
Ardhi yang kembali setelah melakukan urusan pun begitu terkejut ketika mendapati sang adik yang terus menangis tanpa henti. Belum bertanya apapun, rasanya Ardhi sudah bisa paham apa yang sekarang sedang ditangisi oleh seorang Syifa. Pasti semua ada sangkut-pautnya dengan David. Untuk apa adiknya menangis seperti itu, kalau laki-laki brengsek bernama David tak habis melakukan sesuatu.
Dengan wajah yang tampak khawatir, Ardhi pun mulai melangkahkan kaki mendekat ke arah sang adik, kemudian tanpa permisi langsung melemparkan sebuah pelukan erat yang terasa begitu hangat.
Sambil menepuk-nepuk punggung, Ardhi tak ragu untuk melemparkan banyak kata yang terkesan menenangkan saat di dengar. "Jangan menangis! Nanti aku carikan laki-laki yang lebih baik dari dia."
Menurut Ardhi kata-kata yang baru saja keluar dari mulutnya sudah terdengar seperti sesuatu yang menenangkan, namun sayangnya bagi sang adik tidak begitu. Bukan tersenyum, tepat setelah ucapan itu Syifa malah makin mengencangkan tangisannya.
"Eh?" Memang sedikit sulit memiliki seorang adik perempuan. Apalagi sikap sang kakak seperti Ardhi. Tingkat kepekaannya begitu minus.
"Kenapa kakak malah bicara seperti itu? Justru karena keadaannya sudah begitu aku tak ingin jauh-jauh dari David," ucap Syifa merengek dengan air mata yang terus keluar membasahi wajahnya.
"David bukan laki-laki baik buat kamu," tetap saja ada desakan dari Ardhi agar sang adik perempuannya itu mau meninggalkan David.
Pada saat Syifa ingin kembali memberikan tanggapannya terhadap ucapan dari sang kakak, tiba-tiba suara ketukan pintu yang kemudian diikuti dengan kemunculan seorang perempuan berhasil membuat Syifa lebih tertarik.
Saat melihat Renjani kembali, perempuan yang masih terbaring di ranjang rumah sakit itu langsung mengusap air mata yang sejak tadi terus turun membasahi wajah cantiknya. Syifa berhenti menangis dan mulai tertarik untuk melemparkan pertanyaan kepada Renjani.
"Bagaimana? Apa David mau berubah pikiran? Dia tidak akan segila itu kan?" Tanya Syifa berharap kalau jawaban yang akan dilontarkan oleh Renjani sesuai dengan keinginan serta harapan.
"Dia butuh waktu untuk berpikir. Aku masih memberikan dia kesempatan supaya bisa introspeksi diri," balas Renjani yang gagal membuat Syifa merasa puas.
"Apa yang harus dipikirkan olehnya?" Syifa terkesan seperti seseorang yang tidak sabar. Wajar kalau dia begini, perasaan takut untuk ditinggalkan pasti muncul sangat jelas di dalam dirinya. Apalagi dengan kondisi sekarang, jika David pergi dari sisinya, itu akan jadi kerugian bagi Syifa.
"Banyak hal. Aku harap kamu juga bisa memberikan waktu kepadanya," kata Renjani tak bisa memberitahu banyak hal lagi.
Ardhi yang memang belum lama bergabung dan tak tahu menahu tentang kejadian sekarang pun memutuskan untuk berbicara berdua dengan Renjani. Menurutnya akan jauh lebih baik kalau ia menanyakannya kepada Renjani, karena kemungkinan untuk mendapatkan jawaban jauh lebih besar ketimbang dari sang adik.
"Bisa kita bicara sebentar?" Tanya Ardhi kemudian menggenggam pergelangan tangan milik Renjani. Baru saja kembali, ia sudah harus diajak keluar lagi.
Tanpa harus penasaran, Renjani sudah tahu tentang apa yang ingin dibicarakan oleh laki-laki itu. Pasti tak akan jauh-jauh untuk mempertanyakan soal sang adik.
"Apa yang tadi kamu bicarakan dengan laki-laki itu?" Tanya Ardhi kedengaran begitu serius.
"Kenapa kamu memberi kesempatan untuknya berpikir? Apa itu ada hubungannya dengan air mata dari Syifa?" Tambahnya ingin mendapatkan jawaban yang tepat.
__ADS_1
"Aku ingin memberitahu, tapi sangat takut membuat Tuan marah. Tidak bisakah menunggu sebentar lagi saja?" Tanya Renjani kelihatan masih ragu untuk mengatakan kebenarannya kepada Ardhi.
"Kalau saya bilang tidak bisa menunggu, apa kamu akan langsung memberitahu yang sebenarnya?"
Mendengar hal seperti itu keluar dari mulut Ardhi, mampu membuat Renjani yakin kalau dirinya tak memiliki kesempatan untuk menyembunyikan sesuatu darinya. Apa Renjani lupa kalau Ardhi bukan termasuk sosok laki-laki yang akan menunggu sesuatu?
