My Important Bussiness With CEO

My Important Bussiness With CEO
— 16.


__ADS_3

Sebuah mobil sedan hitam yang ditumpangi oleh Renjani dan juga Ardhi, kini telah berhenti tepat di depan pintu gerbang dari kediaman keluarga Tuan Aries. Awalnya Renjani sudah memberikan sebuah penolakan atas tawaran tentang diantar pulang oleh laki-laki bernama Ardhi itu dengan alasan takut kalau kedua orang tuanya tahu soal perkara hubungan yang tak seharusnya terjadi, tapi penolakan sama sekali tidak bisa diterima oleh laki-laki itu.


Karena hari sudah semakin larut, Renjani yang telah berpamitan dengan sebuah tundukkan kepala singkat pun mulai melangkah keluar dari mobil sedan itu. Baru mengeluarkan kaki kanan, secara tidak terduga tubuh Renjani ditarik kembali masuk ke mobil oleh laki-laki itu. Sebuah tarikan yang sanggup membuat mereka berdua tak berjarak. Iya, dari posisinya sekarang, Renjani bisa melihat dengan jelas pori-pori wajah milik Ardhi.


"Tiga hari. Saya tidak akan menunggu lebih dari itu," kata Ardhi dengan suara maskulin yang anehnya mampu membuat jantung Renjani berdegup cukup kencang.


"Pastikan, kamu bisa memberikan jawaban yang membuat saya puas," imbuhnya.


Ingin segera menyadarkan diri sendiri yang mulai tersihir akan ketampanan milik laki-laki itu, Renjani pun bergegas menarik tubuhnya menjauh. Gelagat gugup mulai terlihat kembali dibuat oleh gadis yang masih berusia 18 tahun itu.


Tanpa adanya ucapan apapun, Renjani kembali melangkahkan kakinya keluar dari mobil dan kali ini tanpa adanya hambatan apapun. Ia berhasil lolos dari sosok pria yang seharusnya dijauhi. Ardhi adalah calon suami dari kak Ana dan Renjani berpikir untuk mengembalikan semua sesuai tempatnya.


Sambil berjalan dengan terburu-buru, Renjani mulai menuju ke arah pintu masuk dari rumah itu. Baru mau menekan bel, ia harus dikejutkan dengan sosok sang ayah — Tuan Aries, yang tiba-tiba sudah membukakan pintu terlebih dahulu. Melihat sosok ayahnya, membuat Renjani langsung was-was dan melihat ke arah pintu gerbang, memastikan kalau mobil sedan yang ada Ardhi di dalamnya sudah pergi.


"Untung saja..." Batin Renjani sambil menghela napas lega saat tahu mobil milik Ardhi telah tak ada di depan pintu gerbang rumahnya.


"Kamu diantar siapa? Sepertinya bukan mobil Kak Ana?" Telisik sang ayah curiga. Baru saja Renjani merasa lega, sekarang sudah kembali tegang karena pertanyaan itu.


"I-itu..." Renjani sedikit tergagap.


"D-diantar oleh manajernya Kak Ana," kata gadis itu berbohong.


"Manajernya Ana punya mobil semahal itu? Kamu yakin?" Tanya sang ayah yang ternyata tak mudah percaya pada alasan Renjani.


"I-iya. Manajernya Kak Ana memang orang yang begitu kaya. Hanya sebuah mobil seperti itu, tak akan bisa membuat uangnya habis," tutur Renjani yang sebetulnya belum pernah bertemu dengan manajer dari sang kakak. Mengatakan demikian hanya untuk memberi alasan kepada sang ayah.


"Benarkah? Perasaan waktu ayah bertemu, manajernya tidak seperti yang barusan kamu katakan," ujar sang ayah masih belum bisa menerima alasan yang diberikan oleh Renjani.


"Kak Ana ganti manajer. Iya, itu manajer barunya," tukas Renjani kemudian langsung melenggang pergi masuk ke rumah, meninggalkan ayahnya yang masih memiliki banyak pertanyaan dalam benak.


Kenapa setelah setuju untuk membantu sang kakak, Renjani malah mendapat banyak masalah dan kesulitan? Renjani punya firasat kalau apa yang dialaminya sekarang, akan berlangsung dalam waktu lama.


