
Setelah banyak berpikir dan juga mempertimbangkan, Renjani memutuskan untuk menemui sang kakak langsung ke apartemen pribadinya. Bukan tanpa sebab, Renjani hanya sedang merasa lelah dengan semua ketidakpedulian dari Kak Ana soal masalah perjodohan. Bukankah semuanya ini terjadi karena rencana yang dibuat oleh kakaknya? Kenapa sekarang seakan ia mencoba untuk cuci tangan dan tak ingin bertanggung jawab.
Dalam keadaan sedikit gugup, Renjani yang sekarang sudah berdiri tepat di depan pintu apartemennya dari sang kakak pun tak ragu untuk membunyikan bel yang tersedia. Sudah ada sekitar tiga kali bel berbunyi, Renjani masih belum menemukan tanda-tanda pintu akan dibuka. Sekarang gadis itu dibuat bertanya-tanya mengenai rencana keberangkatan sang kakak ke Paris. Meskipun sedikit lupa-lupa ingat, Renjani bisa sangat yakin kalau kakaknya itu memang masih ada di dalam sana.
Seakan tak mau berhenti dan masih mempercayai dengan apa yang diyakini, Renjani terus saja membunyikan bel dan selalu mendapatkan hasil yang sama. Pintu tetap tertutup dan tak ada jawaban ataupun sahutan dari dalam sana. Sampai pada akhirnya, seorang wanita yang mungkin umurnya sama dengan Kak Ana, datang menghampiri Renjani.
"Maaf! Tapi, kamu siapa ya? Kenapa ada di depan pintu apartemen Anastasia?" Tanya wanita itu yang ternyata juga masih merasa asing dengan sosok Renjani.
"Saya adiknya. Hanya ingin menemui Kak Ana untuk membahas sesuatu yang penting," kata Renjani kedengaran tak ragu untuk memperkenalkan diri.
"Memangnya Ana punya seorang adik? Selama bertahun-tahun bekerja dengan dia, aku sama sekali tak tahu kalau dia memiliki seorang adik," ucap wanita itu juga merasa terkejut dengan apa yang baru saja keluar dari mulut Renjani.
Renjani memang belum begitu tahu mengenai wanita yang kini tengah berbincang dengan dirinya, tapi yang jelas Renjani sangat yakin kalau bisa mendapatkan jawaban mengenai keberadaan Kak Ana dari wanita itu. Kalau dilihat dan ditebak, mungkin dia adalah salah satu staf yang bekerja sama dengan kakaknya?
"Apa kamu tahu Kak Ana sekarang dimana?" Tanya Renjani tanpa adanya sebuah basa-basi yang berarti.
Dengan tatapan yang terkesan sedikit aneh, wanita itu mulai memperhatikan Renjani dari ujung kaki sampai atas kepala. Apa yang sedang ia coba untuk cari tahu? Bukankah perkenalan Renjani sudah cukup jelas? Atau wanita itu memang tak percaya kalau Renjani memang adik dari seorang model terkenal bernama Anastasia?
"Kalau kamu memang benar adiknya, seharusnya tahu mengenai keberadaan Anastasia sekarang. Bukannya malah bertanya kepada ku," singgung wanita itu yang wajar kalau merasa aneh.
Tak berniat untuk sekedar berbicara tanpa mengeluarkan bukti jelas. Renjani pun mulai mengeluarkan ponsel pribadinya yang sejak tadi ada di dalam tas selempang kecil, kemudian tidak ragu untuk menunjukan bukti chat kepada wanita itu. Renjani sangat berharap kalau setelah melakukan ini, ia bisa mendapatkan jawaban mengenai keberadaan sang kakak.
"Kalau seperti ini, apa kamu akan benar-benar percaya?" Tanya Renjani yang berhasil membuktikan diri sebagai adik dari seorang model terkenal.
"Ini memang benar nomor pribadi Anastasia, tapi sedikit aneh saja kalau adik sendiri tak tahu soal keberadaan kakaknya," ucap wanita itu yang enggan untuk berhenti merasa curiga.
"Pesan terakhir yang aku kirimkan saja belum dibaca olehnya," kata Renjani yang masih bisa membela diri sendiri.
