
Walaupun pimpinan dari Moonlight Group bukan lagi berada di bawah tangan dari kakek Yudha, tapi untuk mencari informasi masih bisa di dapatkannya dengan mudah. Karena memang hampir semua pegawai yang ada, masih tetap menurut pada segala perintah dari beliau. Jadi, bukan menjadi hal sulit untuk mencari tahu soal gadis yang tadi sempat dilihat sedang bersama dengan cucunya.
Tak perlu dibuat menunggu terlalu lama karena informasi itu, akhirnya seseorang yang diperintahkan untuk mencari tahu pun sudah datang menghadap ke kakek Yudha sambil membawa sebuah amplop coklat yang berisi semua informasi. Dengan senyuman tipis, Kakek Yudha pun menerima berkas itu lalu tak lama beliau memisahkan amplop coklatnya.
Secara seksama beliau membaca semua tulisan yang ada pada beberapa lembar kertas. Akhirnya sekarang ia tahu banyak hal mengenai gadis yang tadi sempat terlihat sedang bersama dengan sang cucu. Namanya Renjani dan dia adalah putri angkat dari Tuan Aries, adik tiri dari Anastasia. Entah apa yang dilakukan oleh sang cucu bersama gadis itu, tapi untuk mendapatkan jawabannya beliau memutuskan memanggil sang cucu.
Ardhi yang kebetulan juga telah tiba di kediaman keluarga pun langsung didatangi oleh salah seorang pelayan rumah yang memintanya agar mau menemui sang kakek yang saat ini sedang menunggu dirinya di ruangan kerja.
Karena merasa panggilan dari sang kakek penting, Ardhi yang tak memiliki niatan untuk menolak pun dengan cepat mulai menaiki anak tangga, menuju ke lantai dua dari rumah mewah ini supaya bisa menjangkau keberadaan dari sang kakek.
Tidak butuh banyak waktu, Ardhi kini telah berdiri tepat di depan pintu dari ruang kerja sang kakek. Seperti biasa, sebelum masuk ia harus mengetuk pintu terlebih dahulu dan saat sudah mendapatkan izin dari sang pemilik ruangan, Ardhi akan melangkahkan kakinya masuk ke sana.
"Kakek? Ini Ardhi," ucapnya seusai mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk!" Suruh nya dan langsung dituruti oleh Ardhi.
Laki-laki itu pun membuka pintu dan masuk ke sana. Hal pertama yang langsung dilihatnya adalah sosok sang kakek yang sedang duduk di kursi kebesarannya sambil membuat senyuman aneh di wajah. Tidak tahu apa maksud dari panggilannya, tapi secara mendadak firasat Ardhi berubah menjadi kurang enak. Rasa seakan hal buruk siap untuk terjadi.
"Kenapa kakek memanggil ku?" Tanya Ardhi tanpa adanya sebuah basa-basi yang berarti.
"Duduk dulu!" Pinta kakek Yudha hanya agar bisa lebih enak dalam mengobrol empat mata.
Dalam balutan perasaan waspada, Ardhi tetap saja menurut dan menempatkan dirinya duduk di kursi persis berhadapan langsung dengan sang kakek. Sekarang apakah Ardhi sudah bisa tahu mengenai alasan dari panggilan kakeknya?
Tidak pakai kalimat ataupun perkataan, Kakek Yudha tanpa ragu memberikan amplop coklat yang tadi sudah sempat dibacanya. Masih dalam perasaan kurang nyaman, Ardhi pun menerima amplop itu. Enggan untuk bertanya, Ardhi lebih memilih mencari tahu sendiri. Dia membuka amplop itu, kemudian mengambil isinya. Dengan seksama ia membaca semua tulisan yang ada pada lembaran kertas.
Terkejut. Itulah yang sedang dialami oleh Ardhi setelah membaca semua isi dari amplop coklat pemberian dari sang kakek. Kenapa secara tiba-tiba kakeknya itu mencari tahu semua informasi mengenai Renjani? Pasti ada alasan yang membuat Kakek Yudha sampai melakukan hal seperti ini.
"Ini apa, kek?" Tanya Ardhi sambil melemparkan tatapan bingung dan ingin tahu akan maksudnya.
"Seharusnya yang bertanya itu kakek, bukan kamu. Siapa gadis ini? Apa kamu mengenalnya?" Tanya Kakek Yudha yang membutuhkan jawaban pasti.
