
"Mengapa matikan sistem pemanas di ruang tidurku?"
Raymundo menunggu paket di teras dan bicara lewat earphone dengan BM.
"Anda perlu pecahkan kasus ini sendiri, Tuan."
"Dengar, jangan bercanda. Puteri Bellova ada bersama kami dan aku hindari anak kecil kedinginan saat di bawah pengawasanku."
"Anda mengeluh seakan-akan cuaca Lisbon sangat-sangat buruk mengganggumu, Romeo? Lagipula, anak-anak miliki suhu lima derajat lebih tinggi dari orang dewasa. Tuhan menjaga mereka. Tugasmu, lingkupi saja Puteri Juliet dengan kasih sayang dan cinta. Itu lebih ampuh dari sistem pemanasan canggih."
"Apakah kamu kesetrum arus tegangan tinggi? Belakangan mulutmu kelewat keriting."
"Aku hanya gemas padamu, Romeo. Ya Tuhan, wanita adalah makhluk berkulit setipis tisu dan butuh kehangatan, Tuan. Anda sungguhan tak tergoda pada Juliet?"
"Berhentilah omong kosong, B."
"Aku tak bisa kembalikan sistem pemanas di ruang tidur Anda. Aku mengaturnya ke mode otomatis."
"Apa maksudmu?"
"Saat ada aktivitas panas, sistem pemanas akan kembali normal dengan sendirinya."
"Baiklah aku akan sit up 2000 kali besok pagi dalam ruang tidur."
BM terkekeh di ujung sana. Seakan ingin meledek, bukan itu maksudnya. Tetapi, Romeo terdengar kesal sungguhan.
"Paketan Anda tiba dengan selamat. Semoga malam Anda menyenangkan, Romeo."
"Ya, BM. Aku harap kamu tak menonton ruang tidurku sepanjang hari."
"Anda baru saja lukai hatiku dengan prasangka buruk."
Seorang pria dipersilahkan masuk ketika panggilan telpon berakhir. Raymundo Alvaro menerima paket dalam ukuran kecil.
"Terima kasih."
Melangkah masuk ke ruang tidur setelah pergi ke ruang kerja dan memeriksa isi paket.
Di atas ranjang, dua sosok berbaring. Bellova Driely Damier, dan dalam lengan Bellova, mini Bellova tidur lelap. Ibu adalah tempat ternyaman di dunia, gambaran luar biasa sempurna.
Mini Bellova?
Ya.
Bellova di waktu kecil, ilustrasi tepat uraikan ciri-ciri Cheryl. Kecantikan turun-temurun, khas dan sangat detil, sekaligus, refleksikan kerapuhan.
Sangat cute.
"Cute?"
Raymundo Alvaro berdecak. Dari mana pria sejantan dirinya gunakan kata-kata sentimen seperti, "cute?".
Raymundo melipat kedua tangan, bersandar di pintu kaca menuju halaman. Ia berdiri di sana tanpa sadar hampir sepuluh menit lamanya. Tak percaya, waktu seperti ini akan tiba dalam hidupnya.
Bellova gelisah dalam tidur dan terbangun oleh sesuatu, ia segera memeriksa Cheryl. Mengecup kening Cheryl dan mengangkat kepalanya. Pelan-pelan berbalik dan terkejut dapati Raymundo Alvaro sedang awasi mereka.
"Apakah kamu tidak mengantuk?" tanya Bellova pelan. "Apakah tempatnya terlalu sempit?" Bellova perhatikan ranjang. "Kamu tidak mengantuk?" tanyanya lagi.
Bellova bangkit dari ranjang, duduk di pinggir serba salah.
"Apakah kami pindah saja ke kamar tamu?"
"Tidurlah. Ranjang ini terlalu luas untuk kita bertiga. Cheryl mungkin tak akan nyaman denganku. Aku akan tidur di sofa."
