My Hottest Man

My Hottest Man
Chapter 63 : My Extreme Husband


__ADS_3

"Bellova! Bellova! Bangunlah! Kamu perlu makan."


Samar-samar suara Raymundo Alvaro menggema dalam ruang mimpi. Bellova sedikit bergerak.


"Bangunlah!" ujar Raymundo lagi. Bellova rasakan tangan Raymundo menyentuh tengkuk dan berusaha bangunkan dirinya.


"Aku sangat lelah dan mengantuk," sahut Bellova terseret-seret.


"Buka mulutmu sebentar."


Bellova berjaga-jaga di sisi suaminya sepanjang malam dan rentetan hari di mana ia kehilangan kantuk membuatnya cuma ingin tidur saja saat ini. Terlebih percintaan mendayu-dayu tetapi berhasil menyedot seluruh energinya.


Tubuh Bellova diangkat ke posisi duduk. Bellova menggaruk kepalanya pada sisi tubuh suaminya.


"Aku ingin tidur."


"Kamu perlu makan."


"Tidak, aku ingin tidur."


Bellova rasakan tangan-tangan Raymundo bergerak di kepalanya. Ia dikecup berulang kali.


Leher, tengkuk, kuping. Bellova menahan geli.


"Aku sungguh sangat mengantuk, Tuan! Ini semua salahmu. Kamu menggodaku pagi-pagi buta."


"Baiklah, tidurlah! Aku akan menjagamu!"


"Jangan pergi sampai aku bangun!"


"Baiklah."


***


Mata-mata Bellova ingin terbuka saat rasakan cahaya mentari menyentuh wajah. Menghangat. Kantuk secara membabi-buta mencengkeramnya, ia tertahan di dunia mimpi. Lagi. Ia tak pernah puas tidur.


Bibir kemudian dikecup lembut. Bellova tersenyum. Ia telah merekah sesempurna hortensia di puncak musim berbunga.


Bellova nikmati cinta menggebu-gebu, berada di dekat suaminya sungguh sedahsyat ini rasanya. Entah berapa kali, Bellova mengucap syukur.


Bak bayi kucing mencari kenyamanan, Bellova bergelung nikmat, ia tak bisa utarakan kebahagiaan, tak bisa dituangkan dalam kata-kata.


Apakah mungkin karena ia sedang jatuh cinta? Bellova cuma bergelayut pada Raymundo, abaikan serangan kegelisahan bertubi-tubi dalam dirinya. Ada banyak alarm tanda bahaya, tetapi Bellova sibuk terpukau pada situasi mendebarkan saat ini.


"Aku mencintaimu," bisik Bellova lengkungkan senyuman makin lebar saat bibirnya kembali disentuh.


Mengapa begitu aneh? Seakan ia ada di pusat badai, bicara normal tak cukup bahkan bagi pendengarannya sendiri.


"Aku mencintaimu ...," ujar Bellova lagi. Sekali ini suaranya sungguhan tenggelam. Deru ombak terdengar terlalu nyata menyekap. Seolah-olah ia berada di permukaan samudera. Mata-mata Bellova sedikit menyipit, ia curiga.


Mengapa beratapkan langit berawan? Apakah Raymundo Alvaro menggendongnya ke rerumputan, menikmati udara segar? Apakah mereka akan bermalam dalam tenda seperti waktu camping dan membuat bayi? Bellova berdebar-debar. Ujung saraf bahkan tak tahu malu telah kembang kempis juga kesemutan. Ia punya memori indah soal malam itu. Semakin ia memikirkan semakin ia bergairah.


Bellova penasaran, mata lantas terbuka. Pertama, hanya langit luas sejauh ia memutar kepalanya. Lalu, tubuh suaminya yang rupawan.


Pegangi dirinya sendiri, Bellova masih terbungkus selimut yang sama setelah percintaan luar biasa bergelora tadi pagi.


Oho ..., tetapi ..., apa ini? Mengapa angin terasa sangat kencang di sini? Ranjang berayun.


Di mana mereka?


Apa yang suaminya coba lakukan?


Bellova terbelalak, kantuk seketika musnah. Tangan memeluk Raymundo erat-erat. Mengintip dari celah ketiak Raymundo diliputi kengerian. Yakinkan diri, telungkup dan mengangkat kepalanya perlahan.


Darahnya meluncur cepat ke mata kaki, bahkan ia berhenti bernapas seakan satu helaan napas bisa buat ia melayang bebas ke dasar lautan.


"A ... pa i ... ni, Tuan?" Bellova terbata-bata. Ia mendadak dihinggapi pusing, mual dan ingin muntah. Jantungnya berpacu sangat cepat.


