
Bersama sang kakak, kini Renjani telah melangkahkan kaki memasuki sebuah butik terkenal yang ada di salah satu kawasan dari kota ini. Sebenarnya ini merupakan kali kedua bagi Renjani mengunjungi butik ini, namun kunjungan pertamanya sudah begitu lama jadi, saat masuk gadis itu tampak cukup asing dengan suasana serta interior yang ada. Waktu ternyata mampu membuat cukup banyak perubahan.
Setibanya di butik ini, Kak Ana yang kebetulan merupakan pelanggan tetap dari tempat ini pun langsung mendapatkan sebuah sambutan hangat dari si pemilik butik. Renjani begitu terkejut ketika mendapati sang pemilik butik yang ternyata masih kelihatan muda. Kalau dilihat kemungkinan besar usianya tidak terlalu jauh dari kakaknya.
"Akhirnya kamu datang juga. Aku sudah menunggumu dari satu jam yang lalu," ucap si pemilik butik yang terlihat begitu akrab dengan sang kakak.
"Maaf membuatmu menunggu lama. Karena terlalu banyak kendala, pemotretan terus mengalami penundaan," ungkap Kak Ana memberitahu sesuai kebenarannya.
Jika dilihat, menurut Renjani mereka berdua memang memiliki hubungan kedekatan selain antar pemilik dan pengunjung. Apa mungkin kalau pemilik dari butik ini, tak lain juga berteman akrab dengan kakaknya? Bukankan model memang seharusnya memiliki kenalan seorang fashion designer?
"Oh ya, Ly... Kenalin ini adik aku yang hari ini akan menjadi klien mu," ucap Kak Ana memperkenalkan Renjani kepada si pemilik butik yang tak lain juga merupakan teman akrabnya.
Lily — teman akrab dari Kak Ana sekaligus pemilik dari butik ini, pun menatap ke arah Renjani dari ujung kaki sampai ke kepalanya. Proporsi badannya yang bagus, hidungnya yang tinggi, bibir merah muda ranum cukup tebal, serta warna mata hijau hazel yang mencolok, mampu membuat seorang Lily terpukau. Rupa dari Renjani memang layaknya seorang putri kerajaan, tak heran kalau dirinya bisa menjadi primadona.
"Ternyata adiknya gak kalah cantik dari si kakak ya?" Ucap Lily sambil tertawa kecil.
"Kamu umur berapa? Namanya siapa?" Tanya Lily beruntun kepada Renjani yang kini masih terdiam malu-malu.
"Aku Renjani, tahun ini baru genap delapan belas," jawab Renjani dengan suara kecil. Meskipun sang kakak sudah tampak akrab dengan si pemilik butik, Renjani sama sekali tidak bisa menyeimbangi keakraban itu. Dirinya sekarang tengah merasa canggung kepada si pemilik butik yang jujur baru pertama kali dilihat. Mungkin, kalau bukan karena Kak Ana, Renjani tak akan bisa bertemu dengan pemilik dari butik ini.
"Wah... Namanya cantik seperti rupanya," puji Lily diiringi oleh sebuah senyuman lebar.
Karena waktu terus berjalan dan bisa dibilang malam juga ikut semakin larut, tanpa ingin berlama-lama lagi Kak Ana pun mulai membahas mengenai gaun yang sebelum datang kemari sudah dipesannya. Sebenarnya Renjani sama sekali kurang tahu menahu soal gaun itu, tapi yang jelas dirinya sangat paham mengenai alasan Kak Ana membawa dia datang ke butik ini. Tentu saja untuk mencari baju yang cocok dikenakan esok hari.
"Apa kamu sudah menyiapkan gaun yang aku minta?" Tanya Kak Ana kepada temannya.
Dengan penuh kepercayaan diri, Lily menanggapi pertanyaan itu. "Tentu saja, tapi kamu yakin dengan pilihan gaunnya? Aku rasa itu tidak akan cocok dikenakan untuk Renjani."
"Aku gak butuh yang cocok. Pokoknya jangan buat Renjani tampil memukau. Kamu tahu kan kalau sekarang aku tengah mencoba untuk membatalkan perjodohan itu?" Kata Kak Ana masih setia pada niat awalnya.
Mendengar pembicaraan diantara keduanya, mampu membuatnya sedikit bingung sekaligus penasaran. Kak Ana memang sempat memberitahu untuk tidak datang dengan penampilan yang mencolok ke pertemuan itu. Intinya, selain datang dan bertemu, Renjani harus membuat laki-laki bernama Ardhi itu ilfil dan akhirnya nanti dia sendiri yang akan membatalkan perjodohan ini. Kalau Ardhi menolak, kemungkinan besar semuanya bisa langsung berakhir. Bukankah laki-laki seperti Ardhi selalu menyukai perempuan cantik dan seksi?
Lily pun membawa mereka berdua menuju ke arah gaun yang sudah dipersiapkan sesuai dengan permintaan dari Kak Ana. Gaun berwarna kuning yang dipenuhi oleh motif bunga berwarna-warni, tentu saja sangat jauh dari standard berpakaian ala Kak Ana.
