My Important Bussiness With CEO

My Important Bussiness With CEO
— 25.


__ADS_3

Pada saat Ardhi sedang sibuk menghadiri rapat bisnis dengan seorang klien dari Italia, ia begitu terkejut karena ponsel yang dipegang oleh sekertaris nya berbunyi terus. Dirasa kalau panggilan terus mengganggu dan berhasil membuat klien merasa kurang nyaman, Ardhi pun segera memerintahkan sang sekertaris untuk menjawab panggilan itu.


Nindi yang dengan sangat mudah menerima isyarat mata yang diberikan oleh atasannya pun bergegas untuk melangkahkan kaki keluar dari ruan rapat yang semestinya belum boleh ditinggalkan.


Entah siapa yang sejak tadi terus memberikan spam panggilan, karena pada layar ponsel itu hanya menunjukan nomor telepon tanpa ada adanya nama. Lagi-lagi nomor asing dan sangat berharap kalau ini bukan hanya sekedar panggilan iseng.


Selagi sekertaris nya menjawab panggilan itu, Ardhi tetap melanjutkan fokusnya pada rapat penting ini. Jangan sampai hanya karena panggilan dari nomor asing membuat Ardhi kehilangan klien penting seperti Tuan Benvolio.


Tak butuh waktu lama untuk menjawab panggilan itu, Nindi pun sudah terlihat masuk kembali ke ruang rapat dan bergabung lagi bersama mereka semua. Ardhi yang masih setia duduk di kursinya pun menatap ke arah sang sekertaris dengan raut wajah bertanya. Sepertinya memang Ardhi sangat penasaran mengenai panggilan spam itu. Bukan tanpa sebab, hanya saja perasaan Ardhi mengatakan kalau itu adalah panggilan penting. Kenapa Nindi malah diam tanpa memberitahu apapun?


Merasa kurang bisa melanjutkan rapat ini dalam keadaan penasaran, Ardhi pun secara sepihak mulai mencoba untuk memberikan jeda sejenak untuk rapat penting ini. Keinginnya Ardhi yang dirasa terlalu egois pun berhasil memunculkan raut wajah kecewa kepada Tuan Benvolio.


"Sebelum rapat ini dilanjutkan, untuk nona Nindi apakah ada hal penting yang ingin dikatakan? Sekarang saya sedang memberikan kepada kamu waktu untuk berbicara," ujar Ardhi dengan sorot mata begitu ingin tahu.


Nindi yang sebenarnya berniat untuk menyembunyikan dulu soal masalah panggilan spam itu pun mau tak mau mulai berdiri dari tempatnya lalu mendekat ke arah sang atasan. Bukan tanpa sebab hanya saja masalah ini tak perlu diketahui banyak orang, apalagi di ruangan masih ada Tuan Benvolio bersama dengan pegawainya.


"Guru BK membuat nona Renjani mendapatkan hukuman tambahan hanya karena meragukan kalau dia adalah saudara dari anda," bisik Nindi persis di telinga milik sang atasan.


"Lalu? Apalagi?"


"Tak hanya meragukan, guru BK itu juga sempat meminta nomer pribadi anda dan nona Renjani enggan untuk memberikannya," kata Nindi menambah.


"Hukuman tambahan seperti apa yang didapatkan oleh Renjani?" Tanya Ardhi penasaran.


"Membersihkan kamar mandi," jawab Nindi.


Sebenarnya ini menjadi masalah sepele yang tak perlu juga bagi seseorang seperti Ardhi untuk mengurusnya. Sudah sangat wajar kalau Ardhi berniat mengabaikan dan tidak peduli, tapi karena Renjani juga terlibat di dalamnya, Ardhi sama sekali tak bisa untuk berpura-pura menutup telinga dan mata.


Seakan lebih memikirkan tentang gadis pemilik nama Renjani itu, Ardhi pun tak sungkan untuk meminta agar sekertaris-nya itu mengirimkan surat teguran ke sekolah Bakti Pertiwi. Bagaimana bisa seorang guru konseling menggunakan kekuasaannya hanya untuk kepentingan pribadi? Menghukum seorang murid hanya karena tak mau memberikan nomer telepon dari pria yang disukainya. Bukankah ini terkesan terlalu kekanak-kanakan?


