dingin yang bisa bekukan tulang-tulang. Bellova coba bersabar.
"Aku tahu kamu terluka, biarkan aku bersamamu!" pinta Bellova pelan, rendahkan harga diri agar bisa menjangkau Raymundo. Pria itu hancur tapi tak ingin ditolong.
"Berhenti bicara omong kosong, turunlah!"
Menatap nanar pada Raymundo Alvaro, antara cinta juga benci, Bellova menahan napas yang tersangkut di ujung tenggorokan. Turun dari mobil dan melihat mobil itu pergi. Menangis karena ia telah menahannya seharian, Bellova sangat-sangat marah. Bahkan setelah kematiannya, Helena masih bisa ciptakan penderitaan mereka.
"Apa salah kami padamu?" Bellova mendongak pada awan gelap, ingin membenci Helena.
Mobil yang familiar datang, mobil Oskan Devano. Kaca diturunkan dan tangan Cheryl melambai. Bellova sedikit memutar tubuhnya dan mengusap air mata.
"Mommy?" tegur Cheryl.
"Cheryl?! Mengapa kamu di sini?" tanya Bellova lalu merasa bodoh sendiri. Seluruh keluarga sedang berkumpul di kediaman Anthony.
"Bukankah Cheryl bersama Belliza tadi?" tanya Bellova pada Oskan.
"Cheryl ingin melihatmu! Mau pergi ke taman? Kamu mungkin lebih tenang." Oskan bicara ragu-ragu.
"Tidak, Oskan. Aku akan masuk! Ayo Cheryl!"
"Oh tidak, Mommy. Aku tak boleh mengganggu Mommy dan Uncle Ray. Aku akan bersama Daddy hari ini. Bye Mommy!"
"Eh?! Kamu bisa main bersama Nenek buyutmu di dalam."
"No, Mommy. Aku akan bersama Daddy! Kami mampir karena Daddy mencemaskanmu." Cheryl terlalu polos jika diajak bersekutu untuk berbohong. Atau Cheryl tak begitu pandai menghafal naskah drama.
"Dengar Oskan! Aku berterima kasih atas perhatianmu! Aku harap kamu tak manfaatkan Cheryl untuk kepentingan pribadimu!"
"Jangan salah paham, apa pikirmu aku berani mengganggumu setelah kamu menikahi Raymundo Alvaro?" Oskan mengerut.
"Aku tak peduli apapun yang ada di pikiranmu! Menjauh saja dariku, tak usah pedulikan aku!"
"Kami pergi," pamit Oskan buru- buru sebelum Cheryl semakin banyak tanya. Bellova belum sempat mengangguk saat ia mulai bersin-bersin dan tanpa sengaja berbalik ke pinggiran, muntah-muntah di sana. Ia tak makan sepanjang hari. Sesuatu di dalam perutnya panas terbakar.
"Love?!" Oskan buka pintu mobil. "Tunggu Daddy, Cheryl!" Berlari pada Bellova dan pegangi Bellova. "Kamu demam."
"Lepaskan aku!"
"Bellova?"
"Tolong pergilah, Oskan!"
Namun, Oskan memeganginya erat-erat.
"Cheryl, mari turun dan kita antar Mommy ke dalam!" Oskan memanggil Cheryl dan beri pujian saat Cheryl berhasil turun dari mobil tanpa bantuan.
Bellova mengangkat wajah, temukan Raymundo Alvaro menatapnya dari jauh, sekonyong-konyong Bellova mendorong Oskan menjauh tetapi Oskan terlalu kuat memegangnya. Bellova tak menyangka suaminya kembali. Namun, kini hal buruk akan terjadi. Tebak Bellova.
"Dengar, biarkan saja suamimu marah! Ini soal kemanusiaan! Apa pikirmu aku akan diam saja saat melihatmu hampir tumbang?" Oskan berkata gusar. "Harusnya dia tak tinggalkanmu hanya karena emosinya yang tidak stabil."
Bellova mengelus kepalanya yang semakin pening. Sinis pada Oskan. Mungkin pria ini terbentur makan Helena hingga amnesia akut. Atau mungkin jampi-jampi Helena terbawa dalam peti mati, Oskan mulai waras kini.
"Kamu lebih buruk darinya, Oskan. Apa kamu baru saja gegar otak? Kamu tiba-tiba baik setelah sakiti kami bertahun-tahun?"
