
Suara panik Jenifer meneriaki penjaga, langkah kaki. Derak terali. Suara ribut-ribut. Tubuhnya digendong.
Berubah gelap.
***
Oskan baru saja turunkan dirinya di depan bandara, tersenyum dan melambai. Bellova mengumpat ketika pria itu menghilang. Bisa-bisanya tersenyum sedang Belliza koma.
"Bellova?!"
Yerick Daniels temukan dirinya ketika ia akan pulang ke Santa Cruz.
"Yerick?" Bellova ternganga.
Apakah kebetulan? Yerick pernah jadi pacarnya, tetapi suatu waktu Bellova pergi ke apartemen Yerick, Bellova temukan kenyataan sepahit mengunyah pil antibiotik. Yerick miliki kehidupan ganda. Yerick punya pacar seorang pria tampan sedikit gemulai bernama Dominic. Dan dari Dominic, Bellova tahu bahwa keduanya bekukan sel spe*** dan ingin tanamkan pada seorang wanita agar bisa punya bayi.
Keduanya butuh wanita cantik, cerdas dari bibit yang baik. Bellova dinilai sempurna hingga Yerick pacari Bellova.
Bellova kemudian putuskan akhiri hubungannya dengan Yerick. Namun, Yerick yang susah move on terus mengejarnya selama dua tahun.
"Bellova, aku berpisah dengan Dominic."
"Maafkan aku, Yerick. Hubungan kita telah berakhir."
"No, Bellova. Aku sungguh-sungguh denganmu." Yerick hendak meraih jemarinya. Bellova mundur menjauh.
"Aku sudah punya kekasih."
"Aku tak percaya."
"Jangan dekati aku, kekasihku ..., em ..., sedikit temperamen."
Ketika katakan itu, bayangan Bellova adalah Raymundo Alvaro. Kakak laki-laki Helena Alvaro, selingkuhan Oskan. Seminggu sebelumnya, mereka bertemu saat Gabriela kesulitan.
"Bellova, kita bisa mulai dari awal. Dua tahun ini aku kehilangan arah tanpamu. Aku berjanji hanya akan milikimu," kata Yerick berkaca-kaca.
"Aku harus pergi, maafkan aku! Dia sedang menungguku." Asal bicara, Bellova hanya perlu hindari Yerick Daniels.
Bellova segera pergi masuk ke dalam bandara dan tergesa-gesa ke terminal kemana ia yakin akan ketinggalan pesawat jika tak segera buru-buru.
Boarding announcement, nama seseorang tak asing dan juga namanya dipanggil. Bellova check in, ia tak melihat Yerick, lupakan secepat asap yang menghilang. Tak sadari Yerick menyusul.
Boarding announcement, sekali lagi.
"Raymundo Alvaro dan Bellova Driely Damier?" ulang Bellova heran. Apakah berarti Tuan Alvaro dan dirinya akan naik pesawat yang sama? Apakah berarti, Raymundo Alvaro ada di sini?
Bellova terus naik eskalator pergi ke lantai atas dan menuju ruang tunggu gerbang 2.
Bellova?!"
Panggilan dari belakang hingga Bellova terkejut. Bellova segera percepat langkah. Larikan diri dari Yerick.
Di dekat petugas berdiri, Bellova kenali sebuah sosok. Satu-satunya yang menarik perhatian. Tubuh tinggi tegap, tangguh, bicara di telepon. Saat dia berbalik, Bellova tak punya pilihan karena pria dengan raut sensitif penuh kekejaman itu, Raymundo Alvaro. Apakah kebetulan ada di bandara? Takdir sungguhan ganjil.
"Bellova?!" Yerick menembus petugas keamanan.
Bellova datangi Raymundo Alvaro yang tertegun padanya. Mungkin sama terkejut sepertinya. Bellova lepaskan koper, mendekat. Mata si pria awasi dirinya.
