My Important Bussiness With CEO

My Important Bussiness With CEO
— 24.


__ADS_3

Tidak lama setelah mobil yang ditumpangi oleh Ardhi bersama dengan sang sekertaris, melaju pergi meninggalkan gedung sekolahan ini, Guru BK yang sekarang masih tengah berdiri tepat di pinggir dari taman sekolah, sambil melemparkan tatapan tajam nan mengintimidasi. Entah apa maksudnya, Renjani yang tahu pun hanya bisa berusaha untuk menghindari tatapan itu. Tak berani bagi gadis itu ikut melemparkan ataupun membalas tatapan dari guru BK.


Enggan untuk terlalu mempedulikan soal guru BK, Renjani pun mulai memfokuskan diri pada hukuman yang saat ini sedang dijalaninya. Karena terlambat, Renjani bersama dengan murid lainnya diminta untuk membersihkan taman sekolah yang kelihatan begitu berantakan, dengan banyaknya daun kering.


Pada saat dia tengah menjalankan hukuman, secara tak terduga guru BK kini telah berdiri tepat di sampingnya. Melihat keberadaan dari guru BK yang bisa dibilang begitu dekat, sanggup membuat jantung Renjani berdebar dua kali lebih cepat. Bukan karena jatuh cinta, hanya saja ia tengah merasa sedikit was-was.


"A-ada apa ya, Bu?" Tanya Renjani sedikit tergagap.


"Ke ruangan saya sebentar. Ada hal penting yang ingin saya katakan," ucap guru BK yang kemudian melangkahkan kakinya menuju ke arah ruangan BK yang tepat berada di seberang dari taman sekolah ini.


Renjani yang memang tidak bisa memberikan penolakan pun, mau tak mau harus ikut mengekor di belakang guru itu. Disini Renjani sedang mencoba untuk memposisikan dirinya agar terlihat seperti seorang murid yang baik. Bukan tanpa sebab, hanya saja menurut rumor yang beredar di sekolah ini, guru BK memang sangat suka bermain-main dengan hukuman. Takut kalau menolak, hukumannya yang sekarang bisa terbilang cukup ringan malah harus bertambah berat.


Sesampainya mereka berdua di ruangan BK, pandangan Renjani langsung saja tertuju pada sebuah bingkai foto yang menghiasi meja dari guru itu. Salah fokus ketika mendapati ada foto tampan seorang Ardhi terpasang di sana. Renjani yang terkejut karena bingkai foto itu pun langsung melirik secara singkat ke arah guru BK.


"Silahkan duduk," suruh guru BK dan langsung dituruti oleh Renjani.


Berhadapan berdua seperti ini dengan guru BK berhasil memunculkan perasaan takut sekaligus gugup dari dalam diri seorang Renjani. Pasalnya semenjak menjadi seorang siswi di sekolahan ini, dia terbilang sangat jarang berhadapan dengan guru BK.


"Ada apa ya, Bu?" Tanya Renjani mencoba hati-hati dalam berucap.


Belum mengatakan apapun, guru BK malah semakin memperdalam tatapannya dan karena itu Renjani benar-benar berhasil dibuat kurang nyaman. Rasanya begitu ingin baginya untuk segera kembali ke taman sekolah dan menjalankan hukuman agar bisa kembali ke kelas.


"Bolehkah saya bertanya sesuatu kepadamu?" Tanya guru BK itu yang mampu memacu detak jantungnya semakin lebih cepat.


"Ma...mau tanya apa ya, Bu?" Renjani sedikit ragu, tapi kondisinya sekarang ia tak memiliki jawaban selain 'Iya'.


"Sejak kapan kamu bisa berhubungan dengan Tuan Ardhi? Benarkah kalian hanya sebatas saudara?" Tanya guru BK itu menelisik ingin tahu.


