
Ditinggalkan berdua dengan Syifa, sosok gadis cantik yang terkesan masih baru dikenal, Renjani kelihatan sedikit canggung. Bukan tanpa sebab hanya saja, Renjani terlalu sulit untuk terbiasa dengan kehadiran orang baru.
Berusaha untuk merasa nyaman, tapi terlalu sulit. Sampai pada akhirnya, Syifa yang tentu saja tak terlalu menyukai keheningan dan enggan membiarkan rasa canggung terus menghiasi ruangan, gadis cantik yang sekarang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, mulai membuka obrolan.
"Renjani? Benarkah itu nama mu?" Tanya Syifa yang langsung membuat si pemilik nama meletakkan ponsel yang sejak tadi terus di genggamnya.
"Iya," jawab Renjani singkat diikuti dengan sebuah anggukkan kepala serta senyuman di bibirnya.
Tak hanya menanyakan hal sederhana itu, Syifa yang memang sudah penasaran dan membutuhkan banyak jawaban untuk segala pertanyaan yang ada di benaknya, apalagi saat melihat baju seragam yang digunakan oleh Renjani sangat sama dengan sang kekasih. Syifa kelihatan begitu ingin tahu akan banyak hal.
"Kenal dengan David?" Tanya Syifa yang berharap akan mendapatkan jawaban bagus dari gadis pemilik nama Renjani itu.
"Tentu saja."
Kalau menyangkut soal David, bisa dibilang Renjani sangat mengenalnya secara baik. Meskipun bukan hubungan spesial, tapi mereka berdua benar-benar sudah berteman dekat. Bahkan Renjani bisa mengatakan dengan yakin kalau dirinya tahu semua hal mengenai David.
"Bagaimana kamu bisa mengenalnya?" Syifa tak ada hentinya untuk tidak mengajukan pertanyaan. Memang benar adanya kalau sekarang ini, ia sedang ingin mengetahui banyak hal.
"Kami sudah berteman cukup lama," jawab Renjani tak ragu memberitahu adik perempuan dari Ardhi itu.
"Hanya murni berteman kan? Katanya banyak orang, hampir mustahil kalau laki-laki dan perempuan itu berteman tanpa melibatkan perasaan," kata Syifa terdengar sedang menaruh curiga yang tentu saja langsung disangkal oleh Renjani. Untuk ini, ia sama sekali tidak bisa mengungkapkan yang sejujurnya. Tidak mungkin mengatakan kalau Renjani juga sempat menaruh perasaan kepada David.
"Tidak ada. Bahkan sekarang aku sedikit bosan karena hampir setiap hari bertemu dengan David," tutur Renjani terlalu pandai untuk menutupi perasaannya sendiri.
Setelah mendengar pernyataan yang seperti itu, Syifa terlihat sedang menghela napas lega. Jujur saja, ketika Renjani bilang kalau dirinya berteman dengan sang kekasih, pikiran Syifa sudah mulai kemana-mana. Takut sekali kalau David memilih untuk pergi disaat seperti ini.
Mungkin perasaan seperti itu bisa muncul, mengingat kalau sampai sekarang belum ada tanda-tanda dari sang kekasih datang ke rumah sakit untuk menjenguk. Padahal sejak siang tadi, Syifa sudah menghubungi dan memintanya datang, tapi sepertinya semua pesan sengaja diabaikan.
"Kak Renjani?" Panggil Syifa yang kali ini terdengar lebih sopan lagi.
"Boleh aku bertanya sesuatu lagi?" Tambahnya memastikan kalau gadis cantik yang diminta untuk menjaga itu masih bersedia untuk menjawab segala pertanyaan.
"Tentu saja.
"Apa tadi saat di sekolah, kak Renjani sempat bertemu dengan David?" Tanya Syifa yang rupanya ingin mengetahui tentang kekasihnya itu. Kalau David belum menunjukan diri, Syifa akan terus merasa khawatir.
__ADS_1
Entah harus dikatakan atau tidak, tapi yang jelas Renjani berpikir kalau Syifa berhak untuk mengetahuinya. Karena permasalahan yang tengah terjadi saat ini juga masih berhubungan dengan gadis pemilik nama Syifa itu.
"Ada. Kakakmu tadi juga menemuinya," ucap Renjani dan langsung berhasil membuat kedua mata milik Syifa membesar. Terkejut sekaligus takut membayangkan amukan dari Ardhi. Bisa dipastikan kalau sang kakak akan sangat marah.
"Untuk apa dia menemuinya? Kak Ardhi tidak berbuat sesuatu hal buruk kan? Dia tidak melukai David?" Tanya Syifa kedengaran seperti seseorang yang tengah begitu merasa khawatir.
Dengan suara ragu, Renjani pun kembali melemparkan jawaban kepada gadis cantik pemilik nama Syifa itu, tanpa bermaksud mengadu. "Hanya memberikan pukulan beberapa kali, sambil memarahinya."
"Pukulan? Apa David terluka parah? Kak Ardhi tak sampai membunuhnya kan?" Lagi-lagi Syifa melemparkan pertanyaan, namun kali ini mampu membuat seorang Renjani sedikit merinding.
"Kakakmu bisa membunuhnya?" Bukan jawaban, melainkan Renjani memberikan sebuah pertanyaan balik.