"Lihat gaun ini. Aku yakin setelah Renjani mengenakannya lelaki yang bernama Ardhi itu akan langsung bete," ucap Lily terdengar begitu meyakinkan.
Mereka berdua memang sudah berkecimpung dalam dunia fashion terlalu lama, jadi tak heran kalau menganggap gaun kuning yang dipenuhi motif bunga itu kurang bagus. Belum tentu apa yang mereka anggap kurang, bagi Renjani malah tampak biasa saja. Kalau ditanya apa Renjani bisa mengenakan gaun itu dengan penuh kepercayaan diri? Tentu saja, dia bisa memakainya. Menurut Renjani gaun itu nampak baik-baik saja dan layak untuk dikenakan.
"Apa hanya ada gaun? Kamu tidak menyiapkan aksesoris lainnya?" Tanya Kak Ana sambil matanya berkeliling melihat-lihat sekitar.
"Aku menyiapkan anting kuning berbentuk bunga ditambah dengan topi pantai," balas Lily sambil menunjukan aksesoris yang ternyata juga telah disiapkan itu.
Satu set pakaian yang benar-benar tampak seperti gaya orang ingin pergi ke pantai. Kalau bukan Renjani, siapa lagi orang yang mau datang menemui laki-laki dengan mengenakan gaun seperti itu? Sangat tidak sesuai tempat.
__ADS_1
"Kak, apa tempat pertemuannya sudah diganti? Kenapa kelihatannya aku seperti akan pergi ke pantai? " Tanya Renjani yang akhirnya juga ikut merasa kurang baik-baik saja mengenai pilihan gaun itu.
Mendengarkan ucapan dari adiknya, mampu buat Kak Ana tersenyum cukup lebar. Bukan maksud dirinya untuk mempermalukan Renjani, tapi penampilan yang seperti ini juga termasuk dalam salah satu rencananya agar bisa lepas dari perjodohan.
"Bantu kakak ya, Renjani. Untuk sehari saja, tolong tahan rasa malu mu," ujar Kak Ana terdengar penuh harap.
Karena Renjani sudah setuju membantu sang kakak, dirinya mau tak mau harus melakukan sesuai rencana. Memang sedikit memalukan dan membuat kurang nyaman, namun tetap harus dia tahan. Setelah pertemuan esok hari, semua akan selesai dan kembali seperti normal.
Walau merasa sedikit kurang nyaman, Renjani tetap mengekor tepat di belakang Lily bermaksud menuju ke fitting room. Hanya supaya memastikan, Lily selaku pemilik butik sekaligus yang merekomendasikan gaun pantai ini, meminta Renjani agar mencoba terlebih dahulu. Siapa tahu ada yang masih mau ditambah atau dikurangi.
Memang benar ya, jika orangnya sudah cantik mau mengenakan pakaian apapun pasti tetap terlihat sama. Dengan balutan gaun bernuansa kuning cerah yang dipenuhi oleh corak bunga-bunga dan tak lupa juga ditambahkan dengan aksesoris mulai dari anting, topi pantai dan juga sepatu yang memiliki warna senada dengan gaun, entah mengapa malah terlihat cocok. Penampilan dari gadis itu malah terlihat sangat baik-baik saja, tidak ada keanehan seperti yang diharapkan.
Kak Ana serta temannya saling menatap bingung satu sama lain, bertanya-tanya mengenai rencana mereka. Apakah harus gagal sebelum mencoba? Jika setelan gaun yang memiliki perpaduan warna saling menabrak saja masih terlihat cocok dikenakan oleh Renjani, maka takutnya nanti bukannya ilfil, Ardhi malah terpesona.
"Gimana ya? Ini gaun sudah yang paling tidak masuk akal, tapi kenapa Renjani kelihatan makin cantik?" Tanya Lily yang tengah merasa takjub sekaligus bingung.
Kak Ana hanya terdiam sambil menatap ke arah adiknya. Sepertinya dia mencoba memikirkan hal lain yang bisa merusak penampilan dari Renjani. Pokoknya saat bertemu dengan Ardhi, Renjani harus kelihatan biasa saja. Dia tak boleh terlalu mencolok karena takutnya malah semakin memperumit keadaan.
Setelah cukup banyak berpikir, Kak Ana akhirnya berhasil menemukan cara yang tepat. Dia menyarankan agar Renjani di dandani secara berlebihan. Bukankah lelaki memang tak terlalu menyukai wanita yang berdandan menor? Kak Ana ingin melihat adiknya tampil dengan mengenakan lipstik berwarna merah terang.
"Kakak janji, setelah ini selesai pasti akan membayar mu dengan layak. Katakan saja keinginan mu, pasti akan aku turuti," kata Kak Ana membuat sebuah janji dengan adiknya.
Renjani yang memang tak ada niatan untuk menolak, hanya menanggapi perkataan barusan dengan sebuah senyuman cukup lebar. Dia sudah mengatakan akan membantu, jadi tak ada alasan baginya untuk mundur.
