My Hottest Man

My Hottest Man
Chapter 36. Lot of Heart


__ADS_3

Poker Face, Mr. Raymundo Alvaro


***


"Mari bicara!"


Raymundo Alvaro menahan Viviane saat wanita itu akan turun dari mobil.


"Ya?! Apakah jika ingin bicara dengan seseorang, wajahmu harus seperti prajurit gladiator akan bertarung di gelanggang?"


"Jangan ganggu Bellova!" Langsung ke inti.


Viviane terperangah. Berdehem beberapa menit kemudian saat Raymundo Alvaro menatap sipitkan satu mata.


"Oh ya ampun, aku mulai muak. Queena peringatiku tiga kali sehari untuk jauhi Bellova! Begitu pula sepupu Axel dan kini aku mendengar mantra yang sama darimu. Aku tak mengganggu Bellova, ya Tuhan. Kamu dengar? Aku hanya beri Bellova warning demi kebaikannya."


"Apa aku beri warning pada pria yang kamu temui di klub, Viviane?" tanya Raymundo datar. "Nikahi aku, dapatkan hartamu lalu berlarilah! Tak usah melebar kemana-mana!"


"Kamu terlalu narsis. Apa pikirmu aku menyukaimu? Tadi itu yang terakhir, aku tak akan ikut campur walaupun seluruh partner bisnis Bellova nanti tahu, Bellova menjalin hubungan dengan salah satu kliennya," sahut Viviane memakai kaca mata.


"Apa yang barusan aku dengar?" selidik Raymundo.


"Mantan asisten Belliza, Salma Diane mengirim padaku fotomu berciuman dengan Bellova di pintu studio. Mau lihat? Jika, reaksiku biasa saja maka orang akan tahu bahwa pernikahanku penuh rekayasa. Aku tak suka uang ayahku kabur dariku."


Raymundo masukan Salma Diane ke dalam daftar yang perlu ia bekukan karena berani mengincar Bellova.


"Jangan lupakan fakta bahwa orang yang melihat akan berpikir Belliza Driely Damier denganmu. Masuklah dulu dan kita bisa makan siang bersama." Viviane melembut dengan cepat atau tak ingin timbulkan konflik dengan Raymundo.


"Aku harus pergi."


"Temui Bellova?" Viviane terlambat gigiti lidah. "Dia mungkin terpuruk oleh kata-kataku." Terlanjur basah sekalian berenang. Viviane harus lebih berhati-hati hadapi pria macam Raymundo Alvaro atau tak perlu. Ia tak peduli pada Raymundo Alvaro. Begitupula sebaliknya.


"Tak dengar ucapan Bellova tadi?"


"Telinga kananku mendengar, telinga kiriku mencerna tetapi aku putuskan tak percaya." Viviane memutar bola mata. "Aku ingin bersenang-senang di klub nanti malam."


"Kamu dilarang bepergian!"


"Aku tak menyukaimu sama sekali dan berharap kamu tak mengatur ini juga itu. Mengapa juga aku perlu dengarkanmu?"


Viviane mulai menyebalkan. Tak ada yang tahan dengan sikapnya terlebih Gracia Anthony.


"Selama kamu tinggal di sini, kamu akan dengarkan apa kataku dan Axel Anthony. Atau kamu bisa pergi!"


Raymundo mengangguk dengan kepala menyuruh Viviane turun dari mobil.


"Ya Tuhan, kamu terkadang lewati batasmu, Tuan Alvaro."


"Aku hanya pria malang yang akan menikahimu."


"Hei, Tuan. Kamu menikahi seorang wanita cantik." Viviane berubah kesal.


"Viviane ..., Bellova jauh lebih cantik darimu."


Viviane melotot pada Raymundo Alvaro yang jelas telah menyinggung harga diri. Raymundo Alvaro tanpa basa-basi jelaskan elemen dasar pandangan pria paling objektif ketika berikan penilaian pada seorang wanita.


"Aku harus pergi! Turunlah dan masuk ke kamar Anda. Jangan buat tekanan darah Nyonya Gracia naik. Kamu tahu akibatnya jika aku atau Axel Anthony marah."


Tenggorokan Raymundo Alvaro mulai mengering hadapi Viviane. Mengapa orang tua tak mau repot mengurus Puteri tunggal mereka dan libatkan satu klan mengurusi wanita satu ini.


"Kamu makin lama mirip Aunty. Pemaksa dan bar-bar. Aku tetap akan pergi ke klub nanti malam."


