
Selayaknya seperti di rumah sendiri, Syifa tanpa ragu langsung menempatkan dirinya duduk dengan nyaman pada sofa panjang yang ada di ruang tamu dari kamar apartemen itu. Sama sekali tidak menunggu David, gadis cantik yang bernama Syifa langsung saja menyalakan televisi lalu memutar film yang memang sedang ingin dia tonton.
Sebuah film bergenre action sudah terputar dan Syifa juga terlihat tengah asyik menonton alur cerita dari film itu. Saking asyiknya, Syifa bahkan tak menyadari kalau sang kekasih telah mengambil tempat duduk persis disebelahnya.
"Film yang sama?" Tanya David sambil memakan camilan ringan yang tadi sempat dia bawa dan ambil dari dapur.
"Iya. Aku terlalu suka sama cerita dan juga akting dari pemainnya," jawab Syifa dengan pandangan mata yang masih tertuju pada layar televisi.
"Sudah hampir tiga kali di rewatch, apa kamu tak bosan?" David hanya penasaran saja, ingin tahu.
"Ini itu termasuk film favorit ku jadi, mau ditonton berulang kali pun tak akan bosan," tutur Syifa memberitahu hal yang sekiranya benar.
Mendengar jawaban yang seperti itu, berhasil membuat David tersenyum tipis sambil menganggukkan kepalanya, pertanda mengerti. Dari sekian banyak film yang ada pada koleksi seorang David, Syifa malah memilih menonton film sama. Anggap saja hal seperti itu sebagai suatu keunikan yang dimiliki oleh Syifa.
Bukannya tanpa sebab, hanya saja David bukanlah orang yang bisa terus menonton film sama seperti gadis itu. Sebagus apapun filmnya, tapi kalau sudah tahu endingnya, David juga tak akan bisa untuk menonton film itu lagi. Jujur saja, karena sudah bisa menebak alur cerita, perasaan bosan dengan mudahnya untuk menyapa. Maka dari itu, David hanya duduk sambil memakan cemilan dengan pandangan yang tak terlalu terfokus pada layar televisi.
"Ingat ya, sayang... Setengah sepuluh kamu sudah harus pulang," ucap David memperingati gadis yang saat ini tengah asyik menikmati filmnya.
Waktu terus berlalu begitu cepat, film yang berdurasi ada sekitar tiga jam itu belum kunjung usai. David yang sejak tadi terus memantau jam mulai memberitahu sang kekasih tentang peringatannya. Kurang sepuluh menit lagi sebelum Syifa diantar pulang oleh laki-laki itu.
"Aku akan bersiap-siap," kata David yang kemudian beranjak berdiri dari tempatnya.
"Mau kemana?" Tanya Syifa yang sepertinya lupa akan peringatan soal jam pulang dari laki-laki itu.
"Mengantarmu pulang. Bukankah aku sudah bilang kalau kamu harus pulang tepat setengah sepuluh?" Jawab David mengingatkan gadis itu kembali.
Karena merasa filmnya belum selesai, lagi dan lagi Syifa memasang wajah cemberut. Iya, rupanya gadis itu sedang merajuk kembali. Sekarang apalagi? Bukankah tadi sebelum datang ke apartemen ini, dia sudah janji akan pulang di jam setengah sepuluh?
"Nanti dulu deh, babe pulangnya. Filmnya belum selesai," kata Syifa masih betah untuk berada di tempatnya.
"Kan kamu janji bakal pulang jam setengah sepuluh?" Tanya David yang kali ini tak akan membiarkan sang kekasih berada di kamar apartemen lebih lama lagi.
"Siapa? Aku gak ada bilang?" Dengan mudahnya Syifa mengatakan itu.
"Kalau tahu akan seperti ini, mungkin aku tak akan membawamu kemari," David merasa menyesal karena telah memberikan izinnya.
