My Important Bussiness With CEO

My Important Bussiness With CEO
— 22.


__ADS_3

Pagi ini Ardhi terbangun dari kamarnya dalam perasaan yang benar-benar begitu baik. Hanya karena keputusan yang tadi malam dibuat oleh Renjani, mampu membuat hari nya sedikit lebih menyenangkan.


Setelah merasa cukup menyambangi alam mimpi, Ardhi yang masih terlihat mengenakan piyama tidur pun mulai membuka kedua mata dan mencoba untuk mengumpulkan nyawanya. Ia beranjak dari ranjang kamar tidur, lalu langsung melangkah menuju ke kamar mandi. Ardhi itu selalu melakukan semuanya sesuai rutinitas dan kebiasaan harian. Bangun tidur pasti selalu tepat pukul enam pagi, lalu menuju ke kamar mandi untuk mempersiapkan dirinya sebelum berangkat ke kantor dan kemudian keluar kamar ke arah meja makan. Harus selalu sarapan, kalau tidak saat sedang bekerja ia bisa kehilangan fokusnya. Tidak perlu memasak, karena kebetulan di rumah keluarga sudah ada pelayan yang bertugas untuk menyiapkan sarapan.


Tak membutuhkan banyak waktu untuk bersiap, Ardhi yang beberapa menit lalu masih tampak menggenakan piyama tidur sekarang sudah terlihat begitu rapi dalam balutan setelan jas yang bisa memperlihatkan kharisma nya dengan begitu jelas. Tidak heran kalau banyak perempuan yang mengantre dan ingin menjadi bagian dari hidup seorang Ardhi.


Dalam langkah besarnya, Ardhi pun keluar dari kamar tidur dan pada saat mau menuruni anak tangga, ia dikejutkan oleh kehadiran sang adik yang berpenampilan acak-acakan. Entah apa hanya perasaan Ardhi saja atau bukan, tapi ia merasa kalau sejak kepulangan sang adik dari Austria, ia sama sekali belum melihat batang hidungnya. Baru bertemu ya, pagi ini.


"Darimana saja kamu?" Tanya Ardhi kepada sang adik yang kini sedang ingin menuju ke kamarnya.


Mendapatkan pertanyaan dari sang kakak yang seperti itu, mampu membuat seorang Syifa harus memikirkan alasan tepat yang bisa dibuat untuk mengelabuhi sang kakak. Berbeda dari anggota keluarga lain, kakaknya itu sangat mudah menaruh curiga.


"Ehm, habis dari rumah teman. Tadi malam aku menginap di sana," kata Syifa sambil tersenyum cerah berharap kalau kakaknya itu percaya.


"Kenapa kamu menginap di rumah temanmu?" Sebagai seorang kakak, Ardhi hanya ingin tahu saja.


"Belakangan ini tugas sekolah lagi numpuk kak. Apalagi ditambah aku yang selama tiga hari tidak hadir ke sekolah hanya karena program pertukaran pelajar. Jadi, mau gak mau biar tidak ketinggalan pelajaran, aku harus menginap di rumah teman," kata Syifa berpikir kalau alasan yang sekarang tengah diberikannya itu terkesan begitu masuk diakal.


"Kenapa bukan temanmu yang menginap saja disini?" Kakaknya terus saja bertanya.


"Dia selalu merasa tidak nyaman kalau datang ke rumah ini."


Seperti orang yang belum sepenuhnya percaya, setelah mendengar semua yang perkataan yang keluar dari mulut sang adik, Ardhi kini tengah memperhatikan dengan seksama tubuh adiknya dari atas kepala sampai kaki. Diperhatikan seperti ini oleh sang kakak, sanggup membuat Syifa merasa kurang nyaman.


"Kenapa kakak menatapku seperti itu?" Tanya Syifa yang kini mencoba menutupi tubuhnya dari tatapan sang kakak.


"Kamu sudah tahu kan untuk tidak berbohong kepada kakak?" Setelah puas untuk memperhatikan sang adik, Ardhi pun tersenyum pada sudut bibirnya.


"Siapa juga yang berbohong? A-aku sungguh menginap di rumah teman," kata Syifa yang kali ini terdengar begitu gugup.


"Benarkah? Tapi, kenapa postingan terakhir di sosial media, sedang menunjukan kalau kamu sedang bersama pacarmu?" Tanya Ardhi dengan tatapan sedikit tajam.