Renjani sudah bisa dengan jelas mendengar pertanyaan itu, tapi anehnya ia sedikit merasa kesulitan untuk memberikan jawaban. Kalau melihat situasi dan kondisi sekarang, tidak mungkin bagi dirinya berkata jujur. Bisa-bisa yang tadinya tak memiliki masalah, jadi malah bermasalah. Renjani enggan untuk terus berhadapan dengan guru BK.


"I-iya. Kami hanya sebatas saudara," kata Renjani kedengaran sedikit ragu, tapi mampu meyakinkan.


"Benarkah? Perasaan saat saya cari di internet mengenai keluarganya, sama sekali tidak menuliskan kamu sebagai saudara," guru BK sedikit agak kurang percaya atas apa yang baru saja keluar dari mulut Renjani.


"Hanya saudara jauh," ujar Renjani yang diikuti dengan sebuah senyuman canggung, sambil sesekali memukul pelan paha kakinya sendiri.


Belum memberikan respon apapun, guru BK itupun mengambil bingkai foto yang menunjukan rupa seorang Ardhi kepada Renjani. Tanpa berani menatap itu terlalu lama, gadis cantik yang kini sudah resmi memiliki hubungan spesial dengan Ardhi pun langsung menurunkan pandangannya.


"Menurut kamu, kalau saya jadi kekasihnya Tuan Ardhi, apakah cocok?" Tanya guru BK ingin meminta pendapat jujur dari Renjani.


Mendengar pertanyaan seperti ini keluar begitu saja dari mulut beliau, sanggup membuat kedua pupil mata Renjani membesar. Bukan tanpa sebab, ia hanya sedang terkejut dengan fakta mengenai guru BK yang ternyata juga sedang menyimpan perasaan kepada sosok Ardhi. Seperti apa yang sudah di duga, untung saja Renjani menahan diri agar tak berkata jujur.


"Ibu menyukai saudara jauh saya?" Tanya Renjani ingin memastikan saja kalau telinganya memang sudah melakukan tugasnya dengan baik.


Tanpa ada perasaan ragu sedikitpun, guru BK itu pun menganggukkan kepala dan membenarkan soal pertanyaan yang baru Renjani ajukan. Beliau mengungkapkan perasaan suka dan kagumnya kepada sosok Ardhi dengan begitu gamblang dan mudah.


"Sebagai saudara jauh, apa kamu bisa membantu saya untuk memberikan dukungan? Siapa tahu kita berdua juga bisa jadi satu keluarga," ujar guru BK dalam balutan tatapan penuh harap.


"Maksudnya?" Tanya Renjani berpura-pura tak mengerti akan maksud dari ucapan guru itu.


"Ya, siapa tahu kamu bisa membantu saya agar bisa semakin dekat dengan Tuan Ardhi. Jujur saja, selama ini saya sudah berusaha untuk mendekat, tapi beliau selalu menjauh," jawab guru BK terdengar seperti sebuah curahan hati.

__ADS_1


Entah harus menanggapinya seperti apa, Renjani hanya bisa tersenyum kaku. Kelihatan dengan jelas kalau ia sedang bingung harus menghadapi guru BK yang masih dimabuk asmara pada sosok Ardhi.


"Tapi Bu, bukankah kalian berdua memiliki perbedaan usia yang terbilang cukup jauh?" Kata Renjani mengingat kalau guru BK nya itu sudah memasuki usia kepala tiga.


"Usia hanyalah sebatas angka. Zaman sekarang banyak kok pasangan suami istri yang memiliki usia terpaut cukup jauh. Lagipula saya hanya lima tahun lebih tua dari Tuan Ardhi," ujar guru BK benar-benar terkesan seperti seseorang yang begitu ingin mendapatkan hati Ardhi.


Memang yang dikatakan oleh guru BK sangat benar sekali. Buktinya sekarang Renjani juga tengah menjalin hubungan dengan laki-laki bernama Ardhi yang nyatanya terpaut sepuluh tahun lebih tua. Maka dari itu untuk menimpali, Renjani hanya bisa tersenyum tipis.


"Renjani?" Panggil guru BK itu secara tiba-tiba.