Raymundo pergi ke sofa, mengatur bantal dan terlentang di sana. Cukup lama hening sementara rintik-rintik halus jatuh dari langit. Beberapa dari mereka yang lebih perkasa mematuk kaca jendela. Bellova tak bisa pejamkan mata. Melirik pria di sofa yang tidur seolah-olah tak kedinginan.
Bellova bangkit dari ranjang, pergi ke pintu keluar ke taman dan menutup pintu juga satukan gorden.
Kembali pada Cheryl, terusik nurani oleh suara napas halus dari sofa. Ambilkan selimut, ia hampiri sofa, mengintai dan yakin Raymundo Alvaro telah tertidur.
"Apakah kamu tak kedinginan?" tanya Bellova ragu-ragu dan bertanya hanya untuk pastikan pria itu telah tidur.
Tak ada jawaban.
Apakah sistem pemanas rusak? Suhu di malam hari jadi terlalu dingin dan semakin dingin saja dari hari ke hari. Bellova tak berani bertanya. Bagaimanapun ia hanyalah tamu yang baik.
Ruang tidur ini pasti punya sistem pemanas sebab Queena beritahu Bellova bahwa Raymundo Alvaro alergi dingin. Namun, Bellova tak tahu bagaimana sistemnya bekerja atau di mana tepatnya cara aktifkan benda itu.
Tak ada tanda-tanda Raymundo masih siuman. Bellova mendekat, bentangkan selimut dan tutupi tubuh Raymundo. Berdiri tak jauh. Kelam menyerap energi positif secara brutal hingga wajah si pria selalu tampak datar. Saat tersenyum tipis hanya seringai kejam terpantul. Dan kini ketika tidur nyenyak, gurat-gurat wajah sangat tak bersahabat begitu tegas, seakan selalu was-was dan curiga. Bellova tanpa sadar bergidik.
Bagaimana bisa ia berakhir bersama Raymundo Alvaro. Mengenang romansa aneh dan bar-bar, Bellova masih tak percaya bahwa ia jatuh hati pada Raymundo Alvaro dan suatu waktu pernah memelas penuh harapan jadi bagian dari Raymundo Alvaro.
Walaupun kini sedikit pudar, Bellova pernah ingin meraih Raymundo Alvaro karena mereka memiliki sesuatu yang istimewa setelah saling berbagi.
Tak sadar jemari melayang di atas kening Raymundo. Darimana asal gugusan bekas luka berasal? Apakah pria ini gunakan kening hancurkan cermin saat sedang kesal? Amati dari dekat, ada beberapa kesedihan terlihat jelas, tak terucapkan, terlebih tak ingin ditunjukan pada orang lain.
Apakah tentang Helena? Apakah Raymundo masih menyimpan rasa di palung hati terdalam hanya untuk Queena dan Bellova telah jadi tempat pelarian paling ideal?
Raymundo Alvaro masih selalu kedapatan menatap Queena dengan penuh kasih sayang dan memuja. Tak sulit melihat. Pikir Bellova suram karena Queena miliki aura malaikat tak terbantahkan.
Bellova menarik tangan hendak pergi dari sana. Mendadak pinggang direngkuh hingga Bellova terjerembab pada tubuh Raymundo. Kaki-kaki Bellova segera terjebak pada kaki-kaki panjang Raymundo.
"Ka ... mu be ... lum tidur?" Bellova tergagap coba larikan diri, tetapi lengan besar telah penjarakan tubuhnya.
"Belum."
"Apa yang kamu lakukan sejak tadi?" tanya Bellova.
__ADS_1
"Berjaga-jaga."
"Berjaga-jaga?"
"Seseorang dalam ruangan ini bisa jadi ingin membunuhku karena merasa tak adil."
"Anda adalah beruang besar bercakar, bertaring, dari hutan Rusia dan seorang lain dalam ruangan ini hanya ikan salmon yang meloncat-loncat putus asa."
"Meloncat putus asa?"
"Baiklah. Selamat malam. Oh, aku sangat mengantuk." Pura-pura menguap, tak ingin ladeni Raymundo.
"Aku perlu beritahu kamu sesuatu."
