
Menaruh hati-hati buket bunga ukuran jumbo di bagian tengah mobil, Lucio Vargas tak punya pilihan selain pergi ke balik kemudi.
"Kamu alergi serbuk bunga?" Mata Lucio Vargas mengerut. "Sejantan ini?"
Dijawab geraman pendek. Lucio Vargas terbahak-bahak.
"Shut up!"
Raymundo Alvaro tak begitu suka rahasianya ketahuan orang lain. Ini sangat buruk karena Lucio Vargas tahu kini.
"Pakailah masker dan bungkus hidungmu sementara waktu."
"Tak masalah." Raymundo Alvaro berusaha tegar. Aroma bunga lekas-lekas bikin nyali menciut.
"Atau turunkan kaca jendela dan ambil udara dari luar. Tolong jangan karam sebelum berlayar, Ray," goda Lucio Vargas.
"Diamlah, Luc!"
Mereka sepertinya mulai berteman.
"Aku punya cara agar kamu bisa lamaran tanpa hambatan."
"It's okay, I am fine," tolak Raymundo Alvaro.
"No, kamu terlihat sekarat."
"Aku hanya butuh waktu 15 menit ungkapkan apa yang ingin Bellova dengar."
"Tidak semudah itu, Man. Saat lamaran, terkadang wanita butuh waktu lama sejak kamu ungkapkan isi hatimu dan reaksi mereka terkadang bisa meleset dari perkiraanmu. Mereka sangat perasa. Ketika kamu katakan, 'Bellova aku mencintaimu, maukah kamu menikahiku?' ..., apa pikirmu Bellova akan langsung mengangguk setuju?"
Raymundo merengus di sisi Lucio Vargas, putuskan turunkan kaca jendela dan menghirup udara dari luar.
"Tentu saja. Kami bersama dan bahkan pernah punya bayi."
"Dengar. Bukan itu maksudku. Wanita akan dengarkan permintaanmu, menangkapmu sambil mata berkaca-kaca, resapi kata demi kata dan kemudian mulai mengaduk-aduk emosi dalam jiwa mereka untuk waktu lama dalam tayangan lamban. Kalian akan saling berpandangan sementara dia memegang bunga. Yakin, kamu baik-baik saja selama rentang waktu tersebut?"
"Ya, aku bisa bertahan."
"Aku tidak yakin kamu tak bersin-bersin. Jangan tinggalkan kesan cacat atau Bellova akan semakin kecewa padamu. Tempatkan kesakralan lamaran di urutan pertama."
Lucio Vargas cocok jadi pemandu pasangan akan menikah.
"Toko bunga tadi tertutup, alasan aku sempoyongan. Tetapi Monte Claros adalah taman terbuka. Aku akan baik-baik saja."
"Kamu bisa berusaha keras hadapi Bellova selama mungkin, kamu tak repot-repot menghirup aroma bunga juga serbuk bunga. Lagipula, Cheryl akan sukai kedatanganmu."
"Apa maksudmu?"
Lucio Vargas tersenyum penuh kemenangan, ia tahu Raymundo Alvaro adalah pria kokoh tak mudah terkoyak hanya karena alergi. Namun, sekali ini Lucio Vargas menggiring Raymundo Alvaro agar tampil di luar kebiasaan pria itu. Lucio mengemudi dan mereka pergi ke sebuah toko yang asing bagi Raymundo.
"Ikut aku!"
Lucio Vargas sangat senang sebab ia berhasil mengerjai Raymundo Alvaro.
***
Bellova masih duduk melempem di sofa depan dressing room setengah jam setelah Raymundo Alvaro berlalu.
Sungguh menjengkelkan hadapi sikap egois Raymundo Alvaro tetapi tak tahu mengeluh. Belliza di luar studio berbincang dengan Oskan Devano. Tidak, orang tua Cheryl memulai perang dingin.
"Terima kasih sudah menjaga Cheryl selama ini," kata Belliza tersenyum.
Tidak munafik, ia masih mencintai Oskan Devano. Masih ada sisa rasa dalam hati. Namun, ingat bagaimana ia disia-siakan, Belliza memaksa logikanya bekerja. Apa yang Lucio Vargas tawarkan, cinta, kasih sayang dan perhatian adalah kenyamanan sesungguhnya. Lucio Vargas hembuskan sesuatu yang baru bagi Belliza. Ia sedang berusaha mencintai Lucio Vargas.
"Cheryl akan bersamaku. Kamu tetap bisa berkunjung. Aku tak akan batasimu."
"Tidak. Dua tahun cukup bagimu. Cheryl akan bersamaku, Oskan. Please demi Cheryl, jangan egois dan buatnya sedih."
"Kita akan ikuti aturan pengadilan. Cheryl bersamaku dan jika ingin temui Cheryl, kamu bisa datang berkunjung kapan saja. Kamu bisa menginap di tempat kami."