"Maafkan aku, Tuan Alvaro. Secara ajaib Anda di sini, tak mungkin hanya kebetulan."
Bellova berjinjit, menarik ujung jaket Tuan Alvaro hingga membungkuk padanya. Kedua pipi Raymundo Alvaro tertangkup oleh telapak tangan. Ia bisa rasakan bulu halus janggut tertusuk di kulit telapak tangan. Ia mencium Raymundo Alvaro, pelan dan penuh penghayatan. Bersyukur pria itu tak menghindar, hanya terima ciuman dan lingkari lengan pada pinggangnya. Bellova terkena mantra pria sedingin es sejak hari itu.
Masih punya dua tiga ciuman dan malam di tenda adalah paling istimewa. Mereka ciptakan sebuah nyawa. Bellova tak yakin akan janin dalam tubuh karena cinta maju-mundur, tak terikat pada Raymundo Alvaro sekalipun Raymundo Alvaro ungkapkan cinta, Bellova sempat bimbang. Bellova tak ingin ikatan semu.
Dua malam lalu, ia berubah karena Raymundo sungguh-sungguh di hadapan keluarganya tentang mereka bertiga. Ia berjanji akan berusaha terima kekurangan pria itu demi sang bayi.
Apakah masih akan berlaku?
Sekarang tidak lagi. Wanita, butuh cinta, kasih sayang, harus dibarengi perhatian. Juga bisa diandalkan saat wanita sedang bermasalah. Raymundo Alvaro tinggalkan dirinya dalam kesulitan lebih dari 24 jam dibalik sel.
Jika Raymundo bisa semena-mena pada hatinya, mengapa Bellova tak bisa lakukan hal sama?
***
Sementara Bellova masih lelap. Lucio Vargas berkunjung, meminta bertemu Bellova tapi tak dapatkan ijinan. Menjadi frustasi.
"Apa ada sesuatu yang salah?" tanya Lucio Vargas marah.
"Nona Bellova sedang dirawat."
"Dirawat? Apa yang terjadi?"
Pengacara berbicara pada otoritas karena perlu mengetahui keadaan tersangka. Dan Bellova harus didampingi.
"Mengapa kami tak boleh menemui Bellova?" tanya Lucio mulai marah-marah. "Apakah ada kekerasan yang diterima Bellova semalam?"
"Tuan Vargas, tenanglah!"
"Beritahu aku, apa yang terjadi! Apa aku perlu langsung menghadap ke Kementrian Kehakiman?" ancam Lucio Vargas lekas kesal.
"Teman satu sel Nona Bellova bertindak tidak menyenangkan pada Nona Bellova hingga ia harus dibawa ke rumah sakit."
"Apakah bayinya baik-baik saja? Nona Bellova sedang hamil."
"Nona Bellova sedang ditangani Dokter."
Lucio Vargas berbalik pada pengacara yang ia bawa.
"Keluarkan Bellova hari ini juga. Bagaimanapun caranya!"
Bangkit dari duduk, hubungi Dona Marris.
"Kamu perlu kemari, Dona! Beritahu Raymundo Alvaro juga. Sesuatu terjadi pada Bellova."
***
Axel Anthony dan Queena berkunjung ke rumah sakit dua pagi setelah Helena terbaring kritis. Axel Anthony kenali Oskan Devano yang bersandar di bangku rumah sakit, tidur. Jika tak ingat tempat di mana mereka sedang berpijak, Raymundo yakin Axel Anthony akan hancurkan kepala Oskan Devano. Ia tak mungkin halangi Axel Anthony.
"H dan Irishak akan kemari nanti. Jika pengunjung tak dibatasi."
"Mereka di Lisbon?"
"Ya. Bagaimana keadaan Helena?" tanya Axel Anthony sedang Queena ikut ke dalam ruangan Helena, perhatikan keadaan Helena dalam diam. Mungkin kirimkan doa.
"Entahlah."
"Apakah kamu serius jebloskan Bellova ke dalam penjara? Pikirkan keadaannya."
