
"Di mana Bellova?"
Paul Damier bertanya setelah dua hari tak melihat puterinya dan pria yang baru jadi menantu tampak berantakan. Semua orang berkumpul di ruang tengah untuk perpisahan pagi itu kecuali Gracia Anthony yang harus pergi ke rumah kakak tertuanya karena sebuah urusan penting.
"Dad, Bellova sedang persiapkan perjalanan romantis mereka dan suaminya sembunyikan Bellova dari kita agar bisa terus berduaan dengan istrinya. Kita tak bisa mengganggu Bellova sementara waktu. Aku akan antarkan kalian ke bandara."
Belliza walaupun marah pada Raymundo Alvaro tak bisa buat keluarganya cemas. Ia bicara lembut tapi cukup tajam bagi yang paham, menatap Raymundo dingin.
"Baiklah, baiklah," sahut Paul Damier terselip kuatir meski percaya pada Belliza.
"Ray, jaga Puteriku!" Paul Damier tersenyum pada Raymundo. "Saat Bellova bertanya padaku, siapa yang akan ia nikahi, seseorang yang dia cintai atau seseorang yang mencintainya, aku penasaran pria seperti apa yang sangat dicintai Puteriku hingga keberatan dijodohkan. Kamu ..., sama sekali tak ada dalam bayanganku. Lega, kini mengetahui bahwa kamu akan menjaga Puteriku dan bahagiakanmu. Bellova adalah gadis manis, lembut dan penyayang tetapi keras kepala. Aku berdoa Bellova jadi istri yang baik untukmu dan kamu berdua selalu bahagia."
Raymundo Alvaro mengangguk pelan di atas ekspresi data. Rahang berderak pelan dan ia telah habiskan dua hari paling sulit dalam hidupnya temukan Bellova.
"Nak ..." panggil Damaris Damier, "Paul mungkin tak menduga bahwa kamu akan jadi menantu kami, tapi aku tahu sejak Bellova pergi sore itu ke Miradoura untuk bertemu denganmu. Kamarnya berantakan oleh banyak pakaian seperti gadis yang jatuh cinta akan bertemu kekasih. Aku tak habis pikir, mengapa ia kemudian malah memilih pakaian sederhana. Aku paham setelah mengenalmu secara langsung."
Bagi Paul dan Damaris Damier juga di mata semua orang, Bellova adalah dewi keluarga. Damaris Damier menggenggam tangan Raymundo hangat, menepuk perlahan. Mata wanita usia lanjut berkaca-kaca.
"Jagalah Bellova dan sayangi dia! Kamu akan temukan bahwa kamu menikahi seorang bidadari."
Damaris sepertinya curiga bahwa ia membuat Bellova bersedih.
"Kami akan kembali ke Santa Cruz secepatnya, Nek. Tunggu kami," ujar Raymundo hingga Lucio Vargas dan Belliza berbalik padanya.
"Ya, kami akan pergi bersama-sama," sambung Lucio Vargas. "Aku dan keluargaku akan melamar Belliza. Aku pikir kami harus secepatnya menikah."
Lucio Vargas menggendong Cheryl dan satu tangannya menggenggam tangan Belliza erat-erat. Lucio selalu romantis dan tak mau jauh-jauh dari Belliza. Orang-orang telah melihat cinta mendalam Lucio Vargas pada Belliza dan tak diragukan kasih sayangnya pada Cheryl. Lucio bukan saja Uncle tetapi Step daddy sempurna bagi Cheryl.
"Kami akan menunggu Anda, Tuan Vargas. Jika ada yang ingin melamar Bellinda saat ini, aku pasti akan langsung menerima," sahut Paul Damier berseri-seri.
"Tolong tinggalah di sini sebentar lagi Bellinda dan bertemu dengan Hector Anthony. Dia akan segera kembali." Axel Anthony bicara pada Bellinda. Namun, yang diajaknya bicara langsung menggeleng sambil tersenyum kecut. Axel kemudian berpaling pada Queena meminta pendapat.
"Tidak, Axel. Hector suka petualang dan hidupnya kacau." Queena berpikir lagi. "Tetapi tak ada salahnya dicoba, Bellinda."
"Terima kasih atas perhatianmu, Queena. Maafkan aku sebelumnya, Hector Anthony terlibat banyak skandal, banyak wanita. Aku tak ingin pria seperti Hector." Bellinda menolak keras.
