
Hari benar-benar berlalu dengan begitu cepat, tak menyangka kalau pagi ini Renjani sudah harus mengantarkan kedua orang tuanya untuk pergi ke bandar udara. Seperti apa yang direncanakan, ayah dan ibunya berniat menyusul putri kandung — Anastasia, yang saat ini sedang berada di Paris. Tujuan mereka hanya ingin membuat agar putrinya mau diajak pulang.
Karena rencana mereka akan menetap di negara itu selama beberapa minggu, berhasil membuat seorang Renjani merasa akan kesepian dalam waktu cukup lama. Kelihatan dari gelagat aneh yang dibuat oleh gadis itu, seakan enggan untuk membuatkan kedua orang tuanya pergi. Rasanya tak ikhlas saja ditinggalkan sendirian, apalagi jarak kota Paris dengan negara ini bisa dibilang begitu jauh.
Dalam balutan ekspresi wajah muram, Renjani membantu kedua orang tuanya untuk menarik koper bawaan mereka menuju ke tempat pemeriksaan tiket. Masih belum bisa membiarkan kedua orang tuanya pergi, Renjani pun tanpa ragu kembali melemparkan sebuah pelukan erat. Sungguh, enggan sekali untuk melepaskan pelukan ini.
"Belum berangkat, tapi Renjani udah gak rela aja buat lepasin kalian berdua pergi," ujar gadis itu jujur pada perasaannya.
"Kita gak akan lama kok sayang. Mungkin sekitar satu sampai dua minggu atau kalau tidak ya tergantung dengan kakakmu," kata Tuan Aries memberitahu hal yang belum bisa disebut dengan kepastian kepada sang putri.
"Kalau begitu, dalam satu sampai dua minggu ke depan, aku bakal makan sendirian di meja makan," ujar Renjani yang kemudian melepaskan pelukannya.
"Gak akan lama kok, sayang. Kamu tahu kan kalau waktu selalu berjalan dengan begitu cepat?" kata sang ibunda sambil jemari mengusap lembut ujung kepala milik putrinya.
Karena jadwal penerbangan yang sudah begitu memburu waktu, mereka tak bisa untuk lebih lama lagi mengucapkan salam perpisahan. Renjani yang memang belum sepenuhnya ingin berpisah dari kedua orang tua pun mau tak mau harus membiarkan mereka pergi.
"Kamu jaga diri baik-baik. Jangan lupa makan! Sekolah yang benar! Jangan mengerjakan tugas sampai larut malam! Biasanya kan kamu suka begitu, begadang cuma buat tugas," kata Tuan Aries mengingatkan hal sederhana kepada putrinya itu.
"Ayah tenang saja. Aku pasti akan menjaga diri baik-baik," ujar Renjani yang seketika langsung mendapatkan sebuah senyuman hangat dari kedua orang tuanya.
Setelah cukup melakukan semua itu, ayah dan ibunya pun mulai melangkahkan kaki mendekat ke arah tempat pemeriksaan tiket, meninggalkan sosok Renjani yang masih mengawasi sambil tersenyum.
"Safe flight ya..." Teriak Renjani dari tempatnya berdiri sambil terus melambaikan tangan ke arah ayah dan ibunya.
"Kalau udah sampai tolong untuk memberikan kabar," tambahnya dan hanya mendapatkan anggukkan kepala singkat.
Tak lama setelah mengatakan itu, kedua orang tuanya pun mulai menuju ke pintu keberangkatan internasional. Sungguh, rasa sedih tiba-tiba menyapa Renjani dengan begitu mudah. Kenapa ia ingin menangis? Padahal tahu kalau kedua orang tuanya itu juga pasti akan kembali?
Meskipun sudah tak dilihat lagi, Renjani tetap terus melambaikan tangannya. Tak ada habisnya bagi gadis itu mengucapkan salam perpisahan untuk kedua orang tuanya yang harus terbang ke Paris. Karena sudah terbiasa bersama, pastinya Renjani akan merasa kesepian karena ditinggal.
.
.
.
Setelah mengantarkan kedua orang tuanya, Renjani pun bergegas menuju ke arah tempat menunggu taksi. Bukan tanpa sebab, hanya saja sekarang ini dirinya harus segera kembali ke rumah. Tugas sekolah yang harus dikumpulkan esok hari sudah meminta untuk dipedulikan.
Baru tiba dan mau memanggil sopir taksi, tanpa terduga seseorang yang menggenakan setelan jas rapi datang menghampiri Renjani. Saat melihat sosoknya, gadis itu tersentak kaget karena merasa tidak mengenal siapa dia yang datang.