.


.


.


Sudah berada di dalam kamarnya, Renjani pun bergegas untuk mengunci pintu terlebih dahulu baru mengambil ponsel pribadi yang sejak tadi ada di dalam tas kecil. Saat ini Renjani berniat ingin mencoba menghubungi kembali sang kakak.


Panggilan pertama, Renjani hanya mendapatkan suara nada sambung yang tak kunjung mendapatkan sahutan apapun. Coba mengulang, hasilnya tetap sama seperti itu. Rasanya seperti Kak Ana sengaja mengabaikan panggilannya. Apa sekarang kakaknya sudah benar-benar meninggalkan dirinya dan berhenti bertanggung jawab atas segala kekacauan yang telah dibuat?


Sedikit merasa kesal dan frustrasi karena tidak mendapatkan jawaban dari panggilan teleponnya, Renjani pun memikirkan cara lain. Iya, gadis itu mencoba untuk mengirimkan pesan kepada sang kakak. Mungkin, kalau mengirimkan pesan akan mendapatkan jawaban.


Renjani :


Kak, aku tidak akan mempermasalahkan tentang kak Ana yang sudah berbohong, tapi keadaan sekarang sudah sulit terkontrol. Aku punya waktu tiga hari untuk berpikir dalam mengambil keputusan. Laki-laki itu memberikan dua pilihan sulit kepadaku. Antara mau lanjut berkencan dengannya atau membayar denda sebanyak 200 juta.


Kak... Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku tidak mau berkencan dengannya dan disisi lain aku juga tidak bisa mendapatkan uang 200 juta. Meskipun bekerja keras selama dua tahun, gaji kerja part time ku tidak akan cukup untuk membayar dendanya.


Pesan yang dikirimkan oleh Renjani memang terkesan cukup panjang, tapi tidak masalah. Lebih baik langsung ke inti dan menceritakan segalanya daripada harus berbelit-belit dan malah tidak mendapatkan solusi apapun.

__ADS_1


Masih dengan perasan gugup, Renjani yang masih mengenakan gaun hitamnya pun menunggu dalam bimbang balasan pesan dari Kak Ana yang tak kunjung ada. Menunggu sebuah ketidakpastian mampu membuat Renjani tanpa sadar tertidur di atas meja belajar.


...•••...


Anastasia sudah menjadi seseorang yang begitu egois. Hanya demi bisa terbebas dari perjodohan itu, ia membiarkan sang adik sendirian terlibat. Tawaran menggoda yang diberikan oleh laki-laki bernama Ardhi itu mampu membuat Anastasia menjadi seseorang yang begitu jahat.


Sekarang dengan perasaan penuh bersalah, Anastasia kembali ke kondominiumnya dan kemudian menempatkan diri duduk di atas sofa panjang nan empuk sambil memijat kepalanya yang terasa begitu berat karena terlalu banyak pikiran.


Baru sebentar mengistirahatkan diri, ponsel miliknya yang ada di saku jaket berdering pertanda mendapatkan sebuah panggilan masuk dari seseorang. Ketika Anastasia melihat siapa gerangan yang menghubungi, ia tampak enggan untuk menjawab. Sang adik menelepon dan sengaja diabaikan begitu saja oleh dirinya.


"Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu," ungkap Anastasia seorang diri.


Karena Anastasia terus mendapatkan panggilan tanpa henti, dirinya pun memutuskan untuk mengaktifkan mode diam. Pada saat ingin meletakan ponselnya sedikit jauh dari dirinya, secara tak terduga sebuah pesan panjang berhasil ia dapatkan. Melihat pengirim pesan mampu membuat Anastasia enggan untuk membaca ataupun membalas. Sudahlah, intinya sekarang ia hanya ingin menenangkan pikirannya sebelum pergi berlibur ke Paris.


Anastasia memang sudah tak bisa mendengar dering ataupun bunyi dari ponselnya, tapi saat baru mau memejamkan kedua matanya, ia kembali dikejutkan oleh suara bel. Di jam seperti ini, siapa yang bertamu ke kondominiumnya?