Sudah cukup melakukan percobaan untuk gaun, Renjani, Kak Ana serta Lily mulai melangkah menuju ke arah sofa yang tersedia pada ruang istirahat di butik ini. Mereka berkumpul di sana hanya untuk meminum secangkir teh sekaligus melakukan perbincangan singkat sebelum pulang.
...•••...
Disisi lain, tepatnya sebuah ruangan kerja yang ada pada salah satu gedung perusahaan, tampak seorang lelaki tampan dengan setelan jasnya tengah duduk sambil menatap serius ke arah layar laptop, sampai-sampai dirinya tanpa sengaja mengabaikan kehadiran dari sang sekertaris — Nindi.
Sudah ada sekitar lebih dari lima belas menit, Nindi berdiri diam dihadapan atasannya itu sambil membawa sebuah berkas yang berisi mengenai semua informasi dari putri Tuan Aries. Nindi berhasil menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Ardhi dengan tepat sekaligus cepat.
"Tuan?" Panggil Nindi kepada atasannya yang masih terus berkutik pada layar laptopnya.
Merasa berulang kali terabaikan, Nindi pun mulai melangkah mendekat lalu membuat beberapa ketukan di meja kerja Ardhi. Dia harus memberanikan diri untuk melakukan ini, karena kalau tidak, mungkin dia akan terus berdiri seperti ini dalam waktu yang cukup lama.
"Maaf Tuan?" Nindi mencoba memanggilnya lagi sembari menyodorkan berkas yang dibawanya.
Setelah banyak berusaha dan mencoba, Nindi akhirnya mendapatkan perhatian dari sang atasan. Ya, meskipun tidak sepenuhnya karena sambil menyahuti panggilan itu kedua mata Ardhi tetap terus fokus pada layar laptop yang menampilkan dokumen pekerjaannya.
"Ada apa?" Tanya Ardhi terkesan dingin.
"Saya hanya ingin memberikan berkas yang berisi seluruh informasi tentang putri dari Tuan Aries," ucap Nindi sembari memberikan sebuah senyuman cukup lebar.
__ADS_1
Ardhi mengambil berkas itu dari tangan sang sekertaris, kemudian meletakkannya begitu saja pada tumpukan berkas yang ada dari sisi meja sebelah kiri. Diletakkan begitu saja tanpa membacanya, padahal sangat terburu-buru untuk memintanya.
"Terima kasih," kata Ardhi singkat.
Setelah menyelesaikan tugasnya, Nindi pun langsung menarik diri keluar dari ruangan sang atasan. Dia keluar tanpa mendapatkan tugas apapun. Mungkinkah ini akan menjadi hari bebas? Tentu saja tidak. Sebagai seorang sekertaris dari salah seorang CEO perusahaan besar dirinya selalu mempunyai banyak tugas dan jadwalnya juga padat. Hari bebas hanya akan di dapatkannya setiap hari Minggu, itupun tak sepenuhnya. Karena terkadang di hari libur pun dia bisa mendapatkan panggilan telepon dari perusahaan.
.
.
.
Lima belas menit berlalu, Ardhi yang masih sibuk dengan urusan pekerjaan pun memutuskan untuk menyempatkan waktu membuka berkas yang tadi di berikan oleh Nindi. Dengan cepat dia menyobek amplop coklat yang menutupi seluruh berkas informasi itu. Hal pertama yang dilihat oleh Ardhi hanyalah sebuah foto berwarna ukuran tiga kali empat.
Ardhi mengambil foto itu lalu menatapnya untuk sebentar. Walaupun belum pernah bertemu, berkat foto itu dirinya jadi tahu bagaimana rupa dari putri Tuan Aries. Menurut berkas informasi yang sedang dibacanya, diketahui pula mengenai nama dari putri Tuan Aries. Kalau menurut pendapatnya, Anastasia memang terlihat cantik, namun sayangnya masih belum bisa membuat seorang Ardhi tertarik.
Bukannya Ardhi tidak tertarik pada perempuan, tapi memang kenyataannya begitu. Perempuan secantik apapun kalau belum sesuai dengan tipe kriterianya, Ardhi tak akan ada rasa ketertarikan sedikitpun. Kalau boleh jujur, sebenarnya dia sangat ingin menolak, tapi tak memiliki kekuatan untuk melakukan itu. Keinginan dari sang kakek sangat sulit untuk diberikan sebuah penolakan.
"Dia model dan selama beberapa bulan terakhir sedang tidak ada di negara ini," gumam Ardhi sambil membaca isi seluruh berkas informasi itu.
Setelah membaca cepat dan kurang lebihnya tahu sedikit tentang calon istri yang sudah dipilihkan oleh sang kakek, Ardhi dengan cepat meletakkan kembali berkas itu di atas tumpukan dokumen lain. Helaan napas cukup berat juga dibuat olehnya sebelum kembali berfokus pada dokumen pekerjaan yang ada di laptop.
"Kenapa kakek membuang waktuku hanya untuk hal yang belum terlalu berguna?" protesnya dengan jemari yang kembali mulai sibuk pada keyboard.
^^^Bersambung...^^^
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
✓ Instagram : just.human___
__ADS_1