"Benar dengan nona Renjani?" Kata laki-laki itu yang berhasil membuat Renjani membuat jarak aman.
Dengan keraguan, Renjani pun menganggukkan kepalanya. Entah benar atau salah, tapi rasanya kalau tidak dijawab itu bukan termasuk dalam perilaku yang baik.
__ADS_1
"Ada apa ya?" Tanya Renjani dalam tatapan dan posisi waspada.
"Saya bukan orang jahat. Saya hanyalah seorang sopir yang diperintahkan oleh Tuan Ardhi untuk menjemput anda," kata laki-laki itu memperkenalkan dirinya.
Mendengar itu mampu memunculkan delima dalam diri seorang Renjani. Tidak tahu, apakah perkataan dari lelaki itu bisa dipercaya atau tidak. Pasalnya, Renjani sama sekali belum mendapatkan pesan apapun dari Ardhi.
"Maaf! Tapi, sepertinya saya akan pulang naik taksi saja," ujar Renjani menolak tegas dan jelas.
Seakan tidak menerima penolakan, laki-laki yang mengaku sebagai sopir kiriman dari Ardhi pun mulai mendesak agar Renjani mau ikut dengannya. Gelagat yang seperti inilah mampu memunculkan rasa curiga dari dalam diri Renjani.
"Tolong ikut saya! Perintah dari Tuan Ardhi tidak bisa ditolak," ucap laki-laki itu yang kini telah mencengkeram dengan kuat pergelangan tangan milik Renjani.
Merasa kalau dirinya sedang dalam bahaya, Renjani pun tak segan untuk memberikan perlawanan. Iya, meskipun sulit ia tetap mencoba melepaskan cengkraman tangan yang dibuat oleh laki-laki itu. Harus dilepas karena Renjani sudah tak tahan lagi akan rasa sakitnya.
"Lepas!" Katanya yang berhasil membebaskan pergelangan tangannya.
Dalam ketakutan terhadap laki-laki yang memperkenalkan dirinya sebagai seorang sopir, Renjani pun mulai berusaha untuk melarikan diri. Mendekat ke arah penjaga bandara, berharap kalau akan mendapatkan bantuan, tapi nyatanya tidak ada yang seperti itu.
Rupanya penjaga bandara memang berada di pihak laki-laki itu. Awalnya memang kelihatan akan membantu, tapi Renjani malah digiring masuk ke dalam sebuah mobil SUV hitam yang sudah berada di tempat parkir.
Untuk memastikan dirinya tetap aman, Renjani sudah kembali mencoba memberikan perlawanan, namun sayangnya penjaga itu membuat Renjani tak sadarkan diri. Entah apa yang digunakan, saat mencium aroma sapu tangan, kesadaran Renjani mulai berkurang.
Kenapa semua ini bisa terjadi di tempat umum? Renjani tidak sedang diculik kan? Sepertinya pelaku penculikan bukan berasal dari orang biasa. Buktinya mereka bisa bekerjasama dengan pihak keamanan bandara.
...•••...
Kakek Yudha sebenarnya tak ingin melakukan hal seperti ini. Tapi, desakan dari rasa penasaran membuat dia harus membawa secara paksa sosok gadis yang katanya sedang dekat dengan cucunya. Kalau semisal gadis itu mau bersikap kooperatif, mungkin cara memaksa juga tak akan digunakan oleh beliau.
Bukan bermaksud melukai, hanya saja Kakek Yudha ingin bertemu dengan gadis itu untuk membicarakan tentang banyak hal. Bisa dibilang ada beberapa hal penting yang harus dikatakan oleh beliau kepada gadis pemilik nama Renjani itu.
Sudah hampir sekitar dua puluh lima menit menunggu, akhirnya Renjani bisa bangun juga dari tidur siang. Saat membuka kedua mata, hal pertama yang dilihat oleh Renjani adalah langit-langit rumah kuno dan itu sangat kelihatan asing baginya. Kenapa dia ada disini? Bukankah rumah ini kelihatan cukup bagus digunakan sebagai tempat untuk menyekap korban penculikan? Apa Renjani memang benar-benar diculik?
"Akhirnya kamu sadar juga," kata Kakek Yudha yang saat ini sudah terduduk nyaman di sebuah kursi kayu yang ada pada ruang tamu dari rumah ini.
Mendengar suara yang masih belum familiar mampu membuat Renjani sedikit terkejut. Pikirannya juga bertanya-tanya, apakah pria tua itu adalah pelaku yang sudah memerintahkan orang untuk menculik dirinya? Tapi, apa alasannya Renjani diculik? Ia bahkan tak mengenal pria tua itu.