Walaupun wanita itu masih memiliki perasaan curiga dan tak yakin, tapi tetap saja ia memutuskan untuk memberitahu Renjani mengenai keberadaan dari Anastasia yang sekarang ini sudah berada di bandara dan hanya tinggal menunggu keberangkatan menuju ke Paris. Mungkin kalau Renjani menyusul, dia juga tak akan bisa bertemu dengan sang kakak. Apa sekarang Anastasia sudah benar-benar meninggalkan adiknya terjebak dalam suatu masalah sendirian?
"Kamu hanya bisa menemuinya, kalau kamu juga ikut membeli tiket penerbangan ke Paris," ucap wanita itu dan anehnya terdengar benar.
"Kalau begitu..." Renjani menggenggam pergelangan tangan dari wanita itu dengan begitu erat, seakan tak memberikan izin kepadanya untuk pergi.
"...apa kamu tahu kapan Kak Ana akan kembali ke Indonesia? Aku dengar hanya sebulan atau dua bulan?" Tanya Renjani begitu ingin mendapatkan jawaban pasti.
"Sekarang aku sangat ragu kalau kamu memang adalah adiknya. Apa kamu tidak diberitahu kalau kakakmu itu berniat untuk menetap di Paris? Dia sudah tanda tangan kontrak dengan salah satu merk terkenal yang ada di sana," ucap wanita itu memberitahu.
Merasa sedang dipermainkan, Renjani terlihat begitu enggan untuk menerima ucapan yang baru saja keluar dari mulut wanita itu. Sebuah tawa frustrasi terdengar jelas dibuat oleh Renjani. Sekarang penyesalan mulai ikut menyapa dirinya. Kenapa waktu itu dia harus setuju untuk membantu sang kakak, kalau akhirnya memang ditinggalkan seperti ini?
Renjani terlalu mempercayai sang kakak. Bahkan semua omongan yang katanya tak akan membuat terluka, sangat diyakini Renjani. Kenapa Kak Ana begitu tega sampai seperti ini? Renjani tahu kalau dia tak menerima perjodohan ini, tapi apa perlu sampai membuat adiknya yang menanggung segalanya. Ya, meskipun disini Renjani bukan adik kandung, tapi tetap saja semua yang dilakukan oleh Kak Ana tidaklah benar.
Dengan perasaan kecewa yang bercampur rasa bingung, Renjani mulai melangkah pergi meninggalkan depan pintu apartemen milik sang kakak. Dikarenakan pikirannya hanya sedang berusaha untuk memikirkan jalan keluar serta solusi, Renjani bahkan tak menyadari kalau dirinya sekarang telah ada di depan lobby dari gedung apartemen ini. Saking kurang berkonsentrasi, Renjani yang tak memperhatikan langkahnya pun tanpa sengaja juga hampir tertabrak mobil yang melintasi depan pintu lobby utama dari gedung apartemen. Untung saja ada seorang laki-laki yang dengan baik hati mau membantu dirinya.
"Kalau mau bunuh diri jangan disini. Itu akan mempengaruhi harga dari apartemen," ucap lelaki itu yang entah mengapa suaranya terdengar begitu familiar melintas di telinganya.
Pada saat Renjani menoleh ke arah laki-laki yang sempat membantu agar tak tertabrak mobil, pupil matanya terlihat mulai membesar. Kenapa gadis itu terkejut? Sebenarnya siapa lelaki yang kini sedang ada dihadapannya?
__ADS_1
"Tuan Ardhi," kata Renjani tak menyangka bisa bertemu lelaki itu disini.
Ketika melihat sosoknya, Renjani mulai dibuat bertanya-tanya. Ia hanya penasaran kenapa bisa bertemu dengan sosok Ardhi di sini? Bahkan Renjani juga menaruh rasa curiga kalau lelaki itu memang sedang mengikutinya. Mana bisa ada sebuah kebetulan yang terlalu pas seperti ini?
"Sedang apa Tuan ada disini? Tuan Ardhi tidak sedang mengikuti ku kan?" Tuduh Renjani yang anehnya malah berhasil memunculkan sebuah tawa lebar dari laki-laki itu.
"Tingkat percaya dirimu ternyata bagus juga ya," sindir Ardhi yang menyalahkan semua tuduhan dari gadis itu.