"Aku mendengarkan," sahut Bellova coba tenangkan diri.
Jantung Bellova berdetak di atas jantung si pria dan sangat sial sebab melekat satu sama lain. Detak seirama, hembuskan napas bagi ribuan kupu-kupu mulai mengepak di perutnya.
Raymundo Alvaro amati Bellova tanpa kedip dengan tatapan sangat fokus, yang bisa bikin jantung Bellova miliki dua sayap dan menari berputar-putar di awan. Bellova meremang. Berusaha keras tidak terprovokasi. Raymundo Alvaro pandai melempar umpan, saat pria itu menggulung tali pancing, hasilnya bukan sesuatu yang bisa ditebak Bellova.
"Setelah menikah, kita akan kembali ke Lajes." Raymundo Alvaro menggeser sedikit tubuhnya agar selaras dengan tubuh Bellova. Menambah bantal.
"Baiklah."
"Kamu tak bisa jadi desainer."
Raymundo Alvaro satukan rambut Bellova yang tercerai berai, membuat simpul ditengkuk. Tak ada pengikat rambut. Bellova merasa payah oleh gelenyar sambar - sambaran dalam pembuluh darah. Terlebih telapak tangannya tak tahu harus berlabuh kemana. Dengan kikuk menempel di atas dada Raymundo.
"Baiklah."
"Tak boleh bekerja apapun."
"Baiklah," angguk Bellova hanya mengulang jawaban. Intinya tak ciptakan konfrontasi.
"Itu berarti, kamu harus berhenti jadi guru dan ..."
"Tidak, tidak, aku ingin terus mengajar," potong Bellova cepat sambil menggeleng keras. Ia berhenti membeo.
"Aku yang buat aturan."
"Ini pincang, Tuan Pembuat Aturan."
"Aku memaksa."
"Aku menyukai anak-anak dan dunia pendidikan. Jadi seorang Ibu guru adalah panggilan jiwa, Tuan Pemaksa."
"Jadi Ibu Rumah Tangga juga panggilan jiwa. Mengabdi pada keluargamu adalah panggilan jiwa paling suci."
Bibir Bellova bergumul. "Aku bisa lakukan keduanya. Jadi guru dan jadi istri Anda, Tuan. Aku bisa kompromi untuk berhenti jadi desainer, berhenti ini dan itu, Anda punya banyak uang aku yakin hidupku akan bergelimang harta. Aku tak bisa berhenti jadi guru."
Bellova menatap langsung pupil mata Raymundo Alvaro. Benturan hebat terjadi di antara mereka. Bellova temukan kembali dirinya yang tak mau ditindas, tetapi sangat hati-hati juga teliti bertindak karena Raymundo Alvaro tak bisa ditebak.
"Tinggal dalam rumahku dan jalankan kewajibanmu, Bellova!"
"Ini penyanderaan, penindasan dan penjajahan."
"Bellova, kamu tawananku juga tahananku."
"Ini terlalu ekstrim."
Berdebat sedekat dan seintim yang sedang terjadi, mau tidak mau buat Bellova kerahkan segala daya agar tak kedapatan bergelora. Jika tidak, ia akan selesai oleh pria ini.
"Aku punya hak asasi sebagai seorang manusia."
Menyeringai tipis terima protes Bellova.
"Good job. Berapa banyak kali kamu buat kesepakatan denganku? Berapa kali kamu sekehendak hati mencoret dan merubah perjanjian? Berapa kali kamu ingkari?"
Tangan kanan Raymundo Alvaro membelai tengkuknya.
Ini gawat darurat Bellova. Raymundo pergi ke rahang, mengusap lembut Bellova dan dengan sengaja membakar kulit Bellova.
"Dengar, Tuan! Aku diam bukan berarti aku kalah. Kita perlu luruskan beberapa hal." Menarik napas. Bertahan tak gigit umpan dari mata kail Raymundo Alvaro ternyata sangat sulit. "Kamu dan adikmu bukan satu-satunya korban. Konjungsi kausalitas, suatu sebab membentuk akibat. Adikmu memulai segala hal denganku dan kakakku."