Pertanyaan balik yang dilemparkan oleh Kakek Yudha sanggup membuat seorang Ardhi terdiam untuk beberapa saat. Bukan tanpa sebab, hanya saja laki-laki itu merasa kalau masih butuh waktu untuk memahami apa yang sekarang ini sedang terjadi. Ardhi harus tahu dulu semuanya, sebelum nanti memberikan jawaban.
"Kenapa tiba-tiba kakek menyelidiki soal gadis ini? Apa yang sedang kakek curigai?" Bukannya menjawab, Ardhi malah memberikan pertanyaan.
"Kamu itu kebiasaan kalau ditanya bukannya menjawab, tapi malah bertanya!" Tegur Kakek Yudha yang merasa tidak heran akan sikap dari sang cucu.
"Aku akan menjawab setelah mendengar penjelasan dari kakek dulu," kata Ardhi dengan tekad yang bulat.
"Baiklah. Beberapa waktu yang lalu, kakek tidak sengaja melihatmu sedang bersama gadis ini di mobil. Kakek penasaran, kenapa kamu tidak bersama dengan Anastasia? Oleh karena itu, kakek mencari tahu," jelas Kakek Yudha panjang lebar.
Mendengar penjelasan seperti itu, mampu membuat Ardhi yang saat ini sedang berada pada posisi sebagai pendengar menganggukkan kepalanya tanda mengerti. Sekarang Ardhi merasa sudah bisa untuk memberikan jawaban kepada sang kakek.
"Tidak perlu sampai menyelidiki seperti ini. Kalau kakek penasaran, tinggal tanyakan langsung saja kepadaku. Apapun yang kakek ingin tanyakan soal pacarku, aku pasti akan berusaha untuk menjawabnya," ujar Ardhi dengan begitu tegas dan jelas.
__ADS_1
"Pacar? Bagaimana bisa? Bukankah kamu seharusnya dengan Anastasia? Kenapa malah memacari adik tirinya?" Tanya Kakek Yudha kaget sekaligus bingung.
"Takdir dan kehendak Tuhan tidak ada yang tahu. Mungkin aku memang tidak ditakdirkan untuk bisa bersama dengan Anastasia?" jawab Ardhi terkesan begitu mudah.
"Bicara omong kosong apa kamu?" Kakek Yudha tidak menerima perkataan yang baru saja keluar dari mulut sang cucu.
"Ini bukan omong kosong. Aku hanya mengatakan yang sebenarnya," ujar Ardhi terlihat begitu serius akan ucapannya.
"Apa yang sudah kamu lakukan sehingga adik tiri Anastasia mau menjadi kekasihmu?" Tanya Kakek Yudha yang tak ada habisnya untuk merasa curiga.
"Aku tidak melakukan apapun. Kita bertemu dalam suatu kesempatan yang tak terduga," kata Ardhi enggan untuk memberitahu sang kakek lebih jauh.
Bukannya tidak ingin setuju, tapi melihat apa yang tertulis di kertas informasi itu mampu membuat Kakek Yudha menentang kalau sang cucu memiliki kekasih yang baru berumur 18 tahun. Usia Renjani masih begitu muda dan tak seharusnya mendapatkan laki-laki berusia 28 tahun seperti Ardhi.
"Tolong kamu putuskan saja pacarmu itu dan kembali pada perjodohan dengan Anastasia!" Perintah sang kakek yang enggan dituruti oleh Ardhi.
"Aku tidak akan memutuskan dia, meskipun kakek yang minta. Lagipula untuk melanjutkan perjodohan juga sudah tidak mungkin lagi. Aku tidak berniat untuk menikahi seseorang yang memiliki pasangan," tugas Ardhi dengan tegas.
Setelah mengatakan semua hal itu, Ardhi pun bergegas menundukkan kepalanya singkat lalu melangkahkan kaki keluar dari ruangan kerja ini. Rasanya seperti sudah terlalu banyak hal yang dikatakan kepada sang kakek.
...•••...
Di tempat lain, sudah terlihat Renjani yang tengah sibuk untuk membantu sang ibunda berkemas. Bukan tanpa sebab, hanya saja setelah mengetahui kalau putri kandungnya — Anastasia, pergi ke Paris, beliau bersama sang suami memutuskan untuk menyusul.
"Apa kamu benar-benar tidak tahu soal Ana yang mendadak pergi ke Paris?" Tanya sang ibunda ingin tahu saja.
"T-tidak. Aku saja baru tahu dari ayah," ujar Renjani dengan pandangan yang tampak tak berani untuk menatap ke arah sang ibunda.
