My Important Bussiness With CEO

My Important Bussiness With CEO
— 27.


__ADS_3

Renjani memang kelihatannya begitu sehat. Tubuhnya bugar dan tak memiliki penyakit bawaan apapun. Menurut dirinya sendiri sangat jarang untuk datang mengunjungi rumah sakit. Semuanya tampak baik-baik saja, tapi sayang kesehatan psikologis dari Renjani sedikit terganggu.


Dia bukan gila, bukan juga stress, hanya saja karena kejadian dimana kedua orang tuanya meninggal karena kecelakaan sanggup untuk membuat sebuah trauma dari dalam diri Renjani. Sempat setelah kedua orang tua kandungnya meninggal, sikap Renjani berubah 180 derajat. Dari anak yang ceria dan ingin tahu segala hal menjadi seseorang yang murung serta selalu suka menyendiri.


Sampai pada akhirnya, ia diadopsi oleh keluarga Tuan Aries. Semakin bertambahnya usia, dia pikir trauma itu juga akan menghilang, tapi nyatanya tidak. Trauma masa lalu yang sanggup membuat pikiran seorang Renjani memilih untuk menepis semua kejadian buruk. Jadi, mau bagaimana pun diminta supaya memberitahu detail kejadian yang terjadi antar guru BK dan dirinya, tentu saja Renjani tak akan mengingatnya. Kenangan buruk selalu diblokir dari ingatan kepalanya. Entah ini baik atau buruk, tapi nyatanya Ardhi sampai harus membawa gadis itu ke rumah sakit.


Dikarenakan dokter Tama tak bisa memberikan apapun untuk masalah Renjani, beliau menyarankan agar temannya itu — Ardhi, berkonsultasi pada psikolog. Sepertinya dibanding dokter Tama, bantuan dari psikolog jauh lebih berarti.


Renjani yang sebenarnya dibawa paksa ke rumah sakit pun mulai berani memberikan protes keras kepada Ardhi. Entah apa yang terjadi, tapi kalau dilihat dari ekspresi wajah dari gadis itu terlihat ada sedikit amarah dan rasa kecewa.


Dengan keras, Renjani menepis genggaman tangan yang sedari tadi dilakukan oleh laki-laki itu. Renjani sangat amat kurang nyaman serta menyukai cara yang dilakukan oleh Ardhi. Tidak bisakah laki-laki itu cemas dalam batas wajar?


"Maaf! Tapi saya tak akan menemui psikolog sesuai dengan apa yang di katakan oleh dokter itu," ujar Renjani menolak dalam balutan tatapan mata yang serius.


Entah mengapa, melihat sorot mata yang seperti itu mampu membuat seorang Ardhi merasa tidak enak dan bersalah. Maka dari itu ia dengan cepat memberitahu alasan yang bisa membenarkan tindakannya ini.


"Saya sama sekali tidak bermaksud apapun. Hanya saja tadi saya terlalu khawatir karena kamu tiba-tiba tidak mengingat soal kejadian di sekolah," ucap Ardhi tanpa tergagap sedikitpun.


Enggan memberikan respon apapun, Renjani pun mulai menundukkan kepalanya sopan. Bukan tanpa sebab, hanya saja ini adalah cara bagi Renjani untuk berpamitan kepada laki-laki pemilik nama Ardhi itu.


Renjani mulai melangkahkan kakinya pergi meninggalkan tempat ini, namun Ardhi sama sekali tidak memberikan izinnya. Kembali pergelangan tangan milik Renjani dijangkau olehnya.


"Biar saya antar kamu pulang," pinta laki-laki itu, tapi harus mendapatkan tolakan tegas dari Renjani.


"Terima kasih! Tapi saya bisa pulang sendiri," ujar Renjani kemudian melepaskan genggaman tangan yang dibuat oleh laki-laki itu.


Ardhi bukanlah tipe orang yang menyukai penolakan. Oleh sebab itu, secara paksa dan tanpa adanya permisi, ia mulai menggendong tubuh mungil dari gadis bernama Renjani itu. Tahu kalau sedang mendapatkan perlakuan seperti ini, Renjani juga tak segan untuk memukul pelan tubuh bagian belakang dari Ardhi.


"Lepaskan!" Perintah dari Renjani, namun langsung mendapatkan ancaman singkat dari laki-laki itu.