Siapa berani dijodohkan dengan Hector Anthony, si host utama Nature Adventure yang punya wanita di tiap sudut negara. Lokasi syuting adalah lahan tebarkan pesona dan bersenang-senang. Hector mengikat banyak gadis di banyak tempat dan berita hiburan murah dengan senang hati mengekspos pria itu. Hector bahkan bermain-main dengan pelayan hotel. Sungguh pria murahan dan menggelikan, pikir Bellinda.
Axel Anthony menghela napas panjang. "Kamu benar, Bellinda. Mari lupakan."
Semua orang akhirnya akan kembali ke Santa Cruz terkecuali Beatrix Alvaro yang masih bersedih di apartemen Helena.
Raymundo mengantar keluarga istrinya ke parkiran, melambai tanpa senyuman dan ucapkan sampai jumpa pada semua orang.
Axel Anthony membaca ketidak-beresan saat temukan Raymundo Alvaro berkubang dalam kemelut yang tak berkesudahan.
"Apa BM belum temukan sesuatu?"
"BM tak bisa dihubungi. Dia direkrut pemerintah jadi intelijen."
"Mari ke tempatnya!"
Axel Anthony bangkit berdiri. Raymundo Alvaro bergeming.
"Tinggalah di sini! Queena lebih membutuhkanmu. Aku akan cari Bellova."
Raymundo tak percaya ia tak punya informasi sama sekali tentang keberadaan Bellova. Ia mulai kelimpungan. Petunjuk satu-satunya adalah taxi yang dinaiki Bellova.
"Bagaimana dengan taxi yang dinaiki Bellova?" tanya Axel Anthony merasa perlu setia kawan.
"Taxi itu tidak terdaftar dalam perusahaan taxi manapun. Platnya palsu dikerjakan oleh orang iseng."
Ponsel Raymundo berdering nyaring.
"Angkat ponselmu, Ray. Aku perlu berganti jaket."
"Romeo, kamu perlu selidiki BM." Deenar memulai informasi penting.
"Mengapa?! Apa motifnya?!"
"BM gunakan identitas pribadi, Raphael Bourne terbang ke Islandia pukul 10 malam di hari pernikahanmu. Bukankah tepat dengan kehilangan Bellova?"
"Oh sh****."
Raymundo mendes*** jengkel. Musuh paling berbahaya terkadang adalah orang terdekatmu.
"Apa kamu tak perhatikan plat taxi tumpangan Bellova?"
Raymundo memeriksa ponsel.
"Plat taxi bersandi campuran, jika dipecahkan akan hasilkan inisial seseorang dan nama tempat. Atau dua-duanya adalah nama tempat dan sebuah lokasi. M 1312 BN, jika dibaca terbalik adalah Bjarnarey RB - Raphael Bourne Minimarket."
"Semudah itu?"
"Pikiranmu sedang mengambang, kamu juga tak akan curigai BM, itulah mengapa kamu lewatkan banyak hal mudah."
"Terima kasih, D."
"Semoga segera temukan istrimu."
Axel Anthony kembali dengan jaket hitam dan topi.
"Ada apa?"
Belum sempat dijawab, Queena muncul dari dapur.
"Kemana kalian berdua akan pergi?" tanya Queena menyipit. Pegangi perutnya. Was-was. "Apa yang akan kalian lakukan sekarang? Ya Tuhan, kalian itu pria menikah, berhentilah macam-macam."
"Tolong jangan terkejut jika aku beritahu kami apa yang sedang terjadi Queena," pinta Axel Anthony.
"Ya - " Ragu-ragu. "Apa yang terjadi? Apakah ada hubungannya dengan Bellova?" tanya Queena.
Bellova diculik seseorang!" jawab Axel Anthony pelan.
"Ya Tuhan. Kapan? Di mana? Bukankah Bellova sedang di Villa seperti katamu untuk honeymoon?" Queena menatap Raymundo tajam, tahu bahwa pria itu menyimpan sesuatu di wajah datar yang ternoda oleh banyak bayi janggut baru tumbuh, bertebaran di sepanjang rahang dan tak terurus.
"Tidak, Queena. Seseorang menculiknya. Kami harus pergi sebentar."
"Baiklah, tolong berhati-hati. Yakinlah Bellova baik-baik saja," ujar Queena berikan semangat.
Axel Anthony dan Raymundo pergi temui BM. Sampai di depan minimarket, turun dari sana. Masuk ke dalam minimarket.
"Tuan Alvaro? Tuan Anthony?"
"Vladimir, apa kabarmu?"
"Ba ... baik, Tuan."
Karyawan minimarket kenali Axel Anthony sedikit gugup tetapi tak berani halangi pria itu ketika Axel membuka pintu pendingin minuman, menekan tombol di belakang produk lalu masuk ke ruang khusus karyawan.
