
Sesuai dengan dugaan, pesan yang tadi siang di kirimkan oleh Renjani baru saja dibalas oleh sang kakak. Perlu setidaknya enam jam menunggu, sampai Kak Ana membaca pesannya. Terkesan sangat lama, tapi mau bagaimana lagi? Kalau sedang bekerja, ponsel Kak Ana selalu dibawa oleh manajernya.
Kak Ana :
Wah, kakak juga belum tahu, dek. Soalnya belum cek ke apartemen.
Sebenarnya mau Kak Ana membalas atau tidak pesan itu, Renjani sudah mendapatkan jawabannya sendiri. Iya, satu jam yang lalu ketika dirinya tiba di rumah, salah seorang pelayan datang menghampirinya sambil membawa sebuah kotak putih berukuran cukup besar. Tanpa bertanya apa-apa, Renjani yang melihat kotak itu langsung tahu mengenai isi di dalamnya. Sudah pasti itu adalah gaun yang dimaksud oleh Nindi.
"Ada kiriman hadiah untuk nona Renjani," kata pelayan itu sambil menyerahkan kotak hadiah kepada sang pemilik.
"Buat aku?" Renjani sedikit bingung dan mulai merasa aneh. Bukankah seharusnya kotak hadiah itu ditujukan untuk Kak Ana? Atau memang ini bukan kotak hadiah yang dimaksud oleh Nindi?
"Iya, nona. Di sini tertulis untuk Nona Renjani," pelayan itu menegaskan sesuai yang sudah tertulis.
Dengan perasaan ragu, Renjani pun menerima kotak hadiah itu dan mengambilnya dari tangan pelayan. Benar saja, tulisan nama yang tertera pada bagian atas kotak menjelaskan kalau hadiah ini untuk Renjani. Apa ada orang selain Nindi yang mau memberikan hadiah kepada Renjani? David? Tidak mungkin kotak hadiah ini berasal dari David.
"Terima kasih," ucap Renjani kemudian melangkah menaiki anak tangga menuju ke arah kamarnya yang ada di lantai dua dari rumah besar ini.
Sesampainya di kamar, Renjani yang masih mengenakan seragam sekolah pun tak segan untuk segera membuka kotak hadiah itu. Kedua matanya membelalak lebar saat melihat sebuah gaun berwarna merah muda cerah yang ada di dalam kotak hadiah itu. Renjani terkejut, karena kini telah menyadari sesuatu hal. Keanehan yang sejak tadi menghantuinya mulai menemukan jawaban.
Renjani menduga kalau lelaki yang akan dijodohkan dengan kak Ana itu sudah mengetahui segalanya. Terbukti dari kotak hadiah yang dikirimkan oleh sekertaris-nya. Kalau memang belum tahu, gaun ini pasti akan diterima oleh Kak Ana dan atas namanya juga bukan Renjani.
Bukannya senang saat mendapatkan kotak hadiah, Renjani malah tampak syok. Gadis yang baru berusia delapan belas tahun itu pun terduduk lemas di atas kursi dari meja belajar. Sekarang apa yang akan terjadi kepada diri Renjani, setelah lelaki bernama Ardhi itu mengetahui segala kebohongan serta kepura-puraan yang telah dilakukannya bersama sang kakak? Kenapa akibatnya datang terlalu cepat?
"Seharusnya aku tahu kalau laki-laki itu bukan orang sembarangan yang bisa dibodohi," kata Renjani meruntuki diri sendiri sambil memijat kepalanya yang terasa mulai pusing karena terlalu memikirkan banyak hal.
Masih termenung dengan tatapan mata terus mengarah pada gaun itu, Renjani bahkan sampai terkaget sendiri ketika mendengar suara dering ponselnya. Rupanya sekarang ia tengah mendapatkan sebuah panggilan dari sang kakak. Iya, Kak Ana menelepon setelah tahu kalau pesan balasan yang dikirimkannya hanya mendapat centang biru dua.
Merasa perlu untuk memberitahu Kak Ana tentang semuanya, tanpa berpikir terlalu banyak Renjani pun menjawab panggilan itu. Tidak perlu ada sapaan atau basa-basi, Renjani akan langsung mengatakan inti permasalahan yang perlu diketahui oleh sang kakak.
"Kak Ana, ini gawat sekali. Sepertinya kita memang sudah harus berhenti membuat rencana," adu Renjani terdengar cukup panik.
"Dek, tenangkan dirimu dahulu. Baru setelah itu kamu bisa bicara," tutur Kak Ana dari balik panggilan ini.
Belum seberapa tenang, Renjani yang masih diliputi oleh kecemasan terus saja berusaha memberitahu sang kakak mengenai semua permasalahan tentang perjodohan itu. "Kak, sekarang aku harus melakukan apa? Lelaki itu sudah tahu semuanya."
"Kalau kamu berbicara tergesa-gesa seperti itu, bagaimana aku bisa mengerti? Tenangkan dirimu dahulu, lalu ceritakan semuanya," permintaan Kak Ana masih sama.
