My Important Bussiness With CEO

My Important Bussiness With CEO
— 09.


__ADS_3

Tidur terlalu larut adalah hal terburuk yang telah dilakukan oleh Renjani. Pasalnya, pagi ini, ketika jam sudah menunjukan hampir pukul tujuh tepat serta matahari sudah mulai menunjukan sinarnya, kedua mata Renjani baru terbuka. Kalau sang ibu tidak datang ke kamar dan membangunkannya, mungkin Renjani akan terus tidur sampai siang.


Sebelum tadi malam, Renjani sama sekali belum pernah tidur sampai selarut itu. Kareena biasanya kedua matanya sudah akan terasa begitu berat saat jarum jam menunjukan tepat pukul sepuluh malam. Lewat dari itu Renjani pasti telah berada di alam mimpi. Karena itu, tidak heran kalau pagi ini Renjani kesiangan.


"Sayang, sudah waktunya bangun. Kamu harus segera berangkat ke sekolah," ucap sang ibu sembari menepuk beberapa kali pundak dari putri angkatnya itu.


Dengan kedua mata yang terasa masih cukup berat, Renjani mau tidak mau harus membuka matanya dan beranjak dari tempat tidurnya. Sang ibu yang masih ada di dalam kamar ini pun tanpa ragu membuka gorden yang masih menutupi jendela lebar. Sinar matahari yang masuk dan terasa cukup menyilaukan secara perlahan-lahan mampu menyadarkan Renjani.


"Kamu cepat mandi, lalu segera turun ke meja makan," Suruh sang ibu sambil memberikan dorongan kecil kepada Renjani yang saat ini masih tampak bermalas-malasan.


"Sekarang jam berapa, bunda?" Tanya Renjani dengan sebelah matanya masih terpejam.


"Sudah hampir jam tujuh. Kalau kamu tidak bergegas mungkin akan terlambat ke sekolah," jawab sang ibunda yang telah berhasil membuat putrinya itu masuk ke kamar mandi.


Renjani yang kini telah berada di kamar mandi pun mulai membasuh wajah bangun tidurnya dengan air mengalir yang ada pada wastafel. Tak berselang lama setelah melakukan itu, Renjani pun menanggalkan pakaiannya, kemudian mengguyur seluruh tubuh dengan air yang keluar dari shower. Karena kondisinya sedang terburu-buru, mungkin Renjani tidak akan membuang banyak waktunya di kamar mandi.


Akhirnya setelah sepuluh menit berlalu, Renjani melangkah keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi bagian penting dari tubuhnya. Karena seragam sekolahnya sudah disiapkan, Renjani jadi menghemat sedikit waktunya.


Renjani mulai melepaskan handuk yang melekat pada tubuh, lalu menggantikannya dengan seragam sekolah. Tak butuh waktu lama, gadis itu sudah selesai dan siap untuk segera menata rambutnya. Iya, dirinya harus mengeringkan rambut yang dirasa cukup basah ini.


Ketika Renjani baru mau duduk dan menyalakan pengering rambut, tiba-tiba sebuah ketukan pintu terdengar kembali. Sang ibunda sudah meminta dirinya untuk segera menuju ke meja makan, karena memang waktu yang dimiliki tidak sebanyak seperti perkiraan.


"Sayang, sedang apa? Sudah selesai mandi?" Tanya sang ibunda dari balik pintu yang tertutup itu.


"Masih mau mengeringkan rambut, bunda," jawab Renjani yang ada di dalam kamar.


"Apa kamu tidak melihat waktunya?" Pertanyaan ini mampu membuat Renjani menoleh ke arah jam dinding yang ada di kamarnya.


"Memangnya masih sempat untuk mengeringkan rambut?" Lanjut sang ibunda.


Mungkin karena belum terlalu sadar, awalnya Renjani kira sekarang masih setengah tujuh, tapi nyatanya waktu sudah menunjukan pukul tujuh lewat lima belas menit. Tahu kalau terlambat, Renjani pun meletakan  kembali pengering rambutnya. Seperti pertanyaan lanjutan dari sang ibunda, Renjani sudah tak memiliki cukup waktu untuk mengeringkan rambutnya.


Dengan penampilan alakadarnya, Renjani pun keluar dari kamar dan menemui sang ibunda yang ternyata masih berdiri di tempat. Langkah saat menuruni anak tangga dari gadis itu juga tampak tergesa-gesa.


"Bunda tahu kalau kamu terlambat, jadi menyiapkan bekal ini," kata sang ibu sambil memberikan sebuah kotak makan yang berisi menu sarapan kepada sang anak.


"Lain kali aku tak akan lagi-lagi tidur terlalu larut," ucap Renjani yang telah menerima bekal sarapan buatan sang ibu.