"I-iya memang, tapi setelah itu aku langsung pergi ke rumah teman untuk belajar," ucap Syifa terus saja berusaha menutupi kebenaran.


"Ok. Kakak berharap kalau nanti terjadi sesuatu—" Ardhi dengan sengaja memberi jeda pada ucapannya, sembari pandangannya sudah menatap lurus ke arah perut sang adik.


"—kamu harus bisa mempertanggungjawabkan nya. Di usia kamu, masih terlalu dini untuk menjadi seorang ibu," tukas Ardhi yang kemudian melangkahkan kaki menuruni anak tangga.


Bukankah sudah dikatakan, Syifa memang bisa membohongi atau mengelabuhi anggota keluarga lainnya, tapi tidak bisa dengan sang kakak. Hanya dengan melihat, Ardhi sudah bisa tahu semuanya.


...•••...


Ardhi yang kini telah turun dan hadir di meja makan pun kedatangannya sangat disambut hangat oleh semua anggota keluarga. Akhirnya setelah cukup lama, keluarga ini bisa lagi berkumpul di satu meja yang sama.


Pada saat Ardhi baru mau mengambil sarapannya, sang kakek yang kebetulan juga ada di sana pun mulai mempertanyakan soal kencan buta yang kini sedang dihadiri oleh cucu laki-laki nya itu. Kenapa bertanya sekarang? Beliau hanya penasaran dan sangat ingin tahu mengenai perkembangannya.


"Jadi, bagaimana? Kapan kamu berencana untuk menikahi putri Tuan Aries itu?" Tanya sang kakek yang benar-benar tak sabar mendengar kabar baik dari sang cucu.


Pertanyaan itu sangat amat jelas bisa terdengar di telinga Ardhi, tapi entah bagaimana bisa, laki-laki tetap bersikap biasa saja. Tidak seperti seseorang yang terkejut sampai tersedak. Ekspresi wajah Ardhi benar-benar datar.


"Tidak dalam waktu dekat," ucap Ardhi dengan santai.


"Setiap ditanyai soal pernikahan, kamu selalu saja menjawab seperti itu. Apa terlalu sulit untuk mengganti jawaban?" Protes sang kakek yang lagi-lagi harus merasa kecewa kepada cucunya itu.


"Aku saja baru dalam tahap saling mengenal. Tidak bisa langsung melamar. Aku juga harus memilih seorang wanita yang tepat," kata Ardhi yang kedengarannya memang benar.


"Padahal itu, kakek sangat berharap akan mendapatkan seorang cicit. Rasanya ingin sekali tangan ini menggendong seorang bayi," ucap sang kakek sambil mempraktekkan cara menggendong bayi.


Belum sempat menjawab apa-apa, Syifa yang kini sudah terlihat berganti pakaian dan keadaannya jauh lebih rapi daripada tadi, pun ikut bergabung ke meja makan.


"Maaf, karena datang terlambat," ucap Syifa merasa tidak enak kepada keluarganya.


Dari tempatnya duduk, Ardhi terus saja menatap ke arah sang adik dalam tatapan penuh arti. Bukan tanpa sebab, hanya saja Ardhi sedang merasa terheran. Kenapa adiknya itu malah memakai pakaian rumah dan bukan seragam sekolah?


"Hari ini kamu tidak pergi ke sekolah?" Tanya Ardhi sambil menyantap menu sarapan pagi ini.

__ADS_1


"Tidak," jawab Syifa singkat dan enggan untuk melihat ke arah kakaknya.


"Kenapa?" Tanya Ardhi lagi.


"Sedang tidak enak badan. Lagi ingin istirahat sebentar."


Ardhi mengangguk tanda mengerti. Setelah mendapatkan jawaban itu, ia memilih untuk berhenti mengajukan pertanyaan kepada sang adik. Ardhi akan membiarkan adiknya itu sarapan dengan tenang.


.


.


.


Sepuluh menit sudah berlalu dan kini Ardhi yang memang telah usai menghabiskan sarapannya pun bergegas untuk beranjak dari tempatnya duduk. Sepertinya sekarang memang sudah menjadi waktu yang tepat baginya berangkat ke kantor.


"Aku pergi dulu, terima kasih untuk makanannya," pamit Ardhi, namun harus dihentikan oleh sang kakek.


"Mau berangkat sekarang? Sekarang saja masih belum jam delapan. Kenapa sih kamu selalu terburu-buru untuk berangkat ke kantor?" Tanya sang kakek yang merasa khawatir kepada cucunya itu.