"I-iya Bu?" Kalau tadi saat baru masuk ke ruangan ini dan belum sepenuhnya tahu mengenai maksud tujuan dari guru BK, Renjani merasa sedikit gugup dan takut, tapi sekarang ini ia sudah bisa lebih santai lagi.


"Boleh minta nomor pribadinya Tuan Ardhi? Selama ini saya selalu menghubunginya lewat nona Nindi. Rasanya begitu kurang nyaman jika berhubungan lewat sang sekretaris," ucap guru BK itu dalam balutan sorot mata yang berbinar.


"Nomornya?" Renjani kembali bingung. Ia memang memiliki nomor pribadi Ardhi, tapi ragu untuk membagikannya kepada orang lain. Bukan tanpa sebab, hanya saja Renjani takut dibilang sebagai orang tak punya sopan santun hanya karena memberikan nomor orang tanpa mendapatkan izin.


"Kenapa? Apa kamu tak memilikinya?" Tanya guru BK ingin tahu.


"Saya punya, tapi tidak bisa memberikannya kepada ibu. Nomornya sangat pribadi dan kalah mau mendapatkan harus izin terlebih dahulu kepada pemiliknya langsung," ujar Renjani terus saja mencoba memakai kata-kata yang mudah diterima oleh guru BK itu.


Karena perkataan dari Renjani itu, guru BK sekarang sedang memasang wajah kecewa. Beliau pikir hari ini bisa mendapatkan nomor pribadi dari pria yang disukai, tapi nyatanya sangat sulit.


Renjani tak mengatakan apapun lagi. Keheningan benar-benar sudah menyapa ruangan ini. Suara detik jarum jam yang memenuhi telinga. Merasa sudah tidak ada yang perlu dibicarakan lagi, Renjani pun mulai beranjak dari tempat duduknya, bersiap untuk meninggalkan ruangan guru BK ini. Namun, pada saat ia selesai berpamitan dan menundukkan kepala tanpa menghormati guru serta orang yang jauh lebih tua, Guru BK itu pun memanggil namanya kembali. Rasanya seakan Renjani tak diperbolehkan keluar dari ruangan ini.


"I-iya Bu?" Sahut Renjani kembali gugup.


"Saya baru ingat kalau petugas kebersihan hari ini meminta cuti. Jadi, tolong setelah membuang daun kering, kamu langsung pergi ke kamar mandi dan membersihkannya," perintah guru BK yang sanggup membuat Renjani menutup mulutnya yang menganga. Tak sangka kalau sikap guru BK sesuai dengan apa yang dirumorkan oleh semua murid disini. Percuma saja Renjani mencoba untuk menjaga caranya dalam bertutur.


...•••...


Ini benar-benar sangat menyulitkan. Tujuan Renjani datang ke sekolah hanya untuk menuntut ilmu bukan karena ingin membersihkan kamar mandi seperti ini. Hanya karena hukuman, Renjani harus kehilangan 4 jam penting untuk belajar serta waktu istirahat juga terpakai sekarang.


Masih dengan kesabaran penuh, Renjani tetap setia berada di dalam kamar mandi dengan jemari tangan yang masih menggenggam sikat WC. Entah sampai kapan ini akan berakhir, Renjani sangat berharap bisa secepatnya keluar dari kamar mandi.


Waktu terus bergerak dan masih cukup banyak yang harus di bersihkan oleh Renjani. Disaat kepalanya membayangkan akan ada orang yang datang membantu, secara tiba-tiba Aurora — temannya yang paling dekat, pun terlihat datang menghampiri. Melihat sosok Aurora sanggup membuat Renjani seakan memiliki harapan untuk bisa menyelesaikan hukuman ini.


"Renjani, berdiri!" Perintah Aurora terdengar begitu tegas.


Tak perlu banyak ucapan, Renjani pun menurut dan berdiri. Ia bahkan tak ragu untuk meletakkan sikat WC sembarangan. Melihat Aurora rasanya seperti melihat sebuah harapan yang nyata.