Tidak tahu bagaimana bisa kebetulan ini terjadi, tapi yang jelas keberadaan Ardhi di gedung apartemen ini bukan semata-mata untuk mengikuti Renjani. Perlu diketahui kalau Ardhi tak akan menggunakan waktunya untuk sesuatu hal yang kurang berguna. Daripada membuang waktu untuk hal seperti itu, akan jauh lebih baik kalau Ardhi bertemu klien dan menyetujui kerjasama bisnis.
"Bukankah aku masih punya waktu dua hari lagi untuk memutuskan?" Tanya Renjani yang anehnya malah mengingatkan Ardhi soal itu.
"Iya saya tahu dan ingat."
"Lalu? Kenapa tuan mengikuti ku? Apa hanya karena ingin mendesak ku agar bisa lebih cepat dalam membuat keputusan?" Tanya Renjani tak lupa untuk memasukan tuduhannya yang salah.
Ardhi benar-benar tak percaya kalau gadis yang kelihatan begitu polos dan naif itu justru memiliki tingkat kepercayaan diri yang begitu tinggi. Apa yang sedang ada dalam pikirannya ketika menuduhkan soal hal itu?
"Saya disini untuk bertemu dengan seorang klien," kata Ardhi yang tentu saja tak bisa Renjani percayai.
"Di apartemen?"
Belum sempat bagi Ardhi menjawab, secara tiba-tiba Tuan Timothy, selaku pemilik dari seluruh gedung apartemen ini datang menghampiri laki-laki itu dan seketika langsung memberikan sapaan hangat. Renjani yang masih ada di tempatnya pun perlahan-lahan mulai merasa kalau tuduhan yang dia berikan itu salah semua. Tujuan keberadaan Ardhi di gedung apartemen ini bukan karena sedang mengikuti dirinya. Apakah Renjani lupa tentang siapa sebenarnya laki-laki itu? Dia bukan orang sembarangan yang bisa membuang waktunya untuk hal tidak berguna.
Karena perasaan malu mulai merundung dirinya, Renjani pun memutuskan untuk segera pergi dari tempatnya, namun sayangnya Ardhi yang tahu pun langsung bergerak cepat untuk menggenggam jemari tangan milik gadis itu. Genggaman yang terasa begitu erat, seakan laki-laki itu tak memberikan izin baginya untuk pergi.
"Mau kemana?" Tanya Ardhi ingin tahu.
"Apa sudah bertemu dengan kakakmu?" Tanya Ardhi yang ternyata tahu mengenai tujuan keberadaan Renjani disini.
"Bagaimana Tuan bisa tahu? Kalau seperti ini aku yakin kalau Tuan memang sedang mengikuti diriku," Renjani tak ada habisnya untuk melayangkan tuduhan seperti itu kepada Ardhi. Apa dia sama sekali tak memiliki rasa malu?
"Kamu tidak ada kepentingan selain bertemu dengan kakakmu. Saya tahu kalau Anastasia memang tinggal di gedung apartemen ini," ucap Ardhi yang malah membuat Renjani terlihat seperti seseorang paling bodoh.
Tak tahan dengan semua rasa malu yang mulai menggerogoti dirinya, Renjani pun mulai mencoba untuk melepaskan genggaman tangan yang dibuat oleh Ardhi. Karena perbedaan kekuatan yang jauh, Renjani benar-benar kesulitan untuk bisa lepas dari genggaman itu.
"Bisa lepaskan tanganku, tidak?" Pinta Renjani yang tak langsung dituruti oleh lelaki itu.
"Kenapa harus saya lepaskan? Memangnya kamu mau kemana?" Tanya Ardhi enggan untuk membuat gadis itu pergi.
"Mau pulang. Bunda dan ayah sudah menunggu."
Mendengar apa yang baru saja diucapkan oleh Renjani, mampu membuat laki-laki itu memberikan perintah kepada sang sekretaris — Nindi. Entah apa yang mau dilakukan olehnya, tapi kalau dilihat Ardhi berniat untuk menyerahkan urusan pekerjaan ini kepada Nindi.
"Tolong kamu urus soal gedung apartemen ini! Saya percayakan semuanya kepada kamu, Nindi," perintah Ardhi yang membuat Tuan Timothy merasa sedikit kecewa.