"Ada rapat pagi yang harus aku hadiri dan juga beberapa pertemuan penting dengan klien. Banyak pekerjaan yang memang harus aku urus," kata Ardhi tak bisa terlalu lama berada di meja makan.


"Inilah sebabnya, kamu sangat kesulitan untuk menikah. Kenapa yang ada di dalam pikiran kamu selalu tentang pekerjaan?" Tanya sang kakek menegur laki-laki penggila kerja itu.


"Kalau aku tidak jadi penggila kerja, mungkin perusahaan yang sudah kakek rintis dari nol akan kembali ke angka nol," sindir Ardhi tanpa adanya keraguan sedikitpun.


"Memang benar kata orang, buah tak selalu jauh jatuh dari pohonnya. Sikapnya memang persis seperti bapaknya waktu muda," kata sang kakek sembari menggelengkan kepala, tidak menyangka.


"Syifa?" Panggilan tiba-tiba dan tak terduga yang dilayangkan oleh sang kakek ini mampu membuat gadis cantik yang sekarang masih menikmati sarapannya, merasa sedikit terkejut.


"Iya kakek?" Balasnya sambil menatap ke arah sang kakek.


"Apa kamu sedang sakit? Kenapa kelihatan seperti seorang yang kurang bersemangat?" Tanya sang kakek, saat mendapati cucu perempuannya itu kelihatan jauh lebih murung dibanding sebelum berangkat ke Austria.


"Aku baik-baik saja, mungkin hanya sedikit lelah," jawab Syifa yang enggan untuk membuat kakeknya itu merasa khawatir.


"I-iya," jawab gugup gadis itu.


"Kamu juga, jangan jadikan kakakmu sebagai contoh! Kakek gak mau ya, kalau kedua cucu kakek ini jadi orang yang terlalu gila kerja," kata Kakek Yudha dengan kepeduliannya.


"I-iya. A-aku tidak akan meniru kakak," tambah Syifa.


Karena sudah terlalu lama dan waktu juga terus bergerak tanpa ampun, Ardhi pun kembali berdiri lalu siap untuk berjalan keluar dari rumah. Kali ini, mau siapapun yang menghentikan, Ardhi akan tetap pergi ke kantor. Dia hanya tak ingin menunda terlalu banyak pekerjaan, karena kalau menumpuk malah bisa buat sakit kepala.


...•••...


Hari ini Ardhi sangat terlihat berbeda. Jika saat berangkat kerja pikirannya selalu tertuju pada pekerjaan, namun sekarang entah bagaimana bisa ia sudah begitu penasaran dengan kabar dari gadis yang kemarin setuju untuk berkencan dengannya.


Rasa penasaran yang seperti ini memang sudah cukup lama tidak dirasakan oleh Ardhi. Setelah kejadian beberapa tahun lalu, ia sama sekali tak lagi merasakan penasaran terhadap siapapun. Bisa dibilang kejadian itu yang mampu mengubah kepribadian seorang Ardhi menjadi begitu dingin dan sangat tak peduli pada keadaan sekitar.


Nindi yang kebetulan memang sudah ada di dekat dari sang atasan, ternyata juga merasakan sikap yang sedikit berbeda. Untuk kali pertama, boss nya itu tak mendengarkan apapun kalimat yang keluar dari mulutnya. Rasanya seakan Nindi tengah terabaikan, hanya karena pikiran dari atasannya sedang ada di tempat lain.


"Tuan Ardhi?" Panggil Nindi mencoba untuk membuat atasannya itu kembali fokus pada pekerjaan.


"I-iya?" Ardhi langsung menyahuti panggilan dari sang sekertaris.


"Apa Tuan mendengarkan ucapan saya?" Tanya Nindi hanya ingin memastikan saja.


"Maaf! Kamu bilang apa tadi?"


Ternyata memang benar, karena pikiran yang terus berada di Renjani, Ardhi bahkan sampai tak menghiraukan ucapan panjang lebar dari sang sekertaris. Padahal Nindi sedang memberitahu tentang urusan bisnis dan perusahaan.


"Bisakah kamu mengulangnya?" Pinta Ardhi yang kini mencoba untuk mengatur fokusnya hanya kepada ucapan sang sekertaris.


"Apa perlu untuk menghubungi nona Renjani terlebih dahulu?" Tanya sang sekretaris hanya menawarkan sesuatu yang memang terlihat sedang dibutuhkan oleh atasannya itu.