"Oskan?! Cheryl dalam pengasuhan-mu karena aku koma. Tetapi, aku hidup sekarang dan baik-baik saja."
"Belliza ...."
"Aku akan menuntutmu ke pengadilan. Aku tidak segan-segan mengirim videomu bersama Helena. Jangan cobai aku!" Belliza berubah emosional.
"Video apa?"
"Wanita sialanmu itu kirimkan video percintaan liar kalian ke alamat emailku. Dengar Oskan, Helena tak inginkan Cheryl. Aku akan mengasuh Puteriku. Dan Lucio Vargas akan jadi Paman juga Ayah sambung yang baik bagi Cheryl karena Lucio Vargas sepupumu."
"Belliza, Lucio mungkin hanya tertarik padamu karena kamu istriku. Lucio selalu inginkan milikku."
Belliza terhenyak. Namun, menolak diadu.
"Lucio Vargas bersamaku selama aku koma. Aku mendengar suaranya dan rasakan kecupannya di keningku. Aku bahkan bersama Lucio di malam aku dikhianati. Aku merasa nyaman dalam pelukannya dan temukan bahwa sepupu suamiku lebih dibanding suamiku. Oskan, aku tak ingin bertengkar denganmu. Bukankah Helena sedang sakit? Pergilah padanya dan urusi kekasihmu. Jangan jadi pecundang untuk kedua kali. Terima kasih telah ceraikan aku saat aku hampir mati."
"Belliza ...." Oskan ulurkan tangan ingin menyentuh Belliza. Namun, Belliza menjauh.
"Mommy, Daddy? Ada apa?"
__ADS_1
Cheryl datang dengan cepat. Pegangi tangan Oskan dan tangan Belliza.
"Tidak Sayang."
"Uncle Cio bilang aku akan punya tiga Daddy. Bukankah aku keren? Tolong jangan merusak hariku, guys."
"Baiklah, Sayang." Oskan dan Belliza saling pandang, tersenyum satu sama lain. Oskan dengan cepat menggendong Cheryl. "Maafkan kami. Berikan Daddy ciuman dan pergilah dengan Mommy."
"Apakah Daddy akan bersama Helena dan adik laki-lakiku?" tanya Cheryl lagi terdengar tidak rela.
Oskan tak punya pilihan selain mengangguk.
"Baiklah Daddy. Aku akan bersama Mommy dan Uncle Cio."
Cheryl sangat bahagia, mengecup Oskan Devano penuh sayang sebelum turun dan pergi pada Belliza.
"Aku pergi."
"Ya, hati-hati Daddy."
Belliza masuk ke dalam, lumayan ragu pada sikap Oskan, tak bisa biarkan Oskan monopoli Cheryl. Bellova menonton sesuatu di ponsel, raut adiknya sungguh rumit.
Belliza pikirkan konsep perfect wedding ballgown dengan cahaya biru di ujung-ujung gaun. Pernikahan nuansa vintage di sebuah taman, mereka akan menggantung banyak foto Bellova dan Raymundo di sebuah pohon bertabur kembang bunga mawar dan candle light dalam jar. Sedikit lampu kristal di malam hari agar efek gaun terekspos. Cocok untuk Bellova tetapi Raymundo Alvaro yang kaku mungkin tak akan sukai tema kelewat romantis itu. Belliza perlu dekati Raymundo dan caritahu apa keinginan si pria.
"Apa sesuatu terjadi?" tanya Belliza, minta Kayla bawa Cheryl sebentar.
"Ya." Bellova mengangguk, tunjukan pada kakaknya.
"Apa ini?"
Belliza menerima ponsel Bellova dan menonton. Raymundo Alvaro di atas ranjang, sematkan cincin pada Cheryl kemudian melamar Bellova saat adiknya terlelap. Mengecup tangan Bellova.
"Ya Tuhan, pria teraneh tetapi sangat-sangat manis. Dia hanya terlalu kaku, Love," komentar Belliza. "Lucio katakan bayimu tak selamat saat di sel. Maafkan aku!" Belliza memeluk Bellova.
"Kami dalam hubungan rumit. Tuhan tunjukan jalan dan kuasa yang tak bisa aku tolak." Bellova coba bijak.
Satu lagi pesan masuk. Sebuah lokasi. Nomer ini di-private seakan dikirim oleh sebuah sistem. Selama 30 menit terus kirimkan pesan cinta seakan pahami dirinya dan berusaha menghiburnya.
Siapa ini? Apakah pria yang sering bicara dengan Raymundo Alvaro?
BM. Black Mask atau Black Master?!
"Kurasa kita akan hirup udara segar di taman sebelum kembali dan bersiap untuk pergi ke perjamuan makan malam." Belliza berseri-seri. "Dean Thomas akan antarkan kita ke sana."