"Tidak boleh! Aku akan mengawasimu!"


"Ayolah, ini hanya hang out biasa, kamu juga harus ikut."


"No. Masuk ke dalam!" angguk Raymundo mulai jenuh ladeni wanita berambut pirang dan bermata biru di hadapannya.


Jelas saja Raymundo Alvaro tak akan nyaman berada di antara teman-teman Viviane. Mereka pasti hanya akan bahas fashion, lifestyle dan hal-hal tak berguna. Lebih baik Raymundo main petak umpet dengan Niña dan Juan Enriques.


"Please, sekali ini saja. Lucio Vargas baru kembali dari Perancis dan kami akan bersenang-senang bersama lainnya."


Viviane sebutkan nama seseorang.


"Siapa?" Raymundo menyipit, tertarik. Beruntung Viviane tipe-tipe wanita yang tak suka detil.


"Lucio Vargas, temanku. Aku bahkan berjanji perkenalkanmu padanya dan juga gengku."


Raymundo Alvaro berganti ekspresi. Sedikit menyeringai. Mengapa ia tertarik pada Lucio Vargas? Karena Bellova bicara pada pria itu. Lucio Vargas minta Bellova bertemu dan Lucio Vargas masih single. Sangat menganggu. Tuan Vargas penakluk wanita karena tampan dan rupawan.


Lalu, di mana masalahmu Raymundo Alvaro?


Raymundo hanya ingin tahu tentang Lucio Vargas. Berkelit.


"Aku akan menjemputmu nanti."


"Oh, kamu memang tak bisa ditebak." Viviane riang gembira lantaran Raymundo berubah pikiran. Raymundo adalah perisai sempurna hadapi aturan kaku Gracia Anthony.


Raymundo Alvaro tinggalkan kediaman Anthony menuju ke sebuah apartemen di mana ia tinggalkan Helena dengan penjagaan tingkat tinggi.


"Kamu datang, Nak," sapa wanita separuh baya seusia Gracia Anthony dengan sisa-sisa kecantikan yang diwariskan pada adik perempuannya. Beatrix Alvaro adalah Ibunda Raymundo Alvaro.


"Ya. Apa Helena sudah siap?" tanya Raymundo, bagaimanapun harus mengurusi Helena dan bayi dalam kandungannya.


"Ya," sahut Beatrix Alvaro. "Apakah Ibu boleh ikut?" Bertanya takut-takut.


Raymundo Alvaro mengangguk. Setelah bertahun-tahun, ia dan Ibunya masih asing satu sama lain. Ibunya marah karena ayah pecundang mereka, tinggalkan keluarga setelah menjual semua harta dan Raymundo adalah pelampiasan terbaik Beatrix.


Raymundo telah memuat beban di punggung sejak ia muda sebab ia tertua. Bukan hutang atau materi, hanya muatan moral. Beatrix terus cari perkara dengannya seperti wanita mabuk yang agresif. Ia tahu, tak mudah bagi Beatrix besarkan tiga orang anak tanpa suami tetapi tak sukai cara Beatrix perlakukan dirinya seolah-olah karenanya suaminya pergi.


Suatu waktu karena kesal Raymundo pulang larut malam, Beatrix menendangnya keluar dari rumah ke jalanan di malam Natal. Angin bertiup kencang di malam itu dan udara sangat dingin. Ia tidur di kapal barang di pelabuhan. Beruntung Aldinho menerjang angin bawakan selimut hangat juga makanan. Usianya 14 tahun dan setelah tahun baru, ia pergi dengan kapal barang datang ke Ibukota. Melamar jadi tukang kebun di kediaman Anthony dan Gracia Anthony melihat ia sebagai "seseorang", ia kemudian bersama Gracia Anthony.


Raymundo selalu menganggap dirinya sebatang kara, terkecuali Aldinho ia mengikat diri oleh persaudaraan, persahabatan dan cinta tulus. Juga Helena meski tak cukup dekat, ia sangat sayangi Helena.


Enam tahun setelah ia selesaikan pendidikan, Raymundo belikan rumah dan banyak perhiasan juga berikan kemewahan pada Ibu dan adiknya. Beatrix memeluk kakinya dan meminta maaf. Namun, Raymundo tak bisa lupakan fakta bahwa ia pernah sangat tersakiti. Hanya saja bagaimanapun, wanita malang ini Ibunya.


"Apa Anda tak beri Helena makan, Bu?" tanya Raymundo dapati tubuh kurus Helena, gersang dan tak teratur. Perut besar, sungguh tak tampak seperti adiknya beberapa Minggu lalu. Patah hati memang obat mujarab hancurkan raga.