"Maafkan aku!"
Raymundo berbalik pergi masuk ke mobil. Di luar dugaan, mungkin suasana hati buruk butuh perhatian khusus.
"Kupikir dia akan menandukku dan memotong keningku jadi empat bagian!" ejek Oskan saat mobil Raymundo pergi begitu saja setelah tinggalkan decitan panjang.
"Anggap saja harimu lagi baik," sahut Bellova menghela napas berulang kali, ingin mengejar tapi ia malah hanya pasrah pada nasib. Akan jadi apa hidupnya?
Ya Tuhan, tolong selamatkan aku.
Masuk ke dalam dan semua orang prihatin pada keadaannya. Bellinda berdiri dan datangi Bellova.
"Apa kakak baik-baik saja?" Menatap Oskan atas bawah. "Jauhkan tanganmu darinya! Sungguh menjijikan melihatmu menyentuh Bellova!" Bellinda mendorong Oskan menjauh.
"Ada apa dengan kalian? Aku menolongnya karena hampir terjatuh!"
"Pergilah lewat pintu yang sama seperti kamu masuk!" Menopang Bellova. Bicara seakan-akan ia Tuan Rumah.
Saat Oskan tak juga menjauh, Bellinda dengan sengaja gunakan tumit lancip heels untuk menginjak kaki Oskan agak kuat.
"Ouh, sh****. Ada apa denganmu?" erang Oskan menahan kakinya yang kesakitan.
Bellinda menuntun Bellova duduk. Queena menyuapinya sedikit nasi hangat dan sup dan berikan obat.
Bellova kemudian menuju ruang tidur, mengganti pakaian dan rasakan tubuh semakin menggigil. Tertidur lelap berharap besok pagi segala hal membaik.
Sayang sekali, tengah malam ia terbangun. Meraba ranjang yang kosong, pria itu belum kembali. Beranikan diri, ia meraih ponsel, mulai menelpon. Tak dijawab.
Menelpon lagi.
Di seberang sana, Raymundo pandangi langit-langit loteng sedang Deenar baru selesai melukis Hakuna Matata di atas ginjalnya. Abaikan telpon masuk.
"Kulitmu sangat sensitif, Romeo. Bisa jadi bengkak habis di tato?"
"Lakukan saja?"
"Perlukah aku oleskan cream pereda alergi?"
"Tidak, aku telah menelan obat anti alergi!"
__ADS_1
Ponsel berdering.
"Istrimu terus menelpon."
"Angkat!"
"Tidak! Istrimu bisa salah paham padaku!"
"Angkat saja!"
Raymundo tak suka Oskan menyentuh Bellova dan wanita itu sengaja biarkan Oskan di dekatnya. Ia saksikan tadi karena tak sengaja lihat mobil Oskan menuju kediaman Anthony. Bagaimana brengsek itu memeluk Bellova sedang makam adiknya masih basah. Ingin rasanya melindas Oskan hingga tenggelam di dalam aspal, tetapi ia benar-benar sedang marah pada keadaannya.
Ponsel kembali berdering.
"Jawab panggilannya!"
"Tidak, kecuali kamu beritahu aku, apa yang buatmu sangat marah padanya?" Deenar keheranan. "Wanita tidak selalu tabah hadapi pria tak berperasaan. Saat dia pergi, kamu mungkin akan menyesal. Apakah kamu tak belajar sesuatu dari Mr. Owl dan Mr. Piglet?"
"Dia tak akan pergi kemana-mana! Aku telah menikahinya tadi pagi."
"Aku iri padanya."
"Kamu lebih beruntung."
Ponsel terus berdering.
"Apa yang harus aku katakan?" tanya Deenar terganggu pada panggilan berulang kali.
Tanpa lepaskan sarung tangan, Deenar mengangkat ponsel.
"Halo? Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Bellova gelisah.
"Hai, ini aku, D. Teman Romeo ..., maksudku ..., teman Tuan Alvaro."
"Hai D ..., apakah dia baik-baik saja?"
"Ya."
"Baiklah."
"Apakah kamu ingin bicara dengannya?"
Hening sebentar.
"Tidak, aku hanya ingin tahu keadaannya," balas Bellova.
"Jangan kuatir, ia telah minum obat alergi seperti biasa."
"Apakah dia akan menginap di sana?"