"Kalau kamu terus berteriak, saya akan anggap perjanjian kontrak diantara kita batal. Itu berarti kamu harus membayar 200 juta kepada saya," kata Ardhi terdengar seperti sebuah kesungguhan.


Sekarang bagaimana lagi cara Renjani menolak? Sungguh, kalau dia kembali berteriak dan memprotes, laki-laki itu akan menyuruhnya membayar 200 juta. Tahu sendiri alasan kenapa Renjani ingin menerima kontrak yang diajukan oleh Ardhi. Gadis itu hanya tak memiliki cukup banyak uang untuk membayar kompensasi. Sekali lagi, bagi seorang seperti Renjani 200 juta bukanlah jumlah uang yang bisa di dapatkan dalam waktu singkat.


Setelah tadi digendong secara paksa, sekarang ini Renjani sudah ditempatkan dengan nyaman, duduk kembali ke jok mobil yang terlampau begitu empuk ini. Tidak hanya membuat Renjani terduduk, Ardhi juga memasangkan sabuk pengaman pada tubuh dari gadis itu.


Jika tadi saat datang ke rumah sakit ada seorang sopir yang mengemudikan mobil ini, sekarang Ardhi meminta secara khusus kepada sopir, sekertaris dan juga anak buahnya yang lain agar mau membiarkannya berdua bersama dengan Renjani. Karena mereka hanya seorang pegawai yang menurut akan perintah dari atasan, perkataan Ardhi bisa dengan mudah dituruti tanpa ada penolakan apapun.

__ADS_1


Saat merasa berhasil membuat Renjani menempati kursi penumpang, kini Ardhi juga telah duduk di kendali kemudi dari mobil ini. Untuk keselamatan, Ardhi pun tak lupa untuk memasang sabuk pengaman.


"Saya hanya tak bisa membiarkan mu pulang sendiri. Jadi, maafkan saya kalau sampai harus bertindak seperti ini," ujar Ardhi kemudian menginjak pedal gas.


Mobil yang dikemudikan sendiri olehnya kini telah melaju meninggalkan parkiran rumah sakit dan tak lama mulai terlihat melintasi jalanan kota yang terbilang masih begitu padat akan kendaraan lainnya.


...•••...


Nindi yang sekarang ini masih berada tepat di depan pintu lobby dari rumah sakit pun secara tidak terduga mendapatkan sebuah panggilan telepon penting yang berasal dari kakek Yudha. Karena memang ia tidak bisa membiarkan beliau tetap di nada sambung terlalu lama, tanpa banyak berpikir Nindi pun mulai menjawab panggilan itu.


"Halo, iya Tuan. Selamat sore. Dengan Nindi disini, apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya sekertaris itu langsung tanpa adanya basa-basi.


"Dimana Ardhi?" Tanya Kakek Yudha dari balik panggilan ini.


Nindi yang memang bekerja hanya untuk Ardhi, merasa tak berani memberitahu keberadaan tuan nya sekarang. Bukan tanpa sebab, hanya saja memang Ardhi sudah mewanti-wanti dirinya sebelum ini, kalau tak ada yang boleh memberitahu sang kakek mengenai kebersamaannya dengan Renjani.


"Beliau masih sedang menghadiri acara makan bersama salah seorang kliennya," ujar Nindi sedikit berbohong.


"Benarkah?" Ada keraguan yang terdengar dari ucapan sang kakek.


"Mohon maaf sebelumnya, tapi untuk masalah itu Tuan memerintahkan saya agar tak memberitahu siapapun. Karena pertemuan dengan klien ini masih bersifat rahasia," ujar Nindi terus mencoba melindungi apa yang sedang disembunyikan oleh tuannya.


"Termasuk saya? Kamu tahukan kalau saya adalah pemilik asli dari Moonlight Group?" Tanya Kakek Yudha mendesak agar Nindi mau memberitahu tentang keberadaan sang cucu.


Sebenarnya sekarang ini Nindi sudah berada di jalan buntu. Kenapa? Ya karena di satu sisi ia tak bisa dengan seenaknya mengkhianati perintah dari atasan serta di sisi lainnya, ia begitu tunduk terhadap Kakek Yudha. Mengingat kalau beliau merupakan pemilik perusahaan yang saat ini sedang dipimpin oleh Ardhi.


"Jadi, katakan kepada saya. Dimana Ardhi berada? Saya tahu kalau dia tidak sedang makan malam dengan klien," ujar beliau yang kali ini terdengar begitu serius.