"Aku harap aku mengerti apa maunya?" keluh Beatrix putus asa.


"Aku ingin Oskan," kata Helena menatap kakaknya. "Oskan akan berpisah dari istrinya. Biarkan saja kami bersama. Bayiku butuh Ayahnya bukan dirimu, Kak."


"Dengar Helena! Berhenti buatku kesal!"


Raymundo pegangi lengan adiknya dan menggiring Helena keluar apartemen pergi ke parkiran. Hari ini suasana hatinya menghitam oleh banyak hal. Tak berharap Helena campurkan cairan pekat ke dalamnya dan mulai mengaduk untuk ciptakan bom.


Beatrix Alvaro mengekor dari belakang. Raymundo bukakan pintu mobil dan pastikan Helena duduk nyaman sebelum pasangkan sabuk pengaman. Wajah adiknya pucat pasi, lebih mirip wanita stress. Raymundo Alvaro tanpa sadar trenyuh. Memeluk kepala Helena dan mengusap lengan Helena pelan.

__ADS_1


"Kamu bisa minta apapun, jangan Oskan. Aku akan menjagamu."


Dari sekian banyak populasi pria di Eropa mengapa juga Helena harus pilih Oskan Devano?


Pertanyaan sama.


Mengapa juga kamu harus menyimpan Queena di hatimu?


Yakin, masih Queena atau seseorang lain? Seorang wanita tidak berkarakter sempurna seperti Queena, tetapi cukup buat ia kecanduan?


Helena menangis kejutkan Raymundo.


"Aku ingin Oskan Devano datang dan melihat calon bayi kami. Bisakah kamu pahami aku sedikit saja, Kak?"


Abaikan Helena juga tangis terisak-isak, Raymundo Alvaro antarkan Helena ke rumah sakit. Ia telah menelpon dokter kandungan dan membuat janji temu. Masuk ke sana dan menunggu.


Nama Helena dipanggil, Raymundo memilih menunggu di luar biarkan Beatrix bersama Helena. Tak banyak orang di sekitar mereka. Seorang pasien wanita baru datang di atas kursi roda, mematung tak jauh dari bangku penunggu. Sepertinya tak ingin dikenali dari kaca mata gelap membingkai separuh wajah, masker dan topi dingin. Syal lingkari leher dan si wanita hanya mematung ke ruangan dokter kandungan.


Biasanya orang-orang terkenal akan menyamar untuk tutupi skandal. Wanita di kursi roda mungkin begitu. Raymundo Alvaro tak mengerti, mengapa ia curiga pada si pasien wanita? Merasa bahwa si wanita amati dirinya, menengok untuk pastikan, tetapi wanita itu hanya bengong pada pintu ruang praktek dokter.


Berusaha tak amati orang lain. Raymundo fokus ke depan.


Seorang pria menuntun seorang wanita duduk di depannya. Wajah gelisah bercampur gembira selimuti pasangan itu. Sang pria memeluk kekasihnya dan terus saja ucapkan terima kasih. Si wanita seusia Bellova, miliki tinggi badan semirip Bellova dan berdandan sederhana sepertinya sedang hamil meskipun perutnya rata. Tak ada perut seperti Bellova.


Mengapa Bellova? Mengapa tak bandingkan dengan Queena? Raymundo mulai merasa aneh.


"Sudahlah, Sayang. Kita akan pastikan hari ini."


"Aku percaya testpack," sahut si pria menggenggam tangan wanita.


"Jadi, berapa usianya menurutmu?" Mereka berbisik terlalu keras hingga sampai di kuping Raymundo.


"Tujuh Minggu mungkin," jawab si pria terkekeh.


"Ya, perutku masih terlihat seperti biasa. Aku bahkan tak sadar aku hamil."


Raymundo menghela napas panjang, lipat kedua lengan dan bersandar di bangku. Tujuh Minggu lalu, bukan cuma dirinya dan Bellova berserah satu sama lain. Ada banyak pasangan lain. Dan mereka cukup berhasil untuk ciptakan kehidupan baru.


Dirinya mungkin berlebihan gentleman hingga Bellova tidak ham ....


Terkejut ketika namanya dipanggil perawat. Ia masuk ke dalam ruangan dokter di mana, Helena ternyata diinfus dan Beatrix lara di sisi Helena.


"Apa yang terjadi?"