__ADS_1


Ardhi terlihat sedang berpikir. Sebenarnya dia sama sekali tak ingin hanya berbincang dengan gadis itu lewat panggilan telepon. Haruskah bagi dia untuk datang ke rumahnya? Tapi, apa tidak masalah untuk berkunjung di jam seperti ini?


"Tentu. Tolong kamu hubungi dia!" Perintah Ardhi.


.


.


.


Jujur, ini sangat menyebalkan. Kenapa Renjani harus mengulang kesalahan yang sama seperti kemarin? Lagi dan lagi, hanya karena tadi malam ia tidur terlalu larut, pagi ini Renjani harus terbangun ketika matahari sudah benar-benar menunjukan sinarnya dengan gamblang.


Walaupun Renjani sudah berusaha untuk menghemat waktu sebaik mungkin, tetap saja ia harus mendapati dirinya berada di luar gerbang sekolah. Hanya karena terlambat bangun, Renjani lagi-lagi harus berurusan dengan Pak Sarjo — satpam sekolah yang begitu dingin.


Renjani yang saat ini ada di luar gerbang sekolah, terus saja mencoba untuk memanggil serta memohon kepada Pak Sarjo, agar mau membukakan pintu gerbang dan membiarkan Renjani masuk. Kejadiannya masih sama, Pak Sarjo terlihat asyik mendengarkan suara radio pagi.


Entah apa yang harus Renjani lakukan agar bisa masuk ke halaman sekolah, tapi yang jelas dia tak mungkin untuk memanjat tembok belakang sekolah, seperti kemarin saat sedang bersama David. Kenapa pagi ini yang terlambat hanya dirinya? Kenapa David juga tak ikut terlambat juga?


Pada saat rasa bingung tengah menghantam seorang Renjani, secara tiba-tiba ponsel miliknya yang ada di saku jaket berdering dan berbunyi. Sedikit terkejut karena mendapatkan sebuah panggilan yang mendadak seperti ini.


Karena tak berniat untuk membuat orang yang memanggil terlalu lama mendengarkan nada sambung, Renjani yang kini telah memegang ponselnya pun mulai menggeser tombol hijau yang ada pada layarnya. Renjani menjawab panggilan itu tanpa mengetahui siapakah gerangan yang menghubungi.


"Halo, dengan Renjani disini. Ini siapa ya?" Tanya Renjani masih terus berjuang agar bisa masuk ke dalam halaman sekolah ini.


"Apa kamu tidak menyimpan nomor saya?" Tanya seseorang dari balik panggilan yang anehnya suara itu terasa tidak asing di telinga.


Renjani yang tak berniat untuk terlalu penasaran pun akhirnya melihat nama si penelepon yang sudah begitu jelas tertera pada layar ponselnya. Rupanya ia sedang berbicara dengan laki-laki yang kini menjadi kekasihnya? Tidak heran kalau Renjani merasa tak asing ketika mendengar suaranya.


"Maaf, karena baru mengenali," kata Renjani sedikit tidak enak kepada Ardhi.


"Sedang apa?" Tanya Ardhi hanya ingin tahu.


"Sudah ada di sekolah," jawab singkat Renjani.


"Apa saya menganggu kamu?"


"Tidak. Aku juga sekarang masih terjebak di luar sekolah."


"Maksudnya?"


"Hanya karena datang terlambat, aku tidak diizinkan untuk masuk. Satpam itu benar-benar mengunci diriku di luar sekolah," adu Renjani kepada laki-laki yang saat ini tengah berbincang dengannya dibalik panggilan via suara.


"Sekolah Bakti Putra? Saya akan segera kesana. Kamu tolong tetap tunggu di tempat dan jangan terlalu berusaha keras! Saya tidak mau kamu terluka hanya karena harus berteriak kepada satpam itu," kata Ardhi memberikan larangan tegas.


"Huh? Mau kesini? Tidak perlu. Aku mengatakan itu bukan karena bermaksud untuk menyuruhmu kemari," kata Renjani merasa kalau sedang salah bicara.


"Tunggu di sana. Saya akan tiba dalam lima menit," tukas Ardhi yang kemudian mengakhiri panggilan ini secara sepihak.


^^^Bersambung...^^^



Catatan kecil :


- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.


- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.


-----------------------------------------------------------


Story ©® : Just.Human


*please don't copy this story.


Find Me

__ADS_1


✓ Instagram : just.human___


-----------------------------------------------------------


__ADS_2