My Important Bussiness With CEO

My Important Bussiness With CEO
— 33.


__ADS_3

Tidak tahu sampai kapan Renjani akan mengikuti perintah dari seorang Ardhi, karena jujur saja adakalanya ia ingin sekali memberikan penolakan, tapi ancaman soal membayar denda sesuai dengan apa yang tertulis pada kontrak, selalu saja membayangi dirinya dan membuat takut.


Sebenarnya setelah pulang sekolah Renjani memiliki rencana untuk menyambangi perpustakaan. Bukan tanpa sebab, hanya saja ada beberapa materi tentang pelajaran yang harus dicari olehnya. Tadi, Renjani mau mengatakan itu kepada Ardhi, namun tidak mendapatkan kesempatan.


Bukan karena Renjani yang enggan untuk memberitahu, hanya saja Ardhi sudah terlebih dahulu memintanya supaya tak menolak dan mengingatkan soal kontrak. Jadi, Renjani terpaksa harus setuju dan mengabaikan rencana sendiri yang katanya ingin pergi ke perpustakaan.


Dengan raut wajah kelihatan datar, Renjani sekarang sudah duduk nyaman di kursi penumpang, persis bersebelahan dengan Ardhi yang kelihatan tengah sibuk mengendarai mobil ini. Entah mau dibawa kemana, Renjani juga merasa enggan untuk bertanya.


Keheningan menyapa mereka berdua, tak ada pembicaraan yang berarti. Antara Ardhi dan juga Renjani hanya sibuk pada pikirannya masing-masing. Sampai pada akhirnya, setelah menempuh jarak yang cukup jauh, ada sekitar tiga puluh menit waktu yang digunakan untuk perjalanan, mobil sedan hitam yang memiliki lambat empat cincin ini sudah terlihat berhenti di parkiran dari sebuah rumah sakit.


Renjani yang masih di dalam mobil dan menyadari tentang keberadaannya sekarang pun mulai kebingungan. Kelihatan dari sorot matanya yang tampak bergerak berkeliling, memperhatikan sekitar. Apa yang sedang ada dipikiran Ardhi? Kenapa ia membawa Renjani datang kesini?


"Tuan Ardhi?" Panggilan yang dibuat oleh Renjani terdengar begitu jelas menyapa kedua telinga milik laki-laki yang kini telah terlihat melepaskan sabuk pengaman.


"Kenapa kita ada disini? Maksudnya kenapa Tuan mengajak aku kemari?" Tanya Renjani tepat setelah memanggil.


"Saya hanya ingin kamu menemui seseorang," jawab Ardhi yang tentu saja belum bisa membuat Renjani mengerti.


"Menemui seseorang? Siapa? Perasaan tidak ada kenalan aku yang sedang sakit," pertanyaan terus dilontarkan oleh gadis itu sampai mendapatkan jawaban yang sesuai.


Tanpa memberikan jawaban apapun yang pasti, Ardhi pun bergegas untuk keluar dari mobil. Tak langsung meninggalkan Renjani begitu saja, ia dengan baik membukakan pintu mobil untuk gadis itu, bahkan sampai membantu melepaskan sabuk pengaman yang masih melekat di tubuh milik Renjani.


"Kalian memang belum mengenal, tapi setelah pertemuan saya yakin kamu akan menjadi akrab dengan dia," kata Ardhi yang telah usai melepaskan sabuk pengaman itu.


Tepat setalah bebas dari sabuk pengaman, Renjani pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari mobil ini. Tidak ada pertanyaan lebih lanjut, ia memutuskan untuk terus mengikut laki-laki pemilik nama Ardhi itu, dengan keyakinan kalau nanti juga pasti dirinya mendapatkan jawaban atas segala pertanyaan yang terus berputar di kepalanya.