"Bellova serahkan diri dan buktikan dirinya bersalah. Ia tak mengubah pernyataan, memilih bertanggung jawab penuh. Tak ada yang bisa aku lakukan selain mencari bukti tambahan untuk ringankan Bellova."
__ADS_1
"BM pasti akan membantumu! Apa kamu butuh sesuatu? Beritahu aku!"
"Tidak. Aku bisa atasi sendiri. Jika aku butuh bantuan akan aku kabari."
"Baiklah, bagaimana kalau ini seperti 'by design', pola agar terlihat Bellova bersalah. Masuk akal, Bellova selembut itu akan menghajar Helena membabi-buta? Aku tak percaya Queena akan pukuli seseorang. Bellova dan Queena terlihat mirip. Jiwa-jiwa lemah yang tak suka kekerasan."
Raymundo ingin percayai itu.
"Komplikasi," sahut Raymundo. "Bellova sering lakukan kekerasan pada Helena."
"Begitukah? Apakah itu berarti benarkan Bellova gunakan kekerasan pada Helena di kasus ini?"
"Tidak, ada pihak lain terlibat."
"Aku yakin berhubungan dengan brengsek di sebelah sana." Axel Anthony menyahut.
"Ya, dia Oskan Devano. Kakak ipar Bellova dan kekasih Helena."
Queena dan Axel Anthony telah mengetahui hubungan rumit Bellova, Belliza, Oskan Devano dan Raymundo Alvaro.
"Apakah Belliza masih koma?"
"Ya," angguk Raymundo. "Menurut Oskan, Belliza tak akan pernah bangun lagi. Tetapi, Bellova tak berhenti berusaha."
"Kembar identik, jika DNA mereka saja mirip maka tidak heran kalau ikatan emosional di antara mereka lebih kuat dibanding individu lainnya secara umum."
"Ya, Anda benar. Bellova selalu membenci Helena dan jika Anda melihat Bellova bersama Cheryl, Anda mungkin tak akan percaya saat aku katakan bahwa Cheryl bukan puterinya. Cheryl tak bisa bedakan Bellova dan Belliza."
"Aku jadi penasaran pada Belliza."
"Belliza ada di rumah sakit ini juga. Diawasi dengan ketat."
"Sungguh malang. Queena bersedih sepanjang hari karena pikirkan apa yang menimpa Bellova. Dan telah desak aku untuk pergi membesuk Bellova. Kamu harus lakukan sesuatu? Bagaimana dengan hasil visum?"
"Kami sedang menunggu."
"Apakah visum butuh waktu lama?"
"Kita akan dapatkan hari ini."
Queena keluar dari dalam ruangan Helena bersama Beatrix Alvaro. Queena berikan penghiburan juga penguatan. Beatrix terlihat nyaman bersama Queena, mudah jatuh cinta pada Queena. Semua orang yang melihat Queena akan jatuh cinta dengan mudah pada wanita itu.
"Turut berduka cita, Raymundo." Queena memeluk Raymundo Alvaro dan menepuk bahunya, berikan penghiburan juga penguatan. "Helena akan lewati masa kritis."
"Begitukah?"
"Ya. Aku ingat pernah tangani Irishak. Kondisi mereka mirip. Menurutku, Helena terkena pukulan benda tumpul. Mungkin tinju-tinju besar."
"Yakin?"
"Tangan Bellova terlalu kecil untuk sebabkan sobekan di bibir dan pecahan di sudut mata. Kecuali Bellova meninju Helena berulang kali."
Dokter hampiri mereka bawa berkas hasil visum, dan Queena kenali si dokter.
"Donatella Marris?"
Dona begitu terkejut dan seketika berbinar-binar.
"Pequeena?! Apa kabarmu? Ya Tuhan, apa yang kamu lakukan di sini?"
"Oh ya ampun, lihatlah dia dengan seragam ini!"
Mereka bicara dengan suara pelan.