"Tuan, saya ingin meminta maaf sebelumnya. Tapi, tidakkah lebih baik bagi Tuan untuk lebih mempedulikan rapatnya terlebih dahulu? Untuk masalah tentang nona Renjani, saya akan mencoba meminta orang lain yang mengurusnya," ujar Nindi merasa tidak enak hati kepada klien dari Italia itu.


"Mau siapapun yang mengurus, saya ingin surat teguran itu di dapatkan oleh guru BK," ujar Ardhi terdengar begitu tegas dan kemungkinan akan sulit untuk dibantah oleh Nindi.


Untuk menyelesaikan pembicaraan ini, Nindi pun menganggukkan kepalanya tanda mengerti atas perintah yang diberikan oleh sang atasan. Meskipun masih dibalut dalam keadaan cemas, Ardhi tetap terlihat melanjutkan rapat penting ini. Ia bahkan tak lupa untuk menyampaikan permintaan maaf kepada Tuan Benvolio, karena sudah dibuat menunggu terlalu lama.


...•••...


Semua pegawai yang bekerja di bawah perusahaan Moonlight Group memang terkenal sebagai orang-orang yang cepat dalam mengatasi masalah. Seperti perintah dari CEO perusahaan, Nindi telah meminta seseorang untuk mengantarkan surat teguran kepada sekolah Bakti Pertiwi.


Seorang laki-laki bernama Arya, saat ini telah datang ke sekolah tempat dimana Renjani berada. Tanpa mau membuang-buang waktu, Arya pun bergegas untuk menuju ke ruang kepala sekolah. Surat teguran yang dibawanya ini harus benar-benar tersampaikan oleh kepala sekolah.


Sama seperti rumor yang selama ini selalu beredar di sekolah, selain kepala sekolah, Ardhi juga menjadi salah satu orang yang bisa dibilang juga memiliki kuasa disini. Dana bulanan yang selalu diberikannya untuk sekolah ini membuat Ardhi begitu di hormati, bahkan kepala sekolah sendiri tunduk kepada dirinya.


Kepala sekolah yang memang belum tahu mengenai masalahnya, pun kelihatan cukup terkejut ketika mendapati seorang utusan yang dikirim langsung oleh Ardhi itu.


Tuan Arya yang memang terkesan enggan untuk berbasa-basi pun tak ragu memberikan surat teguran kepada kepala sekolah yang kini telah duduk persis dihadapannya. Disini Arya hanya menyampaikan titipan dari atasan.


"Tuan Ardhi mengirimnya secara langsung. Waktu dan tempat, dipersilahkan untuk membaca isinya. Nanti anda sendiri juga tahu mengenai permasalahannya," ucap Arya meminta agar kepala sekolah itu mencari tahu sendiri.


Enggan semakin terlarut dalam rasa penasaran, kepala sekolah pun dengan cepat membaca isi dari selembar surat yang diberikan oleh Arya. Membacanya dengan seksama dan raut wajah seketika berubah menjadi kesal.

__ADS_1


"Apa ini benar?" Tanya kepala sekolah sedikit meragukan isi surat teguran itu.


"Kalau anda tidak mempercayainya, sekarang bisa tanyakan sendiri kepada Renjani yang kini telah ada di kelasnya," ucap Arya dan langsung berhasil membuat kepala sekolah beranjak bangkit dari tempatnya duduk, lalu melangkahkan kaki terburu-buru menuju ke arah ruang kelas tepat dimana Renjani berada.


.


.


.


Renjani kira semua permasalahan telah selesai sejak ia keluar dari dalam kamar mandi, namun ternyata tak bisa terselesaikan dengan mudah. Pada saat Renjani tengah terfokus kepada pelajaran, secara tiba-tiba kepala sekolah datang ke kelas dan langsung memanggil dirinya.


