
Mendengar keputusan dari David yang sama sekali tidak berubah, Ardhi dengan kemarahan yang semakin memuncak pun tanpa ragu mulai melangkahkan kakinya mendekat dan kembali memberikan sebuah pukulan keras yang berhasil tepat mengenai bagian wajah sebelah kanan miliknya.
Kali ini Renjani sama sekali tidak bisa lagi menghalangi ataupun memasang badan untuk meredam kemarahan seorang Ardhi. Kalau sekarang Ardhi memang mau marah, itu sangat amat wajar. Meskipun sudah diberikan kesempatan kedua, David tetap saja bersikeras pada keputusannya yang lebih memilih menghilangkan bayi itu daripada mempertahankan.
Tak dipungkiri kalau selain Ardhi dan Renjani, ada seorang Syifa yang jauh lebih merasa kecewa akan keputusan yang diberikan oleh David. Bagaimana bisa seorang laki-laki yang sudah dipacari selama bertahun-tahun dan juga menjadi salah satu seseorang kepercayaan, secara tak terduga memilih untuk mengakhiri masalah dengan cara yang bisa dibilang tidak dewasa.
Awalnya Syifa berpikir kalau kehadiran dari sosok anak di tengah-tengah hubungan mereka akan selalu membuat David dekat, tapi sayangnya pikiran seperti itu adalah kesalahan besar. Bukannya dekat, David malah berusaha untuk menjauh.
"Terserah kalau kalian akan menganggap ku kurang dewasa dalam mengambil keputusan, tapi hanya itu satu-satunya cara agar tak ada masa depan yang dikorbankan," ucap David tampak seperti seseorang yang tak tahu malu.
Sebagai seorang perempuan yang kini sedang mengandung, Syifa sangat amat menolak keputusan dan juga keinginan dari David. Bagaimana bisa ia merelakan buah hatinya sendiri? Jangan memintanya untuk melakukan sesuatu yang tak mungkin!
"Aku tidak mau kehilangan bayi ini," ucap Syifa dengan tegas.
"Mau sampai kapanpun, aku tetap akan mempertahankannya. Bayi ini tak boleh pergi kemana-mana," tambahnya sembari merangkul erat perut sendiri.
Mendengar keputusan yang berbeda dari seorang Syifa, mampu memunculkan sebuah senyuman tipis di wajah seorang David. Entah apa yang sedang ditertawakan olehnya, tapi sekarang bukan saatnya untuk bercanda atau sesuatu yang lucu.
"Baiklah. Kalau misalkan kamu tetap mau mempertahankan bayi itu, silahkan saja. Tapi, jangan pernah meminta untuk aku mengakuinya sebagai anak!" tutur David tanpa pikir panjang.
Merasa apa yang baru saja keluar dari mulut David bukanlah menjadi sesuatu yang benar dan malah berhasil untuk melukai hati sang adik. Ardhi dengan emosinya yang masih meluap-luap, tak segan mencengkeram erat kerah baju dari laki-laki itu, kemudian sebuah pukulan lebih keras dari sebelumnya pun diberikannya lagi tanpa cuma-cuma.
Renjani yang melihat semua itu dan takut kalau terjadi korban jiwa, mau tak mau harus segera menghentikannya. Dengan keberaniannya, ia memeluk pinggang milik Ardhi dari belakang dan sambil meminta agar ia mau berhenti memukul.
"Aku mohon hentikan! Kalau terus dipukul, dia bisa mati," pinta Renjani, tapi terlalu sulit untuk dituruti oleh Ardhi. Sudah terlarut mengikuti emosi, jadi kesusahan berhenti.
"Ardhi!!!" Panggil Renjani yang untuk kali pertama menyebut nama tanpa ada embel-embel Tuan ataupun Om.
__ADS_1
"Ardhi, aku mohon untuk berhenti! Kalau tidak kamu bisa menjadi pembunuh. Aku tak ingin kalau pacarku dicap sebagai seorang pembunuh," kata Renjani yang ternyata ampuh untuk menyadarkan Ardhi yang sejak tadi terus mengikuti amarahnya.
Sebenarnya Ardhi masih sangat ingin memberikan pukulan kepada laki-laki pemilik nama David itu, tapi hanya karena dihentikan oleh Renjani, ia memilih untuk melepaskannya.
Sudah mendapatkan beberapa pukulan keras dari Ardhi berhasil membuat sudut bibir seorang David mulai mengeluarkan darah. Wajar kalau ia terluka, karena memang pukulan dari Ardhi juga bukan sekedar main-main.
Dengan sisa tenaga yang masih ada dalam dirinya, David berusaha untuk bangun dari posisinya. Kelihatan jelas kalau sekarang ia sedang merasa kesakitan karena luka pukul yang ada di wajah. Ardhi benar-benar menghajarnya sampai habis.