Tanpa mengatakan lebih banyak dari itu, Renjani langsung berpamitan kepada ibunya dan kemudian melangkah pergi diiringi dengan lari kecil menuju ke mobil yang sudah disediakan. Seharusnya jika tak terlambat bangun, maka ia akan diantarkan oleh ayahnya.


...•••...


Karena kondisi jalanan yang sama sekali tidak mendukungnya, Renjani akhirnya tiba di sekolahnya setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit. Bisa dibilang kedatangan Renjani ini sudah amat terlambat, gerbang sekolah juga kelihatan begitu sepi.


Renjani yang baru turun dari mobil pun mulai berjalan dengan ragu-ragu, mendekat ke arah gerbang sambil terus berharap kalau satpam penjaga mau membukakan pintu pagar untuk dirinya.


"Pak Sarjo?" Panggil Renjani terdengar kaku.


"Pak?"


"Pak?"


Renjani terus memanggil satpam penjaga yang saat ini tengah sibuk dengan televisi yang ada di dalam pos nya, tapi hasilnya satpam itu lebih memilih untuk mengabaikannya. Mungkin karena Renjani sudah begitu terlambat, jadinya satpam penjaga itu juga enggan untuk membukakan pintu gerbang.


Sampai pada akhirnya, seorang laki-laki yang sangat dikenal baik menepuk kecil pundak Renjani. Kehadiran David yang tanpa terduga ini mampu membuat gadis itu terkejut. Tak disangka kalau David juga terlambat.


"Kamu itu, kenapa harus mengagetkan ku?" Protes Renjani sembari mengelus dadanya.


"Ya, maaf," singkat David dengan sebuah senyuman tipis.


"Sedang apa kamu disini? Tumben sekali seorang David ada di luar pagar sekolah," kata Renjani sambil menelisik ingin tahu ke arah temannya itu.


"Kamu juga sedang apa disini? Tumben sekali melihat Renjani ada di luar gerbang sekolah," bukannya menjawab, David malah dengan mudah membalik perkataan dari Renjani. Bukankah sikapnya sekarang ini sangat menyebalkan?


"Boleh cubit ginjalnya, tidak?" Tanya Renjani bercanda.


"Tidak. Aku masih mau hidup," ujar David yang tanpa ragu menanggapi candaan dari teman perempuannya itu.


Sekarang memang bukan saat yang tepat untuk bercanda, maka dari itu tak banyak mengatakan apa-apa, David mulai menggenggam tangan Renjani, lalu membawanya menuju ke tembok belakang sekolah. Bukan dengan maksud aneh-aneh, David mengajak Renjani kesana hanya untuk menuju ke jalan masuk ke sekolah selain lewat gerbang. Meskipun David bukan termasuk murid nakal, ia tetap bisa tahu jalan rahasia yang ada dari sekolahnya.


"Mau ngapain?" Tanya Renjani ingin tahu.


"Kamu gak mau masuk?" David mulai bersiap-siap mengambil sebuah tangga kayu yang memang sengaja ditaruh di sana.


"Mau, tapi kenapa lewat sini? Memangnya ada jalan?" Entah terlalu polos atau bagaimana, Renjani belum bisa menyadari maksud tindakan dari teman laki-lakinya itu.

__ADS_1


David yang telah selesai menyiapkan tangga kayu pun mulai memberikan isyarat dengan menggunakan matanya. Lelaki itu meminta Renjani agar menaiki tangga kayu terlebih dahulu.


"Mata kamu kenapa? Lagi sakit? Kok kedip-kedip gitu?" Renjani masih belum mengerti akan isyarat yang dibuat oleh David.


"Naik Renjani."


"Naik kemana?" Tanya gadis itu yang mampu menghadirkan sebuah senyum kecut di wajah tampan David.


"Tangganya," David memperjelas.


"Kenapa aku harus naik ke tangga?"


"Itu jalan masuk ke sekolah selain pintu gerbang."


Setelah cukup mendapatkan kejelasan akan maksudnya, Renjani mulai memahami. Karena sikap polos inilah yang mampu menarik perhatian dari David untuk berteman dengan Renjani. Menurut David, kepolosan yang dimiliki oleh gadis itu terlalu menggemaskan.


"Oke, oke... Aku paham," kata Renjani yang kemudian mulai menaiki anak tangga kayu dengan hati-hati.


Tak lama setelah berhasil menaiki anak tangga kayu itu, Renjani langsung terkejut ketika pandangannya melihat ke arah tanah yang dirasa cukup tinggi. Tahu sendiri kalau Renjani juga memiliki phobia pada ketinggian.


"David..." Teriak Renjani seakan ingin menangis.