Dengan langkah malas, Anastasia pun bangkit dari posisi ternyaman nya, lalu melangkah menuju ke arah pintu. Sebelum membukakan pintunya, akan lebih baik kalau Anastasia mengintip sedikit dari lubang kecil yang tersedia. Ini dilakukan hanya untuk memastikan kalau yang datang berkunjung bukan orang jahat.


Ketika mengintip dari lubang kecil, Anastasia mendapati seorang laki-laki yang sangat dikenalnya itu ada di depan sana, menunggu sambil tersenyum cukup lebar. Karena tahu tamunya sama sekali bukan orang asing ataupun orang jahat, Anastasia berani membukakan pintu untuk laki-laki yang ternyata adalah Bimo — kekasihnya sendiri.


Melihat kehadiran Bimo yang dirasa sangat tepat waktu, mampu membuat Anastasia tersenyum bahagia bahkan wanita itu tak lupa untuk melemparkan pelukan erat diikuti dengan beberapa kali kecupan hangat di bibir. Memang benar kalau kemunculan Bimo sangat dibutuhkan dalam kondisi sekarang.


"Kenapa kamu baru datang sekarang," protes Anastasia sambil terus memeluk tubuh kekar dari laki-laki yang sudah dipacarinya dalam waktu cukup lama.


"Maaf. Seharian ini aku sedang sibuk dengan urusan cafe," kata Bimo memberitahu kekasihnya itu.


"Kamu tahukan kalau hari ini berat banget buat aku?" Tanya Anastasia yang kemudian membawa kekasihnya masuk menuju ke arah ruang tamu.


Pertanyaan yang diajukan oleh Bimo sanggup mendapatkan sebuah anggukan kepala singkat dari wanita bernama Anastasia itu.


"Lalu? Ini berarti kamu sudah bisa bebas dari perjodohan dengan laki-laki itu? Dan berarti juga kita bakal terus sama-sama?" Sepertinya Bimo merespon dengan begitu baik.


"Aku hanya merasa kurang enak dengan Renjani. Sekarang dia yang harus menanggung semuanya sendirian," ungkap Anastasia memberitahu hal yang membuat dirinya terasa berat.


"Sayang, kamu tenang ya... Gak perlu terlalu memikirkan adik kamu. Aku yakin suatu hari nanti Renjani juga akan mengerti dan paham mengenai alasan kamu melakukan ini," kata Bimo seakan menenangkan kekasihnya yang tengah khawatir.


"Tapi..." Belum sempat melanjutkan perkataannya, Bimo kembali berucap sambil sesekali mengecup kening dari wanita cantik berusia 26 tahun itu.


"Lebih baik sekarang ini, kamu menyiapkan segala keperluan untuk liburan ke Paris. Masalah mengenai perjodohan dan juga adikmu harus disimpan dulu," kata Bimo meminta agar wanita itu tak terlalu memikirkan terlalu dalam.


Anastasia pun menurut. Gadis itu menganggukkan kepalanya singkat sambil beranjak bangkit dari tempat duduknya. Seperti apa yang sudah kekasihnya katakan, Anastasia pun memilih untuk berhenti memikirkan tentang Renjani serta perjodohan. Sekarang dirinya tengah menuju ke kamar dan mencoba mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya untuk terbang ke Paris.


"Apa kamu tidak berniat membantuku mengemas barang?" Tanya Anastasia sambil sedikit berteriak kepada laki-laki yang masih saja berdiam diri di sofa ruang tamu.


"I'm coming, babe..." Balas Bimo sambil berlari kecil ke arah sang kekasih.


...•••...


Berharap jika semua yang terjadi hanyalah sebuah mimpi buruk, pagi ini Renjani terbangun dari tidurnya dalam kondisi rambut acak-acakan, riasan yang sudah meluber tidak karuan kemana-mana, ditambah dengan muka bengkak khas orang bangun tidur. Penampilannya kini tampak begitu berantakan.


Karena semalaman ia tidur dalam posisi duduk, tidak heran saat bangun pinggangnya sedikit terasa sakit. Oleh karena itu, Renjani bergegas untuk bangkit berdiri dan memberikan peregangan pada area pinggangnya yang terkesan kaku. Kenapa dia bisa tidur di meja belajar? Memangnya apa yang ia lakukan semalam? Efek dari bangun tidur, ingatan Renjani masih samar-samar.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya, ketika nyawanya sudah sepenuhnya terkumpul, Renjani pun mulai mengingat tentang pesan yang dikirimkan oleh sang kakak. Sejak pulang dari pertemuan dengan Ardhi, gadis itu hanya menunggu balasan pesan dari sang kakak sampai tanpa sengaja tertidur dalam posisi yang tidak benar.


