
Malam ini, disaat bulan bersinar begitu terang menghiasi langit, Syifa yang sejak tadi sudah duduk berhadapan dengan sang kekasih, kelihatan terus menunjukan senyum terbaik. Dia tersenyum karena memang sedang merasakan bahagia. Sekarang siapa perempuan yang tidak bahagia ketika mendapatkan kejutan serta hadiah dari kekasihnya?
David yang melihat senyuman terus terpancar di wajah sang kekasih merasa begitu lega karena ternyata dirinya masih sanggup untuk membahagiakan gadis itu. Bagian yang selalu menjadi favoritnya adalah ketika Syifa bisa tersenyum seperti sekarang. Sungguh, dalam hubungan ini David sangat berusaha untuk terus mempertahankan senyuman cantik dari sang kekasih.
Karena memang senyumannya terkesan begitu candu, David tak ada henti untuk terus menatap ke arah sang kekasih. Sampai pada akhirnya, Syifa yang terus ditatap oleh laki-laki itu merasa sedikit malu, sehingga tidak heran kalau pipinya terlihat memerah seperti seekor kepiting yang baru matang.
"Kenapa terus menatapku? Apa ada yang aneh dari wajahku?" Tanya Syifa dan langsung mendapatkan gelengan kepala dari laki-laki itu.
"Bukan aneh, tapi wajahmu itu terlalu cantik sehingga buat aku sedikit enggan untuk mengalihkan pandang," jawab David seakan sedang memberikan sebuah gombalan.
Mendengar ucapan seperti itu keluar dari mulut sang kekasih, malah sanggup membuat pipi Syifa makin memerah. Sudahlah, jangan membuat gombalan yang bisa membuat anak orang salah tingkah.
Belum sempat memberikan jawaban apa-apa, pelayan restoran kembali datang menghampiri sepasang kekasih itu untuk menyajikan beberapa makanan yang sudah mereka pesan. Dengan pelayanan terbaik yang dimiliki oleh restoran ini, pelayan mulai meletakkan satu persatu makanan ke atas meja makan. Rupanya cukup banyak jenis makanan yang dipesan oleh mereka berdua. Mulai dari makanan pembuka hingga penutup semuanya tersaji di satu meja.
Melihat semua makanan itu sanggup membuat rasa tidak sabar dari dalam diri Syifa melonjak. Iya, dia sudah begitu ingin mencicipi makanan itu karena dari penampakannya saja sudah begitu menggugah selera makan.
"Semuanya sudah tersaji. Silahkan dinikmati," ucap pelayan itu yang kemudian melenggang pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.
Karena sudah terlalu ingin mencicipi makanan itu, Syifa pun meminta izin terlebih dahulu untuk mulai memakan hidangan pembuka. Sungguh semua makanan itu terlihat begitu sempurna pada pandangannya.
"Aku cobain dulu ya, babe?" Tanya Syifa sambil mengambil sendok dan juga garpu yang tersedia disisi samping meja.
Tak menunggu jawaban dari laki-laki yang masih setia duduk dihadapannya, Syifa mulai mencicipi hidangan pembuka. Baru suapan pertama yang masuk ke dalam mulut, Syifa sudah terlihat begitu menikmati. Apakah rasa hidangannya sangat sesuai dengan selera dari gadis itu?
"Sumpah, babe... Ini makanan enak banget. Jadi gak sabar buat cobain yang lain," ucap Syifa sambil terus memasukan suapan demi suapan ke mulutnya.
"Habiskan," kata David sembari mengusap mulut kekasihnya yang sudah belepotan dengan saus mayonaise.
"Kamu kok bisa sih, nemuin restoran sebagus ini? Sudah makanannya enak, pemandangannya juga keren. Udahlah bintang lima buat restoran ini," ucap Syifa yang terlalu banyak memberikan pujian bagi restoran The Sky.
Meskipun Syifa baru pertama kali mengunjungi tempat ini, dia sudah terlihat begitu jatuh cinta akan suasana tempatnya. Kalau seperti ini, bisa-bisa ia akan membujuk sang kakak untuk menemaninya datang kemari setiap hari. Kalau sudah jatuh cinta, ia pasti tak akan bosan untuk mengunjungi tiap hari.