"Anda siapa?" Tanya Renjani mencoba mencari jawaban dari rasa penasaran yang sejak tadi terus menggebu dalam dirinya. Terkesan aneh, kalau menganggap semua ini adalah penculikan. Pasalnya tangan ataupun kaki Renjani tidak diikat. Mulutnya juga masih bisa mengatakan banyak hal.
Bukannya memberikan jawaban, beliau malah tertawa kecil. Renjani benar-benar tidak mengerti dengan kondisi yang sedang dialaminya sekarang. Tidak bisakah dirinya segera keluar dari rumah ini?
"Saya dengar kamu sedang berpacaran dengan laki-laki bernama Ardhi?" Tanya beliau yang langsung berhasil membuat Renjani membelalakkan kedua matanya lebar. Entah bagaimana harus memberitahu, tapi tahu sendiri kalau hubungan kekasih yang sedang dijalaninya bersama Ardhi hanya sebatas di atas kertas.
Karena terlalu lama tak memberikan jawaban atas pertanyaan barusan, Kakek Yudha pun mengulurkan tangannya, bermaksud untuk memperkenalkan diri. Mungkin karena merasa takut, gadis itu jadi ragu memberikan jawaban.
__ADS_1
"Saya Yudha. Kakek dari laki-laki yang sekarang ini menjadi kekasihmu. Kita pernah bertemu pada acara makan malam keluarga. Apa kamu tidak mengingatnya?" Ungkap Kakek Yudha sambil tersenyum ramah.
Mendengar pengenalan singkat yang dilakukan oleh beliau, sanggup membuat ingatan Renjani kembali pada waktu acara makan malam keluarga yang dimana Kak Ana tidak hadir. Kalau dilihat memang benar kalau beliau adalah sosok pria yang bersikap begitu baik dalam melakukan penyambutan waktu itu.
Mulai mengingat segalanya, Renjani pun tak ragu untuk menundukkan kepalanya dan membuat sebuah sapaan ramah kepada beliau. Sejak awal memang Renjani belum memiliki kesempatan melakukan hal itu.
"Selamat siang kakek Yudha," ucap Renjani yang mulai bertingkah hormat. Layaknya anak muda kepada seseorang yang lebih berumur.
"Sekarang kamu ingat siapa saya. Ini mengejutkan karena setelah pertemuan terakhir, kamu bisa langsung lupa," kata Kakek Yudha kedengaran sedikit kecewa karena tidak diingat oleh Renjani.
"Maaf! Saya tidak bermaksud untuk melupakan Kakek Yudha," ujar Renjani merasa bersalah.
Enggan terlarut dalam pembahasaan yang tidak sesuai, Kakek Yudha pun mulai mengatakan tujuan serta alasannya membawa Renjani datang kemari. Akan tetapi, belum sempat untuk mengatakan apapun seorang laki-laki yang tampak begitu asing di pandangan Renjani muncul bak seorang pahlawan. Iya, Ardhi juga datang hanya karena ingin membawa gadis itu pergi dari hadapan sang kakek. Ardhi tak akan membiarkan kakeknya itu menyulitkan Renjani dengan pertanyaan.
"Maaf! Tapi tidak seharusnya kakek bertindak berlebihan seperti ini," ujar Ardhi yang sekarang ini sudah menggenggam erat jemari tangan milik Renjani dan siap membawa gadis itu pergi dari rumah ini.
Karena belum memiliki kesempatan untuk mengajukan pertanyaan, Kakek Yudha pun berusaha keras supaya gadis pemilik nama Renjani itu tetap bisa berada di rumah ini.
Usahanya sia-sia, cucunya itu sama sekali tidak membiarkan Renjani untuk tetap berada di rumah ini. Sepertinya Ardhi sangat tidak bersedia kalau kakek Yudha mengorek informasi apapun. Akan jauh lebih baik kalau sang kakek tetap tidak tahu menahu soal persoalannya. Karena kalau beliau ikut campur, itu kemungkinan akan cukup menyulitkan.
"Jangan gunakan cara kekanakan seperti ini hanya untuk membuat orang datang menemui kakek! Ini bisa termasuk dalam penculikan," tukas Ardhi yang sekarang sudah berhasil mengajak gadis bernama Renjani itu keluar dari rumah ini, meninggalkan Kakek Yudha yang kelihatan begitu belum puas.
Bersambung...
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
-----------------------------------------------------------
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
✓ Instagram : just.human___
-----------------------------------------------------------
__ADS_1