"Kalau misalnya Tuan Yudha tidak memberitahu, mungkin ayah dan ibu juga tak akan pernah tahu. Anastasia memang selalu suka begini. Pergi dan pulang tanpa ada kabar, seakan lupa kalau dia masih memiliki orang tua," gerutu sang ibunda merasa tidak menyukai sikap yang dilakukan oleh putrinya — Anastasia.
Benar! Beberapa waktu lalu ayah mendapatkan sebuah panggilan telepon yang berasal dari Kakek Yudha. Beliau menghubungi hanya karena ingin memberitahu mengenai keberadaan dari Anastasia sekarang sudah ada di Paris. Entah apa maksudnya, tapi yang jelas hanya karena itu sudah bisa membuat Renjani merasa gelisah. Pikiran yang mengatakan kalau Kakek Yudha sudah tahu semuanya pun kerap menghantui dirinya. Apakah hal yang paling ditakutkan oleh Renjani akan bisa menjadi sebuah kenyataan?
"Apa ayah dan ibu memang harus pergi ke Paris? Tidak bisakah hanya menelepon Kak Ana dan memintanya pulang saja?" Tanya Renjani ingin tahu.
"Kamu tahu sendiri kan kalau kakakmu itu begitu keras kepala. Mau ditelepon bagaimanapun juga, dia tak akan menjawabnya. Karena sejak awal niatnya adalah menghindari kami berdua," kata sang ibunda sambil jemari tangannya terus bergerak mengemas pakaian ke dalam koper.
"Kalau mau membawanya kembali pulang, ia harus dijemput secara paksa. Kakakmu itu tak pernah bisa dibilangin pakai mulut harus melalui tindakan," tambah sang ibunda yang sudah tahu persis bagaimana kelakuan dari putrinya.
Seakan sudah tidak bisa berkata apapun lagi, Renjani pun memilih untuk diam dan fokus saja dalam membantu kedua orang tuanya berkemas. Takut kalau nanti ada salah bicara dan itu malah makin menyulitkan dirinya.
"Kamu tahu tidak Renjani, alasan ayah dan ibu menjodohkan kakakmu dengan Ardhi?" Tanya ibuku tiba-tiba dan berhasil membuat Renjani terkejut.
"Iya? Pasti untuk kebaikannya?" Tebak Renjani asal saja.
"Bukan."
__ADS_1
"Lalu?"
"Ayah dan ibu hanya ingin membuatnya lepas dari laki-laki bernama Bimo itu. Dari awal kakak mu bilang sedang berpacaran dengan Bimo, ayah dan ibu sangat menentangnya," tutur beliau mengatakan alasan dibalik perjodohan yang dilakukan.
"Memangnya ada apa dengan Kak Bimo? Bukankah kelihatannya dia itu laki-laki baik?" Tanya Renjani penasaran.
"Bimo memang lelaki yang baik, hanya saja keluarganya yang kurang welcome," kata beliau tak sungkan untuk memberitahu.
"Maksudnya kurang welcome?"
"Kurang ramah. Mereka hanya menggunakan Anastasia seperti ATM berjalan," jawab sang ibunda lagi.
"Apa kakak tahu soal hal itu?"
"Tahu."
"Lalu?"
"Dia tetap bersikeras untuk menikahi Bimo atas dasar rasa sukanya. Padahal jelas-jelas sudah terlihat kalau Bimo dan keluarganya sama sekali tidak tulus pada Anastasia. Mereka hanya menginginkan uang dari kakakmu," ujar sang ibunda yang bukan semata-mata hanya sebuah dugaan belaka.
"Aku baru tahu soal ini," kata Renjani sambil menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
Belum selesai sampai sana, rupanya beliau juga memberikan beberapa nasihat penting bagi Renjani. Ya meskipun Renjani hanyalah seorang anak angkat, tapi kepedulian dari beliau sama rata, tak ada perbedaan apapun antar Anastasia dan juga Renjani.
"Kamu nanti kalau menemukan pasangan jangan seperti kakakmu! Cari lelaki yang baik dan bisa bertanggung jawab. Kalau pasangan kamu baik dari sikap dan keluarganya, kita sebagai orang tua juga tak akan memaksakan perjodohan," kata sang ibunda yang hanya bisa mendapatkan sebuah senyuman singkat dari Renjani sebagai caranya merespon.
^^^Bersambung...^^^
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
-----------------------------------------------------------
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
✓ Instagram : just.human___
__ADS_1
-----------------------------------------------------------