
Meskipun Renjani tak ada sangkut-pautnya dalam masalah itu, tapi sebagai seorang perempuan ia memiliki hak serta kewajiban untuk membela perempuan lain yang memang sedang berada dalam ketidakadilan. Jujur saja selama mengenal seorang David, ia sama sekali tak menyangka kalau temannya itu bisa membuat keputusan sepihak yang terkesan begitu kurang bertanggung jawab.
Saat mendengar perkataan yang mengandung sebuah keputusan, tentu saja mampu membuat seorang Syifa merasa syok dan air mata juga sudah mulai menggenang di pelupuk mata. Kalau posisinya dibalik, Renjani yang menghadapi masalah itu, mungkin ia akan terus menangis. Hamil sebelum pernikahan dan ketika usia masih bisa dibilang begitu muda, bukanlah menjadi sebuah masalah kecil yang patut disepelekan. Tinggal minta pergi ke dokter untuk menggugurkan, lalu menganggap kalau masalahnya bisa langsung selesai, apakah tak diingat tentang rasa bersalah yang pasti akan menghantui seumur hidup? Bukan tentang mereka berdua saja, tapi juga ada satu nyawa bayi belum lahir yang juga harus dipertaruhkan.
Dengan rasa marah dan kekecewaan yang amat terdalam, Renjani meminta sedikit waktu kepada David untuk saling berbincang empat mata dan serius. Sepertinya memang temannya itu harus dimarahi dan dimaki terlebih dahulu. Bagaimana bisa dia begitu tak bertanggung jawab atas apa yang sudah diperbuatnya?
Satu tamparan keras berhasil mendarat tepat di pipi bagian kanan milik Davis. Menurut Renjani, laki-laki kurang ada rasa tanggung jawab seperti Davis memang pantas untuk mendapatkan itu. Berpikiran untuk menggugurkan seorang bayi, bukankah itu sudah masuk ke arah pembunuhan?
"Lo ngomong apa tadi? Memintanya untuk mengugurkan? Gila kali ya lo?!" Decak kesal seorang Renjani.
Daripada peduli dengan kemarahan seorang Renjani, kini David masih begitu bingung akan satu hal. Kenapa temannya bisa ada disini? Kenapa dia juga ikut campur? Apa hubungan Renjani dengan Syifa? Ingin menanyakan itu, tapi semua kesempatan yang ada selalu tidak berpihak. Renjani terkesan begitu memojokkan David.
"Lo sebenernya tahu gak sih? Mengugurkan kandungan yang jelas-jelas sehat itu sama aja dengan melakukan pembunuhan. Memangnya lo mau dicap sebagai seorang pembunuh anak sendiri?" Tanya Renjani masih kelihatan kesal.
"Kenapa ada disini? Apa yang sedang kamu lakukan? Kenapa ikut campur?" Bukannya menjawab atau memberikan penjelasan akan keputusannya, David malah memilih untuk bertanya.
Mendapat pertanyaan seperti itu sanggup membuat seorang Renjani terdiam sejenak sambil menutup bibirnya rapat-rapat. Tak habis pikir saja, kalau David lebih ingin mendapatkan jawaban atas pertanyaannya ketimbang menjelaskan semuanya.
Belum sempat bagi seorang Renjani memberikan respon apapun, secara tidak terduga laki-laki yang tadi sempat pergi cukup lama pun sudah datang kembali. Tanpa membuat sapaan hangat, Ardhi yang masih tersulut akan emosi pun juga ikut memberikan sebuah pukulan keras yanag tepat mengenai wajah bagian kiri dari David. Sudah mendapatkan tamparan dan kini pukulan, sungguh teramat apes, tapi bukankah David memang pantas mendapatkan semua itu?
"Kamu sepertinya tak ada rasa takut sama sekali buat datang kesini ya," kata Ardhi dengan nada bicara yang kedengaran marah.
Seakan belum puas dengan sekali pukul, Ardhi berniat untuk memberikan David sebuah pukulan lainnya lagi, namun itu tak berhasil dilakukan karena ada seorang Renjani yang menghadang.
Bukan dengan maksud membela ataupun melindungi seseorang yang bersalah, Renjani melakukan ini hanya karena tidak ingin membuat Ardhi terlibat dalam masalah lainnya. Sekarang posisi mereka sedang ada di rumah sakit, kalau membuat keributan takutnya bisa menggangu pasien lain.
"Tidak memukul lagi. Tolong biarkan aku berbicara dengan David berdua," pinta Renjani sembari menggenggam pergelangan tangan milik David, dan kemudian membawanya pergi menjauh menuju ke arah taman belakang yang ada di rumah sakit ini.
__ADS_1
.
.
.
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka berdua sudah berada di taman belakang. Ingin segera memulai pembicaraan yang serius dengan laki-laki itu, Renjani pun bergegas untuk melepaskan genggaman tangannya.