"Tuan Raymundo Alvaro, Anda perlu tahu kondisi persis adik Anda. Wanita hamil yang alami stress berkepanjangan dapat menghambat pertumbuhan janin. Saat mereka tertekan dan tegang, tubuh wanita hamil akan memproduksi hormon stress bernama kortisol. Ketika hormon stress meningkat maka pembuluh darah akan menyempit, hingga aliran darah dan pasokan oksigen ke janin berkurang hingga membuat tumbuh kembang janin terganggu. Gangguan mood dan stress secara terus menerus bisa akibatkan kelahiran bayi prematur. Untuk sementara waktu, Nyonya Helena akan beristirahat di rumah sakit di bawah pengawasanku."


Sekalipun tetap tenang dan datar, Raymundo Alvaro mulai cemas.


"Nyonya Alvaro akan banyak istirahat, kami akan pantau terus. Maaf aku lancang, di mana pasangannya? Bukankah suami perlu ada di sisi Nyonya Helena untuk mendukungnya? Peran para pria sangat penting ketika wanita sedang hamil."


Raymundo menghela napas panjang, bertambah gelap.


"Kamu boleh menelpon Oskan Devano untuk datang kemari."


Tak bermaksud mendukung Helena dan Oskan, tetapi situasi tak begitu bagus bagi Helena.


"Benarkah?" Helena tampak sangat bersemangat dan bahagia. Raymundo kembalikan ponsel Helena yang ia sita. Di dalamnya banyak panggilan dari Oskan dan pria itu terus bertanya kabar.


Raymundo Alvaro menunggu di luar, cukup lama. Hidupnya kacau, hidup Helena juga. Menatap Oskan datar ketika pria itu datang terburu-buru dipenuhi kegelisahan bersama Cheryl. Menatap padanya dan Raymundo tak berikan respon apapun.


"Cheryl, Daddy akan masuk ke dalam sebentar. Maukah kamu menunggu di sini bersama Alana?" Mengecup kepala Cheryl.


"Ya, kita akan berjumpa Mommy nanti. Daddy janji akan antarkanmu pada Mommy. Tunggu di sini sebentar ya!"


"Okay, Daddy."


Berat hati, Cheryl lepaskan pegangan tangan Ayahnya. Raymundo Alvaro amati balita sangat cantik itu. Cheryl mirip dua gadis kembar di pigura dapur studio. Jadi, ada gadis kembar empat di keluarga Damier.


Raymundo Alvaro tergerak pindah duduk dekat Cheryl yang langsung sedikit bergeser ke pengasuhnya mendongak pada Raymundo. Sang pengasuh dari kediaman Oskan kenali Raymundo Alvaro.


"Hai Cheryl ...."


Cheryl amati Raymundo Alvaro. Mata kecil polos, bening bersinar terang kehijauan. Mata Bellova. Tampak waspada, tetapi tidak terlihat takut. Sangat pemberani seperti generasi sebelumnya.


"Aku teman Ibumu."


Cheryl kemudian tersenyum. Lagi-lagi senyum Bellova.


Mengapa harus Bellova? Cheryl Puteri Belliza. Raymundo mulai merasa ia tidak wajar.


"Bukankah Anda saudagar kaya yang mengurung Bellova? Anda di kamar Mommy saat Mommy bicarakan saudagar kaya."


Raymundo tercengang. Tak menyangka pada dua hal. Cheryl terjemahkan dongeng Bellova merujuk pada dirinya dan Cheryl melihatnya di kamar Bellova. Okay, darimana kira-kira Cheryl berpikir ia saudagar kaya yang menyandera Bellova?


"Begitukah?"


"Apakah Anda membawa Mommy-ku? Aku merindukannya."


Raymundo keluarkan foto Bellova dari balik saku jaket yang ia ambil dari kamar Greg Luigi. Berikan pada Cheryl.


"Mommy? Di mana Mommy? Apakah Mommy lupakan Cheryl? Daddy, bilang Mommy akan segera pergi ke surga. Aku tak percaya. Aku punya dua Mommy."


Cheryl memeluk foto Bellova, bicara pada potret. Raymundo yakin jika Bellova melihat ini, wanita itu akan menangis putus asa. Oskan pisahkan Bellova dari Cheryl. Pasal ini disebutkan Bellova dalam tidur ketika sedang mabuk beberapa waktu lalu.


"Apakah Mommy masih di rumah Anda? Bisakah beritahu Mommy, aku merindukannya?"


"Aku akan beritahu padanya."