Raymundo hanya terus awasi Bellova, saat Bellova bicara berapi-api padanya. Juga cara Bellova hindari diri dari sentuhan.
"Helena menggoda Oskan dan mulai buat pria itu tersihir. Helena harusnya tempatkan diri karena Oskan bukan pria lajang. Bagaimana bisa, Helena sengaja masuk dalam kehidupan rumah tangga wanita lain dan hancurkan kehidupan mereka. Terlebih ada seseorang yang paling menderita di sini, Cheryl."
"Begitukah? Kamu mengenal Oskan dengan baik ya?" Raymundo kedapatan tak sukai cara pandang Bellova, cenderung salahkan Helena dibanding Oskan Devano yang jelas brengsek.
"Kenyataannya seperti itu. Wanita baik-baik tak akan mau tergoda milik orang lain."
"Jadi, kamu pantas lukai Helena?"
"Aku tidak melukainya," jawab Bellova tajam.
"Lalu, siapa?!"
Raymundo Alvaro juga pandai merakit perangkap.
"Aku tidak lukai Helena, hanya membela diri." Tatapan lurus Bellova.
"Aku bosan dengar bualan-mu, Bellova."
Cheryl bergerak dan batuk-batuk kecil.
"Mommy?!" panggil Cheryl pelan.
__ADS_1
Bellova lepaskan diri.
"Tolong, tidur bersama kami. Kamu bisa sangat kedinginan di sofa. Lagipula, Cheryl butuh diapiti. Apakah Anda bisa nyalakan sistem penghangat ruangan?"
"Tidak mungkin," sahut Raymundo biarkan Bellova kembali ke ranjang.
BM merusak sistem pemanas agar dirinya dan Bellova temukan cara mengusir dingin.
Harusnya tidak libatkan BM saat desain ruang tidurnya dan seluruh rumah ini. Renovasi empat tahun lalu mengubah konsep mansion. Modern dan canggih. Beberapa sisi ruangan kamar dalam mansion Anthony akan bertransformasi saat menangkap getaran misal dari gempa atau bom. Lantai di kolong ranjang Raymundo Alvaro akan terbelah dan tenggelamkan ranjang bersama penghuninya lalu membentuk banker perlindungan bawah tanah. Begitu pula ruang tidur lain di dalam mansion ini.
Mengapa demikian?
Black Master merancang sistem perlindungan tingkat tinggi mengingat aktivitas mereka selama bertahun-tahun, terus menerus terlibat konflik dengan beberapa ketua gangster dan jaringan gelap. Agar Queena dan Niña tetap aman dan jauh dari perburuan, dirinya dan Axel Anthony terus saja berurusan dengan orang-orang yang tidak bisa mereka remehkan atau olok-olok.
BM mengenal seluk beluk ruang tidurnya bahkan Raymundo yakin jika ingin bercinta dengan istrinya ia perlu aktifkan mode banker perlindungan dan pergi ke bawah tanah.
"Apakah Anda akan terus di sana sampai alergi mu kambuh?" tegur Bellova dari atas ranjang. Bellova kembali ke posisi semula, menghadap Cheryl yang pulas. Mengelus rambut Cheryl dan memuja wajah lelap Cheryl. Bertanya-tanya apa yang dimimpikan gadis kecilnya?
Bellova kemudian berikan tepukan hangat pada Cheryl. Gadis kecil itu mencari-cari dan temukan leher Bellova, bergelayut di sana.
"Mommy?!"
"Mommy di sini, Sayang."
"Uhhum."
"Apa menu untuk sarapan besok?"
"Uncle Cio sering buatkan aku sandwich lapis."
"Uhh pasti lezat."
"Ya," jawab Cheryl menguap lebar.
"Lalu Daddy?"
"Daddy buatkan kami roti panggang dan bubur apel."
"Kami?"
"Aku dan Helena."
"Baiklah."