Sembari memutar kedua bola matanya malas, Renjani mulai melipat kedua tangan tepat di depan dada. Sepertinya sekarang ia akan kembali melemparkan pertanyaan yang sama seperti tadi.
"Kenapa lo memilih buat lepas tanggung jawab? Lo tahu kan kalau mengugurkan kandungan bukan hal tepat dalam menyelesaikan masalah ini? Lo memangnya mau kalau dipukul lagi?" Diantara rasa kesal dan marah, sebenarnya ada juga perasaan kasihan kepada David. Entah mengapa sekarang mulai tumbuh perasaan yakin dari dalam diri Renjani kalau temannya itu terpaksa untuk membuat keputusan seperti itu.
"Kasih tahu gue alasan yang buat Lo memutuskan hal seperti itu. Gue mau dengar itu keluar dari mulut lo," desak Renjani membutuhkan jawaban.
Dengan kepala tertunduk dan air mata yang mulai keluar dari pelupuk, David mulai memberitahu alasan dari keputusannya. "Aku juga gak bermaksud buat lakuin itu, tapi kamu tahu sendiri bagaimana sikap dari keluarga ku. Kalau memberitahu mereka, aku pasti akan langsung habis."
Sekarang sepertinya Renjani bisa memahami perasaan seorang David. Laki-laki itu memang kelihatan hampir sempurna dalam segala hal, tapi siapa yang tahu kalau dibalik kesempurnaannya itu, ia menyimpan sebuah luka mendalam hanya karena keluarga.
Setelah mengatakan hal yang mampu membuatnya harus membuat keputusan seperti itu, air mata mulai mengalir deras membasahi wajah tampannya. David menangis sejadi-jadinya hanya karena kondisi yang sekarang sedang dihadapi terkesan tak bisa mudah.
"Andai saja waktu itu aku bisa menahan diri dan gak berbuat sesuatu yang merugikan, mungkin sekarang tak akan terjadi seperti ini. Aku menyesal terhadap diri sendiri," ucap David.
Bukan ingin berubah pikiran, Renjani pun tanpa ragu langsung melemparkan sebuah pelukan, bermaksud untuk menenangkan laki-laki itu. Renjani sangat mengerti dengan kondisi yang sedang dialami oleh temannya, tapi meskipun demikian itu tetap bukan menjadi alasan tepat bagi seorang David untuk lari dari tanggung jawab.
"Aku bisa mengerti, tapi disini yang merasa takut bukan hanya kamu saja. Apa kamu tak memikirkan soal Syifa dan keluarganya? Sama halnya dengan kamu, keluarga Syifa juga sangat mengharapkan hal yang terbaik. Kalau misalkan kamu lari dari tanggung jawab dan membiarkan Syifa menanggung semuanya sendirian, kamu hanyalah seorang laki-laki pengecut dan brengsek," kata Renjani memberikan sedikit penekanan pada bagian terakhir.
Renjani melepaskan pelukannya, lalu mencoba berbicara baik-baik kepada David supaya mau memikirkan kembali soal keputusannya yang berniat meminta untuk mengugurkan kandungan.
__ADS_1
"Apa kamu tega membunuh anak kamu sendiri? Kenapa kamu harus merenggut hak hidupnya?"
"David?" Renjani memanggil namanya sambil memberikan sebuah tepukan kecil di bahu yang kemudian diikuti dengan senyuman tipis.
"Tolong pikirkan lagi soal keputusan mu! Kita tak pernah tahu kalau misalkan anak ini akan bisa menjadi penolong mu kelak,"
"Terima konsekuensinya dan pertanggungjawaban kan semua yang sudah kamu lakukan. Jangan melindungi diri sendiri! Kamu harus ingat kalau disini masa depan Syifa juga dipertaruhkan. Apa kamu tega melihat perempuan yang kamu cintai hancur sendirian? Bukankah kamu begitu mencintai Syifa?" Bujukan demi bujukan terus dibuat oleh Renjani hanya agar menghentikan keputusan sepihak yang dilakukan oleh laki-laki itu.
"Sekarang aku akan membiarkan kamu disini sendirian untuk berpikir yang tepat. Kalau sudah memiliki keputusan lain, tolong untuk langsung beritahu. Aku harap kamu tak mengecewakan Syifa lagi. Mau bagaimanapun, sekarang ini dia sedang mengandung anak kamu," tukas Renjani yang kemudian berlalu pergi meninggalkan laki-laki itu sendiri di taman belakang dari rumah sakit. Sungguh, sekarang ini Renjani sangat berharap kalau David mau memberikan kesempatan pada bayi yang masih bertumbuh di dalam kandungan seorang Syifa.
^^^Bersambung...^^^
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
-----------------------------------------------------------
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
__ADS_1
✓ Instagram : just.human___
-----------------------------------------------------------