Karena posisi sudah begitu sulit, mau tidak mau Nindi harus melakukan hal yang bisa dibilang kurang sopan. Bukan tanpa maksud apapun, hanya saja posisi yang sekarang membuatnya sangat tak berdaya.


"Maaf Tuan Besar, sepertinya koneksi internet disini kurang stabil. Suara Tuan terdengar sedikit kurang jelas dan putus-putus. Saya mohon maaf hatus mengakhirinya terlebih dahulu. Nanti setelah semua lancar, saya pasti akan memberitahu Tuan," tukas Nindi yang kemudian tanpa ragu mengakhiri panggilan ini secara sepihak.


Hanya demi menutupi rahasia yang sedang disimpan oleh Ardhi, Nindi harus sampai bertindak berlebihan seperti ini. Untuk kali pertama baginya mengelabuhi Kakek Yudha. Sebelumnya sama sekali tak pernah ataupun tak berani bagi seorang Nindi melakukan hal begini.


...•••...


Kakek Yudha benar-benar terkejut dan tidak menyangka ketika mendapati mobil cucunya terlihat tengah berhenti di sebelahnya untuk menunggu lampu lalu lintas jalan berubah warna menjadi hijau. Sebenarnya bagi beliau tidak masalah kalau sang cucu mau pergi kemanapun, tapi yang sangat menjadi masalah adalah ketika ia melihat ada seorang wanita yang bukan Anastasia, sedang duduk di bangku penumpang persis di sebelah sang cucu.

__ADS_1


Meskipun umur kakek Yudha sudah tak muda lagi, namun tetap saja pengelihatannya masih tajam dan begitu jelas. Dia bisa dengan mudah mengenali sosok wanita yang bukan Anastasia.


Hanya untuk memastikan saja, Kakek Yudha sengaja menghubungi Nindi hanya karena ingin bertanya mengenai keberadaan dari sang cucu. Mengingat kalau Nindi adalah salah seorang yang paling dipercaya dan selalu berada disisi sang cucu, Kakek Yudha jadi yakin kalau perempuan itu bisa memberikan jawaban yang dibutuhkan.


Sebuah keyakinan yang ternyata tak sepenuhnya harus ada. Mungkin Kakek Yudha lupa kalau karena sudah menjadi orang kepercayaan dari sang cucu, Nindi memang tak bisa main asal memberitahu dan begitu menurut pada perintah dari atasannya. Iya, saat menelepon perempuan yang sudah menjadi sekertaris dari cucunya selama bertahun-tahun, tak ada jawaban apapun yang keluar dari mulut Nindi. Rasanya seakan gadis itu memang enggan untuk memberitahu apapun.


Dengan rasa penasaran yang masih menggebu-gebu, sang kakek yang belum mendapatkan jawaban pun memutuskan untuk mengikuti mobil cucunya. Beliau tanpa ragu meminta kepada sang sopir supaya tetap berada di belakang mobil hitam milik Ardhi.


Sampai pada akhirnya, secara mengejutkan, mobil itu berhenti tepat di depan rumah yang tampak tak asing bagi kakek Yudha. Terkejut sekaligus bingung. Pertanyaan juga mulai menghantui kepalanya. Kenapa cucunya berada di depan rumah Tuan Aries dengan perempuan yang sudah jelas bukan Anastasia?


Tak lama terlibat dalam sebuah pertanyaan diri sendiri, Kakek Yudha dengan cepat langsung mendapatkan jawaban. Seorang gadis yang ternyata pernah bertemu dengannya dalam acara makan malam beberapa waktu lalu kelihatan turun dari mobil sang cucu. Kenapa cucunya itu bersama Renjani?


Kecurigaan mulai menyapa diri beliau. Sang cucu tidak sedang menjalin hubungan dengan gadis pemilik nama Renjani itu kan? Bukankah perjodohan yang direncanakan seharusnya untuk Anastasia? Kenapa bisa ada Renjani yang ikut terlibat?


Karena itu hanya kecurigaan, Kakek Yudha memutuskan meminta kepada sang sekretaris untuk mencari jawaban. Bukan beliau kalau hanya mencurigai tanpa mendapatkan bukti serta jawaban yang tepat.


^^^Bersambung...^^^



Catatan kecil :


- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.


- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.


-----------------------------------------------------------


Story ©® : Just.Human


*please don't copy this story.


Find Me


✓ Instagram : just.human___


-----------------------------------------------------------

__ADS_1


__ADS_2