Bellova, Belliza dan Cheryl kemudian datangi taman tersembunyi di sebuah bukit, Monte Claros Garden.
Sebuah taman sepi di hutan buatan dengan sudut pandang kota Lisbon, muara sungai Tagus dan Jembatan 25 de Abril, jembatan golden indah yang hubungkan Lisbon dan Almada.
"Mommy, tempat ini sangat indah ya?"
Cheryl riang gembira. Bellova dan Belliza saling menggenggam tangan melihat Cheryl berputar-putar mainkan ujung gaun.
"Kamu suka Cheryl?"
"Yes Mom. Aku bersama Belliza dan Bellova, aku sangat bahagia."
Bagaimana tidak? Ini pertama kalinya bagi Cheryl.
Menarik atensi banyak pengunjung karena mereka kembar bukan hal baru ditambah Cheryl yang sangat cantik menggemaskan.
Namun, keduanya sedikit keheranan oleh keramah-tamahan sekelompok pengunjung tidak biasa. Orang-orang mengenakan kaos putih, topeng berwajah Tuan Raymundo Alvaro dan dengan cepat kerumuni mereka.
"Nona Bellova Driely Damier?"
Bellova dan Belliza lempar-lemparan tatapan. Belliza bertanya apa yang terjadi? Bellova mengangkat bahu, ia tak tahu apapun.
"Ya?!" Menyahut waspada. "Aku."
"Please forgive me for all my mistakes," ujar mereka satu persatu berikan tangkai-tangkai bunga hortensia."I am so sorry to hurt you."
"Eh?!"
Bellova tertegun sedang Belliza tersenyum. Raymundo Alvaro sungguh luar biasa. Sekali bergerak mampu mendorong Bellova seakan tiba-tiba bisa terbang.
Ucapan demi ucapan berangsur-angsur menambah rona di wajah Bellova. Bunga-bunga terus berdatangan hingga tangan Bellova dipenuhi bunga.
Bellova menatap Belliza, tak ucapkan pertanyaan. Belliza pahami adiknya.
"Mungkin pria-mu sedang bekerja keras penuhi keinginanmu soal Cinderella." Belliza menggoda adiknya.
"Tidak, ini bukan gayanya."
"Bisa jadi dia sedikit keluar dari zona nyaman. Manis sekali. Dingin tetapi manis, pria-mu seperti ice cream, Love."
"Oh hentikan!"
"Pria itu pasti mendobrak batasan."
Seseorang minta Belliza, Bellova juga Cheryl ikut dengannya dan menuntun mereka ke arah tepi danau di taman itu.
__ADS_1
Cheryl sangat antusias, tersenyum lebar kalahkan mentari.
"Apakah kita akan bertualang? Oh Uncle Ray, sepertinya menunggu kita."
"Mungkin."
Lalu sebuah mobil mendekat. Bukankah mobil dilarang masuk area taman?
Bellova kenali mobil Raymundo Alvaro. Kecuali Cheryl yang tak bosan-bosan memekik senang, kedua Mommy mematung.
Lucio Vargas turun dari mobil. Rapikan blazer, mengatur kaca mata hitam, tersenyum dan melambai pada ketiganya. Ia pergi ke bagian tengah mobil, buka pintu mobil dan agak mengomel saat menarik seseorang keluar dari mobil yang cukup sempit. Terdengar jeritan kecil sebelum sebuah benda terlihat.
Badut Beruang?!
Ya.
Badut beruang setinggi dua meter, setelan jas hitam, berdasi kupu-kupu merah berdiri limbung di sisi mobil.
Belliza dan Bellova bertukar pandang untuk kesekian kali. Lucio Vargas pergi ke bagasi dan menaruh satu buket bunga hortensia lumayan besar di tangan beruang.
"Papa Bear?!" jerit Cheryl melompat-lompat kegirangan.
"Oh Sayang," keluh Belliza sedih karena menurut Lucio, Cheryl sangat menyukai beruang juga kupu-kupu. "Um, tetapi kenapa wajah beruangnya tak tersenyum? Apakah dia tidak bahagia?"
Wajah boneka badut bukan satu lengkungan smile tetapi satu garis datar. Jalan juga kikuk seakan si beruang akan pergi ke tempat penyembelihan. Oh ya Tuhan, menggelikan untuk dilihat.
Beruang akhirnya sampai di tempat Bellova terpaku. Membungkuk dan mengusap kepala Cheryl.
Gerombolan orang berbaju putih dan bertopeng Raymundo Alvaro berbaris di belakang si beruang. Saat si beruang sodorkan buket bunga, poster besar di belakang terbentang lebar.
Bellova Driely Damier, maukah kamu menikah denganku?
Bellova menatap buket bunga, lalu pada si beruang. Inisiatif sendiri? Tidak mungkin.