"Apa dia masih galak?"
"Tidak lagi semenjak menikahi seorang supermodel."
Keduanya berbagi senyum seadanya. Tak mungkin terkekeh di hadapan pasien kritis.
"Jadi, apakah kamu keluarga pasien Helena Alvaro?"
"Ya, Helena seperti adikku. Apakah yang kamu pegang ..., hasil visum Helena?"
"Ya, aku juga perlu bertemu dengan keluarga Helena Alvaro secara pribadi." Serahkan berkas pada Raymundo Alvaro. "Ini hasil visum, bukan hanya Helena tetapi Nona Bellova."
Raymundo Alvaro pandangi berkas lalu membuka. Matanya mengawasi Dona. Dona persilahkan mereka menjauh dari depan ruangan ICU.
"Aku berada di tempat kejadian bersama Lucio Vargas. Kami berdua adalah saksi." Dona bicara menatap langsung mata Raymundo Alvaro.
"Bagaimana bisa?" tanya Queena heran.
"Aku cukup dekat dengan Bellova karena aku, dokter yang tangani Belliza, saudara kembar Bellova yang sedang koma."
Raymundo mengangkat wajah balas menatap, cari-cari kebenaran dari ucapan Dona.
"Aku menerima pesan darurat beserta lokasi dari Bellova. Kebetulan bertemu Tuan Vargas, kami pergi ke daerah Trilho. Helena membawa Cheryl, ke tempat itu. Bellova ikuti taxi mereka karena tak sengaja bertemu di lobi hotel. Bellova dan Helena terlibat pertengkaran setelah melihat Cheryl hanya tidur di jok belakang, Bellova pikir, Helena lakukan hal buruk pada Cheryl. Bellova mendorong Helena, tak sengaja jatuhkan Helena. Bellova kemudian datangi Helena untuk membantu tetapi dapatkan satu tendangan kuat tepat di tempurung lutut Bellova. Helena juga sekali pukuli Bellova dengan kayu hingga Bellova pingsan. Menurut Bellova setelah ia bangun dari pingsan karena seakan ditendang seseorang, Helena telah babak belur."
"Jelaskan saja semua ini pada pihak berwajib!" sergah Raymundo tajam.
"Bellova telah beri keterangan pada pihak kepolisian juga satuan intelijen penyidikan kriminal. Ia kemudian ditetapkan sebagai pelaku utama."
"Aku tak percaya Bellova akan pukuli seseorang hingga babak belur?"
"Ya, Queena. Aku hanya perlu beritahu Tuan Alvaro karena Bellova berkata ia sedang berbunga-bunga pada Anda. Berdasarkan hasil visum, jejak kekerasan bukan hanya di tubuh Helena, tetapi juga di tubuh Bellova."
Dona masih terus beri penjelasan, berpikir jika Raymundo Alvaro sungguhan cintai Bellova, pria ini tak perlu banyak dengar ocehannya.
"Tuan Vargas tak bisa temui Bellova hari ini. Sesuatu terjadi pada Bellova semalam ketika Bellova menginap di sel."
"Apa maksudmu?"
Raymundo cengkeram berkas, kendalikan dirinya. Berusaha tak terpengaruh tetapi semua orang melihat ia ketakutan. Dona keliru, Raymundo Alvaro panik.
"Bellova sedang berada di rumah sakit. Teman satu selnya, lakukan tindak tidak menyenangkan hingga Bellova dilarikan ke rumah sakit."
Raymundo berbalik tanpa pamitan tinggalkan semua orang di belakangnya. Dona segera menyusul.
"Axel, apakah tak mengapa ia pergi dalam keadaan marah seperti itu?"
"Kita perlu menyusulnya, Queena."
"Apa yang terjadi?" Beatrix bertanya keheranan ketika melihat wajah puteranya kalang kabut.
"Nyonya, mungkinkah Raymundo belum beritahu Anda?" tanya Queena pegangi tangan Beatrix.