Bagaimana tidak?


Mereka di ujung tebing, di atas samudera, terbaring pada rajutan tali menyerupai ranjang ayunan. Tak ingin tahu di mana simpul-simpul tali saling menyokong, Bellova tak berani bayangkan apapun termasuk bagaimana cara pria itu ciptakan ide tergila dalam beberapa jam.


"It's okay, I am fine," hibur Bellova. Ia perlu menyaru, cocokan kebiasaan suaminya meski gemetaran.


Coba kendalikan diri, derak air menghantam dinding tebing, tetap saja berhasil ciutkan nyali. Sumpah Demi Tuhan, ini lebih menakutkan dari kematian.


"Apakah aku sedang bermimpi?"


Tak ada sahutan.


"Raymundo Alvaro?! Apa yang terjadi? Bisa beritahu aku?"


Berapa lama Bellova tertidur sampai-sampai tak sadari ia digendong dan dibawa ke ranjang, di atas mulut kematian yang menganga?


"Um, kamu sudah bangun, Bellova?" tanya Raymundo Alvaro santai. "Aku masih tak percaya akan bersamamu suatu hari di tempat ini."


Bellova kembali ke posisi semula, sangat berati-hati, rapatkan diri, mengintip ke atas, pada Raymundo Alvaro. Tanpa atasan, tubuh kecokelatan dan dada luar biasa perkasa sedikit banyak berhasil jadi penawar kegelisahan Bellova.


Gunakan kaca mata gelap, menoleh sedikit pada Bellova lalu kembali terbenam pada langit, Raymundo Alvaro kemudian pindahkan satu kaki ke kaki lain. Hingga ranjang kembali bergoyang. Bellova bergidik. Ia memekik ketakutan.


"Jangan bergerak, aku mohon. Jangan lakukan ini padaku," seru Bellova.


Raymundo berbalik pada Bellova. Membelai wajah panik Bellova coba menenangkan.

__ADS_1


"Ikatannya kuat, Bellova, cukup untuk menahan beban kita berdua. Jangan cemas."


"Aku sulit bernapas." Bellova nyaris menangis. Ia belum ingin mati.


Bellova bayangkan bulan madu ekstrim antara dirinya dan Raymundo, kini sedang berlangsung, sayang sekali tak ada dalam ekspetasi.


Imajinasinya sebatas ..., panjati tebing dengan banyak peralatan keselamatan lengkap dan berciuman di tengah tebing. Mungkin ..., bukan nya berbaring di atas ranjang rajutan di antara tebing sedang samudera tak pernah damai menunggui tubuh mereka di bawah sana. Saat ranjang ayunan ini terlepas, ia akan berakhir tercabik-cabik oleh tekanan udara dan runcingan batu karang di dinding tebing sama tak bersahabatnya.


Raymundo keluarkan sunblock, membuka penutup botol. Menarik Bellova lebih dekat, lepaskan selimut Bellova. Pria itu tak terusik, tampak nikmati hari seakan ia sedang berjemur di atas pasir putih.


Ya Tuhan, ini gila.


"Kemarilah, Bellova. Kamu butuh ini."


Bellova lantas sadari ia sama sekali tak berpakaian dibalik selimut, ribuan kaki di atas ketinggian.


Ya Tuhan. Selamatkan aku!


Sangat halus, tangan kekar Raymundo oleskan lotion perlahan pada leher Bellova. Tanpa aba-aba sembari ciumi Bellova.


"Bisakah kita kembali?" tanya Bellova di bawah bibir suaminya. "Badai mungkin akan terjadi."


"Mari nikmati beberapa menit lagi. Ini menyenangkan. Kita akan ciptakan bayi kembar di sini, sebelum badai datang."


Jawaban enteng Raymundo buat Bellova terbelalak.


"A ... pa maksudmu? Ber ... cinta di atas ayunan? I ... ni?!"


"Ya," sahut Raymundo tak berpaling dari Bellova, lepaskan kaca mata. Membungkuk untuk sensasi pag**** pada bibir Bellova.


"Di atas ayunan ini?" tanya Bellova linglung.


Kemudian ia lemas karena Raymundo Alvaro meskipun telah jadi suaminya tetap saja masih pria teraneh. Bellova menghela udara ke dalam rongga dada. Ranjang berayun ke sana kemari padahal ia cuma mengambil napas. Bagaimana jika tubuhnya di atas suaminya dan mereka bercinta? Apakah akan baik-baik saja?


Oh Tuhan. Ini sungguh mengerikan.


"Ya. Kita perlu suasana berbeda."