Tidak tahu apa masalahnya sekarang, gadis yang memang tak melakukan kesalahan apapun itu mulai dibuat pusing sekaligus bingung. Tadi pagi sudah guru BK, dan sekarang ia harus berhadapan dengan kepala sekolah.


Dengan ragu-ragu, Renjani beranjak dari tempat duduknya sambil melangkahkan kaki mengikuti kepala sekolah itu sampai mereka berdua kini telah berada di ruang kelas.


"Renjani, saya hanya butuh satu pengakuan dari kamu," ujar kepala sekolah kepada gadis yang saat ini hanya bisa menundukkan kepalanya.


"Tentang apa ya, Pak?" Tanya Renjani sedikit takut.


"Tolong jawab jujur, apakah benar kamu baru saja menjalani hukuman dari guru BK?" Karena yang ada dihadapannya adalah kepala sekolah, Renjani sama sekali tak berani untuk mengatakan soal kebohongan.


"Benar," jawab Renjani dengan jujur.


"Kalau boleh tahu hukuman apa saja yang kamu dapatkan?" Tanya kepala sekolah itu lagi.


"Karena terlambat saya diminta untuk membersihkan daun kering di taman sekolah bersama dengan murid lainnya, lalu—" Renjani sengaja memberikan jeda pada ucapannya. Bukan tanpa sebab, hanya saja gadis itu sedang ingin melihat situasi dan kondisinya. Apakah tida masalah untuk mengatakan kebenaran soal guru BK?


"Guru BK meminta saya membersihkan kamar mandi hanya karena tak memberikan nomor telepon milik seseorang," ungkap Renjani berani jujur.


Setelah mendengarkan pengakuan seperti itu, guru BK pun tak ragu untuk menepuk singkat pundak dari Renjani, lalu sebuah senyuman tipis penuh arti juga terlihat di sana.


"Baiklah saya mengerti. Kamu bisa lanjutkan proses belajarnya," ucap kepala sekolah meminta agar gadis itu bisa kembali ke dalam kelas.


Renjani yang tak memiliki alasan lagi untuk tetap berada di tempatnya pun memutuskan kembali ke kelas, memenuhi perintah dari kepala sekolah. Awalnya memang sedikit menakutkan, tapi setelah tahu kalau kepala sekolah hanya datang untuk bertanya, perasaan takut itu sudah lenyap begitu saja.


Mendengar pengakuan jujur yang diberikan oleh Renjani, mau tak mau harus membuat kepala sekolah mengambil sebuah keputusan besar. Tindakan guru BK yang terlalu berlebihan hanya karena seorang laki-laki, berhasil mendesak kepala sekolah mengeluarkan surat pemecatan. Tak seharusnya bagi seorang guru konseling, melakukan hal yang keluar dari batasan.


"Tolong sampaikan kepada Tuan Ardhi, saya selaku kepala sekolah meminta maaf atas semua yang terjadi," kata kepala sekolah itu sambil membungkukkan badannya, merasa bersalah atas apa yang terjadi.


"Baik. Saya pasti akan sampaikan. Tuan Ardhi juga berpesan agar kejadian seperti ini tak terulang kembali. Sebagai seorang pengajar sudah semestinya bertindak profesional, menjauhkan masalah pribadi dari pekerjaan," ucap Arya panjang lebar.


"Baik. Sekali lagi saya meminta maaf atas ketidaknyamanan yang dibuat. Saya harap Tuan Ardhi tak akan meninggalkan sekolah kami hanya karena masalah ini," ujar kepala sekolah lebih takut kehilangan orang dermawan seperti Ardhi.


Merasa kalau permasalahan ini telah terselesaikan dengan baik, Arya pun bergegas pergi setelah berpamitan dengan benar kepada pimpinan dari sekolah ini.


...•••...


Guru BK benar-benar dibuat kesal dan emosi akan keputusan yang diambil oleh kepala sekolah. Bagaimana bisa beliau melayangkan surat pemecatan hanya karena dirinya memberikan hukuman kepada murid yang memang bersalah?