"Ah... maksudku membunuh bukan benar-benar melakukannya. Itu hanya sarkas yang ku buat untuk memberitahu kalau pukulan Kak Ardhi itu terlalu kuat," kata Syifa membenarkan maksud ucapannya.
Belum sempat mengatakan apapun, secara tidak terduga terdengar suara ketukan pintu yang cukup jelas memasuki telinga. Entah siapa yang bertamu, tapi yang jelas itu bukan Ardhi. Kenapa? Karena Ardhi tak akan pernah merepotkan dirinya untuk mengetuk pintu itu.
Meskipun mereka belum tahu siapa yang bertamu, Syifa bisa dengan mudanya memberikan izin kepada seseorang itu. Tidak berselang lama, setelah izin diberikan, seorang laki-laki tampan dengan wajah yang kelihatan memiliki sedikit memar tepat pada bagian ujung bibir, muncul sembari membawakan bungkusan.
Kedatangan dari sosok laki-laki itu, seketika mampu membuat seorang Syifa melemparkan senyuman yang begitu sumringah. Rasanya seakan dirinya tak terlihat seperti pasien rumah sakit.
Ketika melihat kedatangan dari seseorang yang dikenal, Renjani hanya bisa memberikan sapaan dengan sebuah senyuman tipis. Senang karena bisa melihat David ada di sini dalam keadaan baik-baik saja.
"Bagaimana soal lukamu? Kak Ardhi tak terlalu membuatmu kesakitan kan?" Tanya Syifa sesaat setelah dia mendapatkan Peukan hangat dari David. Jujur saja, sekarang ini Renjani sangat ingin melangkah pergi dan meninggalkan mereka berdua. Tidak enak rasanya berada di tengah-tengah dari pasangan yang sedang dimabuk asmara.
Inginnya Renjani memang pergi, tapi ia harus mengingat kalau perintah Ardhi yang memintanya untuk tetap berada di dekat sang adik. Karena enggan untuk mengambil resiko apapun, Renjani memutuskan duduk bersantai ke sofa dan mengambil kembali ponselnya. Untuk sementara ia akan berpura-pura tak melihat apapun.
"Apa yang sedang kamu bawa?" Tanya Syifa dengan tatapan mata tertuju pada bungkusan yang ada di tangan sang kekasih.
"Bubur. Aku hanya ingin memastikan agar kamu tetap makan makanan yang enak, meski berada di rumah sakit," jawab David sembari menyiapkan bubur itu agar bisa dimakan oleh Syifa.
Disini David benar-benar terlihat sedang merawat Syifa. Renjani yang masih duduk di sofa pun merasa lega kalau temannya bisa memperlakukan sang kekasih dengan amat baik. Kepedulian David yang seperti ini mampu membuat Syifa merasa senang.
"Kamu tahu, aku sudah cukup lama menunggu kamu datang. Kenapa baru sekarang?" Tanya Syifa membutuhkan jawaban dari sang kekasih.
Sambil terus menyuap, David mulai menjawab pertanyaan yang dilemparkan oleh sang kekasih itu. "Maaf, karena sudah membuatmu menunggu. Aku lama hanya karena butuh mengumpulkan keberanian terlebih dahulu."
__ADS_1
"Ada apa, David? Apa kamu merasa takut untuk menghadapi kakak ku? Tenang saja, kemarahannya itu tak akan berselang lama. Dia pasti akan bisa memaklumi dan menerima keadaan. Kak Ardhi bukan seseorang yang sekejam itu," ujar Syifa sembari mencoba untuk menggenggam tangan dari sang kekasih.
"Syifa? Boleh aku mengatakan sesuatu yang penting?" Tanya David, berhasil membuat detak jantung seorang Syifa berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Kenapa? Mau bicara apa? Bicarakan saja, aku akan mendengarkannya," tutur Syifa memberikan kesempatan kepada laki-laki itu untuk mengatakan segala hal yang memang ingin disampaikan.
Seakan ingin memberitahu sesuatu yang serius, David telah terlihat meletakan mangkuk bubur itu ke meja. Dalam balutan sorot mata yang serius, David mengatakan maksud serta tujuannya datang menjenguk.
"Maaf! Tapi, sepertinya untuk bertanggung jawab dan menjadi seorang ayah, aku belum sanggup melakukannya," kata David berhasil membuat seorang Renjani yang tak ada urusannya juga ikut terkejut.
"Tidak bisakah untuk kali ini, kita mengikhlaskan bayinya?" Tambahnya sembari mengusap lembut perut dari Syifa.
Entah apa yang terjadi, bukankah tadi ketika ditemui oleh Ardhi di sekolah, David berniat untuk bertanggung jawab? Kenapa laki-laki itu bisa dengan mudah mengubah keputusannya? Selama mengenal sosok David, Renjani tak pernah sekalipun mendapati temannya itu ingkar akan ucapannya sendiri. Jadi, tidak heran kalau saat mendengarkan keputusan yang terkesan terlalu tergesa-gesa, mampu membuat Renjani merasa curiga.
"Apa yang kamu maksud? Bukankah tadi kamu bilang mau bertanggung jawab?" Bukan Syifa, melainkan Renjani yang memberikan protes keras akan keputusan dari laki-laki pemilik nama David itu.
^^^Bersambung...^^^
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
-----------------------------------------------------------
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
✓ Instagram : just.human___
__ADS_1
-----------------------------------------------------------