__ADS_1
Mendorong tembok dan masuk ke bagian terdalam setelah menggeser sapu dan pel lantai, temukan BM sedang tiduran di atas sofa panjang, sedikit berbunyi. Mulutnya terbuka. Padahal alarm terus berdering.
"Penyusup! Penyusup!"
Namun, BM sepertinya sangat lelah hingga tidur tanpa peduli bahwa Raymundo Alvaro lekas kesal melihatnya. Darah Raymundo mendidih sampai di atas ubun-ubun.
Amati layar sibuk bekerja memantau segala tempat, Raymundo dengan cepat koneksikan sambungan ke layar utama. Screen layar utama hanya pulau terpencil.
"Bjarnarey?!"
"Rumah impiannya!" sahut Raymundo cepat, tak mungkin BM menculik Bellova dan tega bawa Bellova ke pulau tanpa manusia lainnya.
"Aku akan coba mengakses komputer utama. Duduk di kursi di balik keyboard salah satu layar.
"Miss * di akses! Miss * di akses!" Alarm menyanyi dari sebuah sudut.
"Pria ini mesum," keluh Raymundo Alvaro. Tangannya mulai bermain.
"Jawab pertanyaanku untuk bisa tidur dengan Miss *." Alarm bicara lagi.
"Siapa wanita paling misterius di dunia?"
"Monalisa!" jawab Raymundo tanpa pikir panjang.
"Siapa wanita paling cantik di dunia?"
"Pequeena?!" jawab Axel percaya diri.
"Anda belum beruntung. Silahkan coba lain kali."
Raymundo Alvaro restart komputer, menunggu dalam 5 detik meresahkan.
"Jawab pertanyaanku untuk bisa tidur dengan Miss *." Alarm mulai bicara.
"Siapa wanita paling misterius di dunia?"
"Monalisa!" jawab Raymundo lagi.
"Siapa wanita cantik dari Inggris?"
"Lady Diana."
"Tanggal kematian Diana Spencer?"
"31 Agustus 1997."
"Siapa wanita yang aku sukai?"
"Bellova?!" tebak Raymundo penuh tuduhan.
Menyebalkan karena itu berarti Raphael Bourne sungguhan jatuh cinta pada Bellova.
Layar utama kemudian tampilkan banyak folder, ratusan. Dan beberapa di antaranya bernama Bellova.
"Apa yang harus aku lakukan pada maniak ini?!" tanya Raymundo gerah.
"Aku tak tahu! Aku ingin lenyapkanmu saat aku tahu kamu menyukai Queena."
"Sangat jujur!"
"Sekarang kamu sepertinya akan rasakan apa yang aku rasakan. BM bahkan sangat berani dengan mengakses video Bellova secara detil."
"Hanya aku yang bisa akses video Bellova."
Sekali pencet pada folder video Bellova sad day. Ada beberapa item lagi di dalamnya.
Hari pernikahan mereka.
Bellova masuk ke ruang tidur, pegangi kepala naik ke ranjang dan tidur. Folder berikutnya masih di ruang tidur, menggeliat
bangun dan meraba sisi ranjang lalu menelpon seseorang. Dijawab dan bicara.
"Dengan siapa Bellova bicara?" tanya Axel mulai kumpulkan banyak informasi.
"D."
"Bellova menelpon D?"
"Tidak, aku sedang buat tato di tempat Deenar."
"Saat D menjawab ponselmu, Bellova bisa salah paham."
"Aku menyuruh Deenar menjawab panggilan."
"Jika itu Queena, terang saja akan berakhir buruk."
"Anda benar, segalanya berakhir buruk."
Panggilan berakhir.
Bellova menangis di ranjang hanya menatap ponsel.
"Bisa dilihat kamu menyakiti hatinya, Ray."
Wanita itu turun dari ranjang jalan terseok-seok menuju ruang tidur keluar tak lama berselang berbusana rapi, di tangannya ada kemeja Raymundo. Menghadap ke cermin, mendekap kemeja itu erat.
Meraih ponsel dan menelpon.
"Taxi."
Memakai mantel abu. Ponselnya ditaruh begitu saja di atas ranjang.
"Sangat disayangkan, Ray."
"Aku tak yakin. Bukankah Anda pernah berkata, wanita sangat manipulatif? Aku hanya pergi setelah pernikahan untuk tenangkan diri. Kami sedikit bertengkar."
"Tak bisa dibenarkan, Ray. Apa yang terjadi jika kamu menelpon Bellova dan seorang pria bicara di ujung saluran?"
"Aku dan D hanya buat tato. Aku tak akan lakukan hal gila."