"Ya, ada apa?"
"Bellova dan Raymundo menjalin hubungan istimewa. Bellova sedang hamil saat ini."
__ADS_1
Beatrix Alvaro bertambah bingung.
"Hamil?! Puteri Damier dan puteraku?"
"Ya, Nyonya. Sangat berbahaya biarkan wanita hamil sendirian hadapi tekanan. Aku tahu, Raymundo sangat berbakti pada keluarganya. Tetapi, Bellova sedang hamil muda saat ini. Sangat rentan terjadi keguguran di masa-masa awal kehamilan. Apalagi ini pertama kalinya bagi Bellova."
"Aku tak pernah tahu. Raymundo tak katakan apapun padaku!"
***
Lucio turuni undakan tangga, ia harus menemui Beatrix Alvaro dan meminta wanita itu mencabut tuntutan.
Lucio Vargas baru saja hendak keluar dari kantor polisi ketika Raymundo Alvaro turun dari mobil, putuskan menunggu Raymundo di depan pintu.
"Apakah Helena baik-baik saja?" tanya Lucio Vargas prihatin.
"Apa hubunganmu dengan kejadian ini, Tuan Vargas?" tanya Raymundo tak basa-basi. Sorot matanya menyala terang.
"Bellova menelpon Dona, mengirim pesan untuk segera datang karena kondisi darurat."
"Donatella Marris?"
"Ya, Dokter Dona Marris adalah teman Bellova yang mengurusi Belliza," sahut Lucio Vargas. "Aku kebetulan pergi ke rumah sakit untuk sebuah urusan."
"Sementara teman-teman Anda sedang berpesta?"
"Ya. Alergiku kambuh. Aku tak bisa terus berpesta sedang tubuhku bentol-bentol."
"Lingkaran yang membingungkan. Dona adalah teman Bellova dan temanmu?"
Lucio Vargas tak keberatan diinterogasi.
"Dona adalah Dokter yang menangani beberapa masalah kesehatanku ketika aku kembali ke Lisbon."
Raymundo Alvaro tak percayai Lucio Vargas begitu saja, terlihat jelas. Raymundo kedapatan cemburu dan tak suka, Bellova cenderung minta bantuan Lucio.
"Aku yakin kamu menutupi sesuatu," kata Raymundo Alvaro.
"Aku tak perlu repot pada keyakinan konyolmu, Tuan," balas Lucio Vargas.
"Aku akan menangkap keterlibatanmu!"
"Silahkan. Ibumu harus menarik laporan, Bellova akan dibebaskan. Bagaimanapun Bellova tak sengaja sebabkan Helena tersandung jatuh! Bellova juga menerima pukulan benda tumpul di pundaknya. Kini Bellova tak bisa ditemui karena menurut petugas, Bellova masuk rumah sakit kepolisian semalam."
"Apa yang terjadi?" Raymundo Alvaro menyipit sempurna.
"Aku mengerti posisi sulitmu, tetapi Bellova juga butuh dukunganmu. Sebaiknya tarik laporanmu sebelum kamu menyesal nanti."
Bertemu Polisi Yudisial dari Departemen Investigasi Kriminal, Lucio Vargas telah ulangi pantangan bagi Raymundo Alvaro, untuk tidak anarkis. Ini kantor polisi kecuali pria pemarah itu memang ingin ditendang ke dalam penjara oleh para petugas.
"Sejak menyerahkan diri, keterangan tersangka pada penyidik kepolisian tidak berubah meskipun lewati serangkaian pemeriksaan panjang dan cukup melelahkan. Tersangka mengaku bertengkar dengan korban. Tersangka marah karena korban membawa ponaan yang disebut Puteri tersangka ke sebuah jalur pendakian. Tersangka curigai niat korban, tetapi menurut korban berdasarkan pengakuan tersangka, Nyonya Helena diincar beberapa orang, jadi larikan diri bersama Nona Cheryl. Kami akan dalami lagi kasus ini, tetapi Nona Bellova adalah tersangka tunggal saat ini."