"Apakah Mommy berhenti sayang padaku?"


"Tidak. Ibumu sangat merindukanmu. Dia akan datang hanya masih sedikit sibuk."


"Benarkah?"


"Ya."


"Apakah kamu ingin sesuatu dari Mommy?"


"Tidak. Aku hanya ingin dongeng setiap malam. Aku hanya ingin Mommy."


Raymundo akan katakan pada Bellova bahwa Cheryl sangat cerdas. Tetapi, kapan? Ia berjanji tak akan temui Bellova lagi.


***


Rescue Me, Belliza Damier Driely.


Di sisi lain Rumah Sakit.

__ADS_1


"Bolehkah aku menghirup udara segar?" tanya Belliza pada Dona, merindukan Cheryl dan Bellova.


"Dapatkan sebanyak yang kamu mau, Belliza. Kamu juga telah bebas. Berjanjilah tak menyentuh alkohol dan jaga dirimu dengan baik."


"Ya, aku berjanji."


"Kemarilah seminggu sekali untuk kontrol."


"Tentu saja. Apa kamu mengirim kabar pada Bellova?"


"Tidak, belum. Bellova akan kemari hari ini atau besok pagi. Ia punya fitting dengan Viviane Raquel Anthony."


"Begitukah?"


"Ya. Jangan jauh-jauh ya!"


Belliza memakai topi dingin, masker juga kaca mata hitam. Sweater tebal dan syal karena cuaca lumayan dingin juga tak ingin dikenali. Didorong lewati banyak ruangan. Terkejut ketika ....


"Nyonya Helena Alvaro ...."


Nama itu bergema dari ruang praktek dokter kandungan.


Belliza mengangkat tangan minta perawat hentikan kursi roda yang berputar. Wanita itu Helena Alvaro, menggendong perut besar dan sedang melangkah menuju ruang pemeriksaan. Seorang pria setia temani sedang seorang wanita separuh baya ikut ke dalam.


Helena sangat kurus dan sepertinya sakit. Mata wanita itu dihiasi bayangan hitam dan ia sangat pucat. Apa yang terjadi? Bukankah ia bahagia dengan Oskan?


"Bisakah kita di sini saja? Aku akan menemui dokter kandungan." Belliza berbisik pelan.


"Ya?"


"Aku ingin konsultasi. Bisakah dapatkan aku permen karet?"


"Nyonya, aku tak tahu apakah Anda boleh mengunyah permen karet atau tidak?"


"Permen karet tak akan buat aku mati."


Tak lama berselang, perawat membuka pintu praktek.


"Tuan Raymundo Alvaro ...."


Si pria bergegas masuk. Belliza mengerut. Saat Belliza dalam dunia fatamorgana, Bellova pernah sekali sebutkan nama Raymundo Alvaro sebagai kakak tertua Helena yang menahan Helena temui Oskan.


Pria itu keluar tak berapa lama kemudian. Datar dan tanpa ekspresi. Dari sudut mata, hati Belliza menangkap rasa sangat familiar, seakan ia telah lama mengenal Raymundo Alvaro.


Cukup lama menunggu, Belliza tertegun ketika Oskan Devano menyeret kaki pincang, terburu-buru datangi ruang pemeriksaan menggendong gadis kecil dan Belliza berhenti mengunyah permen karet. Ia tak ingin kepergok Oskan tetapi tak sanggup berpaling dari Cheryl. Jantung berdetak kuat dan cepat. Tak bisa sangkal, ia masih sangat mencintai suaminya sekaligus benci pada pria itu. Dan Cheryl adalah kepiluan lain di hatinya.


"Cheryl ...," bibir Belliza bergetar. Ia menjadi sesak napas, bertahan agar bisa melihat puterinya.


Cukup dengar jelas percakapan di antara Raymundo Alvaro dan Cheryl setelah Oskan yang gelisah masuk ke ruang praktek. Abaikan perih demi perih di hati, Oskan sangat peduli pada Helena. Berbeda ketika bersama Belliza. Kembali pada Raymundo Alvaro.


Pria itu berikan foto yang Belliza duga foto Bellova karena Cheryl menangis sambil memeluk foto berukuran kecil sambil memanggil, Mommy. I miss you so much.


Apa yang terjadi? Bukankah Bellova merawat Cheryl? Mengapa dari percakapan, Cheryl mencari "Mommy" menyangka Tuan Alvaro sembunyikan Bellova. Itu tak mungkin terjadi, Dona berikan informasi bahwa Bellova bekerja di studio.