Selagi mereka berdua tengah menikmati hidangan yang tersaji, secara tiba-tiba Syifa mulai memiliki pemikiran serius yang harus ditanyakan kepada sang kekasih. Dia hanya ingin mendengarkan jawaban serta kepastian dari seorang David saja.
"Babe, kamu kenapa belum mau mengunjungi orang tuaku? Padahal mereka sering kali bertanya soal kamu," ucap Syifa yang sanggup membuat laki-laki bernama David itu tersedak.
"Bukankah aku sudah sempat bertemu dengan kakakmu?" Tanya balik David sambil meneguk segelas air mineral yang tersedia di atas meja.
"Iya, tapi kan beda. Rasanya aku pengen banget deh lihat kamu berinteraksi sama orang tua aku. Pasti bakal seru banget," kata Syifa jujur tentang keinginan sejak lama.
"Aku pasti bakal temuin mereka kok, tapi enggak sekarang. Masih banyak yang perlu aku siapkan sebelum bertemu orang hebat seperti mereka berdua," ujar David memberikan alasan yang sama setiap Syifa bertanya tentang pertemuan itu.
Seakan kecewa akan David yang sama sekali belum mau memberikan jawaban pasti, Syifa pun memilih untuk berhenti makan. Kini ia terlihat tengah merajuk sambil cemberut kesal. Kenapa kekasihnya itu terus saja mencari alasan untuk sebuah pertemuan dengan kedua orang tuanya? Tidak bisakah ia langsung saja menyetujui keinginan dari Syifa.
"Jangan ngambek dong, babe!" Kata David mulai cemas ketika mengetahui senyuman yang sedari tadi menghiasi wajah cantik gadis itu mulai menghilang.
"Gimana mau gak ngambek? Kalau kamu terus saja menolak ajakan ku untuk bertemu dengan orang tua," ujar Syifa mengajukan keluhannya.
Mendengar desakan keinginan yang terus dibuat oleh gadis itu sanggup membuat David menghela napasnya berat. Kemudian tak lama, David memutuskan untuk menyanggupi permintaan dari sang kekasih.
"Ok. Aku akan menemui mereka, tapi kamu tolong berhenti merajuk seperti itu," ucap David dan berhasil membuat senyuman sumringah kembali terpancar dari wajah cantik gadis itu.
Sungguh, bukan tanpa sebab David selalu menolak ataupun menunda pertemuan itu. Selama berpacaran dengan Syifa, ia terus merasa sedikit kurang pantas untuk mendampinginya. Perasaan yang seharusnya tak ada itu mampu membuat David menjadi seorang pengecut yang tak berani datang menemui ayah dan ibu dari sang kekasih. Tahu sendiri kalau Syifa berasal dari sebuah keluarga terpandang, ya meskipun David sendiri juga sama-sama berasal dari keluarga berada, tapi tetap saja perasaan tidak percaya diri masih bisa menghantui dirinya.
"Serius kan kamu mau datang menemui mereka?" Tanya Syifa hanya memastikan kalau keputusan yang dibuat oleh sang kekasih merupakan sebuah kesungguhan.
"Iya. Kamu bisa atur pertemuannya dan aku pasti akan datang," ujar David terdengar meyakinkan.
Syifa yang sudah merasa puas pun mulai kembali melanjutkan aktivitas makannya. Karena tadi sempat merajuk, waktu makannya jadi harus terhambat sebentar. Untung saja sekarang gadis itu sudah bisa kembali menikmati hidangan lezat. Bayangkan saja kalau David bersikeras menolak, mungkin Syifa akan pulang dalam keadaan perut yang masih belum terisi penuh.
...•••...
Setelah menghabiskan waktu kurang lebih selama dua jam di restoran The Sky, kini sepasang kekasih itu tengah dalam perjalanan untuk menuju ke arah parkiran mobil dengan keadaan perut yang sudah kenyang dan merasa begitu terpuaskan oleh cita rasa hidangan dari restoran tadi.
__ADS_1
Karena tak memiliki tujuan lain dan juga waktu sudah semakin malam, David memutuskan untuk segera mengantar kekasihnya pulang. Tidak baik bagi seorang anak gadis untuk pulang terlalu larut.
"Hati-hati kepalanya," ucap David yang telah membukakan pintu mobil untuk kekasihnya itu.
Meskipun merasa enggan, Syifa tetap menurut dan masuk ke dalam mobil dengan ekspresi wajah yang kembali ditekuk. Kali ini hal apa yang berhasil membuat Syifa cemberut? Apa David melakukan kesalahan lagi? Bukankah keinginannya tadi sudah dituruti oleh David?