"Tapi Bellova menangis setelah panggilan ditutup. Ia terluka."
Raymundo terdiam.
Sementara mereka fokus ke layar. BM bangun.
"Wah wah wah, aku kedatangan dua bosku di waktu bersamaan. Apakah Anda berdua rindukan aku?" BM menguap lebar-lebar lupakan tata krama.
"Berhenti main-main BM, di mana istriku?" tanya Raymundo sibuk pecahkan sandi di folder berikutnya.
__ADS_1
"Raphael?!" tegur Axel Anthony. "Lama tak berjumpa? Perlukah aku menelpon atasanmu bahwa salah satu anggotanya lakukan penyimpangan wewenang untuk kepentingan pribadi?"
"Anda tak akan lakukan itu padaku, Tuan Anthony. Teman Anda ini bertingkah seperti pria brengsek," balas BM.
"Mereka menikah dan serumit apapun masalahnya Anda tak boleh ikut campur BM?"
"Aku menyukai Juliet dan hatiku menderita saat dia menangis."
Axel Anthony naikan alis tinggi sedang Raymundo Alvaro berhenti mengetik di laptop. Berbalik pada BM.
"Apa kamu bosan hidup, Ralph?" tanya Raymundo dingin.
"Berhubung kita di sini dalam circle yang tak bisa kita kendalikan mari berterus terang satu sama lain."
"Buang omong kosongmu, B! Beritahu aku di mana istriku!"
"Jika Axel Anthony sakiti Queena, apa yang akan kamu lakukan Raymundo Alvaro?" tanya BM ambilkan kaleng soda dalam pendingin. "Minumlah, tak ada racun di dalamnya."
"Di mana Bellova!"
"Jawab pertanyaanku dulu?"
BM duduk di sofa, naikan kaki ke meja sofa, jalinan tangan terbaring di atas perutnya.
"Raphael, aku rasa kamu coba menguji kesabaranku!" Axel Anthony meraih ponsel. "Kamu memegang banyak rahasia kami tetapi ingatlah bahwa aku juga lakukan hal yang sama."
Lakukan panggilan.
"Aku mengatur panggilan Anda Tuan Anthony!"
"Tidak semuanya, Ralph. Aku juga butuh berjaga-jaga," balas Axel Anthony penuh ancaman.
Terhubung.
"Francesco Xavier Costa..., aku butuh bantuanmu."
"Axel Anthony? Senang kamu menelponku."
BM turunkan kaki dari sofa. Axel Anthony sungguhan menelpon atasannya.
"Bisakah aku alihkan panggilan ke video call, FX?" tanya Axel Anthony menatap tajam BM. "Slaah seorang di bawah tanggung jawabmu lakukan hal tidak menyenangkan dan butuh diberi peringatan."
"Tentu saja, Ax. Aku penasaran siapa yang melanggar aturan dan akan minta sekretaris jenderal dari eksekutif agensi untuk investigasi."
BM berdiri tegak. "Aku akan beritahu di mana Bellova!" bisik BM pelan.
Axel Anthony dan Raymundo Alvaro berbagi lirikan.
Hening. BM membuat sumpah bahwa ia akan bicara.
"FX, aku pikir kita akan menundanya di lain waktu."
"Begitukah? Baiklah, Ax. Sampaikan salam hormatku pada Nyonya Gracia Anthony."
"Tentu saja FX."
Panggilan berakhir, BM pergi ke balik meja dan menarik keluar keyboard. Mengetik cepat dengan sepuluh jari. Bellova terlihat di pulau itu, berdiri di tengah pulau di atas hamparan rumput hijau.
"Bjarnarey?! Kau gila Raphael, kau mengurung istriku di rumah terpencil di sana? Bagaimana jika ada yang berani menyakiti istriku?"
"Kamu sendirilah penjahatnya, Romeo. Juliet selalu menangis bahkan itu terjadi dalam taxi. Tak berhenti karena kamu menyakitinya."
Raymundo bangkit dari duduk datangi BM sedang BM menantangnya.
"Aku akan menjaga Juliet darimu. Jika tak mencintainya lepaskan dia!"
Raymundo jadi murka meraih kerah kaos, benturkan ke tembok di sisi pintu keluar.
"Bellova istriku! Kamu tidak waras, Ralph!"
"Oh ya? Bagaimana denganmu, Romeo? Tak ada puisi, tak ada bunga masih bisa diterima. Datar tanpa ekspresi masih bisa dimaklumi, tapi tanpa perasaan dan kasih sayang bagi Juliet, hanya seorang pria berhati batu karang yang tak paham bahwa wanitanya berusaha menerima kekurangan. Kau sangat me-nye-dih-kan!" ujar BM mengeja kata terakhir dengan ekspresi asing bagi Raymundo.