"Dengar Tuan!" Bellova menahan tangan Raymundo saat akan menyentuh permukaan dadanya. "Bawa aku kembali! Ini tidak lucu, tidak romantis ..., mengerikan. Tolong, kita bisa lakukan sesuatu yang lain."


"Misalnya? Kamu bertelanjang kaki, dengan pakaian seksi berputar-putar dalam pondokan?"


Banyak adegan drama berputar di otak Bellova untuk memancing foreplay. Raymundo menebak satu dengan benar.


"Semua pasangan lakukan hal itu. Menggoda kekasih mereka di dalam ruang tidur." Raymundo bicara lagi.


"Aku tak suka ini," potong Bellova tajam.


"Bellova?! Aku tidak berharap kamu anggap ini romantis karena aku hanya ingin berbagi kesenangan dalam duniaku ..., denganmu," sahut Raymundo tampak berpikir sebentar.


"Kamu akan menyukainya."


"Aku tak bergairah melihatmu meskipun kamu tak memakai sehelai kainpun di tubuhmu, jika, kita berada di sini karena aku takut terjatuh ke dasar di bawah sana dan mati tanpa guna. Oh tolonglah!" rengek Bellova cepat memeluk lengan Raymundo dan menutup matanya rapat-rapat.


"Yakin?"


"Ya."


"Kamu sungguhan tak tertarik padaku meskipun aku tak-punya-kain tutupi tubuhku."


Mata Bellova membulat. "Kita bisa mencoba sesuatu yang lain. Bukan bercinta di atas sini dan mungkin mati sebelum kita berhasil ciptakan bayi."


Terlebih mereka mungkin tak akan ditemukan jika mati di bawah sana.


"Apa yang kamu takutkan, ranjang ini sangat kokoh." Raymundo menendang kaki sekuat tenaga untuk yakinkan Bellova, sayang sekali, tindakan bar-bar itu malah menakuti Bellova. Wanita malang malah menjerit sejadi-jadinya.


"Aku takut! Aku takut! Sungguh, ini mengerikan. Tolong, mari pergi ke tenda atau yang lainnya, tidak di sini. Jantungku hampir meledak."


"Jangan lihat ke bawah Bellova, lihat aku saja!" rayu Raymundo tak kehilangan akal. "Jika kamu lihat ke bawah kamu memang akan ketakutan."


Merengkuh Bellova dan bujukan berhasil buat Bellova menatap Raymundo Alvaro, pada mata hitam yang selalu dingin dan datar, kini sedang terbakar hasrat padanya.


Tanpa cukuran, janggut menggelap di sepanjang rahang. Wajah cool suaminya semakin diamati semakin menarik hingga Bellova mengerang karena tak sanggup abaikan daya pikat itu.


Ketika Raymundo menyentuhnya, sejenak Bellova lupakan ketakutan. Membalas ciuman sembari lingkari kedua tangannya pada tengkuk Raymundo.


Selimut tersingkap, tubuh mulus dan tiap lekukan begitu mempesona di bawah cahaya kuning keemasan mentari.


Jemari Raymundo tak butuh ijinan, berjalan di celah dada menuju perut. Tak ada jeda ciuman malah terlalu bergelora untuk diacuhkan. Lotion terasa dingin di permukaan kulit dan Bellova meremang. Napas mulai memburu.


Raymundo bantu Bellova, pelan-pelan merayap di atas tubuhnya.


"Kamu akan sukai ini. Angin akan segera pergi dan kamu akan bersahabat dengan samudera."


"Mengapa kamu menyukai sesuatu yang aneh?"


"Menurutmu ini aneh?" tanya Raymundo sukai kepangan yang ia buat untuk rambut Bellova meskipun ia tak bisa menyebut jalinan rambut itu sebagai kepangan.


"Ya."


"Aku tak tahu. Ini hanya membuatku damai."


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Bellova ingin menyelam lebih dalam.

__ADS_1


Raymundo mendekap Bellova, singkirkan beberapa helai rambut di pipi Bellova.


"Tak ada."


"Setidaknya sesuatu berkelebat dalam otakmu."


"Saat kamu tak ada, aku memikirkanmu. Tetapi, kamu di sini, aku tak punya pikiran apapun."


Bellova berbaring di atas dada Raymundo Alvaro, itu bukan gombalan tetapi Bellova telah berbunga-bunga. Tangannya menyusuri lengan kokoh suaminya sampai di jemari pria itu, kaitkan jemari tangan mereka.


"Lucio Vargas akan melamar Belliza dalam Minggu ini."


Bellova tersenyum lebar mendengar kabar yang dibawa Raymundo, mengecup tubuh Raymundo.