"David? Kamu bisa pergi sekarang tidak? Sepertinya keadaan memang sedang tak mendukung kamu untuk tetap ada disini," pinta Renjani dan langsung dituruti oleh laki-laki itu.
Tanpa mengatakan sepatah kata ataupun berpamitan dengan benar, David pun mulai melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat inap ini dengan tertatih-tatih. Luka pukul yang didapatkan dari Ardhi berhasil membuat sebagian dari wajahnya terasa perih dan nyeri. Darah segar juga telah terlihat mengalir keluar dari ujung bibir serta pelipis matanya.
Setelah David pergi meninggalkan ruang rawat inap ini, Renjani yang masih berusaha untuk menghalangi Ardhi supaya tidak lagi main hakim sendiri pun sedikit mulai merasa kesal sekaligus kecewa akan sikap yang diambil oleh laki-laki itu. Renjani pikir sosok seperti Ardhi bisa membuat keputusan dengan kepala dingin, tanpa perlu menyakiti seperti itu. Bukankah seharusnya semua masalah yang ada, tak perlu sampai ada serangan fisik?
"Kenapa kamu halangi saya?" Tanya Ardhi yang masih belum puas untuk memberikan pukulan kepada sosok David.
Karena tak bisa dengan tuntas memberikan pelajaran kepada laki-laki pemilik nama David itu, Ardhi pun terlihat duduk di sofa yang ada di kamar rawat inap ini dengan begitu frustrasi. Bagaimana tidak merasa begitu, kalau sekarang telinganya juga mendengar tangisan menderu dari sang adik yang tak kunjung berhenti? Sudah tidak bisa memberi pelajaran, ditambah dengan kondisi sang adik yang tampak begitu memprihatinkan.
Renjani sangat paham akan situasi yang sekarang sedang terjadi. Bisa dikatakan Syifa dan juga David sama-sama bersalah. Tidak ada yang benar diantara mereka berdua. Namun, entah mengapa disini Renjani juga lebih merasa kesal kepada David karena memilih untuk enggan bertanggung jawab.
Tak ingin lebih lama lagi mendengar tangisan yang dibuat oleh Syifa, Renjani yang telah selesai mencegah Ardhi agar tidak lagi bertindak kasar dan main hakim sendiri, pun perlahan-lahan mulai mendekat ke arah ranjang, tempat dimana Syifa masih terbaring.
Dengan senyuman tipis yang mengembang diwajahnya, Renjani pun tak ragu untuk mengusap lembut pundak dari gadis itu. Renjani hanya berusaha menenangkan Syifa agar tak terus-menerus menangis. Bukan tanpa sebab, hanya saja Renjani takut kalau kondisi gadis itu jadi menurun.
"Jangan menangis lagi! Kamu harus kuat demi anak yang ada di dalam kandungan itu," pinta Renjani yang tentu saja langsung mendapatkan gelengan kepala kuat dari Syifa.
"Gimana mau kuat? Aku memang ingin mempertahankan bayi ini, tapi aku juga merasa berat kalau harus merawatnya sendiri," kata Syifa yang kemudian berhasil membuat Renjani melemparkan pelukan hangatnya.
__ADS_1
"Jangan merasa sendiri seperti itu, Syifa! Kamu harus ingat, meski David memilih untuk pergi meninggalkan, disini masih ada aku dan kakak kamu yang setia menemani," ujar Renjani terdengar seperti sebuah janji.
Meskipun ucapan yang baru saja terlontar dari mulut Renjani bukan menjadi sebuah solusi dari permasalahan sekarang, tapi setidaknya itu bisa menjadi kalimat penenang untuk Syifa. Sebagai sesama perempuan, tentu saja Renjani sangat amat memahami semuanya. Sekarang kalau posisinya dibalik, Renjani juga akan merasa demikian. Sedih bercampur dengan takut, marah serta kecewa.
"Sudah. Jangan menangis lagi! Kasihan nanti adik bayi yang ada diperut kamu juga ikut merasa sedih," kata Renjani melarang untuk terus menangis.
^^^Bersambung...^^^
Catatan kecil :
- terima kasih karena sudah mau mampir di karya tulis ini. Mohon berikan dukungannya agar penulis bisa lebih rajin update dan juga semakin giat dalam membuat karya tulis lainnya.
- karya masih on going dan akan terus di update. Untuk pembaca diharap sabar menunggu kelanjutannya.
-----------------------------------------------------------
Story ©® : Just.Human
*please don't copy this story.
Find Me
✓ Instagram : just.human___
-----------------------------------------------------------
__ADS_1