"Kenapa babe? Aku kira setelah pergi dari restoran itu, kamu bakal kelihatan senang, tapi kok malah wajahnya ditekuk gitu?" Tanya David yang ternyata juga belum mengetahui alasannya.
Syifa yang telah duduk di kursi penumpang pun mulai memberikan sebuah tatapan mata sayu kepada laki-laki itu. Dia kenapa lagi? Tidak bisakah untuk memberitahu segera alasan dari perubahan mood nya?
"Belum mau pulang. Masih pengen bareng sama kamu," ujar Syifa yang rupanya memberitahu lelaki itu.
Mendengar hal yang diucapkan oleh sang kekasih, sanggup membuat lengkungan bulan sabit terbentuk jelas pada bibir laki-laki itu. Tanpa ragu, David mengacak gemas rambut panjang milik pacarnya.
"Besok kita kan ketemu lagi. Pagi, aku masih antar kamu ke sekolah. Sore, aku juga jemput kamu," ucap David yang masih tetap ingin untuk mengantar gadis itu pulang.
"Tapi, aku masih mau main sama kamu. Masih kangen berat, babe," katanya sambil membuat tatapan penuh harap.
"Ya udah, sekarang kamu mau kemana deh? Tapi, gak sampai jam sepuluh ya?" Kata David dengan mudahnya menuruti keinginan dari sang kekasih.
Sebelum memutuskan ingin pergi kemana, Syifa terlebih dahulu melihat ke arah jam yang terpasang pada pergelangan tangannya. Dia hanya ingin memastikan kalau masih memiliki banyak waktu.
"Kok diem? Jadi, mau kemana?" David bertanya lagi kepada gadis yang saat ini sudah tersenyum cukup lebar.
"Mau nonton film," kata Syifa meminta hal yang kemungkinan tak bisa dilakukan karena kebetulan waktu juga sudah tidak terlalu memihak.
"Kalau nonton, mau pulang jam berapa?" Tentu saja David tidak mungkin bisa setuju.
"Ayolah. Kita udah lama gak nonton bareng kan?" Bujuk Syifa dan segera membuat laki-laki itu mengambil ponselnya untuk mencari tiket bioskop.
Padahal baru mau menyalakan ponselnya, dengan cepat Syifa melarangnya. Kenapa? Bukankah katanya dia sedang ingin menonton film?
"Gak perlu ke bioskop," ujar Syifa yang belum bisa dimengerti maksudnya oleh sang kekasih.
Sambil tersenyum tipis, Syifa mengatakan dengan lantang kalau dirinya sedang ingin menonton berdua di apartemen — tempat sang kekasihnya itu tinggal. Syifa hanya merasa kalau koleksi film yang dimiliki oleh David jauh lebih bagus dan menarik dibanding harus datang ke bioskop.
"Apartemen mu. Seperti dulu, kamu kan pernah ajak aku kesana," ujar Syifa dan ternyata mendapatkan penolakan tegas dari pacarnya.
"Enggak ada ya! Aku gak bakal bawa kamu kesana diwaktu seperti sekarang."
"Kenapa?"
"Ya pokoknya gak boleh. Kamu tahu kan kalau aku tinggal sendirian di sana?"
"Tahu," entah polos atau bagaimana, tapi kelihatannya Syifa memang tak mengerti kalau pacarnya itu masih laki-laki normal.
"Kita nonton di bioskop aja. Aku pesankan tiketnya sekarang," ujar David tetap bersikeras tak memberikan izinnya.
"Kalau nonton di bioskop, aku gak mau," katanya sambil memajukan bibir, cemberut.
"Ya udah, kita pulang aja. Gak jadi nonton," David benar-benar membuatnya kesal.
"Ah, kesel banget sama kamu. Bilangin belum mau pulang!" Decak kesal Syifa.
Sebelum semuanya tak terkontrol, David mencoba untuk perlahan-lahan memberitahu kekasihnya yang kelihatan seperti seorang gadis polos dan naif. Kalau David tetap diam, takutnya malah membuatnya semakin menjadi.
"Sayang, kamu tahu kan kalau aku lelaki normal?"