"Ini sempurna. Belliza dan Lucio sempurna bagi Cheryl."


Bellova berharap Oskan Devano tidak kacaukan kebahagiaan kakaknya.


"Apakah kamu dan aku tak cukup sempurna bagi Cheryl?"


"Bukan begitu, Cheryl akan bahagia miliki tiga Daddy."


"Mereka akan pergi ke Flores dan kita akan ikut. Aku telah berjanji pada Ayahmu dan Belliza."


Mata mereka bertemu.


"Kamu miliki Miradoura dan aku, Tuan Alvaro."


Raymundo tersenyum sedikit, ingat bagaimana segala hal bermula antara dirinya dan Bellova.


"Aku hampir kehilanganmu."


"Anda menikahiku, Tuan. Aku tak mudah pergi hanya karena kamu abaikan aku."


Entah berapa kali mereka berciuman. Raymundo mengusap punggung Bellova dengan lotion sun block. Matahari tidak cerah, tetapi sengatannya cukup berbahaya.


"Meskipun aku sangat ingin membangun rumah bersamamu di Miradoura, aku mohon ..., tinggalah bersama Ibuku sementara waktu."


Mata Raymundo bersinar sendu. Bellova tak tahan, ia menciumi mata suaminya.


"Aku ingin katakan hal yang sama."


Angin bertiup cukup kencang. Ranjang kembali berayun.


"Bisakah kita pindah dari sini?" tanya Bellova kembali memeluk suaminya erat. Angin tiba-tiba ingin menerbangkannya.


"Kamu mulai rileks tadinya."


"Angin buatku takut." Bellova memelas, lekas ketakutan lagi.


Raymundo mende***. Mereka bisa memercik api dan meniup bara hasrat, tetapi Bellova terganggu dan tidak sukai ide ini.


"Baiklah," jawab Raymundo mengalah. "Mau aku gendong ke sana?" angguk Raymundo pada sisi tebing, jalan untuk mereka pulang.


Ikuti petunjuk suaminya, Bellova kembali pusing. Keringat tanpa permisi menetes dari kedua tangan juga seluruh pori-pori tubuhnya.


"Aku mungkin fobia ketinggian sebab aku rasa-rasanya ingin pingsan."


"Aku akan membawamu kembali!"


Bellova meremang bayangkan apa yang akan terjadi jika Raymundo Alvaro salah perhitungan dan terpeleset.


Raymundo baru saja akan bangkit dan menggendongnya seperti kata pria itu, tetapi Bellova terlalu takut.


"Apakah kita akan baik-baik saja?"


"Percaya padaku, Bellova! Tutup saja matamu!"


Bellova pejamkan mata ikuti saran Raymundo, tak berani mengintip sekalipun cuma sedikit. Biarkan tubuhnya dipanggul Raymundo di salah satu pundak pria itu dan keluar dari jaring ayunan.


"Apakah aku bisa turun sekarang?"


"Tidak, Bellova. Pejamkan saja matamu."


Berjalan lewati padang rerumputan menuju ke pondokan, Raymundo secara serius pikirkan cara untuk membuat Bellova tersanjung.


Apakah ia perlu bertanya pada Queena, sesuatu yang romantis bagi Bellova? Queena sangat pandai soal itu. Mungkinkah api unggun? Bagaimana jika ia membuat api unggun dan memasak untuk Bellova. Tubuh Bellova kehilangan bobot.


"Tubuhmu ringan seperti bantal tinju di kamarku, Bellova!"


"Aku terus bersedih karena menginginkanmu. Aku mengancam Raphael kemarin pagi, akan mogok makan jika ia tak membawaku pulang padamu."


Bagaimana dengan Raphael Bourne?!


Raymundo merengus. Ia yakin Axel Anthony sedang lakukan sesuatu saat ini. Raphael memang cerdik, harus diakui. Mereka berulang kali lolos dari Kematian berkat kejeniusan BM.


Namun, Axel Anthony tak suka digertak dan dikuasai, ia juga bukan seseorang yang mudah kompromi. Raymundo yakin Axel Anthony sedang bekerja untuk mengirim Raphael padanya. Axel mungkin menduplikat cara BM membawanya ke Islandia.


Raymundo sangat mencintai sepatunya. Jadi, Raphael Bourne akan memungut kembali benda itu dari sisi tebing untuknya. Memikirkan hal itu, buat Raymundo menyeringai senang.


***


Beberapa Chapter adalah Bon-Chap untuk My Hottest Man. Jika aku terus menulis kisah mereka maka aku yakin, akhirnya akan buruk bagi Bell-Ray.

__ADS_1


Tinggalkan komentar.


__ADS_2