Deenar jauhkan ponsel.
"Apakah kamu akan menginap di sini?"
Raymundo tak menyahut.
"Aku pastikan dia akan pulang! Tolong jangan cemas!"
"Tidak," geleng Bellova. "Tidak mengapa jika dia bisa hilangkan kesedihan di tempatmu. Aku akan sangat berterima kasih."
Deenar menyipit pada Raymundo, miringkan bibirnya.
"Baiklah! Kami hanya sedang membuat tato yang sangat simple untuk menghiburnya."
"Begitukah? Baiklah! Dia belum makan sejak pagi, D."
"Aku akan mengurusnya! Jangan kuatir. Dan akan menyuruhnya pulang."
Ponsel dimatikan.
"Apa yang kamu lakukan padanya? Dengar, pergilah setelah ini dan kembalilah ke rumah. Istrimu ketakutan. Bukankah kamu keterlaluan?"
"Selesaikan sisi lainnya!"
Sementara Bellova, duduk di ranjang, atasi emosi diri sendiri. Bersandar di pintu taman, nelangsa sendiri. Pertanyaan masih sama, apa yang akan terjadi pada pernikahannya?
Kembali ke ranjang, menangis. Lalu masuk ke ruang ganti. Mengambil satu kemeja suaminya, ia putuskan pergi ke studio dan buatkan kemeja untuk Raymundo. Jika tidak ia bisa gila. Tak ingin ganggu keluarganya dengan masalahnya. Pukul 10 malam, ia keluar dari rumah.
"Nyonya, kemana Anda pergi malam-malam begini?" tanya salah seorang pengawal.
"Aku harus mengurus sesuatu!"
"Seseorang akan antarkan Anda!"
"Tidak, aku telah memesan taxi."
"Tidak, Nyonya. Ini terlalu malam untuk bepergian seorang diri."
Menunggu di luar gerbang saat taxi datang. Bellova masuk ke taxi, abaikan pengawas rumah.
Sedang pengawal mengambil foto plat taxi kirimkan pada Raymundo Alvaro.
"Ke mana tujuan Anda?" tanya sopir taxi.
"Belliza Studio," jawab Bellova pelan, menatap keluar pada jalanan dan lampu-lampu kota. Belliza kirimkan foto pernikahan tadi siang. Dalam redup hatinya yang rapuh menangis.
"Apakah kepala Anda berhenti sakit?" tanya si sopir taxi perhatian.
"Ya, sedikit." Bellova kemudian terkejut. "Darimana Anda tahu bahwa aku sedang sakit kepala?"
"Hai, Juliet! Tolong jangan menangis."
"Juliet?"
Bellova melotot pada sopir taxi yang memakai topi dan jaket juga masker. Baru sadari kalau penampilan sopir taxi sangat aneh.
"Siapa Anda?" tanya Bellova tercengang.
Sesuatu yang tak terlihat keluar dari lubang-lubang AC.
"Beristirahatlah Juliet. Anda akan bangun dan semuanya akan sangat indah nanti."
"Siapa kamu?"
Bellova samar-samar melihat raut asing, seorang pria muda tersenyum lembut dan hangat padanya ketika sopir taxi membuka masker dan topi.
"Hanya seseorang yang suka buat Romeo gerah dan kepanasan."
***
Wait for me! Ini nulisnya nyicil di hotel semalaman setelah 8 jam perjalanan dalam bus rongsokan ke Labuhan Bajo, terombang-ambing di likunya jalanan trans Flores, sampai hotel pinggangku rasanya udah pindah haluan, gak bisa tidur jadi nulis dikit. Lanjut lagi pagi tadi di bandara Komodo sebelum naik pesawat ke Denpasar.
Bayangkan baling-baling pesawat yang berputar menghantam burung yang sedang terbang meskipun tak mungkin ada burung yang terbang di ketinggian 1600 kaki, duluan meremang aku. Namanya juga penulis imajinasiku jadi berlebihan. Suamiku sampai kesal karena aku tiba-tiba keringatan. Oh My God 🤣🤣🤣🤣🤣🤣.
Kenapa mesti paksa nulis?
Novel ini sedang di promosikan.
Semoga Anda sukai chapter ini!
__ADS_1
Vote, dukungan dan komentar.
Ini kapan bunga-bunganya? Nantikan ya....