"Aku ingin hancurkan wajahmu!"
"Tak masalah!"
"Ray, mari pergi!" Axel Anthony pegangi bahu Raymundo. "Kamu harus menjemput Bellova."
Berat hati lepaskan BM. Keduanya pergi ke pintu. Baru saja akan memencet tombol ketika uap tak kasat mata turun dari loteng.
"Aku akan antarkanmu pada Juliet," tawar BM sedikit menyeringai tipis.
"Aku bisa sendiri. Jangan coba-coba dekati istriku."
"Kurasa aku bisa mempercepat akhiri penderitaanmu, Romeo."
Buk!
Buk!
BM bertepuk tangan senang, dua tubuh melorot.
"Ternyata formulanya sangat cepat dan ampuh. Kamu jenius Black Mask dan kamu memang keren Black Master."
Raymundo Alvaro tertidur, tak sadar bahwa beberapa orang menggotong tubuhnya masukan ke dalam box pengimpanan es. Sedangkan tubuh Axel Anthony dikirim pulang ke mansion Anthony gunakan Limosin.
Raymundo hanya merasa kedinginan dan tiap mimpinya hanya melihat Bellova. Bola mata bergerak-gerak. Tertidur. Bangun, rasakan ia diatas kursi roda. Didorong lalu kembali tertidur.
Entah berapa lama, ia terbangun ketika tubuhnya digoyang. Matanya terbuka sedikit, awan hitam menggelap di atasnya. Tubuhnya tidak digoyang, ia hanya berada di atas sebuah kapal terombang-ambing temukan bahwa ia ada di dasar tebing tinggi dan tak terlihat ujungnya.
Robot elang terus bicara.
"Hari hampir hujan, kita harus mendaki tebing. Akan ada badai laut, kita bisa tersapu ombak!"
Baru saja diberi peringatan ketika sebuah ombak besar datang dengan cepat dan menggulung perahu. Jelas saja benda itu terbalik dan Raymundo Alvaro terhempas ke dinding tebing dengan keras. Bahunya tertancap batu karang runcing, ia menarik dirinya. Menahan perih. Perahu kayu terapung di dekatnya. Ia berenang ke sana, balikan kapal, naik ke perahu sedang si robot menghilang. Memeriksa geladak bertutup rapat, dengan kesal kembali ke air dan pergi ke sisi tebing, menendang lepas salah satu karang runcing. Tak semudah bayangan, ia butuhkan banyak tenaga sementara hujan akan segera datang.
Dapatkan benda runcing itu kembali ke perahu, naik sedikit payah karena sobekan pada bahu. Dasar perahu dibuka. Temukan tali karmantel dan peralatan panjat tebing lainnya dalam sebuah tas ransel berukuran besar. Ada satu tangkai hortensia latex di dasar perahu tertulis;
"Jangan sampai jatuh bebas dan mati, Man."
Ombak besar akan segera datang. Raymundo Alvaro buru-buru gantungkan carbinet pada tali pinggang, masukan bunga dalam ransel dan memakai ransel. Kalungkan tali pada lengan, buru-buru melompat ke air setelah mengisi paru-paru dengan udara. Ia akan berenang putari tebing, berharap ada batu pijakan.
Muncul di sisi lain tebing lain, ia kembali ambil napas dalam-dalam. Gerakannya melambat karena tas mulai berat. Sisi berikut, lega karena ada sedikit landasan, berenang ke sana. Hatinya berdebar-debar karena di atas karang-karang ini, istrinya berada. Sampai di karang luas mungkin berukuran 5 meter x 5 meter, susah payah naik ke atas. Ngos-ngosan.
Menatap langit, sedikit umpatan. Waktu tepat untuk menyiksanya. Ia tak bisa berlama-lama, hujan akan segera datang, ia bisa pingsan oleh biji-biji hujan.
Mengatur perlengkapan, temukan piton paku juga hamar. Ada yang lainnya, berbentuk paruh burung. Atau ia tak butuh itu semua, hanya perlu memanjat. Namun, jika ia jatuh bebas dan otaknya tercecer di batu karang, Bellova mungkin akan menangisi kematiannya. Wanita itu mencium kemejanya berulang kali, tak ada yang perlu diributkan lagi oleh jiwanya yang cacat. Raymundo Alvaro hanya perlu melihat Bellova.
****
__ADS_1
Aku sangat sibuk. Maaf ya.