Mendengar ungkapan yang diwarnai dengan nada penuh penyesalan, sanggup membuat Syifa melemparkan tatapan tajam kepada laki-laki yang kini telah berdiri dan siap untuk mengambil kunci mobil di atas meja.
Tanpa mengatakan apa-apa, Syifa yang terlihat kesal pun mulai memutuskan untuk mematikan televisi dan mengakhiri sesi menonton filmnya yang masih belum menemui titik ending. Kenapa sih, laki-laki itu terus saja memaksanya pulang? Tidak bisakah ia memberikan sedikit kemurahan hati dengan membiarkan Syifa tetap menikmati film itu sampai pada bagian ending?
"Ya udah. Ayo kita pulang!" Ucap Syifa dengan nada kesal.
Tak ingin terlalu sering menatap laki-laki itu, Syifa yang sekarang mulai mencoba membuang muka pun bergegas melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu keluar dari kamar apartemen ini. Mengetahui kekesalan yang kini tengah menghantam diri sang kekasih, hanya bisa membuat David tersenyum tipis, seakan sudah terbiasa menghadapi kemarahan dari sang kekasih.
Dengan sepihak, Syifa mulai membuka pintu dari kamar apartemen ini lalu berniat untuk pulang sendiri dalam rasa kesalnya. David yang tahu pun bergegas menghentikan kekasihnya itu. Bukan maksud David ingin mengusir, tapi hanya saja banyak hal yang ditakutkan terjadi kalau kekasihnya lebih lama ada di kamar apartemen ini.
"Tunggu aku! Jangan pergi sendiri!" Ucap David melarang untuk sang kekasih pergi sendiri.
Bukan tak pengertian, hanya saja alasan Syifa terus merajuk karena masih ingin menghabiskan waktu bersama kekasihnya itu. Iya, setelah menjalani hubungan jarak jauh selama berhari-hari, wajar kalau Syifa masih merasa rindu dan tetap ingin berada lebih lama di dekat sang kekasih.
"Gak perlu dianter. Aku bisa pulang sendiri," tolak Syifa sambil menepis genggaman tangan yang dibuat oleh laki-laki bernama David itu.
Meskipun ditolak, David tak akan menyerah. Ia yakin pasti bisa membuang semua rasa kesal yang kini tengah menyapa sang kekasih. Tanpa ragu, David kembali menggenggam tangan pacarnya dengan begitu erat, seakan enggan untuk melepaskannya.
__ADS_1
"Kamu kenapa sih kok marah-marah? Udahlah jangan marah kek gini, besok pasti aku ajak kamu kesini lagi. Nonton filmnya lanjut besok," kata David seakan sedang membujuk gadis itu agar mau berhenti marah.
Masih dalam sorot mata yang terkesan tajam dan menusuk, Syifa terus berusaha untuk menghempaskan genggaman tangan dari laki-laki itu, namun karena terlalu erat dia mengalami sedikit kesusahan.
"Lepas!" Pinta Syifa yang tak dituruti oleh sang kekasih.
"Tolong berhenti marah! Biar aku antar pulang," ucap David lagi.
Tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang jelas setelah merasa kesal dan marah, gadis itu malah menangis. David sama sekali tidak menyakitinya, tapi kenapa air mata miliknya menetes? Melihat gadis yang disukai menangis, mampu membuat David cemas sekaligus bingung.
"Eh, kok nangis? Kenapa?" Tanya David yang kini sudah mulai mencoba mengusap air mata dari gadis itu.
"Kamu tahu gak sih, kalau menonton film cuma alasan yang ku buat agar bisa lebih lama lagi sama kamu?" Ungkap Syifa disela-sela tangisannya yang menjadi.
"Aku gak mau pisah sama kamu. Aku masih mau terus sama kamu. Aku mau nikah sama kamu. Pokoknya aku mau sama kamu terus dan selamanya, tapi kakek sama sekali tidak memperbolehkan itu," tambah gadis itu yang masih belum bisa dimengerti oleh David.