"Aku harus ngapain?" Tanyanya sambil terus berpegangan kuat pada batang pohon yang ada persis disebelah.


"Tunggu dan diam. Aku akan menyusul," ujar David yang mulai ikut menaiki tangga itu.


"Kenapa harus menyusahkan diri seperti ini? Kenapa gak minta tolong Pak Sarjo buat bukain pintu gerbang?" Tanya Renjani ditengah-tengah rasa takut.


"Pak Sarjo udah males bukain pintu gerbangnya," jawab David yang kini sudah berada di samping dari Renjani.


"Ini gimana turunnya?" Renjani hanya takut tidak bisa turun dan harus berlama-lama duduk di atas tembok belakang sekolah yang cukup tinggi.


"Tunggu sini," pinta David.


Seakan tak memiliki rasa takut, David pun terlebih dahulu melompat turun dari tembok itu. Awalnya memang terlihat cukup tinggi, tapi tidak akan membuat terluka orang yang melompatinya. Bisa dibilang, David melakukan pendaratan yang aman.


"Ayo turun!" Suruh David yang kini telah bersiap untuk menangkap tubuh dari teman perempuannya itu.


"Turun? Kamu suruh aku melompat?" Tanya Renjani sambil sesekali menutup matanya.


"Iya. Tenang aja, ada aku disini. Aku tidak akan membiarkan mu jatuh," tutur David mencoba meyakinkan Renjani yang masih terus merasa takut.


"Renjani, percaya sama aku. Kamu gak akan terluka," David terus mendesak agar gadis itu mau melompat.


Meskipun ragu dan takut, Renjani tetap melakukan sesuai dengan apa yang disuruh oleh David. Dia berusaha sebisa mungkin untuk mengabaikan ketakutannya itu hanya karena rasa kepercayaan terhadap David jauh lebih besar.


David yang memang sudah bersiap pada tempatnya pun dengan mudahnya menangkap tubuh ringan gadis itu. Seperti yang sudah dikatakan, David tak akan membiarkan teman perempuannya itu terluka.


"Apa aku sudah aman?" Tanya Renjani yang terus menutup kedua matanya sembari mengalungkan tangannya di leher dari lelaki bernama David itu.


"Kakimu sudah menyentuh tanah," ujar David memberitahu.


Mendengar itu, Renjani langsung membuka kedua mata dan memastikan kalau kakinya memang sudah ada di tanah. Ketika menyadari itu, entah mengapa rasa canggung mulai menghampiri Renjani. Dia tersadar akan posisi tangan yang seharusnya tidak ada di sana.


"Maaf," ujar Renjani yang langsung menarik tangannya menjauhi tubuh dari lelaki itu.


Karena waktu terus saja berjalan tanpa henti, Renjani dan juga David harus segera masuk ke kelasnya. Jika mereka tetap saling berbincang, mungkin akan semakin banyak mata pelajaran yang bisa mereka lewatkan begitu saja.


Baru mau melangkah pergi, mereka harus dihentikan dengan kehadiran guru BK yang sama sekali tidak terduga. Mereka kira bisa lolos dengan mudah, seperti tak terjadi apa-apa, tapi malah harus bertemu guru BK dan pastinya mereka akan mendapatkan hukuman dari pelanggaran peraturan yang telah diperbuat.


"Apa yang kalian berdua lakukan?" Tanya guru BK sembari menatap mereka berdua dengan tajam.


Renjani yang pertama kali berurusan dengan guru BK pun hanya bisa tersenyum sambil menyembunyikan diri dibalik tubuh tinggi David. Dia membiarkan teman laki-lakinya memberi penjelasan kepada sang guru.


"Terlambat," jelas David singkat.


Tanpa meminta penjelasan apapun dari mereka berdua, guru BK yang sudah terlihat menganggukkan kepalanya tanda mengerti pun seketika meminta agar mereka mau mengikutinya menuju ruang Konseling. Hukuman atas pelanggaran yang dilakukan oleh mereka berdua akan diputuskan di sana.


"Kalian ikut saya ke ruangan," tutur Guru BK sambil berjalan mendahului mereka berdua.


.


.


.

__ADS_1


Sesampainya di ruang konseling, Renjani yang sudah merasakan gugup karena kebetulan ini kali pertama baginya ada disini, mulai mengambil tempat untuk duduk pada salah satu sofa. Renjani yang belum berani menatap guru BK itu, sejak tadi terus menundukkan kepalanya. Apakah gadis itu tengah merasa takut karena hukuman?


"Kalau kalian memang terlambat, seharusnya tak perlu masuk ke sekolah dengan cara seperti itu! Lewat saja gerbang utama dan jangan menghindari hukuman," tegur guru BK yang sangat kurang setuju akan sikap mereka berdua.