Walaupun Ardhi belum mendapatkan izin, ia tetap tak ragu untuk menggandeng tangan milik Renjani, lalu membawanya menuju ke kamar rawat inap, tempat dimana sang adik - Syifa, dirawat. Iya, Ardhi memang sengaja mempertemukan mereka berdua, karena sejak kemarin ia terus berandai-andai serta membayangkan kalau Renjani bertemu dengan Syifa. Mungkin mereka berdua akan bisa akrab. Lagipula selama ini, Ardhi sama sekali belum pernah melihat adiknya berteman dengan siapapun.


Sudah berada di depan dari ruang rawat inap, Ardhi yang tak bermaksud untuk membuat Renjani terus penasaran pun mulai memberitahu. Menjawab pertanyaan yang tadi sepat diabaikan olehnya.


"Saya tak memiliki maksud buruk. Tujuan saya mengajak kamu kesini hanya untuk memperkenalkan kamu dengan Syifa, adik saya," tutur Ardhi yang langsung berhasil membuat Renjani tertawa kecil.


"Tapi, bertemu dengan anggota keluarga tidak ada dikontrak kita. Bisa dibilang ini bisa menjadi pelanggaran," kata Renjani yang anehnya terus saja tersangkut pada kontrak perjanjian. Apa terlalu sulit untuk memlihat maksud hati seorang Ardhi?


"Dia cukup kesepian. Saya hanya berniat untuk mencarikannya teman saja. Tapi, kalau kamu anggap ini sebagai sebuah pelanggaran kontrak, tunggu saja disini!" Kata Ardhi yang anehnya mampu membuat Renjani merasa bersalah.

__ADS_1


Sekarang Renjani mulai mempertanyakan kepada dirinya sendiri. Apakah yang baru saja diucapkan dan dilakukan terlalu kejam dan tak berperasaan? Bagaimana Renjani bisa sampai seperti itu? Padahal kalau di dengar maksud Ardhi juga baik. Apa salahnya dengan memberikan teman baru kepada sang adik? Apa Renjani sendiri yang memang enggan untuk mendapatkan seorang teman baru?


Dengan perasaan bersalah karena sudah mengungkit soal kontrak ditengah keinginan tulus dari Ardhi, Renjani memutuskan untuk ikut masuk ke ruang rawat inap itu, menyusul laki-laki yang sudah terlebih dahulu berada di dalam.


Sembari tersenyum canggung dan sedikit malu-malu, Renjani pun mulai melambaikan tangannya bermaksud untuk menyapa gadis cantik yang kini tengah tergeletak pucat di atas ranjang rumah sakit. Apakah Renjani sekarang kelihatan seperti seseorang yang sedang melakukan sok kenal sok dekat?


Meski sapaannya terkesan sedikit aneh karena kecanggungan, Renjani pun tak ragu untuk berjalan mendekat ke arah Syifa. Bukan dengan lambaian tangan, Renjani akan menyapa gadis itu secara langsung.


"Hai, Syifa...," sapa Renjani yang langsung berhasil membuat gadis yang sedang ada di atas ranjang rumah sakit itu menengok ke arah Ardhi.


"Namanya Renjani. Dia datang untuk menjenguk kamu," ucap Ardhi tak ragu untuk memperkenalkan sosok gadis yang sekarang ini sedang menjalin hubungan dengan dia.


"Renjani? Dimana kakak menemukan gadis aneh seperti dia?" Bisik Syifa, tetapi masih bisa di dengar jelas oleh Renjani.


"Aku tidak aneh," kata Renjani diikuti dengan sebuah senyuman lebar yang berhasil membuat perkataannya barusan seakan salah.


"Kenapa kakak membawanya kemari? Aku sedang tidak membutuhkan seorang pelayan," ungkap Syifa yang memang belum tahu apa-apa mengenai hubungan antara sang kakak dengan Renjani.


"Bukan pelayan, tapi aku membawanya sebagai teman kamu," tutur Ardhi malah bikin Syifa kebingungan.