Helaan napas yang cukup berat mulai terdengar cukup jelas, sekarang ini Renjani sama sekali tak memiliki pilihan selain memberitahu semua hal yang terjadi kepada Ardhi. Renjani sangat amat berharap kalau setelah menceritakan semuanya, laki-laki pemilik nama Ardhi itu masih bis mengontrol emosinya.
"David bilang kalau ia ingin mengugurkan kandungan yang saat ini ada di dalam perut Syifa," ungkap jujur Renjani.
Diberitahu seperti itu tentu saja mampu memicu amarah yang memang belum sepenuhnya reda dalam diri Ardhi. Ingin sekali rasanya ia menemui David hanya untuk memberikan pukulan lagi. Lelaki yang tak bertanggung jawab memang pantas dihajar.
Tak berniat untuk membuat keadaan semakin kacau, sebelum emosi dari seorang Ardhi makin meningkat, Renjani sudah terlebih dahulu menggenggam erat pergelangan tangannya, mencoba mencegah agar laki-laki itu tak menghampiri David yang saat ini sedang berpikir untuk mengambil keputusan.
"Aku minta kepada Tuan supaya mau memberikan kesempatan kepadanya untuk berpikir. Untuk sekarang ini David juga sedang berada dalam posisi yang sulit," kata Renjani dengan tatapan mata seakan sedang memohon.
"Kenapa kamu sampai harus melakukan hal seperti ini? Kamu tidak sedang ikut membela lakilaki brengsek itu kan?" Sangat wajar kalau Ardhi begitu murka. Pasalnya disini David juga mengambil peran dan ikut bersalah.
"Aku tidak sedang membela. Hanya saja, karena sudah berteman lama dengannya, aku jadi bisa dengan mudah memahami posisinya," bujuk Renjani yang sepertinya berhasil.
"Hanya sampai malam ini saja. Kalau dia tak kembali berdiri dihadapan saya dengan keputusan baru, saya harap kamu tidak lagi memasang badan untuk menghalanginya," kata Ardhi kedengaran begitu tegas.
"Aku janji," tukas Renjani.
Setelah cukup untuk sedikit berbincang, Ardhi pun kembali masuk ke dalam ruang rawat inap itu, meninggalkan Renjani yang masih kelihatan begitu khawatir. Meskipun Renjani kelihatan yakin dan percaya kalau David akan kembali dengan memberikan keputusan baru yang jauh lebih dewasa, tapi tak menutup kemungkinan kalau dalam hati terdalam ia juga merasa khawatir dan takut kalau temannya itu memilih untuk melarikan diri. Misalkan itu terjadi, maka Renjani yang akan paling merasa bersalah.
"Tolong untuk kembali dan jangan kabur!" gumam Renjani sendirian.
......................
Berasa seperti sebuah harapan yang terwujud, dalam balutan ekspresi wajah yang tampak begitu datar, David melangkahkan kembali mendekat ke arah pintu ruang inap, tempat dimana sang kekasih berada. Maksud dari kedatangannya hanya karena untuk memberitahu tentang keputusan akhirnya.
Ardhi yang tentu saja terlalu sulit untuk mengurangi rasa kebenciannya pun terlihat sedang berniat untuk menyerang, namun itu tak bisa terjadi karena Renjani sudah terlebih dahulu menengahi.
Dengan penuh harapan, Renjani yang sejak tadi duduk di atas sofa empuk pun mulai beranjak dan berjalan mendekat ke arah David yang kini masih ada di depan pintu. Bukan karena ingin tetap diam, hanya saja dalam dirinya terus muncul rasa takut.
__ADS_1
"Apa kamu sudah memikirkannya matang-matang?" Tanya Renjani tanpa adanya sebuah basa-basi yang berarti.
Pertanyaan sederhana itu langsung mendapat sebuah anggukkan kepala dari David. Sekarang David datang dengan membawa keputusan bulat dan mungkin sudah tak bisa lagi diganggu gugat.
"Bisa katakan kepada kami, mengenai keputusannya?"
"Sebelumnya aku ingin meminta maaf untuk semua yang sudah terjadi, aku tahu kalau ini menjadi sebuah kesalahan yang tak seharusnya dilakukan."
"Tidak bisakah kamu berhenti untuk bertele-tele?" Pinta Ardhi yang memang sudah tak sabar.
"Aku sudah memikirkannya dan semakin dipikirkan, aku justru merasa ingin untuk segera mengakhirinya," ungkap David terdengar tegas dan bukan seperti sebuah candaan belaka.
"Aku tetap ingin meminta kepada Syifa supaya anak itu diikhlaskan. Untuk sekarang, aku benar-benar belum bisa menjadi seorang ayah," tambah David dengan keputusan akhir yang memang berniat untuk lepas tanggung jawab.
^^^Bersambung...^^^
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
-----------------------------------------------------------
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
✓ Instagram : just.human___
-----------------------------------------------------------
__ADS_1