Merasa kalau semua yang terjadi tidak adil, guru BK terus saja berusaha untuk membela dirinya sendiri. Mengatakan kebohongan, kalau semua yang terjadi tak sesuai dengan apa yang sudah dituduhkan. Baru diangkat sebagai seorang guru tetap, beliau sangat enggan mengangkat kakinya pergi dari sekolah ini.

__ADS_1


"Murid itu berbohong. Renjani berbohong. Yang dikatakan semuanya adalah kebohongan. Saya memberikan hukuman memang karena dia melakukan kesalahan. Terlambat dan juga bertingkah tidak sopan, itulah kesalahan yang dibuat oleh Renjani," ujar guru BK sangat berusaha untuk meyakinkan kepala sekolah kalau dirinya tak bersalah.


"Benarkah? Kalau anggapan mu seperti itu, sama berarti kamu menuduh Tuan Ardhi sebagai seorang pembohong," ujar Kepala Sekolah enggan untuk mempercayai guru BK.


"Tidak. Bukan seperti itu maksudnya. Yang berbohong hanya Renjani bukan Tuan Ardhi," dari cara bicara sekarang terlalu kentara kalau guru BK benar-benar sangat menyukai sosok Ardhi.


"Perlu kamu ketahui, saya mengetahui semuanya dari surat teguran yang dibuat oleh Tuan Ardhi. Ada seseorang utusannya datang untuk memberikan surat itu. Jadi, saya tak mungkin meragukan apa yang sudah dikatakan oleh beliau, apalagi pernyataannya sekarang sudah di dukung oleh Renjani sendiri," kata kepala sekolah yang kemudian memberikan surat pemecatan keada guru BK itu.


.


.


.


Sebagai seseorang yang tak bisa menerima tentang keputusan dari kepala sekolah, pun berpikir kalau semuanya terjadi hanya karena gadis bernama Renjani itu. Andai saja ia tetap berbaik hati menutup mulutnya rapat-rapat, pasti semua ini tak akan terjadi.


Merasa sudah tidak mempedulikan apapun karena memang sekarang ini statusnya sebagai seorang guru sudah menghilang, beliau yang memang telah menunggu kemunculan dari gadis itu pun mulai bergegas melangkahkan kakinya untuk bisa menjangkau Renjani.


Renjani yang memang baru saja keluar dari kelas, secara tak terduga mendapatkan sebuah perlakuan kurang menyenangkan dari guru BK. Bisa-bisanya dihadapan orang banyak, beliau dengan berani menarik rambut panjang milik Renjani.


Karena Renjani juga menjadi primadona yang disukai oleh banyaknya laki-laki, menyaksikan tindakan buruk yang diberikan oleh guru BK mampu membuat para murid yang memang menyukai Renjani mulai memberikan bantuan. Bahkan mereka tak segan untuk membalas kelakuan dari guru BK itu.


Hanya karena amarah yang kurang bisa ditahan oleh guru BK mampu menciptakan kekacauan yang luar biasa. Pertengkaran terjadi antara guru BK dan juga murid laki-laki yang menjadi penggemar dari Renjani.


Hanya untuk mengamankan semua ini, satpam juga harus turun tangan melerai pertengkaran. Namun, karena jumlah massa yang bisa dibilang cukup banyak mampu membuat satpam sedikit kesulitan, sampai pada akhirnya beberapa bodyguard datang untuk memberi bantuan.


Bodyguard datang bukan karena ada seseorang yang memanggil, melainkan mereka datang bersama atasannya — Ardhi. Bukankah tadi saat di telepon laki-laki itu sudah mengatakan dengan jelas kalau ingin mengajak Renjani menonton sesuatu?


Ardhi yang memang sudah menemukan jalan pun langsung saja menarik tubuh mungil dari Renjani, keluar dari kerusuhan masa itu. Kini gadis cantik itu sudah dalam pelukan seorang Ardhi, bisa dibilang kalau ini menjadi posisi ternyaman dan teraman.


^^^Bersambung...^^^



Catatan kecil :


- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.


- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.


-----------------------------------------------------------


Story ©® : Just.Human


*please don't copy this story.


Find Me


✓ Instagram : just.human___


-----------------------------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2