Pihak kepolisian bicara panjang lebar pada Raymundo Alvaro.
"Kami akan memanggil Puteri Nona Bellova untuk berikan keterangan."
"Beliau masih tiga tahun. Apakah tidak akan berpengaruh pada kondisi psikologis?"
Lucio Vargas tak bisa mencegah, pihak penyidik untuk menemui Cheryl.
"Kita perlu sesuaikan hasil visum dan keterangan pelaku."
Raymundo serahkan hasil visum pada pihak penyidik.
"Anda perlu melihat hasil visum sebelum putuskan Nona Bellova bersalah, Sir. Aku mewakili keluargaku dan korban, menarik laporan. Aku akan bawa Nona Bellova pulang hari ini."
"Tidak semudah itu, Tuan!"
"Anda dengan mudah tetapkan Bellova sebagai tersangka, tertuduh pelaku kejahatan tunggal, bukankah mudah bagiku untuk menarik tuntutan dan bebaskan Nona Bellova?"
"Seluruh bukti yang dimiliki penyidik kepolisian adalah bukti petunjuk dan keterangan dari saksi selaku tersangka. Bukti-bukti ini akan sangat lemah manakala dijadikan barang bukti di persidangan. Kami akan ajukan penangguhan penahanan mengingat Nona Bellova sedang hamil." Pengacara menambahkan.
"Kita juga sedang menunggu data dari ponsel Nona Bellova yang belum ditarik dari provider," tambahnya lagi.
"Unit kriminal sedang bekerja keras saat ini, terutama pendalaman terhadap kasus ini."
Seseorang masuk ke dalam ruangan mereka.
"Sir, Anda perlu lihat ini."
Kepala kepolisian berbicara pada bawahannya.
"Temukan mereka!"
Raymundo menerima pesan di ponselnya. Gambar seorang pria mirip dirinya berdansa di atas awan dengan seorang wanita mirip Bellova. Ada panah tembaki mereka membentuk gambar dua bayi.
"Misi selesai! Juliet dikeluarkan dari permainan. Bayar aku, 5000 Euro untuk makan siang di sebuah jet pribadi. Pesan akan terhapus otomatis dalam 5 detik."
BM.
Raymundo Alvaro bangkit berdiri hingga Lucio Vargas menatap jengkel padanya.
"Tenanglah!" desak Lucio Vargas. "Biarkan pengacara bicara!"
"Di mana Nona Bellova?! Aku akan pindahkan dia dari sini." Raymundo abaikan Lucio Vargas.
"Tuan?!"
"Terbukti Anda gagal lindungi hak-hak tersangka dari kekerasan dan tindak kriminal. Bagaimana bisa seseorang terluka di bawah pengawasan Anda? Ibuku menarik tuntutan juga laporannya terkait Bellova dan aku akan bawa Bellova dari sini. Anda boleh menutup kasus ini."
Lucio Vargas bangkit berdiri dan menggiring Raymundo Alvaro keluar ruangan sebelum pria itu menambah masalah. Queena berdiri di luar dalam lengan Axel Anthony.
"Apa yang terjadi?" tanya Queena mengerut pada pria asing di sisi Raymundo Alvaro keberatan pria itu menyeret Raymundo.
"Jaga sikapmu, Tuan!" tegur Lucio Vargas.
"Singkirkan tanganmu dariku!"
Raymundo bebaskan dirinya dari Lucio Vargas, datangi Axel Anthony.
"Apa yang terjadi?"
"Apakah mungkin, jika aku menikahi Bellova hari ini?"
***
Akh aku sedang sakit, minum obat dua harian ini dan ada antibiotik yang sepahit hidup Bellova. Lihat ponsel kayak sakit mataku.
Apakah Bellova kehilangan janinnya?
__ADS_1
Komentar di bawah ini!