"Ya terus? Apa hubungannya dengan keinginan ku nonton film di apartemen mu?" Tanya Syifa sedikit ketus kepada laki-laki itu.
"Aku hanya gak bisa berduaan sama kamu di tempat seperti itu. Aku takut kepada diriku sendiri," jawab David mulai menjelaskan.
"Kenapa? Apa yang kamu takutkan?"
__ADS_1
"Diriku sama sekali tidak bisa dipercaya. Aku takut kalau melukai kamu, babe..."
"Melukai gimana? Kan kita cuma nonton film. Apartemen mu itu terlalu nyaman untuk dibuat menonton, apalagi koleksi film mu begitu banyak," rupanya Syifa belum kunjung mengerti.
"Ya tapi, gak sekarang. Ehm, gimana kalau besok aja? Setelah pulang sekolah?"
"Kan aku pengennya sekarang?" Syifa terus memaksakan kehendaknya.
David mencoba memutar otaknya. Dia harus memikirkan cara agar gadis itu berhenti meminta hal yang tak mungkin dilakukan pada waktu seperti sekarang. Semakin lama berpikir, malah makin membuat Syifa kesal karena ketidaksabarannya.
"Ya udah, kalau gak boleh biarin aku pulang sendiri," ancam Syifa yang kini sudah siap membuka sabuk pengamannya.
Mendapatkan ancaman seperti itu, mau tak mau David pun memutuskan untuk menuruti permintaan dari kekasihnya, tapi ia juga tidak lupa mengajukan beberapa syarat penting yang harus dilakukan oleh kekasihnya.
"Oke, kita ke apartemen sekarang dan menonton film, tapi hanya sampai setengah sepuluh ya? Setelah itu aku akan langsung mengantarkan mu pulang."
Daripada membuang banyak waktu untuk terus berbincang, tanpa berpikir terlalu panjang dan sulit, Syifa dengan mudah menyetujui syarat yang diberikan oleh kekasihnya. Tak jadi turun dari mobil, Syifa kembali memasangkan sabuk pengaman yang tadi sempat terlepas.
Mobil SUV yang dikendarai oleh David mulai terlihat melintasi jalanan kota malam ini yang terbilang cukup ramai lancar. Mereka berdua kini tengah menuju ke arah apartemen milik David yang jaraknya tak terlalu jauh dari lokasi restoran The Sky.
...•••...
Hanya butuh sekitar 25 menit untuk perjalanan, akhirnya mobil yang dikendarai sendiri oleh David sudah terlihat berhenti tepat di parkiran basemen yang dimiliki oleh gedung apartemen ini.
Sebelum benar-benar turun dan melangkah masuk menuju kamar apartemen miliknya yang ada di lantai sepuluh, David kembali mengingatkan gadis itu dengan syarat penting.
"Ingat ya, hanya sampai setengah sepuluh! Setelahnya aku akan langsung mengantarmu pulang," ujar David dengan tegas.
Syifa yang tengah diperingati seperti itu malah memberikan sebuah senyuman usil sambil mengatakan hal yang sanggup membuat David merasa dikhianati. "Ehm, aku akan pulang setelah menyelesaikan satu film."
Tak berkata lebih banyak dari itu, Syifa pun bergegas untuk melepaskan sabuk pengaman kemudian mulai melangkahkan kakinya keluar. Tanpa menunggu sang kekasih, ia terlebih dahulu berlari masuk ke dalam gedung dengan membawa kunci kamar apartemen milik David. Bagaimana dia bisa cepat mengambil kuncinya? Padahal jelas-jelas itu ada di kantong celana David. Sama sekali tak terasa apapun ketika Syifa mengambil kunci dari kamar apartemennya.
.
.
.
Setelah berhasil berjalan mendahului sang kekasih, Syifa yang kini telah berada di lantai sepuluh dari gedung apartemen ini pun langsung menuju ke depan kamar apartemen milik sang kekasih.
Terlihat seperti sang pemilik, Syifa dengan mudah membuka pintu kamar apartemen dengan kunci yang tadi sempat diambilnya secara diam-diam dari saku celana David.
Tepat pintu terbuka, David juga keluar dari dalam lift. Laki-laki itu pun lebih mempercepat langkahnya lagi hanya agar bisa menyusul sang kekasih yang sekarang sudah ada di dalam kamar apartemennya.
^^^Bersambung...^^^
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
✓ Instagram : just.human___
__ADS_1