"Iya... Kita akan selamanya terus, gak akan pisah. Memangnya ada masalah apa? Kakek mu tak memberikan restu?" Tanya David mencoba mencari tahu.
Sambil menatap sendu ke arah laki-laki itu, Syifa mengangguk membenarkan pertanyaan yang ada di akhir kalimat milik sang kekasih. Tidak tahu apa alasan dari kakeknya, tapi yang jelas beliau memang berniat untuk menjodohkan cucu perempuannya itu. Sebenarnya alasan Syifa harus pergi ke Austria hanya untuk menghadiri pertemuan dengan keluarga laki-laki pilihan sang kakek. Syifa ingi memberitahu hal ini kepada David, tapi terus tak mendapatkan kesempatan bagus.
Bukannya sedih atau hal lainnya, diberitahu seperti itu oleh sang kekasih hanya berhasil membuat David tersenyum hangat lalu tanpa permisi langsung memberikan sebuah pelukan hangat kepada sang kekasih. David memeluknya begitu erat sambil tangannya mengusap lembut bagian punggung, mencoba menenangkan.
"Karena terlalu takut kehilangan kamu, aku terpaksa harus memaksa agar kamu mau secepatnya bertemu dengan keluargaku," kata Syifa mengungkap maksudnya.
"Kamu tahukan, lelaki yang aku sukai selain Kak Ardhi, itu kamu? Kalau kamu pergi, aku pasti akan sangat sedih," tambah gadis cantik itu mengatakan hal yang sesuai dengan perasaan hati nuraninya.
Sambil memberikan kecupan kecil pada kening kekasihnya, David berusaha keras untuk memberitahu kalau semua yang sedang dikhawatirkan tak akan terjadi. Meskipun kakek dari Syifa tak setuju dan berniat menjodohkannya dengan laki-laki lain, David yakin kalau Syifa adalah takdirnya.
"Jangan terlalu berlebihan dalam mengkhawatirkan sesuatu! Aku tahu bagaimana perasaanmu, tapi percaya saja kalau aku gak akan pernah ninggalin kamu," ucap David terdengar seperti sebuah janji.
"Aku akan berusaha keras buat meyakinkan kakek mu agar mau membatalkan perjodohan yang dibuatnya," kata David dengan penuh kepercayaan diri.
Syifa melepaskan pelukannya, kemudian menatap lelaki itu lekat-lekat. Entah apa yang sedang dipikirkan olehnya, tanpa berpikir panjang ia begitu berani mengecup singkat bibir ranum milik David. Meski bukan sebuah first kiss bagi mereka, tetap saja setelah melakukannya pipi milik Syifa seketika memerah.
Karena waktu semakin larut, David pun memutuskan untuk berhenti mengatakan apapun dan bergegas mengantarkan gadis itu pulang, namun ketika ia baru berjalan sedikit, Syifa tiba-tiba berhenti melangkah. Tidak tahu apa yang akan dilakukannya, tapi yang jelas gadis itu melepaskan gandengan tangan dari sang kekasih.
"Kenapa? Masih gak mau pulang?" Tanya David dibuat bertanya-tanya akan tingkah kekasihnya.
Syifa tersenyum penuh arti, lalu memutarbalikkan tubuhnya kembali menuju ke kamar apartemen — tempat dimana lelaki itu tinggal. Dia kesana bukan karena ada barang yang tertinggal, tapi memang masih ingin menetap di sana.
"Pulang nanti aja ya... Masih mau sama kamu," kata Syifa yang rupanya belum mau menyerah.
"Enggak. Kita harus pulang sekarang, hari sudah semakin larut dan besok kamu juga—" belum sempat bagi David menyelesaikan kalimatnya, tanpa terduga Syifa kembali memberikan sebuah kecupan persis pada bibir ranum laki-laki itu. Dua kali ia menciumnya dan mampu membuat David sedikit kesal.
"Kamu tahukan kalau itu—" seperti tak diizinkan untuk berbicara, Syifa terus saja memberikan kecupan hangatnya secara terus menerus, sampai akhirnya...