"Kak, lelaki itu... Om Ardhi? Sudah mengetahui semuanya. D-dia, dia sudah tahu kalau aku bukan Anastasia," ucap Renjani kedengaran cukup heboh saat membagikan informasi itu.
"Ardhi tahu? Bagaimana bisa? Bukankah yang tahu soal ini hanya kita berdua?" Berbanding terbalik dengan Renjani, dalam menyikapi masalah ini Kak Ana jauh terkesan lebih tenang. Mungkin faktor perbedaan usia yang cukup jauh juga ikut ambil andil.
"Aku juga gak tahu, kak. Tapi yang jelas dia mengirimkan gaun untuk Renjani bukan Anastasia," ungkapnya sambil terus berjalan bolak-balik, seperti orang kebingungan.
"Darimana dia bisa tahu? Kamu gak ada keceplosan apapun kan, dek?" Bukan menuduh, Kak Ana hanya memastikan saja kalau adiknya memang tak salah bicara.
"Sama sekali tidak. Bagaimana aku bisa salah bicara kalau kami hanya bertemu kemarin? Bahkan setelah itu kami tak ada bicara lagi, aku hanya berhubungan dengan sekertaris-nya, bukan Om Ardhi," ungkap Renjani memberitahu sesuai yang terjadi.
"Sekertaris perempuan yang kemarin? Kenapa kamu berhubungan dengan dia?" Tanya Kak Ana menelisik ingin tahu.
__ADS_1
"Hanya sebatas untuk membahas tentang pertemuan di esok hari. Om Ardhi ingin bertemu dengan ku lagi, besok," sepertinya memang Kak Ana belum tahu kalau jadwal pertemuan kedua dimajukan dua hari lebih cepat.
"Hah besok?" Kedengaran kalau Kak Ana juga terkejut, sama seperti saat Nindi memberitahu Renjani tentang pertemuan yang dimajukan itu.
"Bukankah dia sekarang sedang ada di Jepang dan akan pulang dalam tiga hari? Kalau pertemuannya besok, itu berarti dia hanya pergi selama sehari. Urusan apa yang membuatnya pulang lebih cepat?" Tanya Kak Ana yang tampaknya juga ikut bingung.
"Katanya, Om Ardhi sengaja mempercepat urusan pekerjaan hanya agar bisa menemui ku kembali dan sekarang aku paham alasannya kenapa dia ingin cepat-cepat bertemu."
Wajar kalau sekarang Renjani merasa takut, panik dan gelisah. Pasalnya dia sendiri tahu kalau Ardhi bukan orang sembarangan. Renjani bahkan tak bisa membayangkan bagaimana hukuman yang akan diberikan oleh lelaki itu.
"Dek, kamu tenang saja. Kakak bakal coba menyelesaikan masalah ini. Kamu percaya kan, kalau kakakmu ini gak mungkin membiarkan adiknya terlibat dalam masalah?" Perkataan dari Kak Ana yang seperti ini terdengar begitu meyakinkan.
"Iya, tapi apa kak Ana punya jalan keluar?" Tanya Renjani membutuhkan kepastian agar dirinya bisa sedikit tenang.
"U-untuk sekarang belum, tapi pasti akan kakak pikirkan solusinya. Kamu jangan khawatir, Dek!" Meminta Renjani untuk tenang adalah satu-satunya hal yang bisa dilakukan oleh Kak Ana.
"Kak, aku takut. Bagaimana kalau ayah dan ibu tahu? Mereka berdua pasti akan menyalahkan ku," ungkap Renjani memberitahukan perasaannya sekarang.
"Kenapa kamu yang harus disalahkan? Kalau ada yang salah itu aku, bukan kamu, Dek," ujar Kak Ana dari seberang panggilan ini.
Belum menyelesaikan pembicaraan dengan sang kakak via telepon, tiba-tiba panggilan itu dimatikan secara sepihak oleh Renjani. Bukan karena tak ingin berbicara kepada sang kakak, tapi tanpa terduga sebuah ketukan pintu diiringi dengan suara panggilan dari sang ibu terdengar. Rupanya kedua orang tua Renjani telah tiba di rumah ini, setelah seharian keluar karena urusan bisnis.
Untuk membuat semuanya kelihatan baik-baik saja, Renjani berusaha sebisa mungkin mengatur ekspresi wajahnya. Sang ibunda tidak boleh tahu ataupun curiga dengan keadaan sekarang. Masalah tentang perjodohan sang kakak harus disembunyikan terlebih dahulu dari beliau.
Cukup membuat menunggu lama, Renjani yang sekarang sudah tampak tersenyum pun mulai membukakan pintu kamar untuk sang ibunda. Sekarang kedua matanya sudah bisa melihat dengan jelas sosok ibu yang tampak begitu cantik dalam balutan dress panjang berwarna biru gelap.
"Sedang apa, sayang? Kenapa buka pintunya lama sekali?" Tanya sang ibunda penasaran.