Renjani sangat berharap, mendapatkan sebuah hal baik dari kakaknya, namun saat melihat seluruh notifikasi dari ponselnya, wajah gadis itu berubah menjadi kecewa. Iya, balasan pesan yang selalu ditunggunya sama sekali tidak ada. Pesannya untuk Kak Ana hanya mendapatkan tanda centang dua tanpa adanya jawaban apapun.


Kesal. Tentu itulah yang tengah dirasakan Renjani. Matahari baru saja menunjukan sinarnya, tapi rasanya emosi sudah tersulut. Ingin marah, rapi tidak ada daya. Beginilah resiko kalau mengambil keputusan dengan terburu-buru. Sudah tahu akan memiliki akibat buruk, tapi tetap saja dilakukan.


"Terus aku harus gimana sekarang? Gak mungkin kan bilang ke orang tua? Bisa-bisa mereka malah marah dan kecewa," kata Renjani kepada diri sendiri.


Untuk menceritakan semua ini kepada kedua orang tuanya memang terkesan begitu berat bagi Renjani. Bukan karena apa-apa, dirinya hanya takut kena marah serta membuat mereka berdua kecewa. Tahu sendiri kan kalau di keluarga ini Renjani hanya seorang anak angkat? Jadi, sebisa mungkin Renjani selalu mencoba untuk menjadi seseorang yang tak akan mengecewakan orang tua angkatnya itu.


Meskipun sedikit merasa frustrasi, Renjani tetap tidak akan menyerah. Rupanya ia kembali memilih untuk mengirimkan pesan lagi kepada sang kakak. Pesan yang dikirim olehnya selalu memuat harapan agar Kak Ana mau menjawabnya.


Renjani :


Selamat pagi, kak...


Maaf kalau aku mengganggu waktu pagi kak Ana... Tapi, ini memang penting banget.


Kak, sekarang aku harus gimana? Aku bingung harus menghadapi ayah dan bunda serta laki-laki itu.


Bukannya ini awalnya memang masalah Kak Ana? Tapi, kenapa aku yang harus menyelesaikannya? Aku setuju untuk membantu bukan dengan harapan seperti ini.


Lagi-lagi pesan yang terkesan cukup panjang berhasil dikirimkan oleh gadis bernama Renjani itu. Namun, bukannya ada kemajuan, malah pesan yang sekarang dikirim hanya mendapatkan tanda centang satu. Apa Kak Ana sengaja mematikan ponselnya?


Tidak tahu bagaimana lagi caranya agar bisa mendapatkan respon dari sang kakak, Renjani pun memikirkan sebuah rencana untuk berkunjung ke apartemen — tempat dimana sang kakak tinggal. Bukankah itu jauh lebih efektif dalam mendapatkan jawaban ketimbang harus menelepon dan mengirim pesan?


Seraya mencoba kembali mengarahkan pikirannya untuk jauh lebih positif, Renjani perlahan-lahan mulai yakin jika Kak Ana tak akan menolak kedatangannya. Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Renjani akan langsung menuju ke alamat apartemen dari kakaknya. Bukankah seharunya Kak Ana masih ada di sana? Penerbangan ke Paris bukan hari ini kan?


Karena waktu semakin cepat bergerak dan Renjani juga harus berangkat ke sekolah, ia pun bergegas masuk kamar mandi sambil membawa handuk putih serta seragam sekolahnya. Untuk sementara, permasalahan tentang Ardhi, Kak Ana dan perjodohan akan dilupakannya. Renjani harus berfokus pada ujian harian yang tentu saja materinya belum sempat dipelajari. Walau tidak belajar, Renjani dengan penuh percaya diri yakin kalau bisa mengerjakan soal ujian itu dengan baik.


^^^Bersambung...^^^



Catatan kecil :


- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.


- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.


 


Story ©® : Just.Human


*please don't copy this story.


Find Me


✓ Instagram : just.human___


 

__ADS_1


__ADS_2