"Apa Tuan Ardhi mau pergi?"
__ADS_1
"Maafkan saya, tapi saya ingat harus melakukan sesuatu hal penting. Untuk persetujuan jual beli, Anda bisa bicarakan dengan Nindi," tukas Ardhi yang kemudian melangkahkan kakinya pergi bersama dengan Renjani.
...•••...
Dibawa paksa seperti ini oleh laki-laki itu, mampu membuat Renjani sedikit bingung harus berbuat apa. Sejak tadi, tak terdengar suara protes apapun yang keluar dari mulut mungil milik gadis itu. Kalau dilihat memang benar nyatanya, Renjani sudah terlalu berpasrah, ikut begitu saja dengan laki-laki yang kini masih menggenggam erat tangannya.
"Tuan?" Renjani memanggil dengan suara samar-samar, namun masih bisa didengar oleh Ardhi.
"Saya pikir panggilan om itu tidak terlalu buruk, dibanding harus mendengarkan kamu memanggil saya dengan Tuan," ungkap Ardhi yang ternyata tak menyukai cara Renjani memanggil dirinya.
"Ada apa?" Sambung Ardhi dengan pertanyaan singkat.
"Kenapa aku diajak kemari? Aku datang tanpa membawa kendaraan apapun," kata Renjani merasa bingung ketika tahu kalau dirinya sudah berada di parkiran mobil.
"Ah, saya hanya ingin mengantarmu pulang," ucap Ardhi dan langsung membuat terkejut gadis itu.
"Tidak perlu Tuan. Aku bisa pulang sendiri. Kendaraan umum juga masih banyak yang beroperasi di jam segini," ujar Renjani menolak keinginan dari laki-laki itu.
"Bagaimana saya bisa membuatkan seorang gadis pulang sendirian di jam segini," tutur Ardhi sambil melihat ke arah jam tangan yang kini sudah menunjukan tepat pukul sepuluh malam.
"T-tapi aku serius bisa pulang sendiri. Jam sepuluh masih belum terlalu rawan. Lagipula rumah ku juga tak terlalu jauh dari akses jalan raya dan kemungkinan juga masih banyak orang yang bangun," Renjani tetap bersikeras menolak ajakan dari laki-laki itu. Bukan tanpa sebab, hanya saja Renjani merasa tak perlu untuk merepotkan Ardhi.
Tanpa banyak berkata ataupun membujuk, Ardhi secara sepihak langsung membukakan pintu mobilnya dan meminta Renjani untuk segera masuk. Tatapan mata tajam yang dibuat oleh Ardhi, menjadi alasan utama bagi Renjani enggan memberikan penolakan lagi. Sepertinya mulai sekarang, Renjani harus sedikit berhati-hati kalau sedang ada di tempat umum. Jangan sampai ia terlibat dalam sebuah pertemuan dengan laki-laki bernama Ardhi itu. Bisa-bisa kejadian seperti ini bisa terulang kembali.
Karena merasa sudah tak bisa memberikan penolakan lagi, Renjani pun mulai melangkahkan kakinya masuk ke mobil itu. Ardhi yang masih ada di tempatnya pun tak segan untuk membantu gadis itu memakai sabuk pengaman. Jujur, tak seharusnya bagi Ardhi melakukan hal yang terbilang cukup berlebihan seperti ini. Tanpa dibantu pun, Renjani bisa sendiri memakai sabuk pengaman.
"Hanya untuk keselamatan saja. Saya tak ingin kalau kamu terluka," ucap Ardhi dengan suara maskulinnya.
Tanpa banyak bicara lagi, Ardhi yang telah memastikan gadis itu berada di dalam mobil pun mulai berlari menuju ke tempat pengemudi. Karena kelakuan Ardhi yang tiba-tiba membantunya memasangkan sabuk pengaman, detak jantung milik Renjani mulai merasakan debaran yang terbilang tak wajar. Sungguh, Renjani tak pernah merasakan hal seperti ini selain bersama David — seorang laki-laki yang sampai sekarang mungkin masih menjadi pemilik hatinya.
^^^Bersambung...^^^
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
__ADS_1
✓ Instagram : just.human___