Apakah Oskan melarang Bellova menemui Cheryl?


Sejahat itukah?


Belliza kehilangan akal mendorong diri ulurkan tangan untuk bangkit menggapai Cheryl, tepat ketika pintu ruang praktek terbuka. Oskan keluar dari sana mendorong kursi roda dan Helena di atasnya. Bicara pada wanita separuh baya untuk ambil alih pegangi kursi roda Helena dan Oskan datangi Raymundo Alvaro. Oskan sangat tak sukai Raymundo Alvaro dekati Cheryl.


"Mana Mommy?" tanya Cheryl. "Aku mau mau Mommy. Aku tak mau Helena." Cheryl menjerit, tepis tangan Ayahnya. Cheryl bahkan tahu Helena. Hati Belliza tersayat-sayat.


"Sayang ...." Oskan hendak menggendong Cheryl yang menolak, berlari pada pengasuhnya.


"Biarkan Cheryl bertemu Bellova, kamu tak bisa paksakan egomu pada gadis kecil ini." Raymundo Alvaro menatap Oskan Devano dingin.


"Urus saja urusanmu, Tuan Alvaro!" balas Oskan Devano tajam.


Raymundo Alvaro mengunyah rahang, tampak ingin lemparkan Oskan Devano ke luar jendela rumah sakit. Pertimbangkan Cheryl dari anak mata Tuan Alvaro yang bergerak awasi Cheryl.


"Urusanku kini, karena kamu hamili adikku sedang kamu punya istri."


"Aku akan segera ceraikan Belliza dan nikahi Helena. Belliza tidur selama dua tahun dan menyukai dunia gelapnya. Kami akan berpisah."


Bak disentrum arus listrik tegangan tinggi, Belliza terpaku. Tidak sadari bahwa Dona di belakangnya mendengar percakapan itu. Menarik kursi roda dan mendorong Belliza pergi dari sana.


"Pengadilan keluarga telah kabulkan permohonan cerai dan aku memegang hak asuh Cheryl."


Masih sempat dengar kalimat toxic hingga ia bersandar di kursi roda, menangis sakit hati dan kecewa.


"Aku ternyata masih sangat mencintainya. Lupakan Oskan tak semudah yang aku katakan." Belliza terisak, telah terluka sebelumnya tetapi dampak masih tersisa. Oskan menggantungnya dan biarkan ia mati mengering. "Kami pernah naik mobil bersama lewati jalanan sepi, pergi ke pantai dan bersama menunggu fajar. Aku benar-benar kehilangan suamiku kini."


"Belliza kendalikan dirimu, please."


"Cheryl mencariku. Aku dan Bellova. Bagaimana pria itu bisa sangat kejam berpikir bisa pisahkan kami?"


"Belliza?! Lihat aku!"


"Aku baik-baik saja, Dona. Aku perlu menangis untuk baikan. Aku tak bisa terus tersesat padanya. Bagaimanapun ini akan terjadi."


"Apa aku perlu kabari Bellova? Adikmu mungkin akan datang."


"Bellova tak perlu kemari. Aku akan mengunjunginya.


"Kamu yakin?"


Belliza mengangkat kepala, menghapus air mata lalu tersenyum getir.


"Bagaimana Oskan bisa baik-baik saja setelah lukai aku?"


"Belliza, pria seperti Oskan tak pantas dapatkan cintamu."


"Kamu benar."


"Kamu harus kuat. Kondisi koma-mu mungkin jadi faktor penting dalam justifikasi perceraian dan bagi pengadilan akan sangat masuk akal Cheryl di bawah asuhan Oskan karena kamu dalam vegetative state selama dua tahun."


"Baiklah."


Belliza berpikir selama ini dirinya tak cukup baik untuk dicintai. Tidak akan mudah bagi Oskan nanti. Oskan boleh menikahi Helena, tetapi Cheryl akan bersama Ibunya.


"Tuan Lucio Vargas mengirim pesan bahwa ia akan kemari."


"Tidak, Dona. Aku akan datang pada Lucio Vargas malam ini. Bawa segala hal yang membuat Belliza kembali hidup. Oskan Devano akan menyesal karena telah menyiksaku dan Puteriku."


***


Serius aku nulis ini terburu-buru. Misalkan ada tipo atau kok aneh ya, i am so sorry. Konfliknya tiba. Hanya saja bertepatan dengan banyaknya kerjaanku.

__ADS_1


Tinggalkan komentar dan dukungan untuk The Hottest Man.


__ADS_2