"Aku ingin Mommy dan Daddy. Tetapi, Daddy ingin aku, Daddy dan Helena."
"Apa Helena baik padamu?"
"Ya. Tapi, Cheryl ingin Mommy."
"Tidurlah, Mommy akan bangun pagi-pagi dan buatkanmu sarapan lezat. Oh, kamu akan sarapan bersama Niña dan Juan Enriques."
"Cheryl suka Juan Enriques juga Niña, Mommy."
"Tidurlah, Sayang."
Bellova sulit pejamkan mata lagi. Anak mata mengekor bayangan Raymundo Alvaro yang menyerah di akhir pendirian kokoh, hampiri ranjang, pergi ke sisi sebelah Cheryl menarik selimut agar membungkus tubuh Cheryl sempurna.
"Bukankah kamu perlu tinggal di rumah dan hanya mengurus Cheryl?"
Bellova terpaku. Jika pria ini katakan sejak tadi angan semulia ini, mereka tak perlu berdebat berbaris-baris panjangnya.
Mereka menunda pernikahan mengingat kondisi Helena dan Belliza.
"Jadi, jika kita pergi dari sini? Bagaimana dengan Helena?" tanya Bellova pelan.
"Aku akan bawa adikku juga, Bellova."
Ada tumpukan melankolis di sana. Pria itu berubah terlalu cepat sebagai pemurung. Pejamkan mata dan tidur. Bellova menghela napas panjang dan hembuskan perlahan. Tangan terus berikan tepuk halus pada sisi tubuh Cheryl hingga gadis kecil kembali lelap.
Bellova mengatupkan kedua tangan dalam hati, berdoa bagi kesembuhan Helena. Berdoa agar Helena baik-baik saja dan bahagia bersama Oskan Devano.
Menarik napas panjang dan kuat. Dunia mereka rumit. Satu-satunya yang akan bahagia adalah Belliza karena dicintai pria macam Lucio Vargas. Bagi Bellova, ini paling penting. Belliza dan Lucio Vargas akan jadi lingkungan terbaik untuk besarkan Cheryl. Berdoa agar cinta Lucio Vargas mampu kalahkan cinta yang sukar dimusnahkan Belliza pada Oskan.
Bellova dan Belliza miliki banyak pacar, tetapi ketika mereka putuskan jatuh cinta, mereka totalitas dan sangat loyal. Itulah mengapa wanita-wanita budak cinta seperti mereka rentan terluka.
Bellova amati Raymundo Alvaro. Kalimat-kalimat ini tiba-tiba berkunjung di kepalanya.
Wanita tidak bisa mengubah seorang pria hanya karena dia mencintainya. Yang terjadi adalah, seorang pria bisa mengubah dirinya sendiri karena mencintai seorang wanita.
Apakah Raymundo Alvaro akan seperti itu nanti?
Bellova kemudian jatuh tertidur. Kelopak mata bersatu dan di ujung penglihatan hanya ada raut Raymundo Alvaro. Terlena cepat dalam mimpi.
Bellova harusnya pura-pura tidur. Ia mungkin akan menyesal besok pagi karena tidur terlalu tergesa-gesa.
Raymundo Alvaro keluarkan paket, kotak segi empat berbahan beludru biru tua. Tangannya meraih tangan Cheryl, sangat halus dan pelan, sematkan cincin berukuran kecil, sangat pas pada jari tengah si balita. Kagumi tangan mungil ciptaan Tuhan.
Beralih.
Mengambil satu lagi, berukuran lebih besar, menahan desakan aneh untuk bangunkan Bellova. Ini adalah ritual sakral dari pria kaku dan datar sepertinya.
Cincin dikalungkan pada jari tengah Bellova. Tersenyum saat benda itu tampak sangat indah di jemari Bellova. Mengecup punggung tangan wanita yang tertidur lelap.
"Will you marry me, Bellova Driely Damier?"
***
__ADS_1
Tinggalkan komentarmu. Aku benar-benar maksa nulis chapter ini.
Aku mencintaimu.