"Sebenarnya kami juga ingin dan berniat masuk lewat gerbang utama, tapi satpam penjaga itu tak mau membukanya," ungkap David jujur.


"Wajar kalau Pak Sarjo tidak mau membuka. Kalian berdua sudah terlambat lebih dari lima belas menit setelah bel masuk dibunyikan," kata guru BK itu seakan tak memberi toleransi apapun.


Perkataan yang terlontar dari mulut guru BK mampu membuat mereka berdua terdiam tanpa suara. Ingin mengatakan atau membela diri pun, mereka tak akan pernah bisa terlepas dari hukuman guru BK.


Untuk lebih mempersingkat waktu, guru BK tanpa ragu memberitahu Renjani dan juga David mengenai hukuman yang harus dijalani. Guru BK itu meminta agar mereka berdua berdiri di depan tiang bendera sambil membuat sikap hormat. Hukuman diberikan hanya supaya memberikan efek jera pada pelanggar peraturan.


...•••...


Teriknya sinar matahari benar-benar begitu menyusahkan. Ini belum sampai tengah hari, namun panasnya sudah terasa menyengat di kulit. Renjani yang baru menjalani hukuman dari guru BK selama lima belas menit sudah kesulitan menahan rasa panas itu.


"Sampai kapan guru BK meminta kita berdua melakukan ini?" Tanya Renjani dengan keringat yang sudah berderai membasahi wajah.


"Entahlah, aku juga kurang tahu, tapi yang jelas sekarang guru BK sedang memantau kita dari ruangannya," kata David memberitahu.


Renjani yang merasa kelelahan pun menatap ke arah ruangan konseling dengan kedua mata yan menyipit karena sinar matahari yang menyilaukan. Kalau bisa, Renjani ingin beristirahat sekarang.


"Sudah lemas? Gak kuat? Mau istirahat aja?" Tanya David yang ternyata bisa mengetahui kesulitan dari gadis itu.


"Sedikit, tapi masih bisa ditahan," bohong Renjani dengan posisi masih sama seperti tadi.


Daripada hanya berdiri dan terus diam-diaman sambil melakukan sikap hormat ke bendera, akan lebih baik kalau keduanya juga berbincang untuk menghidupkan suasana yang sempat sunyi.


"Jadi, kenapa kamu terlambat? Biasanya kamu selalu datang saat sekolah masih sepi," tanya David yang sejak tadi membuatnya penasaran.


"Kamu sendiri kenapa bisa terlambat? Bukankah kamu termasuk orang yang paling menghargai waktu?" Bukannya menjawab, Renjani malah mengajukan pertanyaan balik. Pantas saja kala David tertawa.


"Lucu ya! Kamu belum menjawab, tapi sudah memberikan pertanyaan," kata David yang tak bisa menyembunyikan tawanya.


"Sama-sama bertanya, sama-sama menjawab," ujar Renjani santai.


"Ya udah, mau siapa dulu yang jawab? Ladies first?" David mempersilakan temannya itu untuk menjawab terlebih dahulu.


"Hanya karena tidur terlalu larut. Kesalahan sederhana yang mampu membuatku berakhir disini," jawab Renjani sesuai fakta yang terjadi.


"Memangnya jam berapa kamu tidur tadi malam?" David bertanya kembali.


"Jam tiga subuh?" Renjani memberitahu kurang lebihnya.


"Kenapa tidur sampai larut?"


"Hanya terlalu asyik berbincang dengan bunda," jawab Renjani menambahkan sedikit kebohongan. Tahu sendiri alasan yang berhasil membuat Renjani terjaga.


"Kalau kamu?" Renjani mengajukan pertanyaan ulang, namun kali ini lebih singkat.


"Pagi ini aku harus mengantar pacarku ke bandara. Dia direkomendasikan oleh sekolahnya untuk ikut pertukaran pelajar ke Austria," jawab David tanpa ragu.


Renjani memang tak terlalu mengenal sosok kekasih dari David, tapi dari segala cerita yang di dengar, Renjani bisa menarik kesimpulan kalau perempuan yang saat ini tengah berkencan dari David memiliki banyak kelebihan. Ia ternyata juga pandai dalam bidang akademis.


"Hebat ya! Pintar juga kamu dalam memilih," ujar Renjani dengan senyuman tipis.


"Bukan pintar, tapi beruntung saja. Aku pria beruntung karena bisa berpacaran dengannya," ungkap David dengan ekspresi wajah berseri-seri.


^^^Bersambung...^^^



Catatan kecil :


- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.


- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.


 


Story ©® : Just.Human


*please don't copy this story.


Find Me

__ADS_1


✓ Instagram : just.human___


 


__ADS_2