"Kok bisa? Habis makan apa kamu?" Tanya ibunya lagi, tapi kali ini terlihat cemas.
"Tadi..." Sambil memutar bola matanya bingung, Renjani berusaha mencari-cari alasan lainnya.
"...waktu makan mie ayam di sekolah, gak sengaja menuangkan terlalu banyak sambal."
Karena Renjani mengatakan alasannya itu dengan sungguh-sungguh, tak ada alasan lagi bagi ibunya untuk menganggap itu sebagai sebuah kebohongan. Tentu saja, sang ibu mempercayai semua ucapan Renjani.
"Sekarang, bagaimana keadaanmu? Apa perlu bunda ambilkan obat?" Walaupun semua hanya alasan yang dibuat-buat oleh Renjani, tapi sebagai seorang ibu sangat wajar kalau merasa khawatir.
"Tidak perlu bunda. Keadaan Renjani sudah semakin membaik," kata gadis itu yang entah mengapa mulai merasa bersalah karena sudah membuat ibunya khawatir.
"Baiklah, kalau begitu kamu istirahat saja. Tadi niatnya bunda mau ajak kamu makan malam di luar, tapi karena kamu lagi sakit jadi, bunda yang akan bawakan makanan ke sini," ucap sang ibunda yang penuh perhatian.
Tidak ingin terlalu merepotkan sang ibunda, Renjani memutuskan untuk menolak niat dari ibunya yang akan membawakan makanan ke kamarnya. Bukankah akan lebih baik Renjani menenangkan pikirannya dengan ikut menghadiri rencana makan malam bersama kedua orang tuanya?
"Aku sudah baik-baik saja dan kita bisa pergi untuk makan di luar. Bagaimana aku bisa membatalkan rencana makan itu, saat melihat bunda sudah dandan begitu cantik?" Kata Renjani yang mampu mendapatkan sebuah senyuman cukup lebar dari ibunya.
"Kamu yakin? Bunda tidak mau memaksa acara makan malam itu. Kalau memang kamu masih sakit perut, acaranya bisa ditunda," ibunya memang lebih mementingkan kondisi kesehatan dari putrinya.
"Renjani sudah baik-baik saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan lagi," ucap gadis itu menyakinkan sang ibu.
__ADS_1
"Ya sudah..." Ibunya menepuk singkat pundak dari Renjani sambil tersenyum hangat.
"...kamu buruan ganti pakaian. Bunda akan tunggu di ruang tamu."
Tanpa bersua, Renjani hanya menjawab itu dengan sebuah anggukan kepala singkat tanda mengerti. Baru mau masuk ke kamar dan menutup pintu, sang ibunda yang ternyata masih ingin mengatakan sesuatu lagi pun menghentikan putrinya itu. Panggilan nama yang terdengar cukup jelas mampu membuat Renjani terdiam di tempatnya.
"Ada apa, bunda?" Tanya Renjani setelah mendengar panggilan itu.
"Bunda boleh minta tolong sesuatu?"
"Mau minta tolong apa?"
"Tolong beritahu Ana untuk juga ikut hadir dalam acara makan malam keluarga ini," pinta sang ibu dengan sorot mata penuh harap.
"Menghubungi Kak Ana?"
"Iya. Masalahnya ayah dan bunda tadi sudah mencoba meneleponnya, tapi selalu selalu tak mendapat jawaban," cerita sang ibunda yang baru Renjani ketahui.
"Kak Ana tak menjawabnya?" Renjani merasa sedikit aneh, perasaan belum lama ini dirinya baru berbincang dengan sang kakak, tapi kenapa saat kedua orangtuanya menghubungi malah tidak ada jawab? Apa Kak Ana memang sengaja mengabaikan panggilan dari kedua orang tuanya? Atau ada alasan lain.
"Iya... Mungkin dia sedang merasa kecewa dan marah kepada ayah bunda," kata sang ibunda yang makin membuat Renjani bertanya-tanya.
"Kenapa kakak kecewa dan marah? Apa ayah bunda melakukan sesuatu hal yang tidak disukai oleh kakak?" Tanya Renjani membutuhkan jawaban.
"Hanya memaksanya untuk ikut kencan buta dan menghadiri perjodohan," jawab sang ibunda yang tentu saja tidak membuat Renjani terkejut. Masalah perjodohan ini sudah sangat diketahui oleh dirinya. Bagaimana Renjani tidak tahu, kalau sekarang jelas-jelas ia telah terlibat masuk dalam masalah yang seharusnya hanya menjadi milik Kak Ana.
"Baik, aku mengerti. Bunda tenang saja ya, Renjani pasti akan menghubungi kakak dan memintanya untuk datang," ujar Renjani dengan mudah.
"Ana harus datang karena acara makan malam ini juga akan dihadiri oleh seluruh keluarga dari calon suaminya."
^^^Bersambung...^^^
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
✓ Instagram : just.human___
__ADS_1