"Lo sekarang mending balik ke kelas. Gak perlu mikirin tentang hukuman ini," ucap Aurora meminta layaknya seperti seorang bos.


"Kenapa?" Tanya Renjani kedengaran begitu polos.


"Katanya lo saudara jauhnya dari laki-laki terkenal itu? Siapa namanya, Ardhi? Gila sih Re, kalau lo masih mau ngelakuin hukuman ini," Aurora tak menyangka kalau teman dekatnya itu bisa melupakan fakta saudara.


"Ya, terus? Apa hubungannya sama hukuman ini?" Tanya Renjani yang ternyata belum bisa mengerti.


"Ardhi itu adalah donatur terbesar dari sekolahan ini. Posisinya begitu terhormat, hingga semua orang yang ada disini tunduk sama dia," kata Aurora memberikan jawaban atas segala pertanyaan yang sejak tadi bergelut pada pikiran Renjani.


"Kalau lo memang saudara jauh dari Ardhi, gak seharusnya lo lakuin tugas seperti ini," tambah Aurora mengakhiri ucapannya.

__ADS_1


Tak berselang lama setelah perkataan dari Aurora, ponsel pribadi milik Renjani yang sejak tadi ada di saku seragamnya bergetar. Merasa tidak bisa membiarkan begitu saja, Renjani pun mengambil ponsel itu lalu melihat siapa gerangan yang menelepon. Ternyata setelah melihat nama si penelepon pada layar ponsel, seketika langsung membuat Renjani terburu-buru untuk menjawab.


"Halo?" Kata Renjani memulai pembicaraan lewat telepon ini.


Karena tak berniat ataupun ingin membuat Aurora tahu, Renjani pun memilih untuk sedikit menjauh dari teman dekatnya itu. Ini dilakukan oleh gadis pemilik nama Renjani hanya untuk mengantisipasi kalau ada salah bicara atau hal lain yang sama sekali tidak diinginkan.


"Sedang apa?" Tanya seseorang pemilik suara maskulin dari balik panggilan ini.


"Di kelas," bohong Renjani.


"Sejak kapan kamu belajar berbohong?" Tanya seseorang itu lagi.


"Gak ada yang sedang berbohong," Renjani enggan mengakuinya.


"Pulang sekolah nanti, saya ingin mengajakmu menonton sesuatu yang bagus," Ajak laki-laki bernama Ardhi itu dari balik panggilan ini.


"Menonton apa? Film?"


"Bukan."


"Lalu?"


"Saya sengaja ingin membuatmu penasaran, agar tak berpikir untuk menolak ajakan ini. Tontonan bagus dan kemungkinan kamu juga akan menyukainya," ujar Ardhi enggan untuk memberitahu lebih banyak.


Mendengar ucapan yang terkesan seperti seorang anak kecil itu mampu mengundang tawa kecil. Entah mengapa cara yang dilakukan oleh Ardhi benar-benar berhasil membuat Renjani penasaran. Kalau sudah seperti ini, kemungkinan kecil bagi seorang Renjani memberikan penolakan. Gadis itu enggan untuk terus merasa penasaran akan sesuatu hal.


"Bagaimana? Kamu bisa kan pergi menonton bareng saya?" Tanya Ardhi ingin mendengarkan jawaban putusan yang keluar dari mulut gadis itu.


"Kalau sudah dibuat penasaran, apa aku bisa memberikan penolakan?" Kata Renjani menyetujui ajakan menonton yang diberikan oleh Ardhi.


"Saya akan langsung jemput kamu di sekolah. Jadi, jangan pergi kemana-mana! Tetap berada di lingkungan sekolah," perintah Ardhi mengatakannya dengan tegas dan jelas.


^^^Bersambung...^^^



Catatan kecil :


- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.


- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.


-----------------------------------------------------------


Story ©® : Just.Human


*please don't copy this story.


Find Me


✓ Instagram : just.human___

__ADS_1


-----------------------------------------------------------


__ADS_2