Beruang berdiri sabar di depan Bellova. Lucio Vargas tepat di belakang dengan seikat mawar merah.
Lama dan hening. Bellova hanya menatap lurus pada beruang di depannya, menduga, di dalam sana si pria menderita gangguan bicara.
Lucio Vargas tak suka slow motion. Kaki kanan sedikit keras menendang belakang lutut kanan beruang hingga si beruang bertekuk lutut di depan Bellova.
Raymundo Alvaro memaki pelan, Lucio sepertinya sepenuh hati menendang kakinya. Ia merasa akan kiamat dalam boneka beruang, lekas berkeringat dan gerah juga sesak napas.
Lucio Vargas memaksanya memakai kostum hebat beruang tapi apa ini? Mengapa ia mulai gatal-gatal.
"Bellova, maafkan aku. Maukah kamu menikahiku?" teriak Raymundo Alvaro sejadi-jadinya. Tak tahan pengap dan ingin bersin.
Ini konyol. Saat Bellova menikahinya, mereka akan honey moon menurut gayanya. Lihat saja nanti!
Oh sial mengapa lehernya semakin panas terbakar? Apakah mereka gunakan detergen untuk mencuci bagian dalam kostum badut beruang ini?
Apakah mereka menjual barang bekas?
Mungkin? Atau tidak.
Mungkin peluh pada pori-pori membuatnya gatal-gatal dan terbakar. Raymundo kehilangan sabar.
Tak menunggu Bellova mengangguk ketika ia bangkit berdiri meraih tangan Bellova dan merengkuh Bellova ke dalam pelukannya. Lepaskan topeng boneka, biarkan wajahnya dilihat Bellova.
Raymundo Alvaro berpaling menjauh dari Bellova dan mulai bersin-bersin. Dengan kesal lemparkan kepala beruang pada Lucio Vargas yang tak siap menerima serangan.
Lucio tertawa lebar senang melihat Raymundo depresi, langsung gunakan topeng untuk menggoda Cheryl dan mengajak gadis kecil bermain dengannya. Lucio mengundang semua orang untuk makan siang, tinggalkan Bellova dan Raymundo padahal sebagian orang penasaran pada akhir drama lamaran.
"Ada apa denganmu?" tanya Bellova kenali gelagat tak beres. Mata Raymundo Alvaro memerah dan pria itu terus bersin-bersin.
Queena pernah menyinggung soal alergian saat pertama kali mereka bertemu di acara kemping. Tidak pasti alergi apa, tetapi menurut Queena Raymundo miliki kulit sensitif para bayi. Bellova langsung lemparkan bunga dalam pelukannya sejauh mungkin, ngeri sendiri. Lepaskan mantel yang dipakai lemparkan sejauh mungkin.
"Apakah kamu baik-baik saja?" tanya Bellova memeriksa Raymundo Alvaro. Leher si pria merah-merah, ada bentol-bentol panjang mulai tumbuh.
Raymundo Alvaro mengangguk coba untuk tidak menggaruk. "Aku hanya tak tahan pada bunga. Bisakah bantu aku lepaskan ini? Benda ini sungguhan akan membunuhku."
Bellova tersenyum, hargai perjuangan pria sedingin salju yang mulai mencair.
"Tetapi sebelumnya jawab aku, Bellova! Maukah kamu menikahiku?"
Pelukan pada pinggang Bellova diperkuat. Mata menyipit. Mata bertemu mata, mencari kebenaran.
"Kamu tahu jawabannya."
"Jawab aku dengan benar, Bellova!" Raymundo Alvaro kembali menuntut. Mungkin karakternya memang begini, tak bisa diubah. Pemaksa.
Bellova menatap Raymundo hingga kening Raymundo terangkat tinggi. Tenggelam dalam keindahan mata cokelat kehijauan, Raymundo mengerang. Ia terpesona pada keindahan Bellova. Bisakah mereka menikah besok dan berduaan sebulan ke depan di sebuah pulau tak berpenghuni, hanya mereka berdua.
Angan Raymundo Alvaro semakin membara saat Bellova berdiri di atas kaki-kaki besar si beruang, menyentuh bibirnya memulai kecupan pelan mendayu-dayu. Mereka berciuman. Raymundo biarkan Bellova membimbingnya pada sentuhan paling manis, penuh gelora, persuasif penuh pada bibirnya. Ada pagutan diselingi helaan panjang dan lidah-lidah berdansa dalam rongga mulut diiringi musik lembut dari restoran. Tangan satunya menahan kepala Bellova. Tak ingin berakhir.
Ciuman terlepas dan masing-masing orang keberatan. Bellova membelai leher kemerahan, menatap Raymundo dalam.
"Mari menikah, Tuan Raymundo Alvaro."
***
__ADS_1
Tinggalkan komentarmu.