"Tapi, kami baru bertemu. Aku bahkan tidak mengenalnya sama sekali. Bagaiman bisa berteman?" Tanya Syifa membutuhkan jawaban yang tepat dari sang kakak.


......................


Ardhi benar-benar begitu berupaya untuk membuat mereka berdua saling berkenalan dan berhubungan dengan baik, ya meskipun ia sangat melihat kalau diantara adiknya dan Renjani masih ada kecanggungan. Bukan bermaksud memaksa mereka, tapi ini adalah cara Ardhi yang mulai memperkenalkan secara perlahan-lahan sosok Renjani kepada keluarganya.


Syifa adalah adik tersayangnya, sekaligus satu-satunya orang yang bisa dengan mudah dijangkau oleh Ardhi. Kalau misalnya hubungan mereka berdua bisa baik, Ardhi juga mulai memiliki kesempatan untuk memperkenalkan Renjani kepada keluarganya yang lain.


Perlu diketahui, walaupun antara Ardhi dan Renjani ada penghalang sebuah kontrak serta pertemuan mereka juga karena sebuah ketidaksengajaan, tapi persoalan hubungan Ardhi memang serius. Ini memang terkesan sedikit aneh, tapi sejak bertemu Renjani, Ardhi selalu memiliki niatan untuk membuat gadis itu tetap tinggal.


Supaya keduanya bisa lebih akrab, Ardhi mulai kembali membuat alasan hanya untuk mereka berdua bisa saling berbincang satu sama lain. Seperti yang diketahui, kalau Ardhi adalah seseorang penggila kerja, maka dari itu ia sengaja menggunakan tentang pekerjaan agar dapat keluar dari ruang rawat inap ini.


"Renjani?" Panggil Ardhi kepada gadis yang saat ini sedang duduk di sofa sambil membaca majalah yang disediakan.


"Iya?" Sahut Renjani terkesan cepat.

__ADS_1


"Ada pekerjaan yang harus saya urus. Bisakah kamu membantu saya untuk menjaga Syifa sebentar?" Tanya Ardhi yang kelihatan berhasil membuat Renjani terkejut.


"Tuan mau pergi? Meninggalkan aku sendiri disini?" Renjani hanya ingin memastikan saja.


"Tidak akan lama. Setelah pekerjaannya selesai, saya akan langsung datang kemari untuk menjemputmu dan mengantar kamu pulang," ujar Ardhi yang sudah terlihat sedang bersiap-siap pergi dari ruangan ini.


"Tapi, kalau Tuan pergi..." Renjani sengaja memberikan jeda pada ucapannya.


"Kenapa? Apa kamu ada masalah kalau saya tinggalkan disini?" Tanya Ardhi ingin tahu akan lanjutan kalimatnya.


Sambil melihat ke arah Syifa yang saat ini masih beristirahat di atas ranjang rumah sakit, Renjani terlihat mulai menggelengkan kepalanya dengan ragu.


Sebenarnya ia enggan ditinggal oleh Ardhi, tapi kalau memaksa agar tetap disini bisa-bisa pekerjaan penting yang dimaksud jadi terhalang. Maka dari itu, mau tak mau Renjani pun menurut.


"Jangan lama-lama! Cepatlah kembali, Tuan," pinta Renjani yang kemudian mendapatkan tepukan hangat di pundaknya oleh Ardhi.


"Syifa, tolong untuk bersikap baik dengan Renjani! Jangan buat dia kesulitan!" Pinta Ardhi yang tanpa menunggu jawaban langsung melangkahkan kakinya pergi dari ruang rawat inap ini meninggalkan dua wanita untuk saling berbincang satu sama lain.


^^^Bersambung...^^^



Catatan kecil :


- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.


- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.


-----------------------------------------------------------


Story ©® : Just.Human


*please don't copy this story.


Find Me

__ADS_1


✓ Instagram : just.human___


-----------------------------------------------------------


__ADS_2