...David tanpa ragu mengunci tubuh mungil gadis itu dalam pelukannya, lalu menciumnya dengan dalam. Hal seperti ini sebenarnya tak boleh terjadi, David yang masih setengah sadar dan tak mau terlalu menurut pada keinginannya pun mulai menghentikan tindakannya itu.
"Kenapa berhenti?" Tanya Syifa ketika kekasihnya itu sedikit memberikan jarak.
"Aku gak boleh melakukannya," kata David masih mengikuti akal sehatnya.
Syifa tersenyum, lalu dengan berani mulai mengusap lembut wajah tampan laki-laki itu. Kenapa gadis itu melakukan hal yang bisa menguji David? Posisinya sekarang, David mengalami kesulitan untuk tetap waras.
__ADS_1
"Jangan seperti ini!" Larang David.
Tanpa berpikir panjang, Syifa melemparkan pelukan dan menciumi leher milik laki-laki yang sekarang sudah menjadi kekasihnya. Sebenarnya apa yang sedang gadis itu rencanakan? Kenapa bertindak terlalu jauh seperti ini?
"Syifa! Berhenti mengujiku. Aku tak ingin melakukannya," terus saja David memberikan penolakan yang tengah saja tidak akan di dengar oleh gadis itu.
"Aku mau kamu. Selamanya aku mau sama kamu," bisik Syifa yang sanggup menghilangkan kewarasan dari laki-laki itu.
Setelah banyak mendapatkan ujian, David tanpa permisi langsung menggendong dalam pelukan tubuh gadis itu dan membawanya masuk ke dalam kamar apartemen. Seperti tidak ada yang ditakutkan, Syifa hanya tersenyum sambil tangannya bergerak mencoba untuk membuka kemeja baju yang sedang dikenakan oleh David.
"Apa aku harus berhenti sekarang?" Tanya David sambil menatap ke arah gadis itu.
"Apa kamu akan melewatkan momen seperti ini?"
"Kalau kamu minta, aku pasti akan melewatkannya," ucap David sedikit ragu untuk melanjutkan tindakannya.
Tanpa berpikir panjang, Syifa yang saat ini sudah terbaring di atas sofa dalam dekapan tubuh kekar sang kekasih pun kembali membisikkan hal yang semakin memancing kewarasan dari laki-laki itu.
"Aku gak akan minta kamu berhenti. Lanjutkan dan lakukan sesukamu," ucap Syifa.
"Cause i'm yours," imbuhnya.
David membelai lembut rambut milik gadis yang saat ini tengah ada dibawahnya sambil tersenyum penuh arti.
"I love you..." Kata David mengungkapkan perasaannya.
"I love you more than everything..." Balas gadis itu.
Tak ingin tetap berada di sofa ruang tamu, David pun kembali menggendong tubuh kekasihnya bermaksud untuk memindahkannya ke kamar, tempat yang jauh lebih nyaman. Mereka masuk ke dalam kamar dan sengaja mengunci pintu dari dalam. Tidak tahu apa yang sedang mereka lakukan, tapi yang terdengar jelas adalah teriakan penuh candu dari Syifa.
Permainan malam yang dilakukan oleh kedua sejoli remaja itu, benar-benar membuat keduanya terhanyut dalam dunia yang dipenuhi oleh kenikmatan.
Memancing David sengaja dilakukan oleh Syifa hanya agar bisa tetap bersama dengan sang kekasih dan perjodohan mau tak mau harus dibatalkan. Rencana yang terus saja dipikirkan sejak tiba di negara ini. Mau salah atau pun benar, Syifa hanya memikirkan cara tepat agar tak kehilangan satu-satunya pria yang begitu dicintainya itu.
"Now, you are mine," ucap David dan langsung mendapatkan anggukkan kepala dari Syifa yang saat ini sudah terlihat dipenuhi oleh keringat.
^^^Bersambung...^^^